FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 55 • [ Honeymoon ] Kunci



...☆☆☆...


Gadis itu tersenyum lembut menatap kedua sandal yang kini menjadi alas kakinya, bahkan hal sekecil ini pun suaminya benar-benar total dalam hal membuat hatinya berdebar dan membahagiakan dirinya.


Lihat saja benda menggemaskan yang ada di kakinya itu, sandal berwarna kuning dengan kepala beruang madu Winnie The Pooh, salah satu karakter beruang kesukaan Moza. Aahhhh, meleleh sudah gadis itu karena hal sepele yang terasa manis.


Eh, back to the topic.


" Kenapa tidak bisa ? " Tanya Moza kemudian setelah memakai kedua sandalnya dengan benar.


" Karena kuncinya tidak ada padaku. " Jawab Hega dengan entengnya sembari kembali berdiri tegap dengan gagahnya, namun ucapan santainya itu membuat sang istri memekik.


" Apah ???? " Begitu terkejutnya hingga gadis itu sampai terlonjak dari duduknya, dan lantas ikut bangkit dari kursinya berdiri menghadap suaminya mendongakkan kepalanya menatap suaminya dengan mata menyipit. Maklum ya, tinggi Moza hanya sebatas dada suaminya.


Jika bukan kak Hega yang membawanya lalu siapa ? Hei jangan becanda deh ???


Moza masih menatap bingung suaminya, kok rasanya seperti sedang dikerjain ya ???


Bukan Moza Artana jika tidak peka, gadis itu seolah merasa ada hal yang aneh. Tapi apa ???


" Kan aku tadi sudah bilang kuncinya ada pada pemiliknya. " Masih dengan gaya cool nya, dengan satu tangannya kini berada di dalam saku celananya, dan tangan lainnya merapikan surai rambut istrinya yang tertiup angin, menyelipkan rambut hitam istrinya di belakang telinga.


" Iya, aku tahu. Maksudnya pemiliknya itu kakak kan ? " Sepertinya gadis itu mulai sebal, lihat saja nada suaranya agak meninggi.


Hega menggeleng santai, " Aku sudah katakan tadi kalau privat island ini hadiah pernikahan untukmu, jadi villa ini juga termasuk di dalamnya, mas kawin untukmu. "


Glek. . . Gadis itu menelan ludah dengan kasar, mencoba mencerna dengan baik maksud ucapan suaminya.


Pasalnya Moza mengira tadi suaminya hanya sekedar menjahilinya dengan mengatakan jika tempat ini adalah miliknya. Dan menduga yang dimaksud hadiah pernikahan yang dikatakan suaminya tadi itu adalah paket liburan bulan madu di tempat ini, dan bukannya menjadi pemilik tempat ini. Iya kah ?


Lagipula mana mungkin semudah itu membeli sebuah pulau pribadi ? Ya kan ??? Dan pria gila mana yang menghadiahkan hal seperti ini pada istrinya ???


Tidak tidak tidak !!!


Moza menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak mungkin kan yang dimaksud kak Hega itu seluruh pulau ini ? Gadis itu meringis kecil kembali membayangkan hal-hal gila apa saja yang pernah dilakukan pria itu untuknya.


Tatapi tidak mungkin sampai segila ini kan ?


" Jadi ??? " Manik mata Moza semakin menyipit.


Tidak !!! Lebih baik tanyakan dengan jelas, dirinya butuh penjelasan yang jelas, bukan teka-teki silang yang membuat kepalanya pening.


Bukannya menjawab pertanyaan istrinya dengan kalimat yang jelas, pria itu malah mengedikkan bahunya " Jadi apa lagi ? Tentu saja semua ini milik kamu, istriku sayang. "


" Heh ? "


Apa memang suamiku segila ini, huh ???


Moza masih menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Hega malah terlihat sangat santai, pria itu menahan diri agar tertawa melihat ekspresi cengo di wajah istrinya.


Berbeda dengan ekspresi kedua majikannya, Sasa justru tersenyum gemas dengan interaksi kedua majikannya itu. Dan Gara hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan Tuan Mudanya menjahili istrinya.


Setelah puas menikmati wajah kebingungan istrinya, pria itu mencondongkan wajahnya ke arah istrinya, " Jadi sekarang berikan kuncinya pada Gara, istriku yang cantik. " Bisiknya kemudian dengan suara bass nya yang berat.


" T-tapi. . . " Moza sedikit mendorong dada suaminya agar sedikit menjauh darinya.


Hega memiringkan kepalanya, menelisik sesuatu yang ada di benak istrinya, " Hei, jangan bilang kamu tidak membawanya, hem ?! " Tanyanya kemudian dan kembali menegakkan tubuhnya.


