
Tepat pukul 8 pagi, Moza sudah berada di ruangan yang selama lebih dari dua minggu ini menjadi tempat magangnya.
Tempat yang memberikan Moza banyak pengalaman tentang dunia kerja secara nyata. Sekaligus tempat dimana Moza belajar untuk lebih bisa bersosialisasi dengan banyak orang.
Sesuatu yang bahkan sangat jarang sekali ia lakukan selama 21 tahun usianya. Dimana sejak kecil dirinya hanya menghabiskan waktu dengan sang kakak.
Dan mengingat pribadinya yang introvert sejak remaja, dan hanya bergaul dengan beberapa sahabat dekat yang bahkan bisa jumlahnya dihitung dengan jari.
" Moz, jangan lupa jam 9 kita turun buat ngecek proses casting calon BA*. "
(*) Brand Ambasador.
Mona, ketua team 1 yang memegang segala bentuk laporan keuangan tentang Golden Mall menepuk bahu Moza yang tengah berada di depan mesin absensi.
Moza menoleh sembari menempelkan kartu identitas karyawannya di layar scanner absensi.
" Iya, mbak. " Jawabnya setelah terdengar suara dari mesin absensi yang menandakan bahwa laporan kehadirannya sukses.
Langkah kaki Moza langsung menuju kubikelnya seperti biasa. " Pagi, Ami. " Sapanya pada rekan di samping mejanya yang adalah sahabatnya sendiri, sembari melepas longcoat coklat tua yang menutupi outfit kerjanya, menyampirkannya di sandaran kursi. Menyimpan slingbag kecil di dalam laci.
" Pagi, Mo. Gimana kaki, lo ? Udah sembuh ? Kengen banget gue gak ada lo. "
Moza tersenyum lalu mengangguk. " Kak Hega nggak akan mengizinkan aku datang ke kantor kalau kakiku masih sakit. "
Gadis berhijab itu malah terkekeh. " Kadang gue mikir kenapa lo suka kesel gitu tiap ngomongin bang Gans yang posesif, padahal banyak cewek yang pengen punya pasangan penyayang banget kayak gitu. Model-model CEO ala novel gitu, Mo. "
Sepertinya Amira tengah menghalu dengan kepala ditopang oleh kedua tangannya yang bertumpu di meja.
Moza malah berdecih lirih. " Kamu akan tahu kalau mengalaminya sendiri. "
" Amiiiinnnn, gue anggap itu doa ya, Mo. Hehehe... " Amira sontak langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya seolah habis memanjatkan doa agar ucapan sahabatnya diijabah oleh Tuhan.
" Amin, Dan aku akan gantian mentertawakan kamu jika nantinya kamu datang padaku dan mengeluhkan hal yang sama dengan wajah kesalmu yang menekuk sepertiku. " Moza menggeleng dan tersenyum mengejek.
" Hahahaha, enggak lah, aku justru akan sujud syukur jika sampai beneran punya suami penyayang banget seperti abang Gans. "
" Hhhh. " Sudahlah, Moza hanya bisa menghela nafas. Mereka yang tidak mengalami sendiri hanya akan melihat sesuatu dari sudut pandang mereka sendiri.
" Moz, kamu dipanggil Pak Vano ke ruangannya. "
Moza langsung menoleh ke sumber suara. " Oh, iya mbak Lisa. Terima kasih. " Jawabnya dan langsung bergegas menuju ruang kepala divisi.
Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, Moza langsung memutar handle pintu dan mendorongnya begitu terdengar suara bariton dari dalam ruangan yang mempersilahkan dirinya masuk.
" Pagi, Pak Vano memanggil saya ? "
" Silahkan duduk, Moz. " Geovano yang duduk di kursi nya melirik pintu yang sudah terbuka setengah dan menampakkan sosok cantik yang masih saja menggetarkan hatinya.
Haih, kenapa susah sekali move on dari gadis yang satu ini. Inget Van, bini orang.
Pria itu merutuki hatinya yang masih deg--degan setiap melihat mantan juniornya di kampus itu. Padahal sudah jelas-jelas tidak akan tergapai. Sempat sih ingin jadi pebinor, tapi melihat siapa lawannya membuatnya langsung menyerah saja.
" Ada yang bisa saya bantu, Pak ? " Tanya Moza setelah mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kerja Geovano.
