
...' Yang namanya jodoh itu tak kan lari kemana-mana. Mau kamu berlari ke ujung dunia pun, cinta yang ditakdirkan padamu pasti akan membawamu kembali menemui hati yang seharusnya kamu jaga. '...
...~ Sherinanta ~...
...☆ ☆ ☆...
_" Hiks. . . A-pa K-kak Hega juga lahir dari perut bunda ? "_
G L E K. . .
Pertanyaan Moza mau tidak mau menarik perhatian Hega, hingga pemuda itu sedikit terlonjak saking kagetnya.
Bahkan buku tebal yang sedari tadi dibacanya tanpa terganggu sedikitpun oleh pembicaraan Hyuza dan adiknya itu sudah jatuh dan teronggok di lantai karena tercengang mendengar namanya disebut oleh gadis kecil itu.
Berbeda dengan ekspresi penuh harap di wajah cantik Moza kecil, ekspresi wajah Hega justru terlihat lucu. Antara kaget, syok dan kesal kenapa dirinya harus dibawa-bawa dalam perdebatan unfaedah antara adik kakak itu.
Sedangkan hal yang sama juga terjadi pada Hyuza dan Ayu yang juga tak kalah terkejutnya dengan pertanyaan Moza kecil.
Ayu dan Hyuza seketika saling melempar tatapan, kemudian kompak menatap ke arah Hega yang juga tampak masih tercenung dengan pertanyaan gadis kecil itu.
Tak lama bunda Ayu kembali fokus pada sang putri, tersenyum lembut seraya mengusap pelan pucuk kepala putri kecilnya, " Tidak, sayang. Kak Hega tidak lahir dari perut bunda. "
Manik mata indah Moza yang tadinya terlihat sayu langsung tampak berbinar-binar, " Ja-jadi, Kak Hega dan Momo bu-kan saudara, hiks. . . ? " Suara Moza kecil yang serak dan terbata karena efek habis menangis nyatanya tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia gadis mungil nan cantik itu.
Ayu menaikkan satu alisnya bingung, melirik kembali kedua putranya bergantian.
Tapi sepertinya ibu dari tiga anak itu mulai memahami kemana arah pertanyaan putri kesayangannya itu, Ayu kemudian menggeleng pelan, " Bukan, sayang. Momo dan Kak Hega bukan saudara. " Jawabnya seraya tersenyum dan mencubit lembut pipi Moza kecil dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan gemas.
Disisi lain, entah mengapa Hega justru merasa ketar-ketir pada kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir mungil itu.
Mata elang Hega terus mengawasi gadis kecil di pangkuan sang bunda. Nafasnya seolah tertahan di tenggorokannya. Menanti kalimat selanjutnya dari si gadis kecil, dan berharap dugaannya kali ini meleset.
" Kalau gitu jika sudah besar nanti, boleh Momo menikahnya dengan Kak Hega saja ? " Cicit Moza kecil dengan sedikit ragu dan takut kalau-kalau kakaknya kembali menolak permintaannya.
Saking takutnya, Moza kecil bahkan sampai meremat ujung dress ala princess berwarna biru muda yang dikenakannya, melirik ragu kakak sulungnya.
G L E K . . .
Lagi-lagi Ayu, Hyuza dan Hega dibuat tercengang dan harus dipaksa menelan saliva mereka dengan susah payah.
Netra hitam Hega terlihat membulat sempurna dan terlihat gerakan naik turun di leher jenjang pemuda itu. Dari ketiga orang itu , ekspresi Hega lah yang terlihat paling syok, saking syoknya hingga rasanya tenggorokannya seperti tersedak duri.
Sebenarnya Hega sendiri sempat menduga jangan-jangan kalimat itulah yang akan diucapkan Moza kecil mengingat rentetan tanya jawab yang tadi menjadi bahan pembicaraan kakak beradik itu.
Tapi sungguh Hega tidak berharap kalimat itu akan benar-benar keluar dari bibir adik sahabatnya itu.
" Ehhh. . . " Bahkan bunda Ayu sampai terpekik saking terkejutnya dengan ucapan sang putri.
Sedangkan Hega jangan ditanya, wajahnya masih terlihat cengo mendengar kalimat gadis kecil yang tengah menatapnya dengan binar bahagia.
" TIDAK BOLEH !!! " Hyuza memekik dengan tatapan tak suka, jelas tampak tidak senang mendengar permintaan sang adik. Tanpa sadar menyela ucapan Momo kecil dengan wajah galaknya, yang sontak ikut mengembalikan kesadaran Hega yang sempat melayang entah kemana.
