FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 160 • Dilarang Keras Membantah Sang Ratu



" Apa schedule ku hari ini, Gara ? " Tanya Hega disela mengakhiri sesi makan siangnya bersama sang istri di sudut ruangan pribadinya yang ada di lantai 15.


Mumpung istrinya masih ke toilet, sambil menunggu lebih baik membahas pekerjaan. Lagipula dessert di atas meja adalah favorit istrinya. Jadi Hega tidak mau mendahului kesayangannya untuk mencicipi hidangan penutup yang sepertinya serba manis itu.


Ragil Anggara mendekat, membuka tab 10 inch di tangannya sebelum menjawab pertanyaan Hega.


" Rapat perkembangan cabang Imperial Hotel di dalam negeri, jam -- " Ragil mengintip jam tangannya, pukul 12.30. Sedangkan rapat jam 13.00.


Apa yang membuat schedule ini waras ? Bisa-bisanya langsung rapat setelah makan siang ? Memangnya sudah turun itu nasi ke perut ? Jangan-jangan masih nyangkut di tenggorokan.


Tidak tahu saja jika schedule itu dibuat Julian atas persetujuan Hega sendiri. Pria itu kan setelah menikah bawaannya ingin selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan efisien.


Dengan begitu dirinya akan cepat pulang dan menghabiskan waktu bersama istrinya tercinta.


Ini namanya sydrom pengantin baru yang nggak ada habisnya.


Pria berkemeja navy berbalut vest hitam itu mengambil tissue dan mengusap bibirnya. " Katakan pada Bara untuk menggantikanku ! " Sela Hega.


Ragil mengangguk. " Baik, Tuan Muda. "


" Next ? "


" Jam 2 ada rapat pemegang saham Golden Mall, seperti yang saya laporkan sebelumnya kebanyakan dari mereka meminta kenaikan persentase dividen. " Lanjut Gara.


" Untuk hal itu, sepertinya kau bisa menyelesaikannya tanpa aku, aku sudah mulai muak dengan tingkah mereka. Mereka itu terlalu banyak maunya tapi tidak mau kerja, jangankan kerja, berpikir saja mereka enggan. Hanya bisa menuntut ini itu. Yang mereka mau cuma hasil besar. "


" Nilai persentase yang ada di kontrak saja itu sudah angka yang cukup besar dibandingkan perusahaan lain. "


" Ah. Atau suruh saja mereka untuk menarik saja investasi mereka dan menjual saham mereka. Mungkin mereka bisa mencari perusahaan lain yang mau menuruti permintaan tidak masuk akal itu. "


Ragil Anggara kembali mengangguk, sembari memberi tanda pada tablet di tangannya menggunakan pennya.


" Lanjutkan ! "


" Jamuan makan malam bersama beberapa kolega bisnis di cabang utama Imperial Restaurant. "


" Batalkan ! Aku juga sedang tidak ingin melihat wajah membosankan mereka dan juga mulut mereka yang hanya pintar menjilat. Atau minta saja papaku yang menemui para orang tua itu. Itupun jika beliau mau. Tapi aku rasa itupun tidak mungkin, karena papa sepertinya sudah sejak lama bosan melihat wajah mereka yang hanya manis karena ada maunya. "


Ragil kembali mengangguk patuh, namun nada suaranya terdengar mulai sedikit gusar, " Baik, Tuan Muda. Dan-- "


Sepertinya pria yang baru seminggu menggantikan posisi Julian sebagai asisten pribadi Hega itu perlahan mulai pening menghadapi sikap sang atasan, apalagi mendengar dengusan bernada kesal dari bossnya itu.


" Haish, . . "


Ragil Anggara sontak menghentikan aktifitasnya yang hendak melanjutkan membaca scedule sang Presdir dan menatap was-was ke arah pria yang tengah menatap dirinya dengan kekesalan. " Maaf Tuan Muda, apa saya melakukan kesalahan ? "


" Tidak, hanya saja aku merasa kau sengaja membuatku bertengkar dengan istriku, huh ?! " Ketus Hega dengan tatapan mata elang yang entah mengapa terasa mengintimidasi.


" A-apa maksud Tuan Muda, tentu saja tidak sperti itu. " Ragil sampai tergagap dengan wajah cemas.


" Lalu kenapa schedule ku hari ini begitu banyak ? Aku ini baru menikah, apa kau mau membuatku tidak punya waktu untuk istriku dengan mengatur jadwal sebanyak itu di hari pertama kau kembali resmi menjadi asisten pribadiku ? Aku bahkan baru bisa bersantai kembali setelah beberapa minggu ini lembur dengan pekerjaan yang aku tinggalkan saat bulan madu, hhh ?! "


Lagi-lagi Ragil Anggara menahan nafas. Pria itu sepertinya harus kembali menyesuaikan diri dengan pola kerja baru sang tuan muda.


