FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 178 • Keegoisan vs Ketulusan



..." Seringkali ego membuat kita lupa, jika sesuatu yang kita miliki dengan paksaan hanya akan membuat hati kita semakin tertekan. Karena akan ada saat dimana kita selalu merasa cemas jika apa yang kita pertahankan perlahan terlepas dari genggaman. "...


...(Sherinanta)...


......................


" Apa yang mau kamu tunggu ? "


" Hatimu, perasaanmu. Aku akan menunggu itu menjadi milikku. "


" Kamu sepertinya mulai tidak waras Fabian. "


" Ya, aku memang sudah gila. Aku tergila-gila padamu. Aku sudah berusaha melupakanmu, merelakanmu agar kamu bahagia. Tapi apa yang aku dapatkan ? Aku tersiksa, aku seperti akan mati dan apa kamu tahu ..."


" Setiap malam aku bermimpi melihatmu pergi dan menghilang dalam gelap dan tertutup kabut, aku berteriak sekeras mungkin untuk memanggilmu, tapi meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga, namun kamu tidak berbalik dan tidak menoleh sedikitpun padaku. "


" Dan tahukah kamu bagaimana perasaanku saat kembali melihatmu beberapa hari yang lalu dalam kondisi yang sangat tidak baik. Dan saat itu aku sadar hanya aku yang bisa menjagamu, mencintaimu dan memberikan semua yang terbaik untukmu. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Jadi tetaplah disisiku. "


" Bi-an.... Aku sudah menikah, a-ku.... "


" Aku tidak peduli, aku akan membuatmu berpisah darinya. Dari pria yang bahkan tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. " Ucap Fabian dengan senyum kemenangan.


" Bukankah ini benar-benar seperti takdir yang membawamu kembali padaku. Dari awal kamu memang milikku, Mo Dan Tuhan mengembalikanmu padaku. "


" Berhenti bicara omong kosong Bian, aku hanya mencintai suamiku, kak Hega. Hanya dia yang berhak memilikiku. "


" AAARRRGGGGHHHH..... Stop menyebutkan namanya. Dia tidak pantas memilikimu, dia bahkan tidak bisa menjagamu. "


Moza menghela nafas, pria dihadapannya sungguh bukan sosok yang dikenalnya. Bian lebih mirip seorang monster yang menakutkan bagi Moza.


" Bian, kamu bisa mengurungku selamanya disini. Tapi kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku. Tinggal menunggu waktu sampai aku mati. "


" Jangan bicara seperti itu please.... " Amarah Bian seketika lenyap, berubah kepiluan saat mendengar ucapan Moza yang seolah lebih memilih mati daripada berada disisinya.


" Tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai apa bedanya dengan kematian Bian ?! Bukankah kamu yang mengatakan hal itu ? " Bian tercekat, Moza mengembalikan kalimat yang pernah ia ucapkan.


" Dan baiklah jika kamu akan merasa adil jika aku juga merasakan seperti yang kamu rasakan. Maka aku akan menerimanya. Seperti kamu mencintaiku dan tidak bisa hidup tanpaku. Maka kamu juga harus tahu jika aku juga merasakan itu. Aku terlalu mencintainya, dan aku akan mati jika tidak bisa melihatnya. "


" Jika itu bisa membuatmu puas maka lakukan apapun yang kamu mau. Kurung aku disini selama yang kamu mau dan kamu tinggal menunggu jasadku. "


Tubuh Fabian melemah, dan langsung berlutut disisi ranjang Moza. " Momo, a-aku ti-dak bermaksud seperti itu. A-ku ingin kamu bahagia Mo. A... "


Moza menarik tangannya saat tangan Fabian hendak meraih jemarinya. Menatap sendu wajah Fabian. Moza tahu jika pria itu terluka, sangat jelas dari mata Fabian.


Tapi Moza tidak bisa membohongi hatinya.


" Aku tidak akan bahagia jika bukan bersama dia. Bian, maafkan aku, aku tidak bisa mengatur kepada siapa hatiku berlabuh. Aku berharap kamu bahagia, tapi jika dengan menyiksaku seperti ini membuatmu bahagia aku tidak bisa berbuat apa-apa. "


Ucapan Moza membuat hati Fabian semakin terasa sakit. Bagaimana bisa wanita yang paling ia cintai justru merasa menderita disisinya. Bahkan setelah semua hal yang Bian lakukan untuknya.



