
GIG lantai 15, Presdir Room
Sudah lima minggu sejak hilangnya Moza. Hega tetap melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan sebaik mungkin.
Tentu saja tidak berhenti mencari keberadaan istrinya. Alih-alih mencari istrinya dengan tangannya sendiri. Pria itu memilih duduk di balik meja kerjanya, menunggu laporan dari orang-orang suruhannya.
Lagipula Hega tidak bisa berbuat apapun jika tidak ada petunjuk. Disini, setidaknya pria itu masih bisa terus memantau perkembangan pencarian sang istri.
Tanpa meninggalkan tanggung jawabnya atas ribuan bahkan ratusan ribu nyawa yang bergantung pada setiap kebijakannya.
Setiap raganya lelah dan ingin menyerah, pria itu memejamkan mata dan kata-kata sang istri terus terngiang di telinganya.
' Apapun kesulitan yang kakak hadapi, ingatlah jika kakak memegang tanggung jawab atas ribuan nasib karyawan beserta keluarganya. Kakak harus kuat, jangan goyah. '
Dilihat dari luar, Hega tampak normal. Bekerja dari pagi hingga petang.
Namun siapa yang tahu bagaimana hancurnya ia ketika sendirian. Ingatan akan istrinya membuat hatinya remuk redam.
Meskipun begitu, tidak ada ritual aneh yang dia lakukan. Seperti mengalihkan diri pada dunia malam, atau mabuk-mabukkan dan hal negatif lainnya.
Hega hanya bisa berpasrah pada yang Kuasa di setiap sujudnya. Meminta Sang Pencipta mengembalikan wanita yang menjadi satu-satunya alasan kebahagiaannya.
" Presdir, ada Pak Bara ingin menemui Anda. " Hega yang sedang mengecek ulang berkas yang akan ia tanda tangani seketika terdiam saat mendengar suara Anita di interkom.
Pria itu kemudian melirik Gara yang berdiri di sampingnya. Tumben sekali bocah itu mau masuk saja minta ijin. Biasanya langsung ngeloyor.
" Antar masuk. "
Klik
" Ga. " Suara Bara tampak terengah-engah, mimik mukanya juga tak biasa.
" Ada apa, Bar ? " Hega menggores penanya di berkas terakhir, kemudian meletakkannya di tumpukan berkas yang butuh revisi.
" Berita baru, soal orang yang jamin Radit keluar penjara. Hah hah hah. . . "
Klotak
Pena ditangan Hega langsung tergeletak di meja.
" Bentar, gue aus, minta minum dong. " Hega langsung melirik Ragil Anggara, pria di sampingnya itu langsung tanggap dan berjalan menuju lemari es di pojok ruangan.
Tidak butuh waktu lama, sebotol air mineral dingin sudah ada di depan Bara, dan tandas dalam waktu beberapa detik saja.
" Thanks. "
" Lo udah dapat info siapa orang itu ? "
Bara mengusap sudut bibirnya yang basah, menutup botol air mineral yang sudah kosong yang melemparnya ke tempat sampah.
" Secara pastinya belum, hanya yang pasti, menurut keterangan yang gue dapet dari sumber terpercaya. Sebelum Radit bebas, ada seorang wanita yang beberapa kali berkunjung. "
Alis Hega langsung naik. " Wanita ? "
" Ya, dan itu nggak mungkin Jena. Gue udah pastiin ke Jena kalau dia bahkan nggak tahu mantan suaminya itu bebas. "
Hega menatap tajam Bara, dan entah kepekaan dari mana hingga Bara langsung bisa menebak arti tatapan mengerikan itu.
Bara menggeleng kuat-kuat. " Bukan Alina, Ga. Gue jamin itu. "
Hega menatap seolah tak percaya dengan jaminan Bara.
Terdengar helaan nafas berat dari kakak Dimas Prasetya itu. " Hufft, Alina dibawa ke rumah sakit khusus mental di US, sehari setelah keluar dari rumah sakit waktu itu. " Akhirnya satu hal yang disimpannya dari Hega terkuak juga.
Ada gurat keterkejutan di wajah Hega saat mendengar kabar yang barusaja Bara ucapkan.
Tapi situasi Hega saat ini menuntut dirinya untuk tidak mudah percaya dengan siapapun. Terutama wanita yang pernah hampir membunuh istrinya. Dan bahkan nekat bunuh diri, meskipun itu hanya drama belaka.
" Gue jamin bukan Alin, Ga. Lagipula kekuatan keluarga Setiawan tidak akan bisa mengcover kejahatan sebesar ini. Mereka nggak akan mampu menutupi apapun dihadapan kekuasan keluarga lo. " Jelas Bara meyakinkan.
Hega terdiam, melirik Ragil Anggara. Pria itu mengangguk membenarkan alibi Bara.
" Jadi menurut lo, siapa wanita itu ? "
Bara mengedikkan bahunya. " Yang jelas kemungkinan besar itu adalah salah satu wanita yang pernah suka sama lo. " Di sisi kanan meja, Ragil Anggara mengangguk setuju.
Hega tampak berpikir, kemudian menggeleng.
" Inget-inget lagi, Ga ! " Ucap Bara lagi.
Tapi bagaimanapun Hega mengingat-ingat, Hega tidak menemukan petunjuk.
Bagaimana mau tau latar belakang mereka, tahu atau ingat namanya saja tidak. Jangankan nama, ingat bagaimana rupa mereka pun tidak.
Selepas membahas petunjuk-petunjuk yang disampaikan Bara. Hega memilih menyudahi pembahasan mengenai perempuan misterius yang kemungkinan besar menjadi dalang utama dibalik menghilangnya sang istri.
Bagaimanapun Hega berfikir, tidak ia temukan titik terang. Akhirnya Hega memilih membahas beberapa proyek yang sempat tertuda bersama Bara dan Ragil Anggara.
" Nggak lebih baiknya lo tanya Julian soal ini, Ga ? " Bara menyodorkan satu berkas proyek terakhir dari sekitar 5 proyek yang mereka bahas sejak tiga jam lalu.
Hega menggeleng. " Biarkan Julian fokus pada pekerjaannya. "
" Tapi ini proyek yang pegang itu anak, dari proposal sampai setengah jadi ini. Biar cepet gitu. "
Kali ini Hega memilih diam sejenak, mengetukkan jarinya di atas berkas proyek berjudul 'Empire Ballroom' yang sebelumnya ditangani oleh Julian. Setelah beberapa saat berfikir, Hega kemudian menoleh pada pria yang ada di sisi kanan Bara.
" Gara, bagaimana menurutmu ? "
" Saya setuju dengan Tuan Muda. Saya rasa untuk saat ini Tuan Muda Adiputra sedang butuh waktu penyesuaian dengan jabatan barunya. Dan untuk proyek ini edikit banyak Tuan Muda Adiputra sudah menjelaskannya pada saya. Saya akan selesaikan secepatnya. "
Hega mengangguk, sepertinya apa yang dia tahu, Gara juga mengetahuinya.
Julian sudah jarang sekali datang ke GIG karena mulai fokus pada tugasnya di ATRA CORP.
Hega juga tidak mau mempersulit mantan asisten pribadinya itu. Apalagi mengingat masalah serius yang tengah dialami oleh sahabat dari istrinya itu.
" Oke, Bar. Lo tetep fokus proyek resort, untuk urusan Imperial Hotel biar Gara yang handle. Sedangkan Golden Mall, proyek BA yang sudah berjalan sudah Julian percayakan pada team nya. Sepertinya tidak perlu lagi mengganggu Julian untuk urusan GIG, kecuali ada yang benar-benar bersifat urgent. " Putus Hega setelah menutup map berkas terakhir dan meletakkannya di tumpukan berkas di sisi kanan meja kerjanya.
" Okelah, kalo lo udah mutusin gitu. Gue ngikut aja. "
" Dan satu lagi Bar. "
" Apa ? "
Hega menopang dagunya dengan dua punggung tangannya yang bertaut dengan siku bertumpu di atas meja. " Gue ketemu Om Hendra saat business dinner bulan lalu. "
" Hisss. " Bara langsung melengos, pria itu tahu topik apa yang menjadi bahasan.
" Jujur aja gue berterima kasih lo masih mau ada di sisi gue, bantuin gue, Bar. Tapi gue sadar kalau lo juga punya tanggung jawab besar yang menanti lo. "
" Lo mau ngusir gue, Ga ?! " Bara mencibir dengan nada bercanda.
" Lo tahu bukan itu maksud gue, Bar. "
" Hahaha.... " Bara malah terbahak kala candaannya dibalas wajah angker Hega.
" Kalo gue boleh milih sebenernya gue berharap kalo lo bakalan tetep bantuin gue di GIG. But, i know i can't be too selfish. "
" Gue ngerti, Ga. Lo tenang aja, gue tahu kapan waktunya gue harus balik ke tanggung jawab utama gue. " Ucap Bara mengimbangi keseriusan Hega.
" Lagipula papi gue masih sehat wal afiat, orang kemaren aja nantangin mau bikinin gue adek baru kalo gue gak buru-buru kasih cucu. Kesel kan, ya kali gue setua ini punya adek lagi masih bayik. Idiiihhh... " Imbuhnya cepat dengan ekspresi yang kembali berubah tengil dan menyebalkan.
" Ngaku tua juga lo, hah ?! Dan jangan lupa kalo Rania lahir saat usia gue udah 20-an, Bar. "
" Ck, itu mah beda. "
" Ck, serah lo. " Hega menghempas punggungnya ke sandaran kursi, menatap malas Bara yang sepertinya masih ingin terus berdebat dengannya.
Tapi hati Hega yang sedang tidak baik-baik saja tentu membuatnya memilih menghemat tenaga dan pikirannya. Lebih baik menggunakan otaknya untuk mencari petunjuk menemukan Moza. Daripada capek-capek debat tiada guna dengan sahabatnya yang malah bikin sakit kepala.
Sudahlah, urusan Bara biar pria itu memutuskannya sendiri, toh pria itu baru saja mengaku tua, yang pasti sudah bisa memutuskan apa yang baik untuk hidupnya.
Untuk saat ini Hega hanya berusaha agar tetap waras.
Brak...
" GA ! "