Teriakan reflek Hyuza tentu saja kembali mengejutkan Momo kecil dan membuat gadis itu kembali menangis, " Huaaaa. . . kakak jahat, huwaaa. . . . " Rengek Moza kecil seraya berhambur ke pelukan ibunya.
Umpat Hyuza dalam hati sembari mengacak rambutnya karena frustrasi. Kemudian memelototi Hega, tapi sahabatnya itu hanya menatapnya datar.
Memang Apa salahku sehingga kau melotot begitu ?! Mungkin itulah yang tersirat dalam tatapan mata Hega.
" Cup cup cup, anak cantik bunda jangan nangis lagi ya sayang ! " Bujuk bunda Ayu seraya mengusap kepala dan pipi putrinya, namun tidak juga bisa menghentikan tangisan gadis kecil itu.
" Huaaa. . . Bundaaa, kakak jahat ! kakak tidak sayang Momo, huwaaa. . . " Moza kecil masih terus merengek di pelukan sang bunda.
" HYU . . . !!! " Omel Bunda Ayu sedikit membentak dan menatap Hyuza dengan tatapan mengerikan.
" Bun, Hyu tidak sengaja berteriak tadi. " Ucapnya sangat menyesal sembari menggaruk tengkuknya serba salah.
" Bujuk adikmu ! Buat dia berhenti menangis ! Kamu tahu kan dia tidak akan berhenti menangis kalau bukan orang yang membuatnya menangis yang membujuknya. " Meletakkan kembali Moza di pangkuan Hyuza.
Hyuza mendesah lirih, " Iya Bun. " Pasrahnya, pemuda itu tampak kebingungan, terus menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Punya adik cantik dan cerewet adalah anugrah sekaligus ujian untuknya.
Apalagi sifat Moza yang memang punya rasa ingin tahu yang besar sejak kecil. Membuat Hyuza mau tidak mau harus ekstra sabar menghadapi setiap pertanyaan adik kesayangannya.
Bocah lelaki itu harus selalu menyiapkan jawaban yang tepat untuk menjawab keingintahuan adiknya itu.
Dan dari semua pertanyaan gadis itu, pertanyaan yang paling Hyuza hindari dan berharap si adik tidak akan pernah menanyakan pertanyaan keramat itu.
Apalagi jika bukan tentang satu kata, yaitu CINTA.
Sebab dari satu kata itu saja, Hyuza bisa memprediksi pertanyaan-pertanyaan apalagi yang akan dilontarkan sang adik untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Dan saat mengerikan yang dihindari Hyuza akhirnya datang juga.
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta membawa bencana ???
Bagaimana mau menjawab dengan benar kalau nyatanya Hyu saja belum pernah merasakan apa yang namanya cinta.
Arrrgggg. . . Dan sialnya kenapa harus ada si curut menyebalkan itu sebagai sahabatnya yang bahkan tidak bisa membantunya di saat-saat genting seperti ini.
Dasar kulkas lima pintu, beruang kutub, yeti, srigala salju. Bermacam sumpah serapah yang bercokol di hati Hyuza rasanya tidak akan cukup untuk mengutarakan kekesalannya saat ini pada sahabatnya itu.
Benar-benar sialan !
Dan sahabat karibnya itu malah hanya sekedar melirik acuh saat dirinya meminta pertolongan, dengan tatapan cuek Hega yang sangat menyebalkan.
" Selamat berjuang mendiamkan adik kesayanganmu itu, dasar kakak posesif dan bucin ! " Ejek Hega lirih dengan tersenyum menyebalkan.
" Awas, kau, Ga ! Akan aku sumpahin kau terlibat masuk dalam kehidupan adikku ini. Hingga kau akan memohon agar aku mengijinkanmu menjadi bagian dari kehidupannya. " Balas Hyuza sinis dengan gigi bergemerutuk kesal.
" Ck. . . " Hega hanya berdecak, mengabaikan ancaman sahabatnya, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Tidak penting pikirnya. Memangnya Arka dukun apa yang bisa mengguna-guna dirinya untuk menuruti kegilaannya.
Cih, masa bodo. Selamat berjuang kawan. Itulah yang tersirat dalam tatapan mata Hega saat itu. Membuat Arka semakin kesal saja padanya. Rasanya ingin melempari wajah datar sahabatnya dengan krayon adiknya. Supaya wajah menyebalkan itu setidaknya bisa lebih berwarna.
...----------Bersambung----------...