
Sudah tiga hari ini pria itu tidak keluar dari area pribadinya di lantai teratas Imperial Hotel.
Apartemen mewah itu lebih layak disebut penthouse. Tempat yang biasanya menjadi area ternyaman baginya untuk menghabiskan waktu berdua dengan sang istri itu kini menjadi tempat yang begitu suram.
Tiga hari sejak kabar buruk itu datang, Hega mengurung diri. Tidak menerima siapapun datang untuk menemuinya.
Bahkan Ragil Anggara yang selalu ada di sampingnya pun kini hanya bisa pasrah berjaga di luar pintu apartemen mewah sang tuan muda.
Ragil Anggara bisa saja pergi dari tempat itu. Tapi rasa cemasnya pada majikannya membuatnya harus selalu berjaga.
Meskipun Ragil Anggara sudah menempatkan dua pengawal di depan pintu. Namun pria yang sudah lebih dari 20 tahun berada disisi Hega, tetap merasa jika keselamatan sang tuan muda harus dijaga sendiri olehnya.
Dia telah gagal menjaga sang nona, dan dia tidak boleh melakukan kesalahan yang sama dengan lengah atas keselamatan tuannya.
" Ragil ? "
Ragil Anggara mengangguk hormat pada pria yang barusaja keluar dari lift khusus. " Tuan muda masih belum mau menemui siapun, Tuan Besar. "
" Hah, lalu apa yang dia lakukan di dalam sana ? Apakah dia tidak mau mengantar istrinya ke tempat peristirahatan terakhirnya ? "
Glek
Ragil Anggara menelan ludah, rasanya mengerikan jika harus melihat kemarahan tuan mudanya setiap kali ada yang mengungkit kematian sang nona.
" Tuan muda masih tidak mau mengakui jika jenazah itu adalah nona. Jadi sepertinya--- "
" Buka pintunya ! Biarkan aku bicara padanya. " Sela Suryatama penuh tekanan.
" Tapi tuan besar. "
Ragil Anggara berusaha menahan pria yang masih menjadi pemegang kuasa tertinggi keluarga Saint itu. Karena sejak awal, bagi Ragil prioritas utamanya adalah tuan mudanya.
" Buka ! Kau pasti punya kode kunci masuknya bukan ?! "
" Tuan Besar, saya--. " Ragil Anggara menghentikan ucapannya saat Benyamin menggelengkan kepalanya.
" Baik, Tuan Besar. Silahkan masuk. " Pria itu mempersilahkan Suryatama setelah menekan beberapa digit angka di layar kunci apartemen.
Hanya Suryatama yang memasuki ruangan, Ben dan Ragil berjaga di pintu.
Baru dua langkah masuk, Suryatama langsung disambut oleh pemandangan tidak sedap di depannya. Ruangan yang biasanya bersih dan rapi terlihat sedikit berantakan.
Tidak butuh waktu lama, Suryatama langsung bisa menebak dimana cucunya berada saat ini. Kaki tua-nya melangkah menuju salah satu ruangan, ruang kerja.
Pria itu tahu persis kebiasaan Hega ketika sedang kacau seperti ini. Cucunya itu akan menenggelamkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan.
Ceklik
Dan benar saja, sosok Hega ada di ruang kerja merangkap perpustakaan. Lebih tepatnya di balik kursi kerjanya dengan banyaknya berkas di atas meja.
Tapi sepertinya pria itu sedang tidak terjaga. Kepalanya yang terjatuh di atas map berkas, dengan layar komputer yang menyala. Sudah dipastikan pria itu sedang tertidur.
Tidak ! !
Tapi kenapa seolah ada yang tidak beres ?
Pria tua itu mendekat ke sisi kursi yang menopang bobot cucunya. Tangan keriputnya terulur menyentuh pundak cucu kesayangannya.
Tidak ada respon. Bahkan setelah beberapa kali Suryatama menepuk pundak kokoh Hega. Namun pria itu tidak juga merespon.
" Hega ! Bangun ! " Dengan cemas Suryatama mengguncang bahu cucunya.
Tak juga mendapat respon, Suryatama menekan tombol yang ada di ujung tongkatnya. Dan hanya butuh waktu beberapa detik saja, Benyamin sudah ada di hadapannya.
" Ada apa, Tuan Besar ? "
" Panggil Raharsa sekarang juga ! Ragil, bawa cucuku ke kamarnya ! " Dalam satu tarikan nafas, Suryatama memberi dua perintah kepada dua orang sekaligus.
Mengerti apa yang terjadi, kakek dan cucu itu langsung melaksanakan perintah Suryatama.
Tubuh besar dan kekar Ragil Anggara tentu bisa dengan mudah menyangga bobot tubuh Hega.
Dengan perlahan tubuh Hega sudah berbaring ke ranjang berukuran king itu. Tubuh yang biasanya tegap dan gagah itu kini tampak lemah.
Wajah tampan dan tegasnya kini terlihat kusut dan pucat.
" Apa yang sebenarnya terjadi selama beberapa hari ini, Ragil ? Bagaimana kau menjaga cucuku ? "
Suryatama menginterogasi Ragil Anggara di ruang tamu. Meninggalkan Derka yang sedang memeriksa kondisi cucunya.
