FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 182 • Melepas Rindu



Sudah beberapa jam berlalu sejak Moza kembali ke pelukan Hega. Setelah sempat singgah di mansion Saint yang ada di Bell Air. Kini sepasang suami istri itu berada di resort pribadi tempat mereka berbulan madu beberaoa waktu yang lalu.


Atas saran Derka, Hega membawa istrinya untuk istirahat di Blue Heart Island. Mengingat kondisi Moza yang masih lemah dan kehamilannya yang rawan. Derka melarang Hega membawa Moza untuk melakukan penerbangan yang terlalu lama.


Julian dan Deana sudah kembali terlebih dahulu ke tanah air setelah menemani Moza sampai di resort.


Tinggal Derka yang berada disana atas permintaan Hega. Tentu saja dengan senang hati Derka melakukannya.


Rencananya mereka akan ada di sana minimal satu minggu kedepan. Atau setidaknya menunggu kondisi Moza stabil dan bisa melakukan perjalanan jauh.


Keluarga Dama Saint begitu terkejut sekaligus bahagia atas berita yang disampaikan Ragil Anggara. Dan tentu saja mereka tidak sesabar itu menunggu satu minggu untuk bertemu dan memastikan sendiri kabar tersebut.


Suryatama memboyong seluruh keluarga untuk menyusul ke Blue Heart Island. Dan mungkin akan tiba di sana malam hari.


Setelah tiba di resort satu jam yang lalu, Moza masih terlelap di tempat tidur. Hega sedikitpun tidak beralih dari sisi istrinya. Seolah pria itu takut jika istrinya akan kembali menghilang jika ia lengah sebentar saja.


Netra beriris hitam legam itu tak henti menatap wajah putih istrinya yang terlihat sedikit pucat. Meskipun tidak sepucat saat dirinya menjemput sang istri dari mansion Fabian.


Sebenarnya Hega tidak ingin membangunkan Moza yang terlihat begitu kelelahan setelah insiden penculikannya.


Namun bibir Hega sudah tidak tahan untuk tidak mengecup bibir manis istrinya itu.


Moza mengerjapkan kedua manik matanya beberapa kali saat tidurnya sedikit terusik oleh gerakan suaminya. Moza lantas tersenyum menatap wajah tampan suami yang sangat ia rindukan.


Hega membantu Moza terduduk, dan membawa tubuh Moza agar duduk di pangkuannya. Lalu menarik perlahan tengkuk gadis itu dan mencium bibir manis Moza. Sangat lembut, hingga Moza bisa merasakan cinta yang begitu besar dari ciumannya.


" Jangan pergi lagi, jangan menghilang lagi, jangan tinggalkan aku, Yang. " Ucap Hega di sela ciumannya. Bulir air mata Hega menetes saat mengatakan kalimat itu.


Belum sempat Moza merespon, Hega kembali memeluk tubuh istrinya itu, " Aku bisa gila jika kamu jauh dariku, saat aku tidak bisa melihatmu, menyentuhmu, aku akan mati jika sampai hal itu terjadi lagi. "


Hega kembali menarik tubuh istrinya semakin merapat. Kedua kaki Moza ditekuk mengapit pinggang Hega. Sementara tangan Hega memegang erat pinggang ramping sang istri, tatapan keduanya saling beradu.


" Eummm.... Kak, tolong turunkan aku.... " Pipi Moza merona, Moza merasa seperti tersengat listrik setiap kali berdekatan secara intim dengan sang suami.


" Kenapa, hm ? Kenapa tidak dilanjutkan ? " Hega justru semakin mengencangkan tangan kanannya yang melingkar di pinggang istrinya.


Mempersempit jarak diantara mereka, membuat tubuh keduanya saling menempel ketat. Tangan kiri Hega meraih dagu Moza dengan lembut, mendongakkan kepala gadis itu hingga bola mata mereka kini saling menatap.


Jantung keduanya sama-sama sedang berdebar seirama, seolah saling menyahut.


Hega kembali mendekatkan wajahnya pada gadisnya. Dengan mesra mengecup bibir peach Moza yang sudah menjadi candu baginya. Dengan penuh kelembutan Hega mencecap bibir mungil itu tanpa melewatkan sedikitpun.


Kedua mata Moza tanpak mengerjap beberapa kali, tubuhnya membeku, desiran aneh menjalar di seluruh tubuhnya.


Moza yang mulai pasrah mendapati perlakuan lembut suaminya, kedua matanya terpejam membiarkan Hega mengambil alih kesadarannya.


Tak cukup sampai disana, Hega seolah tak merasa cukup dengan meraup bibir istrinya. Pria itu menginginkan lebih, dengan lembut menggigit pelan bibir bawah Moza.


" Eunghh.... "



Dengan lembut tangan yang tadinya berada di dagu Moza, sudah berpindah di belakang tengkuk gadis itu.


