FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 102 • Pokoknya Ada Kata 'Ranjangnya'



Bukan Hega jika melewatkan kesempatan yang ada, pria itu semakin berulah, padahal kedua matanya saja masih terpejam erat. Tapi bisa-bisanya tangannya sudah menjalar kemana-mana.


" Kakak, hentikan ! Aku mau bangun. " Moza menggeliat kegelian dan masih terus berusaha lepas dari suami posesifnya.


Tubuh mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri, tapi tetap saja ia sulit lepas dari cengkraman sang suami.


" Tidak boleh ! " Serunya sambil menyelusupkan telapak tangannya memasuki kain satin berwarna biru muda itu.


" Memangnya kamu mau kemana sih, sayang ? " Tanyanya manja dengan jemari terus merayap naik mengusap kulit punggung halus istrinya.


Blush. . .


Merasai sensasi sentuhan sang suami seketika pipi Moza merona, jika terus seperti ini, gadis itu yakin dirinya akan kalah telak nantinya.


" Aaaaaaaaa. . . Kakak, hentikan ! Aku mau mandi, aku kan harus berangkat ke kantor. " Sekuat tenaga Moza mendorong dada suaminya agar m3njauh darinya.


Kedua mata Hega sontak terbuka lebar, " Ish, ini hari Sabtu loh, Yank. Perusahaan mana yang meminta mahasiswi magang untuk bekerja di hati Sabtu, huh ?! "


Jeng jeng


Pria itu memdesis kesal karena sang istri menginterupsi aktivitas favoritnya, menjelajahi kulit mulus istrinya.


Padahal kan tadi rencananya mau ronde kesekian kalinya. Ah, pokoknya proyek nyicil cicitnya gak boleh gagal.


Lengan Hega tak mau lepas, masih melilit tubuh ramping istrinya.


" Akh, pokoknya lepaskan aku, kak ! Aku akan terlambat nih, aku harus segara bersiap. " Moza kembali terpekik saat wajah suaminya merunduk dan bibir sang suami sudah mengecup lehernya.


Cepat sekali suaminya ini untuk urusan beginian. Gerakannya gesit dan lincah, tiba-tiba saja sudah meraba kemana-mana.


" Tidak mau, aku bahkan sengaja libur saat weekend agar bisa menghabiskan waktu dengan kamu. Dan kamu malah mau meninggalkan aku. Tidak boleh. " Tegasnya tanpa sedikitpun menghentikan aktivitas seduktifnya.


Membuat bulu kuduk Moza meremang karenanya.


Ya, memang ini adalah pertama kalinya seorang Hega enggan bekerja di hari Sabtu. Dan sejak menikah, Hega memutuskan untuk pergi ke kantor hingga hari Jumat saja.


Sedangkan hari Sabtu Minggu akan ia habiskan bersama sang istri tercinta. Mengisi hari dengan aktivitas-aktivitas sederhana yang sudah terencana di kepalanya.


Seperti tiduran di ranjang, ngobrol di ranjang, bermesraan di ranjang, dan semua hal apapun itu pokoknya ada kata ranjangnya. Ahayyy ...


Tapi apa ini ? Saat seorang Presdir yang super sibuk bahkan sampai meliburkan dirinya untuk quality time bersama sang istri, justru sang istri malah memilih berangkat ke kantor tempat ia magang.


Sungguh menyebalkan.


" Kakaaak. . . " Pekikan kembali keluar dari bibir Moza saat dirasa sang suami hendak menyesap kuat area lehernya.


Hega dengan amat sangat terpaksa menjeda kegiatan mengasyikkan yang ia lakukan, kembali mendongak menatap wajah cantik sang istri, " Tidak ada bantahan. Lagipula kenapa kamu tidak magang di perusahaan kita saja sih, Yank ? " Protes Hega kesal.


Glek. . .


Moza menelan salivanya dengan susah payah, tidak mungkin kan dirinya mengatakan jika tempat ia magang memang adalah kantor suaminya sendiri.


" Ih, kan kakak sudah tahu alasannya. " Kelit Moza berusaha bersikap normal, manik mata kecoklatannya berputar acak, entah kenapa ia takut bersitatap dengan mata elang sang suami.


Sepertinya Moza takut ketahuan.


" Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, pokoknya hari ini kamu tidak boleh jauh-jauh dari aku. " Putus Hega mutlak.



