FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 110 • Cuma Aku Yang Boleh Gigit



Setengah jam berendam air hangat dan mandi, waktu yang amat sangat cukup untuk merilekskan pikiran dan tubuh kedua insan yang masih dimabuk cinta.


Hega mengangkat tubuh istrinya yang sudah berbalut bathrobes berwarna sama dengan yang telah melekat di tubuh kekarnya.


Wajah istrinya terlihat lelah, Hega mendaratkan tubuh Moza di sofabed yang ada di ruangan walk in closet, jemari besarnya mengelus lembut pipi seputih susu yang sedikit berisi. " Capek banget, hm ? "


Moza hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


" Sholat Ashar dulu ya, yank. Terus kamu bisa tidur sebentar nanti. "


" Iya, kak. Aku ganti baju dulu. " Moza hendak bangkit menuju lemari untuk menyiapkan pakaian untuk dirinya dan suami saat suaminya langsung menahan kedua bahunya.


" Kamu duduk manis disini, aku yang akan siapkan. "


" Kak. "


" Anggap saja ini sebagai permintaan maafku untuk yang tadi, sungguh aku sama sekali tidak merencanakannya. Aku---" Hega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bersalah atas ulahnya tadi di kamar mandi.


Moza tersenyum, " Iya, Kak. Aku tidak apa-apa kok, memang dari tadi aku agak sedikit mengantuk. "


" Ya sudah, tunggu disini. " Hega mendaratkan satu kecupan di pelipis istrinya dan menuju lemari pakaian.


Selepas sholat Ashar berjamaah, Hega kembali membawa tubuh istrinya menuju ranjang. Pria itu benar-benar tidak membiarkan istrinya berjalan dengan kedua kakinya, dan malah memanjakan istrinya dengan menggendong tubuh ramping itu kemanapun istrinya mau.


Keduanya kini berbaring dalam posisi miring saling berhadapan di atas ranjang bernuansa baby blue dengan motif shabby berwarna kombinasi navy dan hitam.


Hega menjadikan lengannya sebagai bantal kepala istrinya, dan lengan kanannya melingkar di pinggang sampai ke punggung Moza.


" Tidurlah, nanti aku bangunkan sebelum maghrib. " Sebuah kecupan kembali mendarat di pelipis Moza.


Gadis itu menggeleng pelan.


" Katanya tadi ngantuk ? "


" Sudah tidak lagi, kak. Hanya mau istirahat saja. "


" Ya sudah, sini merem gih, nanti lama-lama ngantuk terus bobok, hm. " Hega mengeratkan rengkuhannya, menarik tubuh Moza lebih mendekat padanya.


Moza menurut, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan mencoba memejamkan kedua matanya.


Dihirupnya dalam-dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya. Merasai dekapan pria itu yang terasa begitu nyaman baginya.



Setelah beberapa saat lamanya, entah kenapa kedua mata yang tadinya mengantuk seolah tak mau diajak beristirahat.


Huuuffft. . .


Tanpa sadar Moza menghela nafas dalam, jemari tangannya mencengkeram erat kaos suaminya di bagian dada.


" Apa terjadi sesuatu, hm ? " Tanyanya lembut sambil mengusap kepala istrinya. Moza menggeleng, dan Hega bisa merasakannya di dadanya.


Hega melonggarkan dekapannya, menahan bahu istrinya dan mencoba mengintip wajah istrinya. " Lalu kenapa hari ini kamu aneh begini sih, yank ? "


Moza mendongak, membalas tatapan mata suaminya. Kemudian kembali menyurukkan wajahnya di dada sang suami dan menggeleng lagi sebagai jawaban.


" Jangan bohong, aku tahu kamu, yank. Pasti ada sesuatu kan ? " Tanya Hega masih berusaha selembut mungkin.


Moza menggigit bibir bawahnya, jemari tangannya masih tanpa sadar meremat kaos suaminya.


Hening beberapa saat, keduanya saling terdiam tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.


Hega sengaja memberi waktu pada istrinya yang terlihat butuh untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Moza sendiri sedang berpikir apakah dirinya akan mengatakan permintaan Aliza di telepon tadi atau tidak.


Sejujurnya nuraninya mengatakan untuk jujur, tapi egonya sebagai wanita menolak.


" Yank---. " Lirih Hega yang sepertinya mulai merasa jika ia harus mengambil tindakan atas sikap aneh istrinya.


Tapi belum selesai kalimat di bibirnya, istrinya menyela dengan suara yang sedikit bergetar.


" Tadi Kak Aliza menelepon. " Lirih Moza dengan posisi masih berada di pelukan suaminya.


Hega sedikit tersentak, untung saja istrinya tengah berada dalam pelukannya. Jika tidak, mungkin gadis itu akan melihat ekspresi lembutnya seketika berubah menggelap karena amarah.


Tangannya mengepal menahan kemarahan, kedua mata Hega memejam kemudian menghela nafas berusaha mengontrol emosinya.


" Apa yang dikatakan Aliza ? " Tanya Hega dengan perasaan berkecamuk.


