
Warning ❗❗❗
Adegan 1/2 panas 😑
***
Hega kesenangan bukan main saat istrinya mengungkit perihal anak. Pria berusia 27 tahun itu tidak menyangka kalau istrinya akan berinisiatif membahas hal itu terlebih dulu.
Padahal Hega memang sengaja tidak mau mengungkit kapan mereka akan memiliki anak, tidak ingin memberi tekanan atau beban pada istrinya. Bahkan Hega juga meminta pada kakek Suryatama untuk tidak membahas lagi hal itu.
Lagipula istrinya masih terlalu muda, mereka juga baru saja menikah dan belum puas berpacaran.
Jadi masih ingin sayang-sayangan berduaan. Hitung-hitung pacaran setelah menikah, dan ternyata rasanya sangat membahagiakan, mau ngapa-ngapain nggak khawatir dosa.
Halal karena sentuhan mereka bersertifikat KUA.
Hega semakin bersemangat saja kala istrinya mengatakan tidak berniat menunda untuk hamil. Pria itu kini terus menatap manik mata kecoklatan istrinya dalam-dalam. Dengan senyum terus terukir di bibirnya yang sedikit tebal dan seksi.
" Yank, sekarang, hm ? "
" Ish, apaan sih, mana bisa langsung sekarang. Ngaco. " Moza langsung melotot, apa-apaan suaminya ini sih, heboh sekali.
" Maksudnya kita buatnya sekarang, yank. Yuk. " Mata beralis tebal itu mengerjap menggoda.
Bugh. . .
" Ih, cepet ya tanggapnya kalau urusan yang satu itu. " Reflek Moza memukul lengan suaminya dan mengomel dengan wajah sebal.
" Pasti dong, yank. Yuk, mumpung masih sore, bisa beberapa ronde ini, yank. "
Moza menggelengkan kepalanya tak habis pikir bagaimana suaminya bisa semesum itu. Berniat mengabaikan kemesuman suaminya, Moza hendak membaringkan badannya untuk tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tapi selalu saja gerakannya kalah cepat dari suaminya.
Secepat kilat Hega langsung mengambil posisi, tidak mau melewatkan kesempatan yang ada. Ditunda sedetik saja, istrinya bisa saja berubah pikiran, bisa gawat proyek baby yang sudah dapat acc dari istrinya tadi gagal begitu saja.
Disambarnya selimut yang hampir menutupi tubuh istrinya, kemudian melemparnya ke sembarang arah. Moza langsung mendelik ke arah suaminya berharap suaminya mengurungkan niat yang tersirat jelas di kedua netra suaminya.
Tapi sayang, Hega tidak menggubris ancaman yang tersirat di kedua mata istrinya. Tubuh kekarnya kini sudah berada di atas istrinya, mengurung tubuh ramping berbalut gaun tidur berbahan satin dengan tali spaghetti dan belahan dada rendah berenda. Sangat menggoda sekali dimata Hega, apalagi gaun sepanjang paha berwarna merah menyala itu sungguh kontras dengan kulit putih mulus istrinya.
Hmmm, memang kode keras ini namanya.
Senyum menyeringai nakal terukir di bibir Hega dengan tatapan lapar mengarah ke tubuh indah yang sudah ada di bawah kuasanya.
Ditatap sedemikian rupa tentu saja membuat Moza gelagapan dan menelan salivanya kasar. Dan Moza tahu pasti kemana arah tujuan mereka setelahnya. Sudah pasti malam ini suaminya akan kembali membawanya berlabuh di surga cinta.
" Kakaakkk. " Moza menjerit saat gaun tidurnya sudah terbelah dua dan terlempar entah kemana.
Setelah membisikkan doa di telinga istrinya, Hega langsung memulai aksinya.
" Ahhhmmmppphhhh. . . ssshhh, kaaaakkk. . . " Jeritan sebal Moza tidak berlangsung lama, karena beberapa detik setelahnya yang terdengar dari bibir tipis yang mulai membengkak itu hanyalah ******* dan rintihan nikmat kala setiap jengkal tubuhnya disentuh sensual oleh suaminya.
Hega sungguh semakin ahli menggunaakam kemampuannya untuk membangkitkan g*irah istrinya, hingga wanitanya itu tak akan lagi bisa menolak keinginannya. Justru menikmati setiap permainan Hega.
" Desahkan namaku, sayang. " Bisik Hega sensual di telinga istrinya saat pria itu memulai perjalanan menuju surga dunia.
Kedua tangannya mencengkeram erat lengan kekar Hega, netra keduanya saling bertubrukan menyalurkan rasa cinta dan h*srat secara bersamaan. Menikmati setiap ritme gerakan yang diciptakan oleh Hega yang seolah tidak pernah lelah berpacu dan berkeluh keringat agar mencapai puncak asmara bersama istri tercintanya.
