FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 61 • Sadboy or Fakboy



...☆☆☆...


Dea menatap lelaki di sampingnya dengan wajah cengonya. Ini sebenarnya siapa yang harus menasehati siapa si ?


Tapi bukan tanpa sebab Bian mengatakan hal seperti itu pada Deana. Tapi nasihat itu reflek saja keluar dari mulutnya saat melihat sosok lelaki keluar dri dalam mobilnya, sepertinya juga baru saja sampai di rumah yang Dea tinggali itu.


Dan Fabian adalah master peka jika kalian lupa, dari Fabian lah Moza belajar menjadi sosok yang super peka terhadap perasaan orang lain. Fabian bisa langsung sadar setelah beberapa kali pertemuan mereka jika ada sesuatu antara pria itu dengan sahabatnya, Deana.


Sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang lebih dari sekedar kata sahabat. Yah, sepertinya kalimat yang mengatakan tidak ada persahabatan murni antara pria dan wanita itu memang benar adanya.


Fabian tidak mau Deana mengalami penyesalan seperti dirinya, terlambat menyadari perasaannya sendiri. Karena Fabian yang peka terhadap perasaan orang lain saja tidak menjamin jika dirinya juga peka dengan apa yang hatinya sendiri rasakan.


Lantas bagaimana dengan Dea yang bahkan tidak memiliki kepekaan seperti dirinya. Bisa-bisa gadis itu baru sadar akan perasaannya jika sudah benar-benar kehilangan, seperti yang sedang dialami Fabian saat ini.


" Yah, siapa tahu kamu sedang dalam situasi seperti itu, atau mungkin akan mengalaminya. " Jawab Bian santai sambil mengedikkan bahunya, setelah itu menghentikan mobilnya tepat di depan rumah berpagar hitam bergaya modern.


Dea yang masih belum bisa menangkap maksud ucapan lelaki itu hanya bisa menatapnya dengan pandangan aneh.


Dan yeah, seperti biasa, gadis itu memilih mengabaikannya saja. Anggap saja sahabatnya itu tengah error karena gagal dalam cinta. Upps, jahatnya.


Fabian engaja berhenti agak maju, melewati mobil yang sudah terparkir lebih dulu di dekat pos satpam.


Ceklik


" Dah sana masuk ! " Ucapnya setelah menekan tombol kunci pintu mobilnya.


" Hem, lo gak mau masuk dulu ? " Tawarnya sambil melepas seatbelt nya.


Pria itu menggeleng, " No thanks, aku capek mau balik ke hotel. Dan besok aku terbang ke Kanada. "


Dea mendesah, " Mau gue anter ke bandara ? "


Fabian kembali menggeleng tapi kali ini diiringi sebuah senyuman, " No need, Dea. Hari ini sudah lebih dari cukup kamu nemenin aku. "


" You must be so tired. Sleep tight and have a nice dream, girl. [ Kamu pasti sangat lelah. Selamat tidur dan mimpi indah ] " Imbuhnya seraya mengacak pelan rambut sahabatnya itu.


" Okey, take care, Bian. Telfon gue kapanpun oke, jangan ngilang lagi ! " Ucap Dea sambil meletakkan tangannya di dekat telinga, dengan jari telunjuk dan jempol yang terbuka, seperti sedang menelfon.


" Hem. " Balas Bian singkat diiringi anggukan dan senyuman.


" Promise ? " Menjulurkan jari kelingkingnya.


Fabian terdiam beberapa detik, tampak sedang berpikir, " You are still like a teenager. [ Kamu ini masih seperti remaja saja ] " Ucapnya seraya terkekeh pelan.


" Be more mature, Dea. [ Jadilah lebih dewasa, Dea. ] " Imbuhnya lagi, membuat Dea berdecak protes dan menatap tajam Bian.


" Oke oke, I promise. " Pasrah Bian akhirnya sambil menautkan kelingkingnya pada kelingking gadis itu, " Are you happy now ? [ Apa kamu senang sekarang ? ] "


Dea mengangguk dan seperti biasa diselingi cengiran kuda, pertanda sangat puas dengan janji lelaki itu, " Ya udah gue turun. " Senyum masih mengembang di wajah cantik Dea sudah bagaikan anak kecil yang mendapat permen saja.


▪ ▪ ▪


Dea berjalan cepat menaiki tangga, rasanya sangat lelah dan ingin segera kembali memeluk guling kesayangannya. Tak menghiraukan pemuda yang terus memanggil namanya dan mengikutinya.


Dea membalikkan badannya dan menghentakkan kakinya sebal, " Apaan si, Jul ?! "


" Gue belum selese ngomong, lo main tinggal aja. Kagak ada sopan-sopannya lo. " Pemuda itu malah ikut ngomel.


" Hiih, kan gue udah bilang lanjut besok aja iiih, gue ngantuk. "


" Jalan sama cowok lain aja lo bela-belain melek sampe malem gini, giliran gue ngajak ngomong bentaran doang alasan ngantuk lo. "


" Emang kenapa ? Cemburu lo ?! "


" Idih, gue cemburu sama lo ? " Tanya balik Julian dengan tengilnya, Dea mengangguk dengan gaya mengejek, " Najis gue cemburu sama lo. " Balas nya dengan gerakan bahu bergidik.


" Ya udah, ngapain lo ribut daru tadi. " Sewot Dea kembali membalikkan badan hendak melanjutkan menuju kamarnya yang tinggal beberapa langkah lagi.