Sekali lagi Hega mendesah kasar, tangannya yang sedari tadi mengusapi punggung Moza beralih ke bahu sang istri. Memberi dorongan pelan untuk memberi jarak agar Hega bisa menatap wajah istrinya.


" Jadi ini yang sedari tadi membuat kamu melamun, hm ? "


Moza mendongak, menatap wajah suaminya hingga kedua bola mata beriris kecoklatan miliknya bertubrukan dengan netra hitam pekat suaminya.


Beberapa detik kemudian, Moza menggeleng untuk menjawab pertanyaan sang suami.


Alis Hega terangkat sedikit, mengisyaratkan jika pria itu butuh jawaban pasti alasan istrinya yang sedari tadi seolah kehilangan fokus dirinya.


" Kak Aliza menelepon saat aku di kamar, beberapa menit sebelum kakak datang. "


" Huffft. . . Lalu ? "


Moza menggigit bibir bawahnya, antara ragu dengan keputusannya.


" Jangan digigit, bibir kamu itu punya aku, cuma aku yang boleh gigit, hm. " Protes Hega sembari mengusap bibir istrinya, tentu saja dengan nada nakalnya yang selalu sukses membuat istrinya merona.


Tak terkecuali saat ini, pipi putih Moza langsung dihiasi semburat berwarna merah jambu.


" Kakaakkk, masih bisa bercanda, ihhh. " Kedua pipinya kini menggembung menggemaskan.


" Hehe, ini baru istriku. Gemesin, meskipun yang tadi juga gemesin dan--- sexy. Aku suka lihat sisi kamu yang seperti itu. Hiiih, pengen gigit. " Ujar Hega dengan nada jahilnya, senyum mesumnya langsung terukir saat mengingat istrinya yang begitu menggemaskan saat menuruti semua kemauan nakalnya tadi.


Dari minta dilepaskan baju, mandi bersama, hingga--- yah, begitulah.


" Kakaak. " Pipi Moza semakin memerah.


" Iya, sayang. " Dan tentu saja bukan Hega jika berhenti menggoda istrinya.


" Huh. "


Hega menarik dagu istrinya yang memalingkan wajahnya ke arah lain karena kesal.


" Sini, jangan marah lagi, kalo enggak aku cium lagi nih. " Moza menurut, kemudian kembali berhambur ke pelukan hangat suaminya.


" Kak---. "


" Jangan teruskan, aku tidak akan mau. " Hega menyela tegas.


" Tapi kak--. "


" Kamu boleh meminta apapun kecuali yang satu itu. Aku bahkan akan mengijinkanmu mengantar keberangkatan sahabatmu jika kamu ingin kesana, tapi untuk permintaan Aliza, jangan harap aku akan mengikutinya. "


Moza kembali mendongak, " Kakak tahu soal Dimas ? "


" Sssttt, jangan sebut nama pria lain dengan bibir kamu, aku nggak suka. " Sahut Hega dengan nada tak suka, dan jangan lupakan telunjuk tangan kanannya yang sudah menempel di bibir Moza.


Moza mendorong dada suaminya, kembali memberi sedikit jarak, " Hhhh, jadi kakak tahu ? " Moza tampak pasrah melihat suaminya yang lagi mode manja parah, suaminya ini benar-benar hih ya, sedari tadi kemauannya sudah dituruti malah semakin ngelunjak.


Akhhh, sabar sabar. Batin Moza.


Hega mengangguk. " Bara yang mengatakannya tadi, sekaligus mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Aliza sama kamu. Dan jawabanku tetap sama. "


Bola mata Moza sontak membeliak, hal yang begitu sulit untuk dikatakan pada suaminya ternyata pria itu sudah tahu. Ahhh, tahu gitu daritadi nggak usah capek-capek mikir gimana caranya minta ijin pada suami pencemburunya itu.


" Jadi kakak mau mengantar aku ke bandara besok ? "


" Jadi itu yang kamu gumamkan di depan lift tadi, hm ? " Moza mengangguk mengiyakan.


" Benar ya kakak mau mengantarku ? Nggak bohong ? Nggak akan berubah pikiran ? Nggak pake syarat aneh-aneh. " Moza memberondong suaminya hingga pria bermata elang itu terkekeh dengan keceriwisan istrinya.


" Tentu saja, yank. Apa sih yang nggak buat kamu, ehh kecuali yang tadi ya. Big No. " Timpal Hega kilat sebelum istrinya menyela.


Kemudian dengan gemasnya Hega menyusrukkan hidungnya di hidung istrinya.


Hhhh, sudahlah, yang penting urusan ke bandara beres dulu. Untuk permintaan kak Aliza nanti bisa aku coba lagi, mungkin.


Begitu pikir Moza, sepertinya saat ini suaminya benar-benar tidak bisa diajak negosiasi, entahlah nanti, tunggu saja mood suaminya membaik, baru usaha lagi. Kalau tetap sama saja hasilnya, yah yang penting dirinya sudah berusaha.


Iya kan ?


***


Maaf fast writing, kalo ada typo tolong tandain, InsyAllah besok di edit ulang.