Awalnya Moza berfikir jika Bian tidak melepaskannya, Moza lebih memilih mati. Namun saat tahu ada kehidupan lain di dalam dirinya. Maka Moza memilih bertahan demi nyawa dalam rahimnya.


Setidaknya ada bagian dari suaminya yang bersamanya. Buah cintanya bersama pria yang paling ia cinta.


Sekuat tenaga Moza tegar dan menerima perlahan jika pada akhirnya ia harus berada di penjara seorang Fabian.


Begitu sakit rasanya saat dengan tangannya sendiri, Moza terpaksa melepaskan kalung pemberian suaminya.


" Bian, jika kamu tidak mau melepaskan aku. Maka kirimkan berita kematianku pada keluargaku. Jika perlu kiriman sekalian bukti kematianku. Aku tidak peduli bagaimana kamu melakukannya. "


Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Moza dirinya merasa tak lagi sanggup membujuk Fabian untuk melepaskannya. Tepatnya setelah beberapa hari pasca Fabian menyelamatkan Moza dari insiden penembakan.


" Apa yang coba kamu rencanakan ? "


" Tidak ada. Aku hanya tidak ingin memberi harapan kepada keluargaku, aku tidak ingin memberi mereka kesedihan yang tidak tahu kapan akan berakhir. Aku ingin mereka melepaskanku. "


" Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu ucapkan ?! "


" Aku sadar sepenuhnya. "


" Ayah dan bunda akan sedih dan hancur mendengar kabar itu. "


Mendengar ucapan Fabian, Moza tertawa hambar. " Apakah seorang Fabian baru saja mengkhawatirkan keluargaku ?! Keluarga dari wanita yang dikurungnya. Aku sejenak ingin tertawa mendengarnya. " Ucap Moza sarkas.


" Terserah apa yang kamu pikirkan, aku hanya ingin memilikimu. Bukan memberikan duka pada orang tuamu. Bisakah kamu sedikit memahami hatiku ?! "


" Tidak ingin memberikan duka pada orang tuaku ? Apakah yang kamu katakan itu candaan, Bian ? Bukankah dengan menyembunyikan putri mereka tanpa bisa bertemu ataupun sekedar mengetahui kondisi putri mereka tidak memberikan duka pada mereka, Bian. " Dada Moza naik turun menahan sesak di dadanya.


" Mereka bahkan tidak tahu apakah aku masih hidup ataukah sudah mati. Jadi biarkan saja mereka menganggap aku mati sekalian agar mereka tidak lagi berharap hal yang tidak pasti. "


" Apa kamu ingin membuatku terlihat sekejam itu ?! " Fabian yang selalu menahan diri sedikit terpancing emosi.


" Apa bedanya, Bian ? Hanya menunggu waktu saja untuk mereka mendengar berita kematianku, bukahkah kamu bahkan tidak berniat melepaskanku ?! Jadi cepat atau lambat mereka pasti akan mendengar berita jika putri mereka sudah tiada. "


" Setidaknya mereka akan berduka sejenak. Kemudian waktu yang akan membuat mereka merelakan kepergianku tanpa berharap aku kembali. "


" Lalu suamimu ? Apa kamu rela dia melupakanmu dan bersama wanita lain ?! "


Moza menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai menggantung di pelupuk matanya.


" Ya, aku akan berusahan ikhlas. Setidaknya dia akan bahagia meskipun tidak bersamaku. Lebih baik dia bahagia dengan wanita lain daripada terus berharap istrinya yang tidak tahu kapan akan kembali, dan bahkan mungkin tidak akan kembali sama sekali. " Air mata Moza akhirnya sudah tidak bisa lagi dibendungnya. Mengalir begitu saja membasahi pipinya yang putih memucat.


Bagai disambar petir, hati Fabian begitu hancur melihat gadis yang dicintainya justru terlihat menderita bersama dengannya.


Saat cinta Fabian yang egois berhadapan dengan cinta Moza yang tulus. Apakah Fabian tetap dalam keegoisannya ?


Bahkan saat sebagai seorang wanita, Moza memilih ikhlas jika suaminya bahagia dengan wanita lain daripada menanti harapan kosong akan kehadirannya kembali.


Apakah cinta Fabian layak melawan cinta Moza yang tulus ?


Tapi untuk melepaskannya, apakah Bian mampu ?


...****************...


Kenapa konfliknya kali ini agak berat ?


Karena aku merasa Hega dan Moza terlalu bucin di awal tanpa ada cobaan serius yang menguatkan cinta mereka.


Jadi anggap saja ini sebagai ujian puncak cinta Hega dan Moza.