
Moza POV
Tidak terasa sudah tiga bulan aku menyandang status sebagai Nyonya Hega Saint. Pria yang tampak keras dan dingin.
Sosoknya yang sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar memang mengharuskannya bersikap tegas dan penuh wibawa.
Namun perlahan aku memahami satu hal. Jika semua sisi dirinya yang menurut kebanyakan orang menakutkan itu tidak berlaku jika ia bersamaku.
Pria yang selalu membuat orang segan dan tak jarang gemetar karena ketegasan dan sifat perfeksionis nya. Jika bersamaku justru nampak sebaliknya.
Saat bersamaku, Kak Hega begitu lembut dan hangat. Tidak hanya dalam tutur kata, tapi juga segala tindakannya selalu tersirat sejuta cinta yang seolah tidak ada habisnya.
Pria yang ternyata begitu posesif dan pencemburu, tidak jarang over protektif dan sedikit menyebalkan. Dan jangan lupakan satu hal tentangnya yang selalu membuatku mati gaya, tingkat mesumnya yang luar biasa.
Baru tiga bulan menyandang gelar sebagai istrinya, aku sudah beberapa kali harus pergi ke tempat yang bahkan tidak pernah aku datangi saat masih lajang.
Salon dan spa. Namun bukan untuk perawatan seperti yang kebanyakan para wanita lakukan. Melainkan untuk menjalani body massage, yang sangat terpaksa aku lakukan karena tubuhku membutuhkannya.
Meski tidak jarang aku lebih memilih agar Sasa saja yang memijatku di rumah, lantaran malu harus mempertontonkan hasil karya kreatif suamiku di beberapa titik tubuhku.
Walau tetap saja aku harus tebal muka setiap kali Sasa tersenyum jahil setelah melirik beberapa tanda merah yang memang tidak bisa ditutupi olehku.
Entah karena aku yang terlalu lemah, ataukah suamiku itu yang kelewat 'luar biasa'. Hingga aku selalu dibuat nyaris remuk setiap kali otak mesumnya bekerja.
Apalagi sejak aku mengatakan jika aku tidak menunda kehamilan. Kak Hega semakin gila saja meminta jatah rutin dan tambahan.
Hah ? Semoga tulangku baik-baik saja, meskipun tanpa sadar sekarang otakku sudah nyaris ketularan mesum karenanya.
Tiga bulan sudah berlalu, masih panjang jalan yang harus aku lewati bersama pria yang kini menempati posisi tertinggi di hatiku setelah ayahku.
Aku berusaha sebisaku untuk menjadi istri terbaik untuknya. Memberikan kebahagiaan padanya seperti dia telah memberikan segalanya, bahkan tanpa aku meminta.
Seperti dua hari ini, aku tidak keberatan jika harus menuruti kemauannya yang tiba-tiba ingin bulan madu kedua. Meski hanya dihabiskan di hotel saja.
Tapi semuanya selalu terasa berbeda dan istimewa hanya karena aku bersamanya.
Karena untuk saat ini bagiku bahagia itu sederhana, cukup dengan berada di sisinya. Melihat senyum dan tawa bahagia di bibirnya. Memeluk erat tubuhnya yang selalu membuatku nyaman dan tenang.
Pagi itu selepas mandi wajib untuk yang kedua kalinya, aku kembali menghampiri ranjang dimana suamiku masih bergelung dengan selimutnya.
Jemariku terulur mengusap rambut dan turun ke pipinya. " Kak, bangun ! Ini sudah hampir jam tujuh loh. " Bukannya bangun, Kak Hega hanya melenguh dan malah menarikku kembali kedalam pelukannya.
" Kak, bangun dong ! Kakak kan harus ke kantor. "
" Bentar lagi ya, sayang. Aku masih ngantuk. Sini kamu juga merem lagi, hem ! " Ucapnya dengan mata masih terpejam.
Suara seraknya yang seksi menghipnotisku untuk sejenak. Hingga tanpa sadar tubuhku mengikuti tarikan tangannya tanpa perlawanan.
" Kak, ihhh lepas. Aku mau bangun. Aku bahkan sudah mandi. " Aku meronta-ronta kecil dalam dekapannya saat kesadaranku kembali sepenuhnya.
Namun bukannya melepaskan ku, suamiku ini justru semakin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahku di dada bidangnya. Hembusan napasnya yang hangat menerpa pucuk kepalaku yang berada tepat di bawah dagunya.
" Ssssttt. . . Lima menit lagi, Yang. Plisss. " Gumamnya lirih dengan mata yang masih terpejam erat.
Tangan kanannya mengusap lembut punggungku sedangkan tangan lainnya membelai rambutku yang sudah hampir kering.
Satu tindakan sederhana yang sudah bisa dipastikan akan berhasil meluluhkanku.
