FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 100 • Beneran Istri Orang



" Mo-- ? " Ekspresi terkejut sangat kentara di mimik wajah pria itu saat melihat ke arah Moza.


Pria itu bahkan sampai tidak sanggup menyebutkan nama lengkap gadis yang wajahnya begitu melekat di hatinya itu.


" Pak Geovano, ini mahasiswa-mahasiswi magang yang akan ditempatkan pada divisi Bapak. Alvin, Wisnu, Selia, Amira dan--. "


" Moza Artana. " Sahut pria yang ternyata adalah Geovano Syailendra, kedua netra hitam pria itu bahkan tidak beralih sedikitpun dari wajah cantik gadis yang pernah atau mungkin masih ada dalam hatinya itu.


" Loh Pak Geovano sudah kenal rupanya ? "


Pria itu sedikit tersentak, sadar jika sempat terpana beberapa, kemudian berdehem pelan untuk menyembunyikan kegugupannya dan tersenyum, " Ekhem. . . Dia junior saya di kampus. "


" Oh iya, saya sampai lupa bapak juga dari Dwitama University. " Geovano mengangguk.


Sontak perhatian langsung teralihkan pada sosok Moza dan Geovano. Karyawan GI Grup tentu tahu bagaimana sikap seorang Geovano yang sulit didekati oleh perempuan.


Pria yang baru beberapa bulan menempati posisi Kepala Divisi Keuangan GI Grup itu memang sosok yang supel dan ramah pada siapa saja. Tapi untuk dekat secara personal dengannya bukan perkara mudah, terutama untuk para kaum hawa.


Lalu siapa gerangan gadis yang tiba-tiba hadir ini ? Gadis yang kemunculannya mampu membuat pria itu sempat terpana dan tak bisa berkata-kata.


Sedangkan Moza hanya tersenyum canggung kemudian mengangguk sopan membalas tatapan pria itu. Niatnya untuk berusaha tidak mencolok dan menarik perhatian hancur sudah.


Lihat saja, belum juga setengah hari magang sudah ada kejadian yang membuat banyak mata menatap penasaran padanya.


Huftt. . .


Semoga kekhawatiran terbesarnya tidak akan terjadi, cukup pertemuannya dengan Geovano Syailendra saja yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Semoga selama satu bulan kedepan, dirinya tidak akan bertemu dengan sosok yang paling tidak ingin ia temui di perusahaan ini. Atau akan hancurlah masa magangnya yang damai.



" Saya nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi secepat ini. Padahal saya berharapnya ketemu kamu setidaknya beberapa bulan ke depan. " Ucap Geovano membuka percakapan saat keduanya kini berada di dalam ruangan pria itu.


" Ya ? "


" Karena sepertinya saya belum bisa move on dari kamu. "


Moza meringis dan tersenyum, jelas terlihat senyum yang sangat dipaksakan. Jika bukan kepala divisi dimana ia magang, pastinya gadis itu sudah keluar ruangan dan mengabaikan ucapan pria itu.


Merasa tak ada respon, Geovano kemudian tertawa untuk mencairkan kembali suasana yang mendadak kembali canggung, " Hahaha, kamu masih tetap Moza Artana yang sama ya ? " Alis Moza terangkat, tanda tak paham maksud ucapan seniornya itu, ah lebih tepatnya mantan senior.


" Cueknya kamu gak ada tandingan. " Imbuh Geovano memperjelas pernyataannya, seolah mengerti jika lawan bicaranya tidak memahami maksudnya.


Lagi-lagi Moza dipaksa tersenyum karir, " Maaf kalau saya membuat bapak tidak nyaman. "


Pria itu menggeleng, " Tidak, bukan begitu maksud saya. Saya seneng kok ketemu kamu lagi, dan---. "


" Dan ? "


" Dan apa mungkin ini takdir ya ? Apa boleh saya berpikir kalau saya masih punya kesempatan untuk berjuang sekali lagi ? " Geovano menyangga dagunya dengan kedua telapak tangannya yang bertautan, sedang sikunya bertumpu pada meja.


Moza menggeleng dengan raut wajah datar seperti biasa.


Mendapat gesture penolakan, alis Geovano terangkat, " Kenapa ? "


" Karena saya memang tidak bisa memberikan kesempatan itu, baik untuk bapak atau untuk pria manapun. " Tegas dan lugas, pembawaan seorang Moza Artana yang memang terkenal tidak suka berbasa-basi, apalagi memberi harapan palsu.


" Kamu bicara seolah kamu sudah jadi istri orang saja. " Pria itu terkekeh dengan asumsinya sendiri.


