
...☆☆☆...
Jika sebelumnya si pria yang duduk santai di dan mengamati sang istri bermain pasir ala-ala remaja. Hari ini sebaliknya, Moza memilih duduk di kursi pantai beratap payung raksasa yang melindungi tubuhnya dari panas matahari.
Tadi, pagi-pagi sekali selepas sholat subuh, gadis itu sengaja kabur dari kamar langsung menyibukkan diri di dapur. Dengan alasan mau menyiapkan sarapan, katanya.
Meskipun kenyataannya gadis itu hanya mengamati dari balik bar table bagaimana Sasa sang pelayan pribadinya menyiapkan semuanya bersama dengan pelayan villa.
Untung saja Ragil Anggara datang tepat waktu di saat-saat genting, jika tidak mana mungkin sang nona bisa lolos dari cengkeraman sang tuan muda yang maunya hanya berduaan saja di dalam kamar.
Hega baru saja menyusul istrinya setelah berganti baju sehabis kegiatan berselancar yang dilakukannya bersama Gara. Memilih duduk sejenak di kursi pantai sambil menikmati minuman yang ada di atas meja.
Pria itu tak henti-hentinya mengulum senyum, memperhatikan istrinya yang tengah berlarian di pantai dengan kaki telanjang. Sesekali berjongkok memunguti kerang yang tersembunyi diantara pasir putih. Kemudian berjalan maju, sedikit ke tengah dan beberapa detik kemudian kembali berlari mundur saat ombak menerpa.
Istrinya sungguh seperti gadis remaja usia belasan tahun, sangat menggemaskan.
" Kak, kemarilah ! " Terdengar teriakan manis istrinya yang tengah melambaikan tangan padanya.
Dengan sigap pria itu bangkit dari duduknya, merespon panggilan sang istri, berjalan cepat menghampiri sang istri. Tanpa aba-aba menyambar pinggul ramping istrinya dan mengangkatnya tubuh istrinya ke udara.
" Kyaaaa. . . Kakak, lepas ! "
" Kenapa ? Ini kan adegan yang sering ada di drama-drama yang kamu tonton. " Ujarnya sembari memutar tubuh istrinya.
" Akhhh, turunkan aku. Kakak membuat kepalaku pusing. " Kesalnya sambil memukul-mukul kecil bahu suaminya.
" Bukankah yang tadi itu romantis ? "
" Romantis apanya ? Yang ada kepalaku terasa berputar. " Moza tampak memegangi pelipisnya setelah kakinya terasa kembali berpijak di pasir.
Hega terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya, dengan sigap menangkap pinggul gadisnya agar gadis itu tidak sampai terjatuh karena efek putaran yang katanya membuat kepalanya pusing.
" Bukannya kamu selalu senyum-senyum sendiri kalau sedang nonton adegan seperti ini, hem ? Sekarang coba bilang gimana rasanya ? "
" Hih, iya sih romantis. Tapi juga bikin puyeng kepala aku, kak. " Gerutunya sebal.
Pria itu kembali terkekeh, " Makanya aku bilang jangan suka nonton drama. Terus senyum-senyum kebaperan sendiri, karena yang terjadi di drama tidak semuanya seindah dan semanis kelihatannya. "
" Ugh, habisnya di drakor kelihatannya memang gitu---" Lirihnya sambil menundukkan wajahnya.
▪ ▪ ▪
Keduanya kini duduk di atas pasir beralas matras, menikmati sunset di hari terakhir bulan madu mereka.
Hega memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya, " Apa kamu suka dengan bulan madu kita ? "
Gadis itu tak langsung merespon, manik matanya menyusuri sekitarnya. Sudah hampir seminggu keduanya berada di tempat itu, tapi rasanya masih begitu terpukau dengan segala keindahan yang ada di depan matanya.
Pulau ini memang sangat indah, udara yang sejuk tanpa polusi, air laut yang tampak jernih, suasana tenang dan nyaman, sunset yang memukau.
Masih tak menyangka dan tak percaya jika tempat ini adalah miliknya, bukan hanya area villa, tapi keseluruhan tempat ini.
Entahlah, Moza tak tahu dan tak mau memikirkannya. Lagipula untuk apa dia memiliki pulau pribadi, tak mungkin juga kan setiap hari dirinya kesana. Jangankan setiap hari, sebulan sekali saja belum tentu Moza akan bisa menginjakkan kakinya di tempat yang begitu menawan itu. Begitu pikirnya.
Gadis itu mengangguk setelah beberapa saat berfikir, " Eum, disini sangat nyaman dan tenang, udaranya juga sangat bagus. Pasti menyenangkan jika bisa tinggal disini. " Ucapnya tanpa sadar dengan manik mata tak lepas dari pemandangan indah yang belum juga membuatnya bosan menikmatinya.