" Kak, bagaimana dong dengan magangku ? " Gagal menggunakan mode galak, Moza berputar haluan menggunakan mode merajuk dengan ekspresi polosnya.


Tentu saja jika sudah disuguhi puppies eyes menggemaskan sang istri, Hega akan dibuat mati kutu.


Pria itu memejamkan mata sejenak dan memijat pelipisnya frustrasi, " Aissh, perusahaan mana sih yang beraninya menyuruh istriku magang di hari Sabtu ?! " Ucapnya sembari terduduk menyugar rambutnya kebelakang dengan wajah sangat kesal.


Itu kan perusahaan kakak sendiri, dasar. 


Moza tak menjawab, hanya melipat bibirnya ke dalam. Dengan manik mata masih tertuju pada sang suami, jangan lupakan puppies eyes nya yang imut-imut lucu.


Hega mengeram kecil, menahan emosi semaksimal mungkin, " Sini biar aku telepon mereka, kalau perlu aku maki sekalian CEO nya. Beraninya memberi jadwal masuk pada mahasiswa magang sampai di akhir pekan. "


Moza malah jadi ingin tertawa mendengar omelan suaminya, ya kali suaminya itu mau memaki dirinya sendiri. 🙈


" Mereka tidak tahu yang namanya family time apa ? Beraninya mereka menyuruh istri seorang Hega Saint megang di hari Sabtu. " Kesalnya lagi dengan nada suara makin tinggi.


" Kamu tahu, perusahaan kita yang sebesar itu saja masih memberi keringanan bagi semua mahasiswa dengan jam kerja hanya 5 hari dalam seminggu. Itupun masih ada dispensasi waktu bagi mereka yang masih ada jadwal kuliah di kampus. "


" Aku jadi penasaran, perusahaan macam apa yang beraninya mengikat penuh mahasiswa magang. "


Aduh, susah nih kalau udah begini. Aaaahhh aku tidak mau ketahuan kalau aku magang di perusahaan suamiku sendiri. Satu gedung pula. Bisa tamat hari tenang di masa magangku nanti.


Tapi aku harus gimana dong ?


Moza ketar-ketir sendiri, jika sudah begini, sepertinya dirinya harus meminta bantuan sang kakek untuk mengatasi masalah ini. Pokoknya Moza tak ingin suaminya sampai tahu jika dirinya magang di perusahaan yang dipimpin oleh suaminya sendiri.


Sebenarnya untuk jadwal magang Moza memang hanya sampai di hari Jumat saja, itupun jamnya tidak sama dengan karyawan umumnya yang masuk dari pukul 8 pagi sampai 4 sore. Sedangkan mahasiswa magang hanya sampai pukul 2 siang, maksimal pukul 3, itupun dengan libur di hari Sabtu dan Minggu.


Dan untuk kuliah, selama seminggu ini Moza mengikuti kelas virtual yang jam pelaksanaannya memang sudah disesuaikan dengan jadwal magang Moza.


Harusnya hari ini gadis itu bisa bersantai di rumah, menghabiskan family time bersama suaminya. Tapi ternyata alam berkehendak lain.


Ada project baru yang sedang dilaksanakan GIG, beberapa mahasiswa magang diminta untuk turut bekerjasama didalam project tersebut sebagai tenaga perbantuan sekaligus belajar bekerja secara team. Dan Moza adalah salah satu satu mahasiswa yang dipilih.


Akhirnya dengan susah payah, Moza bisa membujuk sang suami agar mau melepaskannya. Pria itu juga memutuskan untuk ke kantor saja, daripada bengong di rumah tanpa adanya sang istri.


Selepas mandi, Hega menyusul sang istri yang sudah dipastikan berada di ruangan walk in closet. Dimana selama seminggu ini, gadis itu mulai belajar menyiapkan setelan kerja untuk Hega. Ataupun pakaian yang akan dipakai sang suami saat di kesehariannya.


Netra hitam pekat itu terkunci pada sosok cantik yang tengah sibuk memilih pakaian untuknya.


Langkah kaki Hega mendekat, dengan tatapan tak teralihkan sedikitpun dari kesayangannya.


" Sayang. " Suara bass itu merengek manja setelah kedua lengan kokohnya berhasil melingkar di perut sang istri.


***


Komen dong gaess, tega bener kalian sama bang Hega.



...Punya suami kek gini, othor kekepin di rumah bae, pelakor jaman sekarang meresahkan ya gaess....