Pria yang dilayaninya sejak kecil itu kini sudah menikah. Tentu saja prioritasnya juga berubah mengiringi perubahan statusnya. Pria itu tak lagi segila kerja dulu, karena memang kini ada sosok yang harus ia utamakan, istrinya.


" Maaf Tuan Muda, akan saya perbaiki. " 


" Tentu saja harus diperbaiki. Sudah sana ! "


Plak



Moza yang barusaja kembali dari kamar mandi langsung menepuk lengan suaminya. Manik mata bulatnya m menatap kesal sang suami sembari mendaratkan bobotnya di kursi yang ada di sisi suaminya.


" Kakak, ihhh. . . Apa-apaan sih ngomongnya kok galak gitu ? Kasihan Kak Ragil yang udah susah-susah mengatur jadwal kakak. " Omel Moza yang sedikit ikut sebal mendengar percakapan dua pria itu yang cukup jelas dari dalam toilet.


" Gak ada tapi. " Putus Moza yang tiba-tiba mode galak, kemudian beralih menatap asisten pribadi sang suami yang sebelumnya menjadi shadow guard nya.


" Kak Ragil, maafkan Kak Hega ya, dia memang kadang seenaknya sendiri. " Ucapnya lembut.


Nada bicaranya sangat berbanding terbalik dengan nada yang digunakannya pada sang suami. Hega langsung mendengus lirih, ingin protes tapi tidak mampu.


Karena sekarang kan istrinya itu adalah Ratu. Dan aturannya kan dilarang keras membantah sang Ratu.


" Tidak apa-apa, Nona. " Saya sudah terbiasa, Nona. Tuan Muda seperti itu sudah sejak lahir. Tentu saja kalimat selanjutnya hanya curahan hati Ragil Anggara.


" Apa ada scedule lainnya ? " Giliran Moza yang bertanya. Pria di sampingnya hanya patuh saja menuruti sang nyonya.


" Ah, I-itu. . . " Ragil Anggara melirik kilas tuan mudanya ragu.


" Kak Ragil silahkan lanjutkan saja ! "


Ragil menelan ludah dan menatap ke arah pria di sisi sang Nona.


" Kau tau apa yang dikatakan istriku adalah titah. " Ucap Hega tegas saat melirik dengan ekor matanya dan menangkap tatapan cemas Ragil Anggara.


" Virtual meeting dengan team Imperial Hotel Tokyo, pukul 3 sore ini. "


" Hem, kau sudah siapkan semua dokumen yang diperlukan ? "


" Sudah, Tuan Muda. "


" Oke, karena meeting jam 2 sudah kau handle. Majukan meeting dengan IHT* menjadi jam 2 siang.Pastikan semua anggota team sudah hadir setidaknya 15 menit sebelum rapat dimulai. "


(*) Imperial Hotel Tokyo


" Baik, Tuan Muda. "


" Hmm, dan pastikan mereka benar-benar sudah siap dengan laporan mereka. " Kali ini Ragil hanya mengangguk menerima instruksi majikannya.


" Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi kau boleh pergi ! Letakkan saja berkasnya di mejaku, dan pergilah bersiap untuk meeting Golden Mall. "


" Tuan Muda ---"


" Apa lagi ? "


" Bagaimana dengan undangan makan malam pesta ulang tahun perusahaan Berlin CORP. "


Hega menatap asistennya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Tapi Ragil Anggara langsung bisa menangkap jelas maksud dari isyarat Tuan Mudanya saat  ekor mata Hega melirik sekilas sang istri.


" Kau tahu kan apa tujuan utama mereka mengundangku, Gara ?! " Ragil mengangguk merespon. " Aku sedang malas berurusan dengan mereka, kau kirim saja rangkaian bunga kepada Joseph Grace sebagai ucapan selamat. "


" Sesuai perintah anda, Tuan Muda. "


" Apa masih ada lagi ?! " Tanya Hega penuh penekanan, kemudian memasang ekspresi seramah mungkin ketika sang istri memelototi dirinya.


" Tidak, Tuan Muda. Saya pamit undur diri. " Ragil menjawab cepat karena sepertinya nada suara sang tuan mudanya seperti menahan kekesalan yang teramat besar.


" Hem. " Jawab Hega dengan deheman singkat seperti biasanya.


Ragil membungkuk hormat, dan langsung undur diri. Sebenarnya Ragil ingin tertawa melihat tingkah laku tuan mudanya yang seperti mati gaya jika sedang bersama nona mudanya.


Tapi mentertawakan Presdir jutek itu sama artinya mengantar nyawa, bisa-bisa dia akan membeku di kutub utara bersama para beruang kutub. Saudara kembar sang tuan muda, upsss !


Huft, kenapa hari ini terasa berat sih ? Hari pertamanya resmi kembali pada posisinya sebagai tangan kanan Hega Saint.


Sepertinya tidak hanya otak saja yang harus siap bekerja. Kini mentalnya juga harus dipertebal agar nggak baper liat tuan muda pas lagi bucin istrinya.


***