FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 15 • Ganteng Pinter Bikin Baper



...' Aku menikahimu untuk menjadikanmu ratu, bukannya pembantu. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...▪▪▪...


Rona merah seketika menyembur di wajah cantik Moza, rasanya tiba-tiba pipinya terasa panas seolah terbakar, jantungnya melompat-lompat tidak karuan. Seperti ada kelinci yang hidup didalam sana.


Huft. . . Huft. . . Gadis itu mengipasi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mendadak gerah rasanya. Padahal suhu ruangan masih cukup dingin oleh penyejuk udara.


Astaga, hei jantung, kenapa kamu dag dig dug terus gini sih ? Tenang dikit kenapa sih ?! Kenapa ini jantung masih belum terbiasa juga sama kata-kata manisnya ? Apa akunya aja yang jadi gampang baperan ?!


Wajar saja sih kalo hati Moza langsung melting [ meleleh ], ucapan dan perlakuan suaminya benar-benar manis dan bikin hati berbunga-bunga. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari-nari di dalam perutnya.


Masih pagi gini, ini hati sudah dibikin terbang melayang dengan rayuan manisnya. Belum lagi wajah sempurnanya itu loh yang makin bikin dahsyat efek gombalannya.


Kalo si Jul sering bilang tuh saat main game di hapenya, situasi kayak gini tuh bisa disebut, Savage !


Udah ganteng pinter bikin baper lagi. Itu bibir dikasih susuk apaan sih bisa banget bikin nih hati kliyengan gini.


Berasa kena double kill, tahu gak.


Moza Artana yang tidak pernah baper meskipun sering digombali banyak pemuda yang mengejarnya, setampan apapun mereka. Akhirnya bisa mati kutu juga di hadapan pesona seorang Hega.


Lagipula wanita mana sih yang tidak suka jika diperlakukan begitu istimewa seperti ini ? Apalagi oleh pria setampan Hega.


Menjadi ratu di kehidupan seorang Hega Airsyana ? Auuwwh, sungguh beruntung sekali dirinya, dan pastinya akan membuat iri para kaum hawa di luaran sana.


Sungguh baik sekali Tuhan memberikan suami sesempurna ini padanya, apa mungkin dirinya pernah menjadi penyelamat dunia di kehidupan sebelumnya. Hingga Tuhan mengirim suami tampannya itu sebagai hadiah istimewa dalam hidupnya kali ini.


Moza sudah kelimpungan, salah tingkah dan gelisah karena serangan maut sang suami. Benar kata Rena, sahabatnya, jika wajah tampan suaminya ini terlalu berbahaya bagi kesehatan jantungnya, ditambah lagi mulut manis yang bikin diabetes ini.


Apa iya Moza akan punya cukup kekuatan untuk menahan serangan mematikan seperti ini setiap paginya ??


Bangun pagi melihat wajah tampan Hega saja sudah bikin jantungan, belum lagi mulutnya yang sepertinya bertambah kadar kejahilannya itu.


Apa ini yang dinamakan kena karma omongan orang tua ?


Tahu gitu dulu Moza tidak malas-malasan setiap kali sang bunda memintanya untuk rajin olahraga. Setidaknya jantungnya akan cukup sehat dengan rajin olahraga.


Jadi jantungnya tidak gampang dag dig dug kayak begini hanya karena disenyumi oleh suami tampannya yang tidak sadar diri atas efek dari senyumnya itu pada kesehatan jantung sang istri.


Sedangkan si pelaku utama pembuat onar yang baru saja mengobrak-abrik jantungnya di pagi hari justru tampak biasa-biasa saja.


Belum juga jantung Moza berdetak normal, Hega meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya, " Jadi semua hal yang kamu sebutkan tadi, seperti membuat kopi atau menyiapkan air mandi, itu bukan kewajiban utama kamu. Meskipun sesekali kamu boleh melakukannya jika kamu ingin, tapi tidak lantas membuat mu jadi merasa terbebani hingga menimbulkan rasa bersalah di hatimu seperti tadi. " Tuturnya dengan begitu entengnya.


" Kamu mengerti kan ? " Imbuhnya meyakinkan sang istri dengan satu tangan sudah berpindah mencapit dagu Moza, dan gadis itu mengangguk paham.


" Bagus, sekarang cepat bangun dan mandi, karena kita harus segera bersiap. " Titah Hega dengan senyum tipis, " Atau mau mandi bareng ? " Godanya dengan mengedipkan satu mata membuat sang istri melotot.


Hega malah terkekeh melihat ekspresi kesal di wajah Moza, sepertinya istri galaknya benar-benar sudah bangkit dari tidurnya.


Hega kemudian mengacak pucuk kepala istrinya yang membuat rambut Moza semakin berantakan saja. " Kakak ihhh, rambut aku jadi tambah kusut. " Gerutunya dengan bibir mengerucut sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangannya.