Tapi baru satu langkah, gadis itu kembali menoleh, " Lagian nih ya Jul, lo kan dari tadi bukan ngajak ngomong, tapi ngajak debat. Dan gue udah lowbat nih, nggak ada tenaga buat ngeladenin ocehan nggak jelas lo itu. "


" Heh, tung--- " Sela Julian hendak protes namun gagal karena satu lagi sahabatnya yang tiba-tiba datang menyela ucapannya.


" Haish, berisik lo pada. Nggak liat apa ini udah jam berapa ?! " Sahut Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya, tampak segar dengan rambut basah dan sudah berkostum tidur.


" Temen kak Dimas noh, ngajak ribut mulu. " Omel Dea sambil menunjuk wajah Julian dengan jarinya.


" Apaan, kok gu--- "


" Heh, jangan kabur lo ! Urusan kita belum kelar. " Ucap Julian dengan nada mengancam ke arah Deana, dan bukannya takut gadis itu malah menjulurkan lidahnya dengan tatapan mengejek. 😛


" Eh, kak Dimas abis darimana tadi sama si tengil ? " Tanya Dea setelah Julian menghilang di balik pintu kamar Dimas.


Dimas mengernyit, " Julian maksud kamu ? "


" Iyalah dia, emang siapa lagi ? Kalian berdua darimana dari tadi siang perginya kan ?! "


Pemuda itu mengangguk, " Julian nemenin ngurusin kepindahan kakak ke LA. "


Dea yang tadinya mengantuk langsung melek sepenuhnya, kemudian ikut duduk di sofa bersama kakak sepupunya itu.


" Kak Dimas jadi lanjut kuliahnya di LA ? "


" Hem. " Dimas mengangguk, tanpa menoleh ke arag sepupunya. " Kan itu maunya papa dari dulu. Biar ngikutin jejak abang katanya, kali aja nasib aku jadi kayak abang, bisa jadi wakil Presdir, hahaha. " Jelasnya diakhiri tawa yang terdengar terpaksa, tapi Dea tidak cukup peka untuk menangkap tawa garing saudaranya itu.


Dea mencebik, " Terus kafe kak Dimas gimana ? Kan dulu kakak nolak buat kuliah di LA juga karena pengen bangun usaha sendiri kan, biar bisa mandiri gitu ? "


" Hahaha, mandiri apaan orang modalnya juga duit abang semua. " Tawa Dimas, yang dimaksud abang itu adalah Bara Prasetya, kakak Dimas.


" Ya tetep aja kan itu usahanya kak Dimas yang merintis dari nol, sampe udah punya beberapa cabang juga, kan sayang kalo ditinggal gitu aja. "


" Kamu lah yang urus kafe, gantiin kakak. " Jawabnya enteng.


" Idih, kok jadi aku si ? "


" Hehe, bantuin kakak ya untuk yang satu ini. Lagian kamu juga udah belajar banyak kan beberapa bulan ini. Kakak yakin kamu bisa jalanin kafe selama kakak nggak bisa handle langsung. "


Gadis itu mendesah lirih, " Kak Dimas pergi bukan buat pelarian kan ?! "


Lah tumben ini anak peka. Giliran perasaan dia sendiri kagak nyadar.


Pemuda itu nyengir, " Yah, kakak ketahuan ya ? " Jawabnya enteng sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Ihhh, nyebelin. Kenapa harus ke luar negeri segala si ? "


" Hehe, kakak becanda, Dea. "


" Hih, nggak lucu. Becandanya jelek, sleketem. " Bibir Dea mengerucut kesal.


" Kalau boleh jujur, itu memang salah satu alasan kakak memilih menerima tawaran Abang buat kuliah di kampusnya dulu. Sekalian biar papa juga seneng. Tapi alasan terbesarnya ya karena kakak pikir sepertinya bukan ide buruk menempuh S2 di sana. " Dea manggut-manggut mendengar jawaban Dimas yang terdengar sangat serius itu.


" Kalau kakak terus disini, yang ada kakak nggak fokus kuliah dan ngurusin kafe karena sibuk jadi sadboy. " Imbuh Dimas jahil membuat Dea yang tadinya ingin serius menanggapi jawaban Dimas sebelumnya menjadi berubah kesal.


Bruk


" Tuh kan, nyebelin banget si. " Gerutu Dea setelah melempar bantal sofa ke arah kakak sepupunya itu.


Sebel kan masa sehari udah dibikin kesel sama dua pria yang lagi jadi sadboy. Udah gitu dua-duanya adalah cowok yang sangat Dea sayang, ditambah lagi dua-duanya jadi sadboy karena satu cewek yang sama, yang juga adalah sahabat berharga Dea.


Coba kalo cewek itu bukan Moza, pasti Dea sudah cakar-cakar tuh muka cewek yang bikin kedua pria itu patah hati berjamaah.


" Hahaha. . . " Dimas hanya tergelak melihat wajah masam anak dari om nya itu.


" Kalian ngetawain apaan ? " Sahut pria yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.


Glek. . .


Julian makin kelihatan ganteng dengan tampilan rumahannya, kaos dan celana pendek ditambah rambut basah yang bikin cowok itu kelihatan seksi.


Nah, kalo ini bukan sadboy, ini mah fakboy. 🙄


Batin Dea melirik malas Julian dan kemudian pergi menuju kamarnya, mengabaikan teriakan Julian yang memanggilnya.



↪ Ciyeee kalo fakboy nya MODELAN kek gini, othor juga mau 🤣🤣🤣


...-----------------------...


...Maaf, DeLian belom bisa up di lapak mereka, nyempil dulu disini dikit yah 😂...


...Like dan komen ya sayang tentang chapter ini 😘...