
Sudah hampir satu jam sejak Anita mengatakan pada sang Presdir jika istrinya akan menyusul menuju ruangan orang nomor satu di GIG.
Bibir merah seksi itu tampak komat-kamit tidak jelas sembari melirik ke aah pintu beberapa kali. Menanti sosok sang istri.
Tapi sampai sekarang tidak juga nampak batang hidung wanita cantik itu. Padahal Hega sudah tidak sabar untuk bertanya langsung tentang si mawar kuning.
Hega merasa kesal sendiri.
Bisa-bisanya dirinya membiarkan sang istri berada dalam satu divisi yang sama dengan salah satu pria yang pernah menyukai istrinya. Atau bahkan mungkin si Yellow Rose itu bisa saja masih menyukai istrinya.
Dan terburuknya, Hega tidak tahu apa-apa dan membiarkan wajah cantik istrinya dinikmati oleh pria lain yang pernah menyatakan cinta pada istrinya.
Hih, enak saja. Aku aja yang suaminya harus diam-diam kalau mau melihatnya. Gerutunya kesal.
" Barusan lo ngomong sama gue, Ga ? Dan kenapa wajah lo dari tadi asem bener. " Bara melirik sahabatnya yang dari tadi terlihat aneh, dan pria super tengil itu tentu tahu penyebab tingkah aneh Hega dan malah sengaja jahil.
" Diem lo, Bar. "
" Elah, sewot amat. Kalo lo nggak sabaran, kenapa nggak lo aja yang turun sih, ribet bener. "
" Minggat sana lo, Bar. Ngapain dari tadi lo disini, bikin gue tambah pusing. "
" Ck, laknat bener ini bocah. Gue berbaik hati ini nemenin lo yang lagu gundah gulana, malah ngusir. "
" Mingkem atau minggat ? Pilih salah satu ! "
" Ampun dah, iya iya gue minggat. " Bara langsung bangkit dari sofa, tak lupa menyaut toples berisi kue putri salju.
" Bar, bawa apaan lo ? "
" Elah, Ga, jangan pelit napa, orang gue minta satu toples doang ini. Noh di kulkas lo masih banyak. Mubazir nggak ada yang makan, dosa entar. " Bara malah cengengesan tanpa dosa san langsung ngacir keluar pintu, beneran sudah seperti jelangkung, datang dan pergi gak permisi, gak ada sopan-sopannya.
" Ck, dasar. "
Hega hanya bisa memaki, tidak bisa melarang, padahal satu toples berisi kue nastar udah kosong melompong, ini masih juga bawa toples berisi kue kacang bertabur gula putih halus. Emang laknat temannya yang satu ini.
Ya, memang sejak hubungan Hega dan Rasti--Mami sambungnya itu membaik, wanita yang memberinya seorang adik perempuan itu selalu mengirim aneka kue ke kantor Hega untuk cemilan disela kesibukan putra sambungnya.
Disisi lain,
Moza memilih mengabaikan permintaan suaminya kali ini, gadis itu kini sedang bersama Amira menuju kantin perusahaan di lantai 5 yang sebenarnya lebih mirip area food court.
" Capek juga ya mau makan siang doang, Ami. " Keluh Moza saat keduanya baru saja keluar dari lift dan berjalan di koridor menuju area kantin.
Seminggu lebih magang di perusahaan terbesar seNusantara itu, Moza baru merasakan lelahnya perjalanan dari ruangan divisi keuangan di lantai 10 menuju kantin di lantai 5. Tahu gitu mending bawa bekal aja kan. Walaupun naik lift, tetap saja ada proses jalan kakinya.
" Lagian lo juga sih Mo, dikasih kenyamanan malah milih yang susah. " Sahut Amira yang membuat Moza seketika mengerutkan keningnya.
" Dimana-mana tuh kalau magang enakan punya koneksi, Momo. Nah lo punya koneksi kualitas super premium malah lo tolak. "
Bola mata bulat Moza merotasi malas. " Ih, super premium kayak kualitas tas kawe aja. " Amira sontak tertawa dengan ucapan Moza, memang ya sekarang sahabat es nya mulai bisa ngelawak.
" Lagian aku nya yang capek, Ami. " Sambung Moza sembari mendaratkan pantatnya di salah satu kursi yang ada di sudut area kafe. Moza memilih tempat paling pinggir di dekat kaca yang menampilkan pemandangan kota.
