
...☆☆☆...
Hega berjalan cepat menuju ruangan dimana istrinya masih tengah bersiap. Sepatu pantofel hitamnya beradu dengan lantai marmer, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di setiap ayunan langkah kaki panjangnya.
Terdengar jelas jika pria itu berjalan dengan sangat tergesa-gesa.
Hega sudah tidak sabar lagi ingin menemui istrinya. Terlalu rindu, begitu yang dia rasa. Dan Anggara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya, ia masih setia mengikuti di belakang sang tuan muda.
Sepertinya memang Tuan Muda yang sejak kecil dilayaninya itu benar-benar sedang jatuh cinta. Begitu pikir Anggara.
Setengah hari ini menemani tuan mudanya itu entah kenapa terasa begitu melelahkan dibanding semua tugas yang ia laksanakan selama ini.
Bagaimana tidak ? Sepanjang menit tuan mudanya terus menggerutu dan bergumam kata 'rindu' disela mengecek pekerjaan kantornya.
Bahkan Anggara harus bersusah payah menahan pria itu yang sempat nekat ingin menerobos masuk kamar utama dimana istrinya berada.
Hih, selebay itukah seorang Hega Airsyana? Mereka kan berada di satu ruang yang sama, bagaimana bisa bilang rindu setengah mati, seolah sudah sekian lama tak bertemu.
Eeehhh. . . Asal tahu saja ya, setelah satu jam perjalanan menuju ibukota tadi pagi, Hega dan Moza langsung menuju hotel dimana resepsi mereka akan digelar.
Sampai di kamar hotel bukannya mereka bisa berduaan, Hega harus pasrah saat istrinya diculik paksa oleh sang mami. Gadis itu ditahan seharian di kamar utama.
Seharian ini sang pengantin wanita diatur untuk menjalani serangkaian perawatan tubuh. Mulai dari hair mask, facial dan masker wajah, tak lupa lulur, pijat dan spa. Belum lagi perawatan kuku alias menicure pedicure, bahkan Moza juga harus melakukan ratus.
Padahal sebelum akad nikah kemarin, Moza sudah menjalani beberapa perawatan serupa. Dan saat gadis itu hendak meng-skip beberapa perawatan yang sama, mami Rasti tidak mengijinkannya, dengan alasan, ini tuh beda sayang. Begitu kata sang mami.
Baiklah, akhirnya Moza tidak bisa menolak pengaturan sang mami mertua, dengan sukarela menjalani ulang perawatan yang serupa. Meskipun perawatannya saat pra-akad kemarin memang tidak se-exclusive yang dijalaninya hari ini sih.
Sedangkan di sisi lainnya, Hega justru disibukkan dengan beberapa berkas yang menunggu tanda tangan darinya.
Keduanya disibukkan dengan kegiatan masing-masing hingga tidak ada waktu barang semenitpun untuk bermesra-rmesraan.
Jangankan mau bermesraan, Hega bahkan dilarang keras oleh sang mami mengganggu ritual perawatan sang istri, bahkan untuk sekedar mengintip saja tidak boleh.
Biar surprise dong !!, gitu kata sang mami.
Emang apa yang bisa mengejutkan Hega dengan tidak melihat istrinya hanya selama beberapa jam saja ? Memangnya istrinya itu bisa mendadak berubah jadi bidadari apa, ehhh. . . Kan istrinya itu memang bidadari, hehehe.
Yang ada pria yang baru menyandang status suami itu justru kangen setengah mati sama istrinya. Bucin high level kan ?!
Dan Hega yang tidak bisa menembus penjagaan sang mami, akhirnya Hega harus pasrah duduk di sofa ruang tengah ruangan mewah itu. Mengisi waktunya dengan menandatangani dan mengecek beberapa berkas yang tadi dibawa oleh Anita.
Makanya seharian ini Anggara terus menempel ketat di sekitar sang tuan muda.
Hingga tanpa terasa waktu berjalan begitu cepatnya, dan keduanya sudah siap menuju area pesta setelah hampir 8 jam terpisahkan oleh jarak yang sebenarnya hanya beberapa langkah saja.
Ceklek. . .
Mami Rasti dan bunda Ayu menoleh, melihat siapa yang datang.
