
Membahas lagi nama Alsena dan info terbaru dari Ragil Anggara. Seketika membuat Hega menahan amarah.
Tangannya terkepal erat, menyesali pikirannya yang terlalu dangkal, dan terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa berpikir panjang.
Padahal Bara sempat mengungkit nama wanita itu beberapa kali.
Hega merasa ada yang aneh saat wanita bernama Alsena itu bisa secara kebetulan berani datang langsung menemuinya.
Wanita yang selalu menggunakan ayahnya untuk mendekatinya itu tiba-tiba punya inisiatif sendiri nekat bertemu dengannya.
Dan lagi kalimat ambigu yang dikatakan wanita itu.
" Bukankah sebentar lagi posisi Nyonya Muda Saint akan segera kosong ? Jadi bisakah Presdir Saint mempertimbangkan saya sebagai kandidat Nyonya baru anda ? "
Hega kembali tersentak, satu clue penting terlewati olehnya.
Nyatanya tidak banyak pihak yang tahu perihal menghilangnya sang istri. Lalu atas dasar apa wanita itu mengatakan omong kosong semacam itu.
Jadi jelas sekali tersirat ada maksud terselubung di balik kalimat wanita itu.
Sepertinya Tuhan sudah mulai mendengar doa yang selalu ia panjatkan tanpa henti di sepertiga malamnya.
Doa agar belahan jiwanya kembali ke sisinya. Tuhan menjawab doa dan permohonannya.
Begitu mendapatkan beberapa petunjuk dari orang-orang kepercayaannya. Hega segera mengatur penerbangannya ke kota yang memiliki julukan City of Angels itu.
Semua persiapan untuk berangkat ke LA telah usai. Setidaknya Hega menyiapkan segala keperluannya minimal untuk satu minggu kedepan.
Ada beberapa hal yang akhirnya membuat Hega curiga jika menghilangnya istrinya ada campur tangan seseorang. Dan dia harus kembali memulai pencarian dari titik nol.
Hanya bedanya, kini ada titik terang yang membuatnya tahu kemana arah pencariannya.
Itulah kenapa Hega memutuskan untuk mempercepat rencana penerbangannya ke LA dari lusa menjadi besok pagi.
" Tuan Muda, semuanya sudah siap. Saya juga sudah meminta orang kita di sana untuk menyiapkan segalanya selama anda berada disana. " Ragil Anggara menarik koper dari walk in closet apartemen pria yang sudah ia layani sejak kecil itu.
Hega mengangguk kecil, cukup sudah dirinya berdiam diri menunggu kabar. Saatnya kini pria itu memilih turun tangan langsung.
Setidaknya semua urusan kantor yang bersifat penting sudah ia selesaikan. Dengan begitu ia tidak mengingkari janjinya pada sang istri.
Selebihnya, Hega mengandalkan Bara untuk menghadle sisa pekerjaannya.
" Good luck, Ga. Sorry gue nggak bisa nganterin atau nemenin lo. Ada virtual meeting ntar malem. " Ucap Bara memberi semangat, pria itu sengaja mendatangi Hega di apartemen untuk sekedar memberi dukungan moril pada sahabatnya itu.
" Its okey, Bar. Lagian gue ngandelin lo disini. "
" Tenang aja, serahin sama gue semua urusan disini. Lo fokus aja nyari Moza. Kalo emang bener apa yang dibilang si Derka, semoga istri lo dan calon ponakan gue segera ketemu dalam kondisi sehat. "
" Amin, thanks, Bar. "
Barusaja Hega berniat melanjutkan sisa berkas di mejanya untuk ditanda tangani. Perutnya kembali dilanda mual, gegas pria itu langsung berjalan cepat menuju kamar mandi ruang pribadinya.
Baru selesai dengan mual dan muntahnya dan mendapat pemeriksaan dari Derka.
Ragil Anggara kembali datang membawa sambungan telepon.
Terlihat jelas aura dingin menyelimuti pria itu saat berbicara dengan seseorang yang Bara dan Derka tidak tahu siapa itu.
Cukup lama hingga saat pembicaraan berakhir, satu kalimat yang tidak hanya membuat Ragil Anggara kelabakan. Namun Bara ikut kalang kabut dibuatnya.
" Gara, siapkan jet pribadi sekarang juga. Aku mau dalam 15 menit semuanya sudah siap. " Teriak Hega dari kamar pribadinya.
Bara, "....."
Derka, " ?! "
Dua pria itu saling menatap dengan ekspresi bingung. Saat hendak bertanya pada Ragil Anggara, pria itu malah sudah hilang menghilang menuju pintu penghubung antara ruang kerja Hega dan kamar tidurnya.
Ada hati yang juga tengah begitu tersiksa karena terpisah raga dari pria yang paling ia cinta.
" Mo, makanlah ! Kamu dan bayimu butuh asupan gizi. "
" Keluarlah, Bian ! Biarkan aku sendiri, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. " Jawab Moza dengan posisi bersandar di headboard ranjang, netranya terpejam tanpa berniat menatap lawan bicaranya.
Dua orang yang tengah berdebat itu sudah jelas adalah Moza dan sahabat, atau lebih tepatnya pria yang pernah menjadi sahabatnya di masa lalu.
Sedangkan kini, bagi Moza, pria itu lebih pantas disebut musuh baginya. Karena pria itulah ia terpaksa menelan rasa sakit setiap harinya karena harus terpisah dari orang-orang yang dikasihinya. Keluarga dan tentu saja sang suami.
Sudah hampir setengah jam Fabian membujuk Moza untuk makan. Tapi semua ucapannya selalu dimentahkan oleh gadis itu.
Pria itu menahan diri untuk tidak mendekati ranjang, karena kejadian beberapa waktu lalu membuatnya harus ekstra bersabar menghadapi gadis di hadapannya itu.
Saat itu Moza nekat mengancam melukai tubuhnya dengan pisau jika Fabian nekat mendekatinya.
Padahal semua hal sudah Fabian lakukan, bahkan skenario jenazah terbakar juga adalah pengaturannya.
Ia kira tinggal menunggu waktu hingga Moza akan melupakan suaminya dan mulai melihatnya.
" Aku akan pergi, tapi jangan menyiksa dirimu dan juga bayi dalam kandungan kamu. Kalian butuh makan, pikirkanlah bayimu juga, Mo ! "
Moza mendesah kecil, kemudian membuka perlahan kedua matanya dan melirik sekilas pria yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.
Dua orang maid di belakangnya yang membawa nampan makanan.
" Aku yang paling tahu kondisiku dan bayiku. Aku akan makan jika ingin. Tapi sekarang aku sedang ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku, Bian. Jangan memaksaku lagi seolah kamu mengkhawatirkan aku. "
" Tapi aku memang-- "
Gadis itu duduk di ranjang dengan kaki selonjor bersandar di kepala ranjang. Selimut sutra menutupi sebagian tubuhnya. Wajah putihnya yang memucat, kedua mata bulatnya tampak sembab.
Dengan acuh ia mengalihkan pandangannya dari pria yang telah mengurungnya dua minggu di istana yang lebih terasa seperti penjara itu.
" Cukup, Bian ! Cukup, aku lelah, sangat lelah. Aku sedang tidak ingin berdebat, aku ingin sendiri, Bian. Aku mohon tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. " Moza menarik kedua kakinya, memeluknya dengan kedua tangannya, kemudian menyembunyikan wajahnya dikedua lipatan kakinya.
Dadanya sesak, dia ingin bertahan, dia berusaha bertahan, setidaknya demi kehidupan di dalam rahimnya. Tapi Moza sudah tidak sanggup lagi, ini terlalu menyakitkan.
Moza mengira jika kehadiran nyawa di rahimnya bisa menguatkan hatinya. Tapi nyatanya ini justru semakin berat baginya.
Wanita mana yang tidak sakit dipisahkan dari pria yang dicintainya. Wanita mana yang ingin sendirian disaat-saat paling sensitifnya, masa kehamilan yang pasti setiap wanita ingin didampingi oleh suami tercinta.
" Mo, pliss. "
" Keluar Bian, sudah aku bilang aku tidak mau bertemu dengan siapapun. "
Fabian tidak bisa berbuat apa-apa, pria itu memilih pergi, mengikuti kemauan gadis yang berada pada tahta tertinggi di hatinya.
Tersisa Moza di ruangan mewah dan nyaman itu.
Moza diperlakukan bak ratu di istana Fabian. Tapi baginya, ia hanyalah tawanan keegoisan seorang Fabian.
Pintu tertutup dan menyisakan keheningan.
Isak tangis yang tertahan di dada akhirnya pecah sudah.
Moza terisak di antara kedua kakinya yang menekuk. Perutnya masih rata, belum nampak tonjolan disana karena usia kandungannya yang baru berusia sekitar 5 minggu.
" Maafkan aku, Kak. Seandainya aku tidak keras kepala dan menuruti pengaturan kakak. Kita pasti masih bersama saat ini. " Lirihnya dengan isak tangis tertahan.
Lagi dan lagi, Moza hanya bisa menyesali kebodohannya sendiri.
Rapuh.
Kata itulah yang menggambarkan kondisi mental seorang Moza Artana saat ini.
Haruskah ia menyerah sekarang ? Karena sejujurnya jiwa dan raganya sudah tidak lagi mampu untuk bertahan.