FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 162 • Menghilang



Rapat baru berjalan 30 menit, tapi entah kenapa pria yang kini duduk menghadap sebuah giant lcd proyektor itu tampak gelisah.


Pikirannya terus tertuju pada istrinya. Padahal belum lama juga istrinya mengirimkan pesan padanya.


" Baiklah, sepertinya kondisi disana sudah bisa dikatakan stabil. "


" Benar, Presdir. Bahkan IHT masuk menjadi nominasi the best hotel Asia. "


" Oke, kerja bagus. Saya memang tidak salah memilih kalian. "


" Terima kasih atas kepercayaan yang Presdir berikan pada kam. "


" Kalian layak mendapatkannya. Dan karena situasi IHT sudah kondusif, kalian bisa mengirim sebagian team untu kembali ke Indonesia. "


" Bagaimana, Presdir ? " Salah satu pria yang sepertinya adalah ketua team IHT itu tampak mengernyit tak paham dengan maksud ucapan atasannya.


" Anita, kirimkan berkas laporan situasi IHN saat ini ke email mereka. "


" Baik, Presdir. " Anita segera mengotak-atik laptop miliknya, mengirim berkas yang diminta sang atasan. Dan dalam hitungan detik saja berkas tersebut sudah sampai di alamat email team ITH.


" Coba kalian cek email kalian, disana kalian akan tahu situasi yang terjadi di IHN. "


" Apakah Presdir meminta kami membantu memperbaiki situasi IHN ? " Tanya pria di layar proyektor.


" Ya. Tidak perlu semua team, cukup kirimkan setidaknya setengah anggota team IHT. "


" Ah, utamakan mereka yang sudah berkeluarga yang akan dikirim kembali ke Indonesia. "


" Ya ? "


" Terutama itu, Anita siapa anggota termuda team ITH yang baru menikah saat ditugaskan ke Tokyo ? "


" Kemal, Presdir. Kemal Ananda. " Jawab Anita.


" Ya, pastikan Kemal masuk dalam daftar team yang kembali ke Indonesia. "


" Presdir, apa pekerjaan saya kurang memuaskan sehingga saya yang pertama dikirim kembali ke Indonesia ? " Sahut seorang pria yang yang duduk di sisi kanan ketua team.


Hega mengernyit, sejujurnya pria itu tidak tahu seperti apa penampakan Kemal Ananda.


" Dialah Kemal Ananda, Presdir. Team termuda yang tadi dibahas. " Jelas Anita.


Hega menggangguk paham. " Bukan kinerja kamu yang kurang baik. Dari awal saya sudah katakan jika kinerja kalian benar-benar membuat GIG bangga. "


" Jadi alasan kenapa kamu menjadi urutan pertama yang wajib kembali ke Indonesia adalah karena kamu baru saja menikah, benar begitu ? "


" Benar, Presdir. "


" Oh iya, saya ucapkan selamat meskipun cukup terlambat. Dan maaf juga karena kamu harus ditugaskan ke tempat yang jauh dan berpisah dari keluarga kamu, terutama istri kamu. "


Ucapan sang Presdir tiba-tiba membuat wajah mereka melongo heran. Apa benar ini Presdir mereka yang dingin dan perfeksionis ? Yang mengutamakan dedikasi kerja ketimbang hal apapun.


" Itu bentuk dedikasi saya pada perusahaan. Dan terima kasih ucapan selamatnya, Presdir. Terima kasih juga atas hadiah pernikahan yang perusahaan kirimkan ke rumah saya. " Jelas ada gurat bahagia si wajah pria bernama Kemal itu.


" Hm. Jadi apa kamu mau kembali atau  kamu lebih betah berada disana ? "


" Tentu saja saya bersedia kembali jika itu juga bagian dari tugas, Presdir. " Jawab Kemal antusias.


Hega kembali fokus pada sang ketua team. " Baiklah, Damarta. Kamu atur siapa saja yang akan kembali dan menetap disana. Kirimkan hasil keputusan kalian pada Anita. Dia yang akan mengatur segala persiapan kalian untuk kembali ke Indonesia. "


" Baik, Presdir. "


" Dan satu hal lagi, jangan cemas untuk gaji dan bonus. Berada di IHT atau IHN, kalian adalah team khusus yang tentu saja akan mendapatkan tunjangan khusus. "


" Terima kasih, Presdir. "


" Oke, saya akhiri meeting kita hari ini. Selamat bekerja. "



Rapat koordinasi dengan team IHT selesai lebih cepat. Lebih tepatnya sang Presdir memang sengaja mempercepat meeting.


Lagipula semua poin penting sudah dibahas. Untuk apa pula berlama-lama. Bukankah segala hal harus dilakukan seefisien dan seefektif mungkin ?


Kini keduanya sudah meninggalkan ruang meeting, berjalan di koridor menuju ruang utama.


" Anita, selesaikan berkas IHN sebelum team ITH tiba di Indonesia. Pastikan mereka mendapat informasi yang cukup sebelum mereka memulai tugas mereka di IHN. "


" Susun daftar cabang IHN mana saja yang harus mereka atasi terlebih dulu. Urutkan berdasarkan tingkat urgensi tertinggi. "


" Buat poin-poin penting masalah apa saja yang ada di setiap cabang. Agar team Damarta tahu dengan jelas apa yang mereka hadapi dan bagaimana solusinya. "


" Baik, Presdir. " Balas Anita sambil mengikuti langkah atasannya, tak lupa membuat note di tablet yanh ada di tangannya.