Baru dua langkah, Hega berhenti sejenak, kembali melirik wajah istrinya yang sedang memanyunkan bibirnya, " Jangan cemberut gitu dong, kan aku jadi pengen cium kamu. Bisa telat kita ke bandara kalo aku nyusulin kamu lagi ke kasur dan lanjutin yang semalem. " Godanya sambil tercengir membuat sang istri kembali memelototi dirinya dengan ekspresi yang lebih horor.


Tuh kan, mulutnya itu loh, kok otaknya cepet banget sih mikirin kata-kata yang bikin hati mencelos gini. Belum lagi sekarang bawaannya tuh mulut jahilnya menjurus melulu ke hal itu.


Moza seketika bergidik, merinding sendiri menghadapi suaminya yang mendadak jadi ada mesum-mesumnya gitu. Apa efek sudah halal kali ya, jadi bawaannya loss aja ngomongnya.


Hega kembali terkekeh melihat ekspresi istrinya, kemudian berbalik badan dan melangkah menuju kamar mandi meninggalkan sang istri yang terdengar masih menggerutu.


" Isshh, nyebelin. "


Eh tunggu, sepertinya ada yang dilupakan oleh Moza ? Tapi apa ya ???


Wait, tadi kak Hega bilang habis jogging, kan ?! Eh, jangan bilang kak Hega jogging di komplek ?!


Gumam Moza menerka-nerka, sepertinya apa yang terlintas di kepalanya sama seperti apa yang tadi sempat diributkan oleh sang bunda.


Aarrrghhh, Moza yakin pasti banyak ibu-ibu yang godain suaminya itu tadi. Jangankan suaminya yang sudah jelas adalah pria dewasa dengan visual paripurna, dulu saja setiap dirinya dipaksa bunda menemani Ryuza lari pagi saja, itu ibu-ibu sering banget godain adik bungsunya itu.


Meskipun mereka tahu adiknya itu masih bocah belasan tahun, tetep aja digodain. Alasannya mau dijadikan mantu, padahal Moza sendiri tahu kalo ibu-ibu yang godain adiknya itu gak punya anak cewek, tapi cowok. Ya kali adiknya mau dikawinin sesama jenis, sinting.


Tapi emang dasar Ryu aja yang pertumbuhannya kelewat pesat, masih esempe aja tingginya udah mencapai hampir 170 cm.


Lagian itu anak kenapa bisa setinggi itu coba, sebagai kakak kan jadi berasa tersaingi, sekarang saja tinggi Moza hanya sebatas leher adiknya. Padahal kan dia yang lahir duluan, kenapa jadi dirinya yang terlihat seperti adik dari Ryuza coba.


Huh, kalo dipikir-pikir ngeselin juga.


" Eh, ngomongin soal Ryu, tumbenan itu anak enggak ribut di kamar aku pagi ini ? Biasanya udah heboh aja kalo aku masih molor jam segini. " Cicitnya setelah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Ya memang begitu kebiasaan kedua bersaudara itu, jika alarm Moza tidak berhasil membuat gadis itu bangun, maka sang adik yang akan heboh menjadi alarm untuk membangunkan sang kakak.


▪ ▪ ▪


Selepas mandi, Hega mengganti baju dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan list hitam di lengan dan lehernya, dan celana panjang hitam yang sudah disiapkan oleh sang istri di atas ranjang sebelum gadis itu menuju kamar mandi.


Sambil menunggu Moza bersiap, Hega memutuskan untuk berkeliling rumah yang dulu seringkali menjadi tempat persinggahannya ketika liburan sekolah. Rumah yang pernah ia tempati selama setahun. Rumah yang memiliki banyak kenangan meskipun dalam waktu yang cukup singkat.


Dan langkah kakinya berhenti ketika berada di depan salah satu pintu kamar berwarna biru muda tak jauh dari kamar sang istri. Dengan inisial "H2 Zone " menggantung di pintu kamar itu.


H2 yang merupakan akronim Hyuza dan Hega, dan kalau dilihat-lihat agak menggelikan juga, mereka seolah jadi seperti pasangan gitu. Bergidik rasanya Hega mengingatnya. Akhhh, tapi Arka kan memang se-sentimental itu.


Meskipun sering adu mulut dengan Hega, dalam hati kecilnya, diam-diam Arka sungguh memiliki kasih sayang sebesar itu pada sahabat satu-satunya, Hega. Meskipun gengsinya terlalu besar untuk mengakui hal itu. Begitu pula sebaliknya, sama halnya dengan yang dirasakan oleh Hega.


Maklum, dasarnya persahabatan antara sesama cowok kan memang rata-rata gitu, suka gengsian, sok enggak butuh padahal sayang, pura-pura cuek tapi diam-diam perhatian.


Dasar kaum gengsi tinggi.


Dengan langkah perlahan Hega semakin mendekat ke ruangan yang sungguh tidak asing baginya itu.


Ceklek. . . Kreeeek. . .


...--------------------...