FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 86 • Jadilah Kekuatanku, Sayang



Wanita mana yang tidak akan merasa bahagia berada di posisi Moza Artana. Memiliki suami yang begitu sempurna.


Tidak hanya memperlakukannya dengan sangat lembut, tapi setiap ucapan yang terlontar dari bibir merah alami suaminya itu juga selalu berhasil membuatnya terbang melayang.


Moza merasa begitu dicintai dan dihargai, menjadi wanita paling bahagia di dunia.


" Kamu adalah satu-satunya yang tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah sanggup aku tinggalkan. Kamu adalah prirotasku, aku sudah pernah bilang kan ?! "


Moza mengangguk, tapi kemudian jemarinya terangkat naik, mengusap wajah tampan suaminya dengan lembut.


" Tapi aku tetap tidak mau kalau aku menjadi beban bagi kakak, aku tahu di pundak kakak ada beban tanggung jawab yang amat besar. Ribuan bahkan mungkin ratusan ribu nasib karyawan ada di pundak kakak. "


" Jika pekerjaan kakak terganggu karena aku, aku akan sangat merasa bersalah. "


" Itu tidak akan terjadi, Momo sayang. "


Moza tersenyum, " Iya, aku tahu suamiku ini pria yang sangat hebat. Semua hal yang dilakukan oleh kakak selalu berjalan sempurna. Dan aku berharap akan selamanya seperti itu. " Ucapnya sembari merapikan dasi dan mengusap kemeja suaminya di bagian dada.


" Jadi berjanjilah padaku satu hal kak. "


Satu alis Hega sedikit tertarik ke atas, " Heemm ? Apa itu ? Apapun yang kamu minta aku akan berusaha memenuhinya. "


" Apapun yang terjadi dalam kehidupan pribadi kakak, mau masalah pribadi apapun yang kakak hadapi nantinya, jangan pernah melalaikan tugas kakak sebagai pimpinan perusahaan, karena kakak harus ingat, ditangan kakak ada beban tanggung jawab yang sangat besar. "


" Jika kakak terpuruk atau lalai, maka perusahaan pasti sedikit banyak akan terkena imbasnya. Dan jika itu terjadi, lalu bagaimana nasib para karyawan nantinya ? "


" Ingatlah, kak. Sesulit apapun situasi yang kakak hadapi nanti, maka ingatlah pada mereka yang menumpukan nasib mereka di perusahaan yang kakak pimpin. "


" Jika kakak tidak bisa bertahan, maka tidak hanya kakak yang akan hancur, tapi juga banyak keluarga yang akan hancur. "


Hega mengangguk, mengerti maksud pembicaraan sang istri, " Aku janji, Yank. Aku akan selalu melakukan yang terbaik, untukmu, untuk keluarga kita, dan untuk pekerjaanku juga. " Hega mengecup kening istrinya dan merengkuh tubuh istrinya masuk dalam pelukannya.


Sungguh dirinya harus kembali bersyukur banyak-banyak karena tidak hanya cantik rupa, wanita yang dicintainya ini juga cantik hatinya.


Jika banyak wanita yang terobsesi berlebihan jika memiliki suami seperti dirinya, maka Moza berbeda, gadis ini memiliki pemikiran dewasa meskipun usianya masih terbilang masing cukup muda.


Di dalam lingkaran sosialnya, disaat wanita lain yang menikah muda ingin menikmati masa-masa pengantin baru dengan bermanja-manja, liburan bulan madu keliling dunia, meminta hadiah ini itu dan menikmati kemewahan karena menikah di keluarga kaya.


Tapi gadis yang satu ini justru mengingatkan sang suami untuk tetap memprioritaskan tanggung jawab pekerjaannya karena memikirkan nasib para karyawan yang berada di bawah naungan perusahaan milik keluarga sang suami.


Tidak egois dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, Hega bersyukur gadis sehebat inilah yang menjadi pendamping hidupnya.


" Terima kasih atas dukungan kamu, sayang. I love you. "


Cup


Hega memagut bibir istrinya perlahan, sebuah kecupan lembut yang cukup lama menjadi satu pembukti jika memang kasih sayang yang mereka miliki tak hanya cukup diungkapkan hanya dengan kalimat semata.


Cukup lama keduanya saling hanyut dalam cinta, mengalirkan kekuatan satu sama lainnya.