" Dih capek apaan, orang cuma dikasih tugas tambahan temenin Presdir makan siang doang, nah presdirnya juga suami lo sendiri. Dimana capeknya coba ?! " Seloroh Amira, untung saja belum banyak yang datang untuk makan siang, jadi pembicaraan mereka masih aman.
Moza melengos malas.
Kamu gak tahu aja sih, disana aku bukan hanya makan siang Ami, justru akunya yang jadi menu makan siangnya Presdir. Hish
Moza masih ingat saat tiga hari yang lalu ketahuan oleh sang suami. Moza harus membayar cukup mahal untuk sebuah penjelasan.
Hari itu Moza memilih meminta Amira menemaninya ke ruangan suaminya, saat hendak memasuki lift, Ragil Anggara ternyata sudah menunggu di sana.
Kening Moza mengerut tak mengerti.
" Ini access card lift khusus. "
" Oh, kenapa diberikan padaku ? "
" Karena mulai sekarang Nona akan membutuhkannya. "
" Ehh ? " Kenapa pernyataan Ragil Anggara seolah mengisyaratkan jika Moza akan sering datang ke lantai 15 yang sakral itu ?
Moza masih ingin bertanya tapi diurungkannya karena pintu lift sudah terbuka. Sebelum masuk, Moza sempat memperhatikan sekitar, memastikan tidak ada yang melihatnya. Tapi memang lift vvip berada di area khusus yang tidak hanya orang berlalu-lalang.
" Silahkan, Tuan Muda sudah menunggu Nona. "
" Ah, iya. Kak Ragil tidak ikut naik ? "
" Tidak, Nona. Saya ada tugas lain. Saya permisi. "
Moza mengangguk. " Terima kasih. "
" Mo, masa gue harus jadi baygon sih ? " Protes Amira saat pintu lift sudah tertutup.
Moza melirik sahabatnya seraya menekan tombol 15. " Siapa yang bilang kamu jadi baygon ? "
" La terus gue nemenin lo ketemu Abang Gans, apa namanya kalau nggak jadi baygon ? " Cetus Amira.
Moza menghela nafas. " Kamu nggak akan jadi baygon, Ami, tenang aja. Tapi kamu jadi Hit aja. " Ujarnya dengan ekspresi datar.
Gadis berhijab biru muda itu langsung melotot dengan bibir mencebik. " Hish, itu mah sama aja Momo, beda merk doang sama fungsinya. Lagian lo sejak kapan bisa ngelawak sih ? "
Moza terkekeh sudah tidak bisa mempertahankan ekspresi datarnya. " Sshh, udah ah, jangan cemberut. Lagipula memangnya kamu kira aku mau ngapain sih di ruangan kak Hega si, Ami ? "
Ami mengedikkan bahunya. " Emang kalo pasutri berduaan mau ngapain lagi, ya jelas lah---. "
" Jangan mikir aneh-aneh, ini kan di kantor. "
Amira nyengir. " Iya sih. Ya udah deh, pokoknya gue ditraktir maksi. "
Dan dugaan Amira ternyata benar adanya, tidak mungkin tidak ada apa-apa jika suami istri berduaan di sebuah ruangan.
Buktinya sudah hampir satu jam Moza berada di ruangan Presdir, gadis itu tidak juga keluar dari sana.
Hingga bunyi interkom di atas meja Anita berbunyi.
" Ada yang anda butuhkan, Presdir ? "
" Anita, tolong sampaikan pada teman istri saya yang tadi datang bersama dengannya. Dia bisa kembali dulu ke ruangannya. "
" Ahh, i-iya. Baik Presdir. Ada lagi Presdir ? "
" Tolong siapkan pakaian baru untuk istri saya, 'pakaian lengkap'. " Ucap suara bass di seberang telepon yang entah telinga Anita yang salah dengar atau memang benar jika suara atasannya tadi sengaja menekankan dua kata terakhir.
" Dan untuk ukurannya, kamu minta Gara untuk menanyakannya pada privat maid istri saya. " Imbuh suara bass itu lagi sebelum Anita mencerna lebih lanjut kalimat pertama sang atasan.
Tik tok tik tok
Otak Anita berputar, berpikir sejenak.
'Pakaian lengkap' yang dimaksud boss nya itu beserta 'dalaman' alias jeroannya kan ya ? Setidaknya itulah yang terlintas di pemahaman Anita.
***
Nah loh habis ngapain boss dan nyonya boss ???