
" Gemes deh, ke kasur yuk. "
Kelopak mata Moza membola, gadis itu memelototi suaminya memasang ekspresi galaknya.
Heh, kok jadi bawa-bawa kasur ?
Bugh. . .
" Iihh, jangan becanda dulu, kak ! "
" Siapa juga yang ngajak becanda, sayang. Orang aku seriusan mau ngajak ke kasur kok, yuk ! " Hega sudah bersiap mengambil posisi untuk berdiri, dengan kedua tangannya menahan tubuh istrinya hendak menggendong istrinya ala bridal.
Tapi baru saja memasang kuda-kuda akan bangkit dari sofa, gerakannya terhenti saat satu pukulan kembali mendarat di bahunya .
" Hih, stop deh, kak ! Lihat nih rambut aku masih basah. " Moza mendumal kesal sembari mengibaskan ujung rambutnya.
" Ya bagus dong, mumpung belum kering, yuk dibikin basah lagi. " Senyum terukir di bibir pria itu, dan ekspresi suaminya yang menjurus mesum itu membuat Moza memekik geram.
" Kakaakkk. "
" Pfffttt. . . Oke oke, jadi maunya kamu apa, sayang ? "
" Jawab dulu pertanyaanku, kak ! "
" Pertanyaan yang mana, sayang ? " Tangan besar Hega kembali terulur membelai pipi istrinya.
Gemes banget, pengen gigit.
Hega merapatkan giginya, tidak tahan rasanya ingin mendaratkan bibirnya di pipi chubby istrinya.
" Itu, soal beasiswa aku, kak. Apa bener aku masuk ke sana karena--- koneksi. " Lirihnya di akhir kalimat.
" Pfffttt. . . Hahaha. . . " Ya ampun masih penasaran juga ternyata istrinya ini.
" Kakaaakkkkk. . . "
" Iya, sayang. " Sahut Hega dengan masih ada sisa tawa yang berusaha ia redam, kalo keterusan ketawanya, pria itu khawatir jika istrinya akan ngambek beneran.
Bisa gawat urusan ranjang-meranjang kalau istrinya sampai mode merajuk.
" Jawab iiiihhhh !! " Gemas dengan keusilan suaminya, Moza mencubit perut suaminya, membuat Hega meringis ngilu.
" Aduh. Main tangan terus ya dari tadi, awas aku balas nanti di kasur, akan aku buat kamu tidak bisa berkutik. " Sudah tahu istrinya sedang dalam mode galak, masih juga mulut Hega tak bisa berhenti menggoda istrinya.
Tidak ada sahutan ataupun respon apapun dari istrinya, gadis itu hanya melotot galak menatap Hega yang masih setia dengan ekspresi nakalnya.
Ampun deh, sepertinya memang harus berhenti dulu menggoda sang istri, lihat saja gadis cantik itu sudah seperti keluar tanduk, siap nyeruduk.
" Emmm, kalo itu sih--- " Hega melipat bibirnya, sengaja menggantungkan jawabannya, membuat Moza berharap jika mungkin dugaannya salah, meskipun ia tahu jika kemungkinannya sangatlah kecil.
" Tentu saja benar, hahahaha. . . Kan aku udah bilang tadi siang sepulang dari butik, kalau kakek sengaja membuatmu kuliah disana agar kamu tidak kabur, hahahaha . . . " Lanjut Hega diakhiri gelak tawa yang meledak sudah, tak sanggup ditahannya.
Pria itu sampai memegangi perutnya, memejamkan mata dengan kepala menengadah ke atas. Kram rasanya perutnya dari tadi ketawa terus.
Tapi gimana ya ? Istrinya tuh hari ini lagi super gemesin sih.
Dan benar saja, jawaban dari suaminya sesuai dugaannya. Tapi meski sudah tahu, tetap saja membuat rasa kecewa menyergap dirinya. Gadis itu merosot lemah dan wajahnya tertunduk kecewa.
Tawa Hega seketika terhenti saat tiba-tiba terasa hening, tak terdengar gerutuan kesal istrinya ataupun cubitan dan pukulan mendarat di tubuhnya.
Hega kembali menatap istrinya, melihat raut wajah istrinya yang tampak kembali muram, pria itu langsung menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar di sofa, " Loh, kok kamu jadi sedih gini sih, yank ? " Tanyanya sembari mencapit dagu Moza dan menaikkannya agar menatap padanya.