" Huft. . . Beneran tidak sabaran ya kamu ini, nak ?! " Keluh Mami Rasti lembut kala melihat putra sambungnya sudah berdiri di ambang pintu.
" Ini sudah berapa lama coba, Mih ? Wajar lah Hega kangen sama istri Hega. Kami ini pengantin baru kalo mami lupa. " Heyuuuh, isa ae ngelesnya ya bambang yang satu ini.
" Hega mau nunggu disini aja boleh kan ? " Izinnya sembari melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan.
Netra hitamnya mencari-cari keberadaan sang istri yang ternyata tersembunyi diantara beberapa penata rias dan rambut.
" Iya iya, mami tahu, terserah kamu lah, nak. Tapi istri kamu belum selesai loh, masih kurang dikit lagi. " Terang Rasti sambil membetulkan posisi dasi Hega yang sedikit miring.
Hega membuang nafas kasar, memijat pelipisnya yang nyut-nyutan, " Udah mau mulai Mih resepsinya. "
" Terus ? " Bukan Mami Rasti yang menjawab, melainkan sang bunda.
Dan jangan lupakan tatapan membunuhnya, aduh susah sudah kalo urusannya harus berhadapan dengan ibu-ibu yang satu ini. Tidak ada yang berani melawannya.
" Lah kok terus sih, bun ? Ya telat dong, Bun. " Alasan logis kan.
" Gpp lah sayang telat dikit. Namanya juga tokoh utama, datang paling akhir enggak masalah dong. " Bujuk Mami Rasti mencoba menenangkan putranya.
" Ini tinggal sedikit lagi kok bu, lima menit lagi selesai. " Sahut salah satu MOU di balik punggung Mami Rasti.
" Tuh, kamu denger kan, sayang ? Lima menit lagi kok, sabar sedikit lagi ya ? " Ujar istri kedua Arya Tama itu.
" Ya sudahlah, terserah mami, Hega tunggu di depan kalo gitu. " Bukannya tidak mau menunggu di dalam, Hega baru sadar jika kehadirannya sepertinya sedikit mengganggu konsentrasi MOU-nya.
Dan kalau dia terus bertahan disana, bisa-bisa istrinya tidak kelar juga persiapannya, karena itu tante-tante sibuk melirik-lirik dirinya.
" Kalau lima menit belum selesai juga, Hega tidak jamin lagi kesabaran Hega masih ada. " Lah, apa yang barusan dikatakan pria itu, kok kesannya sedikit mengancam ya ?!
" Iya iya sana. " Mami Rasti sedikit kesal juga akhirnya, kemudian dengan cepat membalik tubuh Hega dan mendorong punggung pemuda itu menuju sofa.
Beberapa team MOU sampai cekikikan melihat mempelai pria yang sedari tadi siang tidak sabar ingin menemui mempelai wanita.
Ada juga yang baper sendiri, berandai-andai gimana ya rasanya dicintai dengan begitu besarnya oleh pria setampan dan se-hot Hega, udah gitu kaya raya pula. Begitu kiranya bisik-bisik beberapa diantara mereka.
Moza sendiri hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya yang sedari tadi yang heboh sendiri. Toh gadis itu juga dalam posisi tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan untuk sekedar mengintip suaminya pun tidak bisa, karena dirinya dikelilingi oleh beberapa orang yang membantunya bersiap. Mulai dari memasang perhiasan ada yang merapikan cat kuku, membetulkan riasan wajah dan juga membantu mempelai wanita memasang sepatu.
Mami Rasti benar-benar mempersiapkan semuanya sedetail mungkin, ia tidak mau membuat almarhumah sahabatnya kecewa. Bagaimanapun Hega adalah permata berharga yang dititipkan oleh sahabatnya.
Dan Rasti tahu jika istri pertama suaminya itu masih ada, wanita itu juga pasti akan mempersiapkan pernikahan putra semata wayangnya dengan sesempurna mungkin.
...---------------------...
✏ Btw menuju uuuhhh ini ya. Kalian suka yang hot, setengah hot atau yang off the record alias yang syariah ? 😁😁😁😁
Wajib koment !!! ( Hahaha mode maksa )