Tapi sepertinya gadis itu sungguh tak menyadari efek dari ucapan spontannya itu.
" Emmm... Ide yang bagus.... " Ujar Hega seraya mengeratkan pelukannya di perut sang istri.
Moza menoleh dan mengernyitkan kedua matanya menatap suami tampannya dengan tatapan curiga.
" Momo sayang, bagaimana kalau kita tinggal disini saja, hem ? "
HAAA.. !!!! Manik mata kecoklatan si gadis sontak membulat sempurna.
Pliss deh kak, jangan kumat gilanya.
" Aku serius sayang. " Seru pria tampan itu seolah tahu arti tatapan sang istri yang sepertinya menganggap ucapannya hanya candaan semata.
" Aku lebih suka bersamamu.... " Jawab Hega mesra, memutar tubuh sang istri kembali menatap lautan, kemudian memeluk lagi istrinya sambil uyel-uyel gemas di ceruk leher sang istri, membuat gadis itu menggeliat kegelian.
" Hentikan kak, aku geli. "
" Hehe.... Tapi aku suka sayang. " Balasnya dengan cengiran nakal.
" Lalu perusahaan kakak bagaimana ? "
" Aku bisa mundur dari jabatan Presdir. " Menjawab seenaknya seolah tanpa beban.
" Ngawur. " Omel gadis itu setelah mendaratkan satu pukulan di kaki jenjang suaminya yang tengah selonjor mengapit tubuhnya, membuat si empunya meringis ngilu.
" Auwwwsss. . . "
" Kalau kakak mundur dari jabatan kakak, lalu siapa yang akan mengurus perusahaan ? Sembarangan saja kalau bicara, dasar !! "
" Kan masih ada Papah, yank. Beliau masih mampu kok. Kakek saja yang kelewatan, menyuruhku menghabiskan masa mudaku untuk perusahaan. Aku kan jadi tidak bisa berkencan. Beruntung aku bertemu bidadari di kafe saat makan siang. " Celoteh Hega dengan wajah memelasnya, berharap sang istri mendukung keinginan spontannya yang menjurus ngawur itu. Mana mungkin sang kakek membiarkan dirinya meninggalkan perusahaan begitu saja.
" HAAAH !!! Maksudnya ? "
" Jangan bilang kamu lupa pertemuan pertama kita hem ?! "
Ditembak langsung seperti itu membuat Moza sedikit gelagapan, setelah berusaha mengingat-ingat, sepertinya memang ingatan tentang pertemuan pertama mereka setelah sepuluh tahun berpisah sama sekali tidak terekam di kepala Moza.
" Haish kamu beneran lupa kan. " Hega menggerutu kecewa, " Memang akulah yang lebih mencintaimu dan bucinnya kamu. " Bergumam lirih, berpura-pura ngambek dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Moza membalikkan tubuhnya, menghadap sang suami, " Hehehe.... maaf ya, sayang. " Menangkup wajah Hega agar kembali memandangnya.
Si pria bucin mana bisa ngambek beneran, diam-diam pria itu senang bukan kepalang saat dipanggil 'sayang'
" Panggil sayang lagi. " Rengeknya manja, huh benar-benar seperti kucing anggora, menggelikan.
" Tidak mau. " Membalas dengan membuang muka.
" Huh, dasar istriku yang pelit. "
" Biarin. "
" Jadi gimana, sayang ? "
" Gimana apanya, kak ? "
" Rencana kita tinggal di sini ? Aku akan mengatakan pada kakek agar menunjuk Papa sebagai Presdir. "
" Tidak boleh. " Tegas Moza dengan mata yang sudah melotot tajam.
" Memangnya kenapa ? Kamu sebenarnya suka aku atau jabatanku si ? " Protes Hega sebal.
" IiIh... Mana ada aku suka jabatan kakak ? Aku bahkan tak tahu apapun tentang kakak saat aku mulai tertarik pada kakak. "
" Ouwhhhh..... " Mendadak exited, " Jadi sejak kapan kamu mulai tertarik padaku, hem ? " Tanyanya dengan mata berbinar, memainkan alisnya naik turun tak lupa senyum devilnya.
" Rahasia. " Jawab Moza cuek.
" Tuh kan memang hanya aku yang bucinnya kamu. " Bibirnya monyong lucu, membuat Moza gemas ingin mencium bibis seksi suaminya.
Hish, kenapa otakku jadi ketularan mesum gini si ???
" Udah ahh, jangan mengalihkan pembicaraan. " Moza mengalihkan pandangannya, menormalkan degup jantungnya karena sepertinya dirinya lah yang harus mengalihkan diri dari pikiran mesumnya.
.
...-----------------------...
...Kagak ada yang mau kasih sajen 🌹 ta ini ? 😣😣...