Hega tak memberikan celah sedikitpun untuk Moza menjauh darinya. Hega menarik pelan tengkuk kekasih halalnya. Memperdalam ciumannya, memenyusuri setiap rongga mulut Moza yang sudah sedikit terbuka.


Hega benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan ini, lidahnya mulai bergerilya memasuki mulut gadisnya. Mengeksplore setiap rongga mulut Moza dengan sangat lembut. Mengabsen setiap inci mulut istrinya yang terasa manis dan semakin membuatnya candu.


Getaran aneh terus menjalar di sekujur tubuh Moza, gadis itu ikut terhanyut dalam permainan lidah suaminya. Hega mulai memancing agar Moza membalas ciumannya. Hega menggelitik nakal lidah kekasih hatinya, membuat Moza terasa seperti disetrum aliran listrik yang begitu dahsyat.


Hega membimbing Moza untuk membalas ciumannya. Lidah mereka saling beradu, bersentuhan, berputar dan ah entahlah . Yang jelas istrinya kini sudah mulai ahli mengimbangi ciumannya.


Hega masih melanjutkan aksinya, ******* bibir bawah dan atas bergantian. Menyesapnya dan kemudian memainkan lidahnya lagi di mulut gadisnya.


Gairahnya seolah tak membiarkannya berhenti menikmati bibir istri cantiknya.


Namun logikanya tetap berusaha menjaga kewarasannya, mengendalikan dirinya agar kedua tangannya tak melanggar batasnya dengan menyentuh sesuatu yang akan membuatnya menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.


Meskipun kenyataannya tubuh Hega sudah tidak bisa lagi berbohong, pria itu benar-benar merindukan istri tercintanya, sudah tidak sabar untuk menyalurkan kerinduannya pada sang istri yang menghilang selama sebulan ini.


Hega ingin menyatukan dirinya dengan kekasih jiwanya, memberikan sesuatu yang diinginkan oleh tubuhnya setelah sekian lama menahan diri dalam kerinduan.


Tapi Hega cukup waras untuk tidak melakukan keinginannya, ada kehidupan lain yang harus ia jaga saat ini.


Kehidupan yang tumbuh di dalam rahim sang istri. Yang membuatnya harus menahan keinginannya untuk menyentuh istrinya sesuka hati.


Bahkan pria itupun sadar betul jika apa yang dilakukannya saat ini juga sudah diluar batas. Jika ia tidak berhenti maka ia takut jika kontrol dirinya akan melemah dan berbuat diluar kendali.


Setidaknya Hega ingin memastikan lebih dulu satu hal sebelum melakukan yang lebih dari sekedar berciuman.


Tapi tetap saja Hega juga hanyalah pria normal. Dan pria normal mana yang tidak tergoda ******* bibir kekasih yang dicintainya ada di depat mata.


Apalagi mereka sudah menjadi kekasih halal dan sah di hadapan agama dan hukum negara.


Bahkan keduanya telah begitu sering menyatu dalam indahnya cinta hingga kini tumbuh janin di rahim Moza dari benih cinta seorang Hega.


Sekuat tenaga Hega berusaha menjaga kewarasannya agar perlakuannya tidak sampai menyakiti buah cintanya yang telah Tuhan titipkan di rahim istrinya.


Tapi untuk mengakhiri begitu saja kemesraan dan keintiman itu, Hega seolah belum rela.


Seperti itulah hingga cukup lama waktu bergulir, sampai dirasakannya tarikan nafas gadis yang masih berada di pangkuannya terasa semakin berat dan tak beraturan, seperti kehabisan oksigen.


Hega dengan tidak rela terpaksa menyudahi ciumannya, menyatukan keningnya dengan kening sang istri, hingga hidung mancung keduanya ikut menempel.


Hega mengusap lembut bibir basah istrinya, " Maaf, aku lepas kendali. "


Moza menggeleng pelan, kemudian Hega menarik kepala Moza untuk berlabuh di dada bidangnya.


" Aku merindukanmu, sayang. "


" Aku juga, kak. "


" Jangan pergi lagi ! Aku akan mati jika kamu tidak disisiku. "


" Maafkan aku, kak. Ini semua salahku, aku tidak menurutimu. Aku mengabaikan laranganmu untuk tidak pergi seorang diri. Maaf. "


" Tidak, ini bukan salahmu. Aku yang terlalu ceroboh, aku lengah. Tapi aku janji hal ini tidak akan terulang lagi. Aku juga minta agar kamu mengabari aku kemanapun kamu ingin pergi. Biarkan Gara menjagamu saat aku tidak bisa menemanimu. "


" Eum. . . Iya, kak. Aku janji. "


Keduanya kembali berpelukan untuk melepas rindu dan menyalurkan rasa cinta yang sepertinya semakin besar satu sama lainnya.


Berharap Tuhan tidak lagi memisahkan mereka dan menjaga cinta diantara mereka.


...****************...