FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 171 • Normal Aja Bikin Makan Ati, Galau Malah Bikin Makan Jantung



Dua hari berlalu sejak pembicaraan Hega dengan ibu mertuanya-Ayu Puspita. Tidak ingin ada perdebatan lagi sekaligus tidak ingin mendengar ada yang membahas tentang kematian istrinya. Hega memilih kembali ke apartemennya.


Bukan bermaksud menghindar, tapi Hega hanya merasa butuh ketenangan. Saat ini, pria itu tidak hanya butuh tenaga besar dan pikiran yang tenang untuk mencari istrinya.


Tapi dia juga membutuhkan mental yang sehat untuk bisa terus kuat dan bertahan.


Hega tidak mau hatinya terus dibuat kacau oleh permintaan keluarganya. Meskipun tidak secara langsung, namun setiap nasihat mereka seolah memintanya untuk ikhlas.


Ikhlas ? Apa yang harus diikhlaskan ?


Bagaimanapun juga, Hega masih yakin jika istrinya masih hidup dan dalam kondisi baik-baik saja entah dimana. Dan gadis itu sedang menunggu dijemput olehnya.


" Ughhh. . . " Pagi hari saat baru membuka mata, pria itu langsung dilanda mual yang sangat parah.


Dengan gerakan secepat kilat, tangan tangan besarnya dengan jari-jari ramping menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian kakinya melangkah cepat hampir mirip berlari.


Kaki panjang berbalut piyama panjang bermotif garis biru hitam itu menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan cairan dari mulutnya. Sudah tiga hari kondisi serupa terjadi.


" Hueek. . . Huekkk . . . "


" Tuan Muda--, " Dari luar Ragil Anggara langsung berteriak sambil mengetuk pintu saat lampu LED berwarna merah yang ada di ruang tamu menyala karena sepertinya si pemilik apartemen reflek menekan tombol darurat yang ada di nakas samping ranjangnya.


Namun berapa kalipun Ragil Anggara mengetuk pintu, tidak juga ada sahutan.


Sepertinya pemilik kamar tidak mendengar teriakannya karena sibuk dengan rasa mual dan pening di kepalanya.


Dengan cepat Ragil Anggara menekan layar sentuh ponsel miliknya menghubungi seseorang.


Seseorang yang pasti paling dibutuhkan keahliannya mengingat kondisi Hega yang sejak beberapa hari yang lalu tidak baik-baik saja.


Setelah hampir seperempat jam lamanya, akhirnya rasa mualnya mereda.


" Gara, hubungi Derka dan minta dia datang secepatnya. " Ucap Hega melalui interkom yang terpasang di dinding kamarnya dan terhubung ke ruangan kerja dimana Ragil Anggara berada.


Satu tangannya menopang berat tubuhnya di dinding. Nafasnya sedikit terengah dengan wajah putihnya yang memucat.


Ceklak. . .


" Nggak usah lo panggil gue udah dateng. " Pria itu muncul di ambang pintu bersama Ragil Anggara.


Untung saja apartement yang ditempati Derka berada di blok yang sama dengan bangunan Imperial Hotel, tempat apartemen pribadi Hega berada. Jadi pria itu setidaknya lebih bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini.


" Masih mual dan muntah ? " Tanya Derka sembari memasuki kamar berukuran lebih dari 10x10 meter itu.


" Hm. " Ucapnya lirih sembari menjatuhkan bobotnya di sofa. Kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.


" Udah gue bilang cek darah ke rumah sakit, rontgen sekalian kalo perlu biar ketahuan ada masalah apa sama badan lo. "


" Ck, gue minta lo dateng bukan buat ngomel, Der. " Pria itu berdecih tanpa menatap lawan bicaranya.


Tubuhnya masih lemas merasai mual yang sungguh membuatnya nyaris kehilangan tenaga.


Lagipula saat ini, rumah sakit adalah tempat yang paling dihindari oleh Hega.


Karena dua orang terpentingnya menghembuskan nafas terakhir di tempat dimana seharusnya orang memiliki harapan untuk sembuh itu.


Ditambah lagi, istrinya pun menghilang di tempat yang sama.


" Hhhhuuuuuhhh.... Lo yang sabar ya Gara punya boss macam dia. " Cibir Derka sembari melirik pria di belakangnya.



Mengabaikan sikap menyebalkan sahabatnya, Derka tetap sigap mengeluarkan alat pemeriksaan dari dalam tas sakti miliknya.


Bagaimanapun pria itu salah dokter terbaik di Raharsa Hospital. Rumah sakit terbaik di negeri ini, dan karena kejeniusannya pula, pria itu menduduki posisi Kepala rumah sakit di usianya yang bahkan belum 30 tahun.


Dan salah besar jika orang mengira posisinya didapat karena ia adalah putra pemilik rumah sakit. Petakilan begitu, Derka Raharsa adalah seorang profesional di bidangnya.


" Lo ada makan yang pedes atau asem nggak dua hari ini ? " Tanya Derka setelah selesai memeriksa tanda-tanda vital sahabatnya.