" Ini meeting terakhir saya hari ini, kan ? "


" Benar, Presdir. Asisten Anggara masih ada di ruang meeting. Apakah Presdir tidak mau memantau sebentar jalannya meeting ? Karena sepertinya para pemegang saham sedikit alot hari ini. "


Hega melirik benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. " Biarkan saja, saya yakin dia mampu mengatasinya. "


" Baik, Presdir. "


Karena virtual meeting dilakukan di lantai yang sama, hanya berbeda koridor. Tidak butuh waktu lama untuk kembali ke ruangannya.


Gegas Hega membuka pintu ruangannya karena tadi sempat mendapat pesan dari istrinya.


Istrinya itu tidak jadi bertemu Deana dan akan langsung kembali ke ruangannya.


Namun saat membuka pintu, Hega tidak merasakan apalagi menemukan tanda-tanda keberadaan istrinya.


Jantung Hega seketika berdegup kencang, kegelisahan menyergap dirinya. Dengan langkah cepat ia menuju sudut ruangan. Menuju kamar mandi.


Meskipun ia sadar tidak ada tanda keberadaan istrinya disana. Tapi Hega tetap berharap istrinya ada disana.


Namun lagi-lagi hasilnya nihil, tidak ada sedikitpun jejak keberadaan istrinya disana.


Dengan segera ia menghubungi nomor telepon istrinya. Beberapa kali panggilan tapi tidak ada respon.


Kakinya langsung melangkah ke ruang kerja, menekan tombol intercom di atas meja yang terhubung dengan meja sekretaris pribadinya.


" Ada yang bisa saya bantu, Presdir ? " Sapa suara di seberang.


" Anita, siapa tadi yang ada di meja kamu saat kamu ikut meeting dengan saya ? "


" Itu, Dela yang menggantikan saya, Presdir. Apa--"


" Suruh dia masuk ke ruangan saya ! " Dengan cepat Hega menyahut bahkan sebelum Anita menyelesaikan kalimatnya.


" Baik. "


Klik


Dengan perasaan campur aduk, antara cemas, gelisah dan entah perasaan apa lagi yang berkecamuk dalam dirinya.


Hega tidak henti-hentinya meredial nomor ponsel istrinya. Setelah sebelumnya menghubungi Deana tanpa hasil.


Karena memang istrinya tidak bertemu dengan Deana. Jadi tentu saja sahabat istrinya itu juga tidak tahu keberadaan Moza.


Tok tok tok


" Masuk. "


" Presdir memanggil saya ? "


" Dela, apa kamu tahu kemana istri saya ? "


" Maaf, Presdir. Saya tidak tahu. "


" Apa dia tidak mengatakannya saat keluar dari ruangan saya ? "


" Saya sudah bertanya, tapi nona Moza mengatakan jika nona sudah ijin pada Anda. "


Hega memijat pelipisnya. Itu artinya istrinya pergi stelah mengirim pesan padanya. " Jadi istri saya pergi sejak saya rapat tadi dan tidak kembali ? " Tanyanya memastikan.


" Iya, Presdir. "


" Kamu yakin istri saya tidak kembali ke ruangan saya setelahnya ? "


" Saya yakin, Presdir. Karena saya selalu ada di tempat sejak sekretaris An mengikuti Anda meeting. "


" Ya sudah, kamu boleh keluar. Panggilkan Anita ! "


" Baik, saya permisi. "


" Hm. "


Hega tampak frustrasi, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dengan satu tarikan dilonggarkannya ikatan dasi yang mengikat rapi di lehernya.


Tubuhnya yang melemas langsung dilepaskannya di kursi kebesarannya.


Tangan kirinya menyugar rambut hitam lebatnya ke belakang. Dalam beberapa menit saja, penampipan rapi pria itu berubah begitu kacau.


Tok tok tok


Lagi-lagi pintu diketuk. Dan Anita langsung masuk setelah mendapat ijin pemilik ruangan.


Tapi belum sempat Anita bertanya ada sosok lain yang tiba-tiba muncul dari pintu yang baru ia buka.


" Tuan Muda. "


" Gara, pas sekali kau datang. Aku baru akan meminta Anita memanggilmu. "


" Tuan Muda, ada sesuatu yang mendesak---" Ucap Ragil Anggara, seraya melirik wanita di sampingnya.


" Anita, kamu boleh keluar. " Titah Hega saat mengerti arti tatapan asisten pribadi sekaligus orang yang paling ia percaya.


Wanita itu mengangguk lantas keluar ruangan.


Ceklek


" Gara, sebelum kau bicara, telfon dulu anak buahmu dan tanyakan dimana istriku ! "


" Itu yang mau saya sampaikan Tuan Muda. Nona menghilang. "


Deg


" A-apa ?! Apa maksudmu dengan istriku menghilang, hah ?! "


****


Tahan napas ❗❗❗


FYI :


IHT : Imperial Hotel Tokyo


IHT : Imperial Hotel Nusantara