FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
EXTRA PART | [ Spoiler ] BeBi Twins



Moza meletakkan si bungsu yang sudah tertidur ke dalam baby box berwarna putih yang ada di kamar bayi, di samping kamarnya.


" Sa, tolong jaga El sebentar ya. Aku mau melihat twins. "


" Baik, Nona. "


Moza meninggalkan kamar si bungsu setelah memastikan putra ketiganya yang baru berusia satu tahun itu benar-benar terlelap.


Di ruang tengah, dua kesayangannya yang lain tampak asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.


Moza mendekat perlahan dan duduk di sisi putranya, " Kenapa Kakak Bi tidak suka coklat seperti Adek Be ? " Moza bertanya saat melihat kotak coklat milik putranya masih tertutup dan isinya masih utuh.


Pria kecil itu menutup buku di tangannya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Manik hitam pekatnya yang jernih melirik sang adik yang sedang memakan kue coklat pemberian dari salah satu sahabat sang Mommy.


Kemudian wajah tampan itu kembali mengarah pada wanita paling berharga baginya, sang Mommy tentu saja.


" Adek masih kecil, dia butuh banyak asupan gizi agar bisa tumbuh dengan baik. "


" Itulah mengapa adek suka dengan makanan yang manis. Karena dia masih bocah kecil yang membutuhkan glukosa yang akan disimpan dalam tubuh untuk diubah menjadi energi. "


" Itu juga yang membuat adek tidak bisa diam, karena terlalu banyak energi yang dihasilkan oleh tubuhnya. Dan energi itu memang harus dikeluarkan agar tidak menjadi lemak yang akan membuat adek membulat. "


Moza melirik si objek pembicaraan yang tampak tidak terganggu sama sekali dengan komentar kakaknya.


Meskipun tadi sempat melirik sebal pada sang kakak, karena dikatain bulat oleh saudara kembarnya itu.


Tapi kemudian kembali acuh, karena nyatanya sekotak coklat di pangkuannya lebih berharga daripada meladeni mulut menyebalkan sang kakak.


Moza terdiam sejenak kemudian tak kuasa menahan senyum. Dan menatap gemas putranya yang berlagak dewasa.


Lagipula darimana sang putra tahu begitu banyak di usianya yang masih sangat muda.


Ibu tiga anak itu tersenyum lantas mengusap pucuk kepala putra sulungnya.


" Kamu hanya tujuh menit lebih tua dari adik kamu loh, sayang. " Ujar Moza sembari menoel hidung kecil putranya.


Pria kecil di hadapannya mencebik karena merasa diperlakukan bak anak-anak. Meski diam-diam bayi kecil itu menikmati juga udapan lembut sang ibu.


Kedua tangan kecilnya bersedekap di dada, bagi orang luar akan terlihat angkuh dan arogan.


Namun, dimata sang ibu, Biru justru tampak lucu dan menggemaskan.


Miniatur Hega Saint itu menatap serius sang Mommy, " Tujuh menit pun tetap membuat Bi lebih dewasa daripada adek Be. Bukankah dalam tujuh menit itu ada perjuangan Mommy yang begitu berat dan melelahkan ? "


Ommooo....


Seketika Moza terdiam dengan mata membulat sempurna, hatinya tersentuh oleh ucapan putranya.


Apakah bocah sekecil ini sudah bisa memahami bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan dirinya ke dunia ?


Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh putra sulungnya itu. Tujuh menit pun terasa begitu panjang saat itu. Hingga akhirnya tujuh menit itu pula yang menjadi jarak usia dua kesayangannya.



Kaki pendeknya menjadikan kursi sebagai lompatan untuk merangkak naik ke atas meja.


Biru duduk di atas meja dengan angkuh, kedua tangan bersedekap di dada.


Matanya menatap lurus dengan ekspresi datar. Menghadapi versi dirinya yang diperbesar.


Sedangkan pria yang tengah duduk di kursi kerjanya itu menatap dengan tatapan heran pada bocah lima tahun yang wajahnya nyaris sempurna meniru dirinya.


" Kenapa kamu melihat Daddy dengan wajah seperti itu, hm ? " Tanya Hega setelah meletakkan berkas di tangannya ke atas meja.


" Daddy lagi-lagi ingkar janji, huh. "


Pria itu melepas kacamata baca yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya. " Apa lagi sekarang, Bi ? "


" Ck, apa Daddy sudah terlalu tua hingga tidak bisa mengingat janji apa yang sudah Daddy buat ? " Tanya bocah lelaki itu dengan nada sarkas.


Heh ???


Hega memijat pelipisnya, putranya sungguh mewarisi gennya dengan sangat sempurna. Tidak hanya wajah, namun juga kecerdasan dan sifatnya.


Keras kepala, perfeksionis dan teguh pendirian dan tentu sedikit menyebalkan. Ahh ralat, level menyebalkannya mungkin melebihi dirinya saat kecil.


" Katakan saja, Bi. Jangan berputar-putar dan membuat Daddy semakin bingung. "


" Ck, Daddy pikirkan sendiri, Daddy kan jenius. " Lelaki kecil itu melompat menuruni meja, kedua tangannya kini bersembunyi di kedua saku celana pendeknya.


Sorot matanya menunjukkan ketidakpuasan akan sesuatu terhadap sang ayah.


Dan sialnya, si objek kekesalan belum juga memahami apa lagi yang membuat putranya ini memarahinya.


" Ya Tuhan, apa lagi ini ? " Gumamnya sembari memijat pangkal hidungnya.


" Sayang kemarilah, dan lihat apa yang terjadi pada putramu ini, hm ?! " Hega berteriak meminta bantuan istrinya.


" Daddy terlalu tua untuk menjadi pengadu. Apa Daddy tidak malu ?! " Ucapnya sarkas dengan suara anak kecil yang dibuat setegas mungkin.


Sepasang kaki kecil itu berbalik dan melangkah menjauhi meja kerja sang ayah. Meninggalkan pria dewasa di belakangnya yang terlihat mati gaya oleh putranya sendiri.


Glek...


Ampun sudah.


Hega hanya bisa menelan ludah menghadapi putranya, butuh sabar yang banyak jika berurusan dengan si sulung.


...****************...


Next Part Spin Off on process, yang masih mau tahu kelanjutannya Follow IG aku @Sherinanta.


Sekalian promo, aku akan release cerita baru, dukung ya.


Masih ada hubungannya dengan Klan SAINT kok dan Still Free ❗


Terima kasih semua


Love kalian sekebon ❤🤗🤗