Hingga Hega memilih menghentikan aktivitas intim mereka, kembali membawa sang istri ke dalam rengkuhannya dan mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar dari rambut istrinya.


" Jadilah kekuatanku, sayang. " Hega bisa merasakan anggukan kepala di dadanya.



Sesuai pengaturan dosen Pembinanya, beberapa hari kemudian Moza mendatangi kantor akademik untuk menandatangani jadwal kuliah barunya dan mengambil surat magangnya.


Moza menatap lembaran kertas di tangannya dengan ekspresi wajah tak percaya.


Kedua bola mata beriris kecoklatan itu mengerjap beberapa kali.


Berkali-kali pun ia memastikan namun tulisan yang ada disana juga tidak berubah.


Moza saat ini tengah menatap lembaran surat pengantar magangnya. Lebih tepatnya pada bagian nama perusahaan tujuan magangnya.


Dan nama perusahaan yang tertera di sana sungguh bukan perusahaan yang terlintas di benaknya.


Meskipun sebenarnya bukan masalah juga jika ia magang di perusahaan itu, karena setiap mahasiswa pasti berharap bisa magang di perusahaan berskala internasional itu.


Tapi bagi Moza, perusahaan itu menjadi options terakhir baginya.


Bukan karena alasan apapun, hanya saja akhir-akhir ini Moza sedang sensitif dengan segala hal yang dimungkinkan berbau koneksi ataupun nepotisme.


Yah, yang menduga jika nama perusahaan yang tertulis di sana adalah perusahaan dimana sang suami bekerja, maka kalian benar. Golden Imperial Grup, adalah nama perusahaan yang menjadi destinasi magang gadis itu.


Moza menghela nafas panjang, kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan tunggu kantor akademik Fakultas Ekonomi.


Dengan perlahan Moza kembali melipat kertas berukuran A4 itu dan hendak memasukkannya kembali ke dalam amplop ber-kop surat dengan logo Dwitama University itu.


Baru juga masuk setengahnya, dari arah belakang, terdengar suara tak asing memanggil namanya diikuti sebuah tepukan di bahunya membuat Moza menjeda niatnya menyimpan surat tersebut ke dalam tas.


" Hei, Mo. Ngapain bengong disini ? Gue panggil dari tadi juga, lo nya nggak nyaut. "


Moza mendongak dan tersenyum, " Ami. "


Gadis berhijab itu ikut duduk di samping Moza, " Kenapa ? Perusahaan tempat magangnya gak sesuai sama keinginan lo ? "


Bagaimana Amira bisa tahu perihal magang itu ?


Maka jawabannya adalah karena beberapa hari lalu, Moza sempat bercerita pada teman-temannya soal pembicaraannya dengan Prof. Yanuar, yang tentu saja Moza meng-skip beberapa bagian yang menurutnya tak perlu diceritakan, seperti Prof. Yan yang tahu statusnya, ataupun Prof. Yan yang ternyata adalah teman baik sang papa mertua.


Intinya Moza hanya menceritakan perihal magangnya. Dan benar kata dosen pembimbingnya itu, jika tidak hanya dirinya yang diminta mengambil Magang, melainkan beberapa mahasiswa atau mahasiswi beasiswa lainnya juga dituntut hal yang sama.


Untuk hal yang satu ini Moza sedikit bisa bernapas lega, karena prasangka buruknya ternyata tidak benar. Dan untuk itu sepertinya ia harus minta maaf pada dosen Pembinanya itu, karena sempat berburuk sangka pada pria seusia papa Arya itu.


Dan disinilah mereka berada, Amira yang juga mendapatkan beasiswa seperti Moza juga barusaja mengambil surat rekomendasi untuk magangnya.


" Kalo lo nggak cocok sama lembaga atau corporate nya, lo kan bisa ngajukan buat ganti tampat. "


Moza menggeleng, " Bukan gitu. "


Amira menelengkan kepalanya, " Terus kenapa ? "


Moza menghela napas lagi, kali ini lebih panjang dan berat.


" Iiihhh, siniin, gue mau liat deh, emang lo ditempatin dimana sih sampe keliatan sefrustrasi itu ? " Amira yang mulai gemas dan tak sabar, langsung mengambil alih kertas di tangan Moza dan manik matanya membeliak tak percaya.


" Ya ampun Momo, lo--- "


 


Alurnya masih selow ya, belum masuk konflik besarnya.