Moza menggeleng lemah, membalas tatapan suaminya dengan mata sayunya, " Jadi benar aku dapat beasiswa bukan karena nilai atau kemampuanku ? "
Hega menghela nafas sejenak, kemudian menatap manik mata sendu istrinya, " Sayang, sebenarnya saat tahu kalau kamu tertarik pada bidang fashion design, kakek ingin mengirim kamu untuk kuliah di universitas desain mode yang ada di Paris. " Hega menyelipkan rambut istrinya di belakang telinga, menatap lekat wajah cantik alami tanpa makeup gadisnya.
Ucapan Hega tentu membuat Moza sempat terkejut, ternyata kakek Suryatama diam-diam memang mengawasi dirinya.
" Tapi saat mendengar dari ayah dan bunda kalo kamu mau kuliah manajemen bisnis, maka kakek sengaja menempatkanmu di Universitas Dwitama. Selain karena disana adalah yang kampus terbaik salam negeri, juga ada alasan lainnya. "
" Apa ? "
" Astaga, istriku sayang. Kamu ini kalo lagi gak peka gini gemesin banget sih ? " Hega mencubit gemas pipi istrinya.
Merasa seperti kembali dipermainkan, dengan sedikit emosi gadis itu menepis tangan tangan sang suami yang keasyikan menggemasi kedua pipinya, " Iiihhh, bilang aja kalo kakak mau ngatain aku lemot, iiihhh. "
Pria itu terkekeh, " Mana ada ? Enggak kok sayang, aku nggak mikir gitu, beneran. Kalau aku bohong, aku rela disambar bibir kamu. "
Tuh kan, kapan sih suaminya itu waras ? Perasaan kalau sedang berduaan, suaminya mendadak berubah jadi random sekali tingkahnya. Sangat bertolak belakang dengan kesehariannya yang tegas dan serius.
Kedua tangan Moza bersedekap di dada, memasang mode galak level dewa. Awas aja kalau suaminya itu masih terus membuatnya jengkel, akan dia tingkatkan mode galaknya ke level neraka.
" Ugh, terserah lah. Jadi apa alasan lainnya itu ?
Hega menghela nafas, seolah jawaban yang akan keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang sangat serius, " Tentu saja untuk menjaga calon cucu menantunya dong, supaya nggak deket-deket sama cowok lain. " Jawabnya dengan nada serius tapi santai.
" Bilang aja buat diawasin, huh. " Bibir Moza manyun menggemaskan.
" Yah, itu kamu tahu. " Balas Hega enteng diiringi tawa renyahnya.
" Kak Hega ih, hari ini puas banget kayaknya ngetawain aku. " Bibir berwarna peach alami itu masih cemberut.
" Habisnya kamu imut sih, yank. Sumpah, pengen bawa kamu ke kasur. "
Bola mata bulat itu semakin melebar, " Huh, apa hubungannya coba ?! "
" Tentu saja ada. "
" Apa ? "
Kedua telapak tangan Hega kembali mendarat di kedua pipi Moza, menangkup pipi kenyal itu dan sedikit menguyel-uyel jahil, " Istriku sayang, karena kamu imut gini, aku jadi pengen bawa kamu ke kasur--- buat di gemesin. " Jawabnya diselingi kerlingan nakal, membuat Moza membelalak kesal.
Baru saja ingin protes, tubuh mungilnya sudah terasa melayang.
" Eh eh eh, kakak mau apa ? "
" Yuk ke kasur, yank ! Aku mau gemesin kamu. " Cup, sebuah kecupan mendarat di pipi Moza.
" Hish, dasar mesum !! "
" Biarin, pahala tau mesumin istri. Cari pahala sore hari, masih ada waktu sebelum maghrib, yank. " Satu kecupan lagi kembali Hega berikan di pipi istrinya, kali ini pria itu bahkan sengaja memberikan gigitan disana.
" Akhhh, kakaakkk. "
" Apa sayang ? Jangan desah dulu, yank. Nanti aja di kasur kamu puas-puasin desah. " Kerlingan nakal suaminya sontak membuat Moza mendelik, tapi mau kabur, bagaimana caranya ?
Lihat saja tubuhnya yang direngkuh erat oleh pria yang sedang membawanya menuju tempat favorit suaminya itu. Apa lagi jika bukan tempat tidur alias kasur.
Astaga, apapun bahasannya kenapa selalu berakhir bahas kasur sih ? Pinter banget suaminya ini cari kesempatan.
Aaaaa. . . Siap-siap keramas lagi kalau begini caranya.