FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 105 • Berita Buruk



Ditempat lain.


Hega melangkah dengan wajah yang tidak terlalu bersemangat, meskupun wajah yang sedikit tertekuk masam itu tetap saja terlihat sangat tampan.


Anita sempat terkejut dengan kedatangan atasannya itu, karena Presdirnya itu mengatakan jika dirinya tidak akan berada di kantor saat weekend. Dan meminta sekretaris pribadinya itu untuk mengosongkan semua jadwal di akhir pekan.


" Presdir. "


" Anita, apa scedule saya hari ini ? "


" Hari ini saya mengosongkan semua jadwal sesuai permintaan anda, Presdir. "


Hega memijat pelipisnya, " Bagaimana dengan pekerjaan lainnya ? "


" Semua dokumen yang bersifat urgent sudah Presdir selesaikan kemarin. Jadi tidak ada pekerjaan mendesak yang perlu anda cek. "


" Huft, baiklah. Bawa saja dokumen atau pekerjaan untuk minggu depan. "


Anita melongo sejenak tapi wanita itu dengan cepat bersikap normal, " Baik, Presdir. "


Hega berbalik badan menuju ruang kerjanya. Meninggalkan sekretarisnya yang nampak kebingungan dengan tingkah laku atasannya.


Jika biasanya kebanyakan orang akan lebih cenderung menunda pekerjaan, ini atasannya justru sebaliknya.


Baru saja kemarin pria itu mengatakan akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan penting agar bisa menikmati weekend dengan istrinya. Hingga tidak ada pekerjaan yang tersisa hingga setidaknya pertengahan minggu depan.


Dan hari ini, atasannya itu tiba-tiba datang dan meminta berkas yang bahkan bisa dikerjakan minggu depan.


Ah, sepertinya Anita harus kembali membongkar berkas untuk dua minggu ke depan, karena pekerjaan untuk minggu depan sudah hampir tidak bersisa.


Memang susah punya atasan yang workaholic, sungguh merepotkan jika mode gila kerjanya sedang level maksimal.


Tapi sebagai sekretaris yang kompeten dan profesional, Anita tetap melaksanakan tugas sesuai perintah pria tersebut.


Wanita itu membuka berkas kabinet, mengambil beberapa berkas yang paling dekat deadlinenya.


" Anita. "


Wanita itu menoleh dan menunduk hormat, " Ada yang bisa saya bantu, Pak Bara ? "


Pria yang hampir satu minggu ini tak terlihat batang hidungnya di GIG itu menggeleng sambil mengibaskan tangannya, " Saya seperti mencium bau si Beruang Kutub ? " Ucap Bara seenak jidatnya seraya hidungnya mengendus-endus udara.


Anita hampir kelepasan tertawa, " Maksudnya, Pak ? " Wanita itu bertanya seolah tidak tahu.


" Ck, pura-pura nggak tahu kamu, maksud saya ya Presdir kamu yang jutek itulah, siapa lagi. "


Anita hanya tersenyum, tidak mungkin kan dia ikut mengatai atasannya. Bisa goodbay gaji besarnya.


" Presdir barusaja masuk ke ruangannya. "


" Katanya tuh bocah off ? "


" Itu--. "


" Ah sudahlah, biar saya tanya sendiri. " Potong Bara membuat Anita menghela nafas. Tidak adakah satu saja dari atasannya itu yang benar-benar normal.


Huffft.


Bagaimana bisa kelakuan mereka normal, orang visual mereka saja sudah berada di atas normal. Sampai membuat banyak karyawati menggilai kedua manusia berbeda karakter itu.


Untung saja Anita sudah punya tambatan hati yang fotonya terpasang di buku kecil berwarna merah dan hijau bersertifikasi KUA. Jika tidak, bisa ikut oleng hatinya. Tapi kedua manusia itu memang bukan tipenya sih, karena tipe Anita itu adalah lelaki normal.



Seperti biasa, Bara memasuki ruangan sahabatnya tanpa embel-embel ketuk pintu apalagi ucapan permisi.


Susah memang menghadapi bocah yang minim akhlak.


" Katanya lo libur hari ini, Ga. Ngapain lo ke kantor ? " Tanyanya sambil melangkah masuk.


" Udah balik lo, Bar ? "


Bara menarik kursi di depan meja kerja Hega dan mendaratkan pantatnya disana, " Hm, udah dua hari lalu. "


" Terus lo ngapain nggak nongol di kantor kemarin ? "


" Ck, ya kali gue langsung ngantor, jet lag bro. "


" Ck, pake jet lag segala lo. "


" Btw, pertanyaan gue belum lo jawab. "


" Nggak usah dibahas. "


Bara menggaruk tengkuknya sambil mengamati suasana hati sahabatnya, " Mmm, Ga. "


Tiba-tiba saja suasana terasa aneh, Bara yang biasanya bicara tanpa tersaring itu kenapa terlihat ragu mengeluarkan suara.