Hega membuka mata, melirik datar dan menggeleng. " Nggak. enghhh--- " Rasa mual yang tersisa bahkan membuatnya tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


" Tuan Muda tidak bisa makan apapun beberapa hari ini. Dan hanya makan mango mousse kemarin siang dan jus mangga tadi malam. Semua---" Jelas Ragil Anggara mewakili tuannya yang sepertinya untuk bicara saja tidak ada tenaga.


" Semua jenis makanan tidak bisa diterima oleh indera penciuman dan pencecap Tuan Muda. Dan hanya sesuatu yang beraroma mangga saja yang bisa dicerna olehnya. " Sambung Ragil Anggara melanjutkan apa yang tadi terjeda.


Derka mendengus. " Gue kan udah bilang makan dulu yang lunak-lunak. " Tapi otaknya mendadak memikirkan sesuatu perihal gejala aneh yang dialami sahabatnya. Namun sedetik kemudian pria itu menggeleng kecil menghempas asumsinya yang belum tentu kebenarannya.


" Ck, jus kan juga lunak, nggak pake dikunyah. " Jawab Hega asal sambil memijat pelipisnya. Gara hanya geleng-geleng kepala di belakang Derka.


Sedangkan Derka, wajahnya sudah memerah geram, mau ngumpat saja. Pengen ketawa sih sebenarnya, jarang-jarang kan ini beruang kutub ngelawak.


Tapi kok sebel ya liat muka ngelawaknya yang datar kayak papan setrikaan.


" Anjrit bisa setep gue ngadepin pasien macam lo, lunak macam bubur maksud gue. Tuan muda lo kongslet ini, Gara. Bawa rumah sakit gih. "


Bugh...


" Sial, kaget sat. " Derka reflek mengumpat juga akhirnya saat bantal sofa mendarat mulus di kepalanya.


" Berisik. "


" Kalo lo kayak gini terus, lo bisa mati duluan sebelum nemuin bini lo, Ga. " Akhirnya Derka tidak bisa menahan lagi kekesalannya.


" Diem lo, Der. Kasih gue obat terus minggat sana ! " Hega mengeram kesal, sumpek rasanya mendengar ocehan Derka disaat kepalanya terasa berputar tidak karuan. Pria itu langsung bangkit menuju ranjang dan berbaring disana.


Sabar sabar. . . Entah sudah berapa kali mantra itu terucap di bibir pria yang masih mengenakan training olahraganya. Saat Ragil Anggara menelpon tadi, pria iti memang baru saja selesai jogging di area taman dekat apartemennya.


" Bener-bener deh ini manusia satu, kalo ngomong suka nyakitin. Normal aja bikin makan ati, lagi galau gini malah bikin gue makan jantung. " Sumpah serapah tak henti-hentinya keluar dari bibir dokter muda itu.


" DER !!! "


" Ya ya ya. " Merasa titik kesabarannya habis, tidak sanggup lagi melawan keras kepala seorang Hega Saint. Derka memilih mengalah dan bangkit dari sofa.


" Gara, sering-sering lo periksa jantung sama mental lo. Kali aja lo stress ngadepin majikan lo yang luar biasa ngeselinnya itu. " Derka menepuk pundak Gara dan melirik meledek ke arah pria yang sudah bersandar di headboard ranjang dengan ekspresi datarnya.


" Thanks, Der. " Ucap Hega datar dengan mata terpejam.


Sontak Derka menoleh heran, " Heh ???!!! Lo bilang apa barusan ? Gue gak salah dengar kan ?! "


" Gue gak bilang apa-apa, kuping lo bawa ke THT sana ! "


" Ck, dasar gengsian. Bilang makasih aja malu-malu kucing. You're welcome, gue terima ucapan makasih lo. " Derka kembali meledek.


" Pergi lo, Der ! "


" Hufft, iya gue minggat. Serem amat itu muka. " Yah kalo udah kena tatapan tajam membunuh seperti itu, pilihan terbaik adalah menyerah.


" Resepnya udah gue kasih Gara, kalo dalam tiga hari masih gak ada perubahan. Lo harus cek darah. "


" Hm. "


Derka melangkah keluar apartement Hega. Di perjalanan pulang kembali ke apartemennya, pria itu terus kepikiran sesuatu.


" Gara, gimana hasil pencarian ? Ada perkembangan ? " Tanyanya pada pria yang berada satu lift dengannya itu.


" Beberapa petunjuk ditemukan, tapi selalu kembali ke titik nol, karena sepertinya ada kekuasaan besar yang menghalangi pencarian. "


" Lo yakin kalau Moza juga masih hidup ? "


Pria itu terdiam sejenak. Kemudian menjawab dengan yakin. " Tuan Muda sangat yakin jika nona masih hidup, dan saya tidak akan pernah berada di posisi yang berseberangan dengan Tuan Muda. "


" Hahhh, semoga saja benar begitu. "


Ragil Anggara mengangguk. " Saya permisi Tuan Muda Raharsa. "


" Hm. Pastikan majikan lo minum obat dan vitamin nya sesuai resep. "


" Baik, terima kasih atas bantuan Tuan Muda Raharsa. "


Derka mengangguk, dan keduanya berpisah memasuki mobil masing-masing.


Jika benar Moza masih hidup, sepertinya kecurigaan gue benar. Derka bermonolog di balik kemudinya.


...****************...