Hingga keduanya terhempas jauh di lembah kenikmatan surga cinta yang memang menjadi tujuan awal mereka. Dan semoga Tuhan meniupkan nyawa di rahim istrinya, menghidupkan benih yang Hega tanam di dalam sana, seperti harapan Hega.
" Jangan menyerah pada apa yang ingin kamu pelajari hanya gara-gara aku, karena bukan itu yang aku inginkan. " Ucap Hega saat keduanya tengah beristirahat setelah ritual malam yang begitu panjang dan cukup melelahkan sekaligus menyenangkan.
" Aku menikahimu bukan untuk mengekang dan membatasi kebebasanmu, lakukanlah apapun yang membuat mu bahagia, selama kamu masih memberiku tempat untuk menjadi salah satu alasan dari kebahagiaanmu itu. " Imbuhnya sambil terus mengusapi kepala istrinya.
Moza yang sedang dalam posisi bersandar di dada suaminya langsung mendongak menatap wajah suaminya.
Tubuhnya sudah berbalut gaun tidur berwarna salem, meskipun model dan bahannya sama dengan gaun yang tadi sudah terbelah dua karena ulah suaminya.
" Kakak tahu kan jika kakak bukanlah hanya sekedar salah satu alasan kebahagiaan ku, tapi kakak lah yang merupakan alasan terbesarku bahagia. Jadi kemanapun kakiku melangkah, tujuanku pulang tetaplah kakak. "
" Semoga kakak tidak lelah untuk terus membimbing aku, agar aku menjadi istri yang selalu taat pada suami. Karena mau sebesar apapun kesuksesan yang ingin aku raih, setinggi apapun mimpi dan cita-cita yang ingin aku capai, semua itu tidak akan bisa terwujud jika kakak sebagai suami tidak meridhoi langkah dan pilihanku. "
" Kakak pasti pernah mendengar kalimat 'Dibalik pria yang sukses ada seorang wanita hebat yang mendukungnya', kan ? " Hega mengangguk.
" Dan kamu lah wanita hebat itu, yank. Kamu yang secara tidak langsung membuatku berdiri di posisi ini. Karena tanpa sadar aku berjuang untuk bisa seperti ini adalah karena aku ingin menjadi pria yang layak untukmu. Aku ingin membuktikan pada Arka kalau aku adalah pria yang paling pantas untuk menjadi pendamping kamu. " Keduanya kini berbaring miring saling berhadapan.
" Dan terima kasih kakak sudah membuktikan hal itu dan kembali padaku. " Moza tersenyum bangga, dan pria dihadapannya itu mengangguk.
" Dan apakah kakak juga pernah mendengar, 'Dibalik kesuksesan seorang istri, ada restu, dukungan dan doa suami yang tiada henti'. ? "
Hega tampak berpikir kemudian mengangguk. Sspertinya pernah dia mendengar hal serupa meskipun tidak sama persis dengan yang diucapkan oleh istrinya.
" Itulah kenapa aku akan selalu meminta pertimbangan dan persetujuan kakak untuk setiap langkah yang aku ambil. Karena setiap langkah ku adalah tanggung jawab kakak sebagai imam dalam hidupku. "
" Sayang, selama itu membuat kamu bahagia dan tidak menyalahi aturan agama, InsyAllah aku selalu memberi ijinku. Terima kasih karena kamu menjadi istri yang begitu sempurna untukku. Bahkan untuk hal seperti inipun kamu sudah berpikir jauh. " Sahut Hega.
" Tentu saja, aku kan harus jadi wanita hebat agar layak disebut sebagai istri seorang Hega Saint yang hebat ini dong. " Moza menyela dengan nada berbangga bertujuan menggoda suaminya.
" Hahaha, gemesin banget istriku ini, jadi pengen gigit kan. Sini nambah satu ronde lagi, yank. "
Moza langsung mendelik, lagi-lagi suaminya ini merusak suasana romantis dengan kemesumannya.
" Aaaaaaa...... Nggaaaakkk mauuuu, tadi katanya udah. " Moza langsung menarik selimutnya dan menyembunyikan tubuhnya dibawah gulungan selimut tebalnya.
Tapi tentu saja Hega tidak mau menyerah, pria itu dengan cekatan ikut menyusup di dalam selimut yang sudah menutupi tubuh istrinya.
" Bonus nya ini, yank. " Tandasnya dengan suara menggoda, sembari jemarinya mencari sesuatu di dalam kegelapan selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.
Sreeeeettttttt. . .
" Kyaaaaaa, kakaaaaaaakkkkkkkk. " Entah untuk ke berapa kalinya Moza menjerit malam itu, yang jelas itu adalah jeritannya yang kedua karena masalah yang sama. Lagi-lagi suaminya membuat gaun tidur yang baru sekali dipakainya itu terbelah dua.
Dan lihatlah tangan besar itu sudah menyentuh seduktif titik-titik sensitif Moza di dalam selimut. Dan tentu saja Moza hanya bisa pasrah, suaminya akan sulit ditolak jika sudah ada maunya.
***