Cukup lama hening, jelas terlihat ada sesuatu yang ingin diutarakan Bara. Tapi entah apa itu.


Hega menghentikan kesibukannya, meletakkan tab di atas meja, " Kenapa lo, Bar ? Nggak biasanya lo gini. Ada masalah di HEART ? "


" No, everything is going well there, all problems have been solved. " [ Nggak, semuanya berjalan baik disana, semua masalah udah beres. ]


" So ? "


" Ini masalah lain, Ga. "


Kening Hega mengernyit, " Tentang ? "


Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari pria yang selama seminggu ini menggantikan Hega menyelesaikan permasalahan di HEART.


Hega masih menunggu sahabatnya itu yang terlihat seolah sedang berpikir.


Yah memang nyatanya Bara sedang berpikir keras bagaimana caranya menyampaikan berita yang dibawanya.


" Sebenernya gue nggak langsung ngantor bukan karena jet lag, Ga. " Jujur Bara akhirnya mengawali pembicaraan setelah beberapa saat keduanya dalam situasi hening.


Alis Hega terangkat, bukan karena kejujuran Bara, melainkan sikap Bara yang tidak seperti biasanya.


" Sebenarnya ada apa, Bar ? Lo tahu gue nggak suka berputar-putar. "


Huft. . . Mungkin ini rekor dimana seorang Bara menghela nafas berat terbanyak dalam tempo waktu yang singkat.


" Al---. "


Tok tok tok


Ucapan Bara terpaksa terhenti oleh ketukan pintu, lagi dan lagi pria itu menghela nafas.


" Presdir, ini beberapa berkas yang anda minta. " Ucap Anita setelah mendapat ijin memasuki ruangan atasannya.


" Terima kasih, Anita. Kamu bisa kembali ke mejamu. " Anita membunkuk dan pamit.


Atensi Hega kembali fokus pada pria yang terlihat sangat berbeda dari kebiasaan pria itu. Bara sungguh terlihat tidak normal hari ini, pria itu terlihat aneh.


Tanpa bersuara, Hega memberi isyarat jika dirinya menunggu sahabatnya itu untuk melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda tadi.


" Alina. "


Kening Hega kembali mengernyit, membuat ujung alisnya menyatu, " Kenapa lagi dengan anak itu ? "


Sungguh, sepertinya ini kali pertama seorang Hega merasa enggan menyebutkan nama seseorang.


Amarahnya pada gadis itu seperti sudah sampai pada puncaknya. Tidak menuntut gadis itu atas kelakuan buruknya yang hampir saja membahayakan nyawa saja sudah merupakan bentuk toleransi tertinggi yang bisa diberikan oleh pria itu.


Rasanya sulit sekali memaafkan perbuatan Alina yang sangat keterlaluan hanya karena kecemburuan.


Hega menarik satu berkas yang tadi dibawa Anita, dan hendak membukanya, " Bar, gue banyak kerjaan. Kalau nggak ada yang mau lo omongin, mending lo---. "


" Alina melakukan percobaan bunuh diri dua hari lalu. " Sahut Bara akhirnya, pria itu nekat memotong kalimat sahabatnya.


Netra hitam Hega menatap tajam Bara, tatapan yang seolah menghunus dalam.


" Jangan bercanda lo, Bar ! " Sentak Hega.


Bara menggeleng, " Dia menyayat pergelangan tangannya dengan pisau, untung Aliza datang di waktu yang tepat, jadi nyawanya masih bisa tertolong. "


Hega cukup terkejut dengan berita buruk yang disampaikan oleh Bara, tidak menyangka jika sepupu Aliza itu akan sampai berbuat nekat seperti itu.


Hega menghempas punggungnya di sandaran kursi dan memijat pelipisnya.


" Mungkin kalau lo nggak keberatan, gue minta lo jengukin dia, Ga. "


Ucapan Bara kembali menarik atensi Hega, pria itu kembali menegakkan tubuhnya, kedua tangannya bertautan dia atas meja.


" Apa kedatangan gue berpengaruh buat dia ? " Tanya Hega serius.


" Seenggaknya itu bisa mengurangi sedikit tekanan mental yang dia alami. "


" Dengan memberi harapan palsu, itu yang lo maksud ? "


Huffft. . .


Bara hanya bergeming, bagaimanapun ucapan Hega ada benarnya. Bagaimanapun kondisinya, Alina tidak mungkin mendapatkan keinginannya untuk bisa memiliki seorang Hega Airsyana.


Tapi bagaimana Bara menjawab permintaan keluarga Aliza, yang meminta pertolongan padanya untuk bisa membawa Hega menemui Alina.


Bara mengusap wajahnya frustasi kemudian menatap sahabatnya mengangguk setuju, " Ya, lo bener. Memberi harapan palsu juga bukan solusi. " Ucap Bara disertai helaan nafas berat.


***


Ada yang kangen Bang Bara ? Chapter ini buat obatin kangen kalian sama abang gemes kita yang satu ini.