" Tidak, saya hanya mau meminta maaf atas perlakuan buruk yang kamu terima beberapa waktu yang lalu. "
" Bukan salah Pak Vano, jadi tidak perlu minta maaf. "
" Tetap saja saya harus melakukannya, karena kejadian kemarin tentu saja mencoreng nama baik divisi saya. Saya juga merasa gagal mengawasi staff yang ada di bawah kuasa saya. Sekaligus saya juga mau berterima kasih. "
" Terima kasih untuk apa ya, Pak ? "
" Terima kasih karena Presdir sudah mengubah sanksi untuk Tira dan rekan satu team nya. "
" Itu keputusan Presdir, saya tidak ada sangkut pautnya dengan itu, Pak. Jadi bapak bisa langsung menyampaikan terima kasih itu pada yang bersangkutan. "
" Sebenarnya lebih ke saya tahu posisi saya saat ini. Saya tidak punya kemampuan untuk mengintervensi keputusan pimpinan. Saya yang di depan Pak Vano sekarang hanya seorang mahasiswi magang. Saya harap tetap seperti itu juga Pak Vano memperlakukan saya sampai masa magang saya berakhir. "
" Tidak salah penilaian saya sejak awal. "
" Ya ? "
" Kamu memang bukan gadis biasa, dan memang harus pria yang luar biasa yang bisa menjadi pendamping kamu. Dan saya mengakui itu, karena tidak ada yang lebih layak menjadikan seorang Moza Artana sebagai ratu selain pria sehebat Presdir Hega Saint. "
Moza hanya bisa tersenyum tipis. " Pak Vano berlebihan. "
" Ya mungkin saja. Tapi setidaknya itu penilaian saya secara objektif, karena jujur saja sebagai sesama pria, saya benar-benar insecure dengan sosok Presdir yang nyaris tidak punya cela itu. Kapan ya saya bisa sehebat beliau, usia muda, tampan, mapan dan punya bidadari sempurna di sisinya. Saya jadi iri. "
" Bapak curhat ? " Tanya Moza dengan nada meledek yang tentu saja hanya bercanda untuk mencairkan suasana.
" Hahaha, iya saya curhat, dan sukur-sukur kamu punya sodara atau teman yang bisa kamu comblangkan dengan saya, walaupun tidak sesempurna kamu, setidaknya mendekati tidak apa. "
" Saya bantu doa saja, Pak. " Jawab Moza seadanya.
" Saya aminin doa kamu, siapa tahu doa bidadari lebih cepat sampainya. " Hadeh, masih juga menggombal.
" Godain perempuan bersuami itu dosa, Pak. "
" Hahahaha, iya ya, maaf kalau gitu. Terima kasih atas waktunya, kamu bisa kembali bekerja. "
" Terima kasih, Pak. Saya undur diri. "
Tidak hanya Geovano ternyata yang sedang menunggu Moza kembali ke kantor. Setelah tiga hari cuti, semua staff divisi keuangan juga menunggu gadis itu masuk kembali.
Lihatlah beberapa orang yang sudah berada di sisi kubikelnya.
" Moz, udah sehat kamu ? " Kini giliran Celia, staff team 1.
" Sudah, mbak. Alhamdulillah. "
" Kamu yakin udah gak papa, kalau masih sakit kakinya, ntar Amira aja yang nemenin aku buat turun. " Sahut Mona yang tadi pagi belum sempat menanyakan kabar Moza yang menjadi 'anak didiknya' di kantor.
" Yakin, mbak. Beneran udah nggak papa kok, nih udah nggak sakit lagi. " Jawab Moza sembari menggerakkan pergelangan kakinya.
" Tapi tumben pake flatshoes, jangan-jangan masih sakit lagi tuh kaki kamu. " Farah nyeletuk curiga, wanita yang satu ini yang paling fashionable di ruangan divisi keuangan.
Jadi selama ini Farah selalu memperhatikan style Moza yang selalu fashionable. Meskipun yang dipakai Moza tampak tak mencolok mata, tapi Farah tidak bisa dibohongi untuk urusan brand-brand fashion terkenal yang pastinya mahal harganya. Karena Farah sendiri seperti itu, secara wanita itu berasal dari keluarga yang cukup kaya juga.
Moza malah nyengir dan menggaruk belakang telinganya. " Kalau itu karena aku belum berani pake heels, mbak. "
" Seperti tindakan preventif gitu ? Tenang aja, Moz. Sekarang nggak akan ada yang berani bikin gara-gara sama kamu. " Ucap Mona.
" Iya, karena si genk tukang bikin gara-gara kan udah nggak ada, kita disini semua cinta damai kok. " Celia menambahi.
" Iya Moz, jadi jangan khawatir kamu akan ngalamin hal serupa, tapi kita gini bukan karena tahu kamu istri boss loh ya, tapi karena emang kita cinta kedamaian seperti kata Celia tadi. Kita cuma fokus kerja, nggak mau aneh-aneh. " Giliran Lisa yang buka suara.
" Eh, bukan gitu, mbak. Aku tahu kok kalian semua baik, kalau soal sepatu ini sih---. "
" Pasti Presdir yang melarang pake heels takut istrinya keseleo kali mbak, ya kan, Mo ? " Sahut Amira, niatnya sih membantu sahabatnya yang kesulitan menjawab pertanyaan rekan kerja mereka.
Tapi malah membuat suasana jadi canggung. Dan pipi Moza langsung bersemu.
Ya ampun, bagaimana Ami bisa tahu sih. Batin Moza sembari melirik sahabatnya yang sedang nyengir tanpa dosa setelah menebak dengan tepat alasan dibalik flatshoes yang dipakainya.
***