FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 72 • Down To Earth Dating



...Update adalah kewajiban author...


...Pencet Like dan komentar adalah kewajiban reader...


...Jadi dimohon kerendahan hati teman-teman...


...buat like dan komentar ya...


...Terima kasih. 🤗...


...☆☆☆...


Sepertinya rencana kencan dadakan hari ini akan sukses, keempat orang itu sudah duduk manis di dalam mobil Range Rover berwarna putih milik Hega.


Semuanya terlihat bersemangat kecuali satu orang tentunya, siapa lagi kalau bukan Ryuza Arkana Dama.


Pemuda itu tampak sesekali mencebikkan bibirnya kesal sambil melirik kakak iparnya yang Ryuza yakin tengah merencanakan sesuatu dibalik acara hangout yang terkesan dadakan baginya tersebut.


Padahal hari ini kedatangan Ryuza berniat ingin menghabiskan waktu dengan kakak perempuannya, sekedar ngobrol atau menemani kakak tersayangnya itu menonton drama korea. Intinya mau melepas rindu.


Tapi apa daya, Ryuza tak bisa menolak ajakan sang kakak untuk ikut pergi jalan-jalan.


Sebenarnya bukan masalah jalan-jalannya, jika saja hanya berdua dengan kakaknya maka Rtuza akan dsngan senang hati mengikuti. Atau setidaknya bertiga dengan kakak iparnya pun tidak akan jadi masalah. Masih bisa ia toleransi.


Yang membuat kesal adalah si mungil yang sedari tadi menempeli dirinya seperti permen karet. Gadis kecil ini beneran sudah seperti anak monyet yang menjadikan lengannya bagaikan ranting pohon tempat ia bergelanyut manja.


Astagfirulloh, saat bersama bocah perempuan ini, Ryuza yang jarang beristigfar sepertinya mulai terbiasa dengan kalimat itu.


Agenda pertama adalah pergi ke mall, karena sebelumnya Rania sempat merengek minta dibelikan sebuah boneka domba.


Setibanya di lobby Golden Mall, Hega menuruni mobilnya dan berjalan memutar membukakan pintu untuk sang istri.


Karena hari ini temanya down to earth dating alias kencan membumi atau kencan rakyat biasa. Jadi Hega melarang keras semua shadowguard nya mengikuti dirinya. Cukup Ragil Anggara saja yang bersiap di tempatnya.


Hega sengaja berpenampilan yang tidak menarik perhatian. Celana jeans dan kaos pas body berwarna biru muda melekat di tubuhnya. Jangan lupakan kacamata hitam yang membuatnya semakin keren saja.


Sedangkan Moza tampak cantik meskipun hanya memakai dress selutut sederhana berwarna biru muda, dengan motif shabby di bagian roknya.


Tadinya Moza sempat meminta sang suami memakai topi dan masker, tapi Hega menolak, dengan alasan yang sungguh hih rasanya di telinga Moza.



_Beberapa saat sebelumnya,_


" Gimana penampilanku, yank ? " Tanya Hega setelah mengecek penampilannya di kaca pintu mobilnya.


Moza tersenyum, suaminya ini udah kayak abege saja kelakuannya, " Seperti biasa, kak. "


" Maksudnya aku biasa-biasa saja begitu ? " Hega memberengut.


Duh, ini suami aku kenapa sih dari pagi bikin naik darah mulu. Tapi gemeeessss banget sih. 😊


Moza menghela nafas, " Bukan itu maksudku, kak. "


" Lalu ? "


" Maksudnya tuh kakak tampan seperti biasanya. " Puji Moza sembari merapikan lengan kaos suaminya yang sedikit terlipat.


Wajah cemberut Hega seketika berubah ceria mendengar pujian sang istri, " Oke, yuk berangkat sekarang. "


Cinta memang sedasyat itu efeknya, apalagi untuk kaum buciners sejati. Sedikit pujian sederhana dari kekasih tercinta saja bisa merubah mood dalam sekejap mata. Sungguh ajaib.


" Sebentar, kita tunggu Rania dan Ryu dulu, mereka masih pamit sama kakek tadi. " Hega mengangguk, " Tapi Kak, coba deh pakai ini juga nanti. " Moza memberikan sebuah topi, masker dan kacamata hitam pada suaminya.


Pria itu mengerutkan keningnya, " Kenapa ? Kamu malu jalan sama aku ? Katanya tadi aku tampan, tapi kenapa kamu minta aku pakai itu segala? "


Bugh, Moza memukul pelan lengan suaminya, " Bukan karena itu ihhh, ini tuh biar nggak ada yang ngenalin kakak tau. " Gerutunya sambil menyodorkan kembali barang-barang yang tadi sengaja ia minta pada Ragil Anggara untuk menyiapkannya.


Hega ber oh ria, mengerti maksud sang istri, " Aku nggak mau pakai itu. " Tapi tetap saja pria itu tak mau menuruti kemauan sang istri.


" Kenapa ? "


Hega merengkuh pinggang istrinya, " Sayang, kita go public aja gimana ? " Pintanya penuh kehati-hatian sambil memainkan rambut gadisnya.


" Kakak kan sudah janji mau menunggu aku siap untuk itu. "


Percobaan pertama gagal, oke fine. Try again next time.