" Hah ! Jadi itu sebabnya dia bisa drop seperti ini ? "
" Tuan Muda hampir tidak pernah istirahat di kamarnya. Beliau meninggalkan ruangan hanya jika akan ke kamar mandi. Terakhir saya melihat tuan muda sekitar satu jam yang lalu. Saat memberikan berkas perusahaan yang akan dikirim ke kantor. "
" Ya Tuhan ! Apakah aku harus bersyukur dan bangga jika begini, Ben ?! Karena dia bahkan masih tidak meninggalkan tanggung jawabnya meskipun dirinya sendiri hancur ? "
" Atau aku harus menyalahkan didikanku yang terlalu keras padanya hingga disaat terberatnya saja anak ini masih juga bekerja keras. "
" Tuan Besar tahu benar, jika memang seperti inilah cara Tuan Muda menghadapi kesulitan-kesulitan yang menerpa hidupnya. Apalagi kehilangan nona Moza, pasti adalah pukulan terbesar yang dialaminya. "
" Kau benar. Tapi jika ini terus berlanjut, maka sampai kapan anak ini bisa bertahan, Ben ?! "
" Tuan Besar lebih baik jangan memaksakan agar Tuan Muda menerima berita kematian nona Moza. "
" Apa maksudmu ? "
" Mungkin untuk sementara biarkan saja Tuan Muda dengan keyakinannya. "
" Maksudmu aku harus membiarkan cucuku berada dalam dunia khayalannya begitu ? "
" Benar, Tuan Besar. "
" Tapi----. "
" Apa yang dikatakan paman Ben ada benarnya, Kek. " Suara bariton yang barusaja keluar dari arah pintu kamar Hega menyela.
" Derka, bagaimana keadaanya ? "
" Buruk, Kek. Tidak kehilangan nyawa saja sudah termasuk keajaiban. " Pria seusia Hega itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah frustrasi.
Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan mendapati sosok sahabatnya yang selalu tampak arogan, dingin dan tangguh itu akan berada dalam kondisi terpuruk seperti ini.
" Lalu bagaimana sekarang ? "
" Derka akan mengirim beberapa alat medis kesini, Kek. Karena Derka tahu bocah itu tidak akan mau dibawa ke rumah sakit. Yang ada dia akan mengamuk nanti saat sadar dari pingsannya. "
Suryatama mengangguk setuju, pria tua itu juga sangat tahu perangai cucunya.
" Bagaimana jika kita bawa Tuan Muda kembali ke mansion, Tuan Besar? " Sahut Ragil Anggara.
" Derka ? "
" Itu juga lebih baik, Kek. Disana banyak orang yang akan menjaganya, meskipun Derka sendiri yang akan terus mengontrol kondisinya. Tapi dukungan keluarga adalah hal terpenting yang Hega butuhkan saat ini. "
" Ya, lakukan apa yang menurutmu baik. "
" Dan untuk saran paman Ben tadi, Derka rasa itu salah satu cara yang bisa kita gunakan untuk menstabilkan emosi Hega saat ini, Kek. "
Pria yang masih tampak begitu gagah di usia senjanya itu terdiam sesaat, tampak berpikir dengan seksama.
" Hah ! Baiklah, sebagai dokter kau tentu yang paling tahu yang terbaik untuk masalah ini. Lakukan saja ! "
" Dan alangkah lebih baik lagi, jangan biarkan siapapun memancing amarahnya lagi dengan mengungkit tentang jenazah itu apalagi mengatakan untuk mengikhlaskan istrinya ataupun hal-hal sejenisnya. "
" Baiklah, kakek akan bicarakan ini dengan semua anggota keluarga. Bagaimana dengan pemakamannya ? Dan bagaimana dengan hasil tes DNA nya ? "
" DNA akan keluar paling cepat dua minggu dan selambatnya satu bulan, kek. Apalagi jasadnya hangus terbakar. Jadi sepertinya akan lebih lama. Tapi Derka sudah mengusahakan yang terbaik. "
" Dan untuk pemakaman, menurut Derka lebih cepat lebih baik. "
" Tapi Hega tidak akan mengijinkan jasad itu dimakamkan atas nama istrinya. " Sahut Suryatama lagi.
Hari inipun tujuannya datang adalah untuk membujuk cucunya. Tapi siapa sangka justru ia mendapati kondisi sang cucu juga sedang memburuk seperti ini.
" Bagaimana jika kita memakamkannya dulu tanpa nama, Tuan Besar ? " Benyamin akhirnya buka suara menyarankan sebuah solusi. Bagaimanapun juga tidak baik membiarkan jenazah terlalu lama.
" Apakah seperti itu baik ? "
" Kita tidak punya pilihan, Kek. Saran paman Ben itu juga berdengar masuk akal. Membiarkan jasadnya berada di kamar mayat terlalu lama pun juga tidak baik. "
" Baiklah, kalian atur saja ! "
" Dan kalian siapkan kepulangan Hega sekarang juga ! "
" Baik, Tuan Besar. " Ben dan Ragil Anggara mengangguk kemudian keduanya sama-sama berbalik badan dan melakukan pekerjaan masing-masing.
...****************...
Maaf ya aku baru bisa update. Aku usahakan kembali rutin update disela pemulihanku.