Dan benar saja, dalam hitungan detik, tanpa bisa dikendalikan, tubuhku terbuai oleh perlakuannya. Aku berhenti meronta seketika itu juga, dan satu hal yang kini aku rasa.
Nyaman. . .
Bahkan hal mustahil sekalipun, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Saat aku terpaksa melakukan hal yang sama sekali tidak pernah ada dalam kamus hidupku, M E M B O L O S.
Yah aku terpaksa bolos satu mata kuliah karena suami posesifku ini menahanku di ranjang saat aku hendak bersiap ke kampus.
Alhasil aku terlambat masuk satu mata kuliah pagi dan akhirnya terpaksa bolos karena aku baru tiba di kampus saat kuliahnya akan berakhir sekitar sepuluh menit lagi.
Huft. . . Untung saja dosen pengampu mata kuliah itu adalah dosen yang tidak sulit dihadapi. Beliau memberikan kesempatan untukku menebus satu kali absen kuliah itu dengan membuat sebuah paper, itupun dengan tema yang menurutku tidak terlalu sulit.
Tentu dosen itu memberiku kesempatan juga berkat presensiku dalam mata kuliah yang diajarnya nyaris sempurna.
Jika tidak ada insiden drama suami posesifku, pastinya presensiku bukan lagi terbilang nyaris sempurna, tapi memang akan sempurna.
Tapi lagi-lagi aku harus ingat jika ada kalimat yang menyatakan 'tidak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya'.
Dan benar saja, keaktifan kuliahku yang aku pertahankan selama tiga tahun ini nyatanya kalah oleh satu hal, apa lagi jika bukan tingkah seenaknya sendiri yang dimiliki oleh pria yang kini menyandang status sebagai suamiku.
" Kak, bangun yuk, lima menitnya sudah habis. " Bisikku lirih sembari mengusap kembali pipinya.
" Bentar, Yang. Lima menit lagi. Janji ini lima menit yang terakhir. " Huft, aku hanya bisa menghela nafas, kulirik sekilas benda bulat yang menempel di dinding.
Nyatanya sudah beberapa kali lima menit yang terlewat. Tapi tetap saja kami tidak beranjak juga dari tempat tidur.
Aku mendongak, menatap wajah tampan yang begitu indah dipandang mata. Jemariku kembali terulur, tergoda untuk mengusap lembut wajah tampannya.
Bagaimana ya menggambarkan ketampanannya, aku sampai kehabisan kata-kata. Mungkin anak jaman sekarang menyebutnya 'blasteran surga'.
Hah, kenapa aku jadi ikutan alay ala remaja ?
Tapi sungguh, pria yang aku nikahi ini memang tidak main-main pesonanya. Jadi memang wajar sih kalau aku menyebut suamiku ini blasteran surga.
Alis tebal, bulu mata lentik, rahang tegas, garis wajah yang sempurna dengan hidung mancungnya. Dan satu hal yang paling aku sukai darinya.
Dua lubang di kedua pipinya yang membuatnya semakin mempesona. Lesung pipi yang hanya akan terlihat jika bibir merah alami ini tersenyum.
Dan lagi-lagi aku harus bersyukur, lantaran senyum ini tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Tapi senyum di bibir ini akan selalu bisa dilihat olehku. Dan itu berarti juga bahwa lesung pipi yang mempesona ini juga hanya aku yang bisa menikmatinya sesuka hati.
" Yang---. " Sedang asyik menikmati wajah tampannya yang terlelap bak malaikat, suara bassnya yang terdengar serak-serak basah menyapa indera pendengaranku.
Aku terdiam sejenak.
" Hm. Maaf, aku mengganggu tidur kakak, ya ? " Hendak kutarik tanganku yang masih terdiam di bibirnya, ehhh, kapan jemari ini mendarat disana sih ? Dan kenapa harus disana ? Dasar jari-jari mesum.
" Kamu menggodaku, hm ? " Mata itu terbuka, netra hitam pekatnya seolah menembus ke jantung. Membuatku otakku seketika kosong melompong.
Belum sempat aku merespon, lebih tepatnya aku kehabisan kata-kata. Suara seksinya kembali menggoda.
" Apa yang semalam dan subuh tadi belum cukupkah ? Mau nambah sesi pagi, hm ? "
Heh ??? Aku mengerjapkan kedua mataku saat mendapati wajah tampan itu masih menatap lekat ke arahku.
Senyum miring terukir di bibir tipisnya. Lengkap dengan paket sepasang lesung pipi yang kini tidak hanya membuatnya tampak mempesona.
Tapi juga menggoda dan berbahaya. Oh No, aku membangunkan singa tidur yang sialnya tampak kelaparan dan siap memangsa.
Arrrgghhhh, aku harus kabur.
Moza POV End
***