Moza tak bergeming, memang itu yang sebenarnya tersirat dalam maksud ucapannya, berharap lawan bicaranya paham tanpa perlu ia menjelaskan dengan lebih terperinci.


Dan sepertinya Geovano cukup cerdas dan peka untuk menangkap maksud ucapan Moza.


Pria itu menurunkan kedua tangannya, duduk tegap dengan kedua tangan bertautan di atas meja, " Jadi yang dikatakan Julian waktu itu benar ? "


Alis Moza terangkat, mengingat-ingat ucapan Julian yang mana yang dimaksud pria yang duduk di kursi kebesarannya itu.


Moza baru mengerti, gadis itu mengangguk, kemudian tersenyum, " Sekarang bukan lagi calon. "


Moza sebenarnya bukan tipikal yang suka membicarakan kehidupan pribadinya. Tapi sepertinya kali ini penting untuk memperjelas statusnya di depan mantan seniornya ini.


Terlebih Moza tidak mau Geovano merasa memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Tidak akan baik jika nantinya ada rumor tentang dirinya dan pria itu, terlebih sampai didengar oleh suaminya.


Ucapan Moza membuat pria itu reflek melirik tangan kanan Moza yang tengah mendekap map di dadanya, lebih tepatnya pada jari manis gadis itu.


Ada setitik harapan semoga bukan itu yang dimaksud gadis itu, tapi melihat cincin bermata berlian melingkar menghiasi jari manis itu, tentu saja langsung membuat hatinya kembali patah.


Menghela nafas berat, Geovano tersenyum, " Kamu ? "


Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban Moza.


" Jadi kamu benaran sudah jadi istri orang ? " Moza mengangguk.


" Saya benaran tidak ada kesempatan ternyata. "


Moza tersenyum, " Kalau bapak nekat, nanti bapak disebut pebinor, emang bapak mau ? Sebutan itu tidak cocok buat orang seperti bapak. " Celetuk Moza enteng dengan wajah datarnya. Kalimat itu reflek yang sebenarnya hanya bertujuan agar suasananya tidak lagi canggung.


Mau tidak mau selama sebulan kedepan, keduanya akan sering berinteraksi, dan Moza tidak mau berada dalam situasi yang akward dengan pria itu.


" Hahaha, bisa becanda juga kamu. " Sepertinya Geovano cukup beruntung bisa mendapati sisi Moza yang baru saja ia ketahui. Diluar image Moza yang sedingin es dan cuek.


" Sepertinya saya benaran akan jadi pusat perbincangan kalau bapak terus menahan saya disini, saat rekan satu team saya yang lain hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk meminta tanda tangan bapak. "


Wow, sudah berapa kata itu yang terucap dari mulut seorang Moza Artana.


Lagi-lagi Geovano terkekeh, " Maaf, mana yang harus saya tanda tangani ? "


Moza menyodorkan map di tangannya, dan pria itu langsung mengembalikannya setelah membubuhkan tanda tangan di berkas magang milik gadis itu.


" Selamat bergabung di divisi saya, semoga banyak ilmu dan pengalaman yang bisa kamu dapat dari sini. "


" Terima kasih, Pak. "


" Tunggu. "


" Ya ? "


" Bisakah kamu tidak panggil saya bapak ? "


" Setidaknya saat hanya ada kamu dan saya. " Imbuh Geovano cepat saat ia sadar akan ada penolakan dari gadis itu.


Moza tersenyum tipis, " Saya permisi, Pak. " Pamitnya tanpa mengiyakan ataupun menolak permintaan pria itu.


Moza menghilang di balik pintu, meninggalkan Geovano yang sepertinya sekali lagi harus meratapi hatinya yang patah untuk kedua kalinya, itupun oleh gadis yang sama.


Pria itu mengira pertemuan tak terduga ini adalah bentuk jawaban atas doanya selama ini, jika mungkin saja Tuhan menggariskan dirinya berjodoh dengan gadis cantik minim ekspresi itu.


Tapi ternyata tidak. Pria itu menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.


Ternyata susah juga ya move on dari kamu. Kalau jadi pebinor tidak dosa, mungkin aku akan nekat melakukannya.


Lirih Geovano sembari memegangi dadanya yang masih berdebar dengan tak tahu dirinya pada gadis yang sudah istri orang.


***


Yang lupa sama Geovano Syaiendra, kalian baca di PJJDS. Chapter " Bukan Jomblo Lagi "



Kalo model bini orang nya kek gini, banyak yang mau jadi pebinor pasti 🙊