Pasrahnya, sebenarnya masih ada beberapa hal yang harus ia selesaikan sebelum membuat identitas istrinya go public. Tapi jika saja sang istri setuju, maka Hega akan menyelesaikan dengan segera.


Tapi berhubung sang istri belum siap, yah sudahlah, persiapannya seiring waktu berjalan saja.


" Aku yang minta maaf ya, kak. "


" Oke. No problem. "


" Jadi mau ya pakai ini ? " Lagi-lagi Hega menolak, kali ini pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


" Kenapa lagi ? "


" Kamu aja keliatan cantik gini. "


" Ehh, kan aku dan kakak itu beda. Aku tidak populer seperti kakak. Jadi tidak masalah buat aku, toh tidak akan ada yang mengenaliku. Lagipula meskipun kakak pakai ini tuh kakak tetap kelihatan tampan kok. "


Pria itu masih kekeuh menggelengkan kepalanya, " Aku tetep nggak mau, enak saja orang bisa lihat wajah cantik istriku. " Hega malah menggerutu sendiri.


" Jadi biar aja aku begini, setidaknya mereka yang melihat kecantikan kamu dan berniat mendekati kamu jadi berpikir dua kali untuk melakukannya. " Imbuhnya beralasan.


Tuh kan, bikin pengen hih kan alasannya. Itu maksudnya apa coba ? Kenapa kedengarannya tersembunyi sebuah kanarsisan yang hakiki dalam ucapan suaminya itu.


" Kaaak. " Lirih Moza memelas.


Hega dibuat tak tega saat melihat ekspresi sang istri, " Ya sudah aku pakai ini saja. " Hega menyambar sebuah kacamata hitam di tangan sang istri dan memakainya, " Begini cukup, kan ? "


Moza menggeleng, " Itu masih belum cukup untuk menutupi identitas kakak. "


Hega menoleh ke arah Gara, " Apa benar begitu, Gara ? "


Pria itu mengangguk, " Iya, Tuan Muda. Yang dikatakan oleh Nona benar, hanya dengan kacamata itu, Tuan Muda masih sangat mudah untuk dikenali. "


" Haish, mau kencan dengan istriku saja susah sekali sih. Bikin kesal saja. " Decaknya sebal.


Moza dan Ragil Anggara malah terkekeh melihat kekesalan pria itu.


" Sudah, pokoknya aku cuma mau pakai kacamata saja, aku nggak mau pakai yang lainnya. "


" Tapi---"


" Kalau ada yang mengenaliku, tinggal bilang saja 'cuma mirip'. " Putusnya Hega mutlak.


Huuuuh, mudah sekali penyelesaiannya ? Cuma mirip ? Apa iya bisa semudah itu ? Hah sudahlah, daripada tidak sama sekali. Moza pasrah.


Saat tiba di mall, Rania sudah terlihat begitu antusias, " Kakak, ayo kita masuk. "


Moza menggandeng tangan kecil gadis mungil itu, berjalan terlebih dulu memasuki lobby mall, diikuti Ryuza di samping Moza.


Sedangkan Hega menyusul di belakang setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valley parking.


Hega meraih tubuh mungil Rania dan menggendongnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya langsung bergerak cepat menggenggam tangan sang istri. Moza tentu saja sempat terkejut, tapi kemudian bersikap biasa saja mengikuti langkah sang suami yang tampak santai saja.


" Kakak, Rania mau beli boneka sondesip. " Cicit gadis kecil yang ada dalam gendongannya.


Hega dan Moza terkekeh mendengarnya, " Shaun the sheep, dear. "


Gadi kecil itu mengangguk, " Ia, son de sip. " Beo Rania dengan pengucapan lebih perlahan penuh penekanan namun tetap saja salah sebut, membuat sepasang suami istri muda itu kembali tersenyum.


Berbeda dengan pemuda di samping Moza yang tampak datar-datar saja, lebih tepatnya sok cool.


" Okey my lil fairy. Everything you want. [ Oke, peri kecilku. Apapun yang kamu mau. ] " Jawab Hega sambil tak lupa mengecup pipi gembil Rania, kemudian mengecup tangan Moza yang ada di genggaman tangan kirinya, " Kalau istriku yang cantik ini mau apa, hem ? "


Blush. . .


Ya Tuhan, tolong sambung kembali urat malu suami hamba ini.


" Kakak ihhh, jangan gini. " Pinta Moza setengah berbisik sambil berusaha menarik tangannya tapi gagal karena Hega semakin mempererat genggamannya.


" Kenapa sih ? Orang aku cium tangan istri aku sendiri ini. "


" Malu tau, kak. "


" Ngapain malu, biasa aja tuh. "


Hih, kakak biasa aja, aku yang malu tauuu. Dasar tak tahu tempat.


Ryuza yang mendengar perdebatan antara kakak dan kakak iparnya itu hanya bisa berdecih sambil memutar bola matanya malas.


Oh God, kenapa juga gue terjebak dalam pasangan bucin ini. Jomblo oh jomblo, ternyata gini rasanya ngeliat keuwuan secara live. Bikin pengen punya pacar. Siyalan.


...-----------------------------------...