" Bagaimana mau aku bawa kalau bentuknya saja tidak pernah lihat. " Begitu kesal hingga Moza tanpa sadar sampai menghentakkan kakinya ke lantai.


Melihat kekesalan istrinya yang tengah naik levelnya, bukannya berhenti, pria itu justru semakin ingin menggoda istrinya.


" Ya ampun istriku, coba ingat mas kawin saat akad pernikahan kita. "


" Terus apa lagi ? " Tanyanya lagi sambil melipat kedua lengannya di dada, menatap intens istrinya dan menunggu jawaban secara lengkap.


Moza kembali berfikir, " Satu set perhiasan berlian. " Jawabnya lagi dengan polos.


Hega menaikkan satu alisnya dan memiringkan kepala, menatap lekat istrinya, " And ???? "


Moza terdiam sejenak, seolah tengah mengingat sesuatu, " Ahhh, jangan bilang platinum key itu ? " Sahutnya senang karena berhasil mengingat benda yang sempat membuatnya bertanya-tanya kenapa suaminya meminta dirinya untuk selalu membawa benda itu kemanapun ia pergi.


Memangnya itu kunci apa ? Dan saat Moza bertanya, suaminya itu dengan entengnya menjawab jika itu adalah kunci hatinya.


Jawaban yang absurd bukan ? Tapi tetap saja jawaban itu sempat membuat kedua pipi Moza bersemu ketika mendengarnya.


Hega mengangguk, " So tell me, where is it, baby ? [ Jadi katakan padaku, dimana benda itu, sayang ? ] "


Moza tercengir, " Aku tidak membawanya, kak. " Ujarnya lirih dan kemudian menundukkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya merasa bersalah.


JEDERRRR !!!


Sontak saja jawaban gadis itu membuat tiga pasang mata yang ada disana membelalak seketika.


Ekspresi Hega tampak menegang seketika, pria itu meraih kedua bahu istrinya, " Jangan bercanda kamu, yank ! " Melihat sang istri hanya meringis kecil dan menggaruk tengkuknya kemudian menggeleng kecil, pria itu sepertinya percaya istrinya memang serius dengan ucapannya.


Pria itu menghela nafas dalam, mengurut pangkal hidungnya, " Gara. " Panggilnya dengan mata terpejam dan wajahnya mendongak menghadap ke atas sambil memegangi keningnya. Terlihat jelas sedang menahan diri untuk tidak terbawa emosi.


Ragil Anggara langsung mendekat, " Iya, Tuan Muda. "


" Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, kan ? " Melirik sekilas.


Gara mengangguk paham, " Segera saya laksanakan, Tuan Muda. "


" Eh, kakak mau apa ? " Entah kenapa Moza merasa ketar-ketir dengan apa yang hendak dilakukan suaminya. Tidak mungkin kan suaminya itu akan nekat mendobrak pintu villa ?


" Tentu saja membuka pintu ini, sayang. Memangnya apa lagi ? " Jawabnya datar.


" Kakak punya kunci cadangannya ? "


" Tidak ! Kunci yang aku berikan padamu itu hanya satu dan dirancang khusus untuk pintu utama villa ini. "


" Eeehhh, lalu bagaimana kakak akan membukanya ? "


" Apa saja, asal pintunya terbuka, di dobrak atau dicongkel sekalian. Pokoknya kita bisa segera masuk. "


Heh, santai sekali suaminya ini bicara soal mencongkel pintu ? Memangnya tidak ada cara lain yang lebih beradab apa ? Misalnya memanggil ahli kunci begitu ?


Ahaaa, itu dia.


" K-Kenapa tidak panggil ahli kunci saja, kak ? "


" Tidak bisa, sayang. "


" Kenapa ? "


" Maaf, Nona. Karena kunci itu didesain khusus dengan pola yang rumit, yang artinya hanya seorang ahli saja yang bisa membuat duplikatnya. Selain itu juga karena tempat ini cukup jauh jika kita harus memanggil seorang locksmith, butuh waktu berjam-jam jika menunggunya, itupun kita tidak bisa menjamin apakah locksmith yang akan kita panggil itu cukup ahli dalam pekerjaannya. " Gara lah yang menjelaskan dengan rinci, membuat Moza kembali terbelalak dengan mulut setengah menganga.


Ihhh, nyebelin. Padahal aku kan cuma mau ngerjain kak Hega sekali aja. Kok malah ribet gini jadinya.


...--------------------...


...Masih akan terus fokus full part Hega Moza selama beberapa chapter kedepan, yang udah muak atau enegg liat keuwuan mereka harap sabar. Maklum aja ya penganten baru....