FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 45 • Be Mine Completely



...☆☆☆...


Pergerakan Hega terhenti kala melihat ekspresi istrinya, Moza yang mengernyit, tampak seperti meragukan kejujuran suaminya.


" Kenapa ekspresimu wajahmu seperti itu, hem ? "


Moza menggigit bibirnya, ragu-ragu apakah harus mengatakan apa yang ada di pikirannya dengan jujur atau tidak.


Tapi kata-kata Renata terus terngiang di telinganya, apalagi melihat begitu ahlinya sang suami dalam setiap sentuhannya. Begitu lihai namun terkesan sangat natural.


" A-apa benar ini pertama kalinya juga bagi kakak ? " Tanya Moza akhirnya dengan sangat hati-hati, khawatir jika sang suami akan tersinggung karenanya.


Ujung alis Hega menyatu, " Tentu saja, Momo sayang. Apa kamu meragukanku, hem ? " Tanyanya lembut.


Jelas terlihat gadis itu tidak percaya pada ucapan Hega membuat Hega mau tak mau menjeda aktivitas nya dengan alis kembali terangkat naik, kemudian menghela nafas sedalam-dalamnya.


Tidak !!! Istrinya tidak boleh meragukan dirinya. Semua harus diperjelas sebelum mereka memulai segalanya.


Moza menggeleng cepat, " B-bukan begitu, kak. M-maksudku-- " Tuh kan suaminya pasti tersinggung.


" Lalