FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 121 • Dua Pilihan Sulit



Netra hitam pekat itu masih setia mengunci bola mata bulat Moza, membuat yang ditatap semakin tidak tenang dalam posisi duduknya. Sungguh rasanya seperti sedang disidang.


" Istriku luar bisa sekali ya kalo main petak umpet. " Sindir Hega dengan nada menggoda dan tersenyum simpul, satu alisnya sengaja ditarik ke atas. " Perusahaan magang kamu beda arah, hmm ? Mulai belajar bohong rupanya. "


Moza meringis sembari mengusap bawah telinganya, sindiran suaminya benar-benar tepat menusuk ke hati. " Eeummm, i-itu. " Keduaaaaa mata bulatnya berlarian ke kanan dan ke kiri, menghindari serangan mematikan dari tatapan tajam suaminya.


" Itu apa, hm ? " Suaminya ini beneran ahlinya membuat lawan bicaranya tak berkutik, Moza sampai kesulitan berpikir mau bicara apa sebagai alasan.


" I-tu, bisa tidak kakak menjauh dulu dariku ? " Telapak tangan Moza terulur dan mendarat di dada suaminya, memberi sedikit dorongan agar pria itu sedikit memberi jarak.


" Tidak. " Tolak Hega tegas, tatapannya masih sama, tajam dan menghanyutkan. Tangannya menangkap tangan istrinya dan mengecup telapak tangan itu dengan mesra dengan tatapan masih tak teralihkan sama sekali.


Moza memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak kuat jantungnya kalau harus membalas tatapan yang menghanyutkan itu " Bagaimana aku bisa bicara kalau kakak membuatku sesak nafas begini ? "


Hega mencapit dagu istrinya, memutar perlahan wajah cantuk itu agar kembali menatapnya. " Kalau ngomong sama suami lihat suaminya dong, lagipula aku ngapain kamu sampai kamu bisa sesak nafas dan tidak bisa bicara, hmmm ? "


" Hhhh, memangnya siapa yang bisa bicara kalau ditatap seperti ini ? " Gerutu Moza dengan bibir cemberut, salah ekspresi yang menjadi kelemahan Hega.


Hega yang kini harus menelan saliva, pria itu hampir saja luluh melihat mimik wajah menggemaskan istrinya, ingin rasanya memagut bibir yang sedang mengerucut lucu itu. Tapi harus dia tahan.


" Bicara pakai bibir loh, sayang. Apa hubungannya dengan tatapan aku, atau mau aku buat bibir kamu beneran nggak bisa bicara hmm, sekalian kita bisa berbagi nafas agar kamu nggak sesak nafas lagi. Mau ? " Hega tersenyum devil, otaknya sudah secepat kilat menyusun hukuman untuk istri menggemaskannya.


Hukuman yang akan membuat keduanya terbang ke nirwana cinta. Hega tidak akan melewatkan sekecil apapun kesempatan untuk bisa merengkuh indahnya peraduan asmara bersama istri tercintanya.


Jika perlu maraton bikin proyek bebi. Siapa tahu bisa dapat bebi twins seperti papa dan almarhum pamannya. Jackpot bukan.


" Ehhh ??? Apasih, kak, jangan aneh-aneh ya. " Manik mata bening Moza langsung membola mendengar godaan suaminya yang bernada ambigu, antara tawaran atau ancaman.


" Jadi, mau jelaskan di sini atau di ruangan aku, hmm ? "


Hega semakin mempertipis jarak diantara mereka, wajahnya kini tepat berada di depan wajah cantik istrinya. Hanya tersisa sekurang-kurangnya beberapa centimeter saja sampai bibir merah Hega menyentuh bibir peach istrinya.


Moza reflek memejamkan kedua matanya, sungguh ini situasi paling ekstrem yang pernah dilaluinya. Karena siapapun bisa saja masuk dan memergoki mereka.



Dua pilihan itu tetap sulit.


Jika memilih bertahan di ruangan itu, tidak ada yang tahu kapan si pemilik ruangan akan kembali, atau mungkin justru orang lain yang akan datang dan menyaksikan keintiman mereka.


Tapi jika memilih di ruangan sumianya, bukankah itu juga pilihan beresiko ? Dirinya harus naik lift khusus yang menuju lantai 15 yang sakral, lantai dengan akses terbatas.


Pasti akan timbul kecurigaan jika mahasiswa magang seperti dirinya menggunakan lift tersebut. Biasanya kan dirinya datang melewati lift di loby khusus, jadi kemungkinan orang melihatnya sangat kecil, kecuali resepsionis loby khusus atau tamu yang memang sudah ada janji untuk bertemu Presdir.


Toh jika ada yang memergokinya, tinggal cari alasan saja, atau dia bisa mengajak Amira menemaninya agar meminimalisir kecurigaan.


" Di rua-ngan kakak. " Cicit Moza akhirnya dengan mata masih terpejam, suaranya masih terbata karena jantungnya belum bisa diajak bekerja secara normal.


Cup


Moza langsung membuka mata saat ia merasakan benda kenyal menempel di bibirnya, suaminya dengan nakalnya barusaja mengecup bibirnya. Memang dasar tukang modus, gak kenal tempat dan waktu.


" Good choice. " [ Pilihan yang bagus ]


Hega tersenyum puas, mengacak pelan dan mesra pucuk kepala istrinya. Sedangkan Moza, rasanya ingin mengumpat saja, tapi Moza tahu jika dosa mengumpati suami.


Jarak keduanya masih begitu dekat hingga Moza masih bisa merasakan aroma mint dari hembusan nafas suaminya. Begitu pula wangi maskulin yang menguar dari tubuh atletis berbalut setelan kerja bernuansa navy, yang tentu saja adalah outfit pilihannya tadi pagi.


Lagi-lagi outfit keduanya memang couple, dasi Hega yang berwarna navy polka putih, persis seperti bawahan yg dipakai Moza, rok dibawah lutut berwarna navy dengan totol-totol berwarna putih.


Moza baru sadar sepertinya isi lemari di walk in closetnya sedikit bertambah isinya sejak dirinya magang. Terutama sejak Moza menyiapkan pakaian untuk suaminya di hari pertama magangnya yang tanpa sengaja bermotif sama. Saat itu Moza ingat sekali suaminya itu kesenangan bukan main, apa suaminya mengatur kembali isi ruang ganti mereka dengan sengaja menambah banyak outfit yang sepasang ? Entahlah.


" Aku tunggu jam makan siang, terlambat satu menit, kamu lihat saja apa hukuman yang akan aku berikan, hm. " Suara bass suaminya kembali menarik kesadaran Moza sepenuhnya.


Ahhh, seketika Moza menyesal dengan keputusannya barusan. Moza tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya di ruangannya nanti, bisa saja pria itu lebih mesum dari ini kan ?


Lihat saja, di ruangan orang lain saja berani cium, bagaiamana kalau di ruangannya sendiri nanti ? Bisa habis dirinya. Aaarrrhhh, menyesal memang selalu di belakang.


Moza menghela nafas lega ketika suaminya langsung mengambil posisi tegak bersandar di meja kembali tepat saat pintu terbuka menampilkan dua sosok pria yang tadi keluar dari ruangan yang sama.


Setelah ketahuan oleh suaminya begini, bagaimana kehidupan magang Moza nantinya ?


Apakah akan nyaman damai sentosa karena dia memiliki koneksi berkualitas tinggi ?


Ataukah justru sebaliknya ? Kacau balau tak tenang karena terus dihantui oleh keposesifan sang suami yang kalau lagi bucin tak mengenal kondisi dan situasi ? Belum lagi mode mesum yang bisa saja aktif tanpa bisa diprediksi ?


Haaaaahhhhh, pening seketika Moza membayangkannya. Sudahlah, apapun yang terjadi hadapi saja, toh kedua pilihan yang ditawarkan suaminya keduanya sama-sama beresiko.


***


Kira-kira apa hukumannya ?


Kalau lawannya bang Hega, pasti nggak jauh-jauh dari ninuan ye kan ? Abang Gans yang satu ini kan pengen banget punya bebi yang cantik dan imut macam istrinya saat kecil. Bang Hega bayangi aja udah gemes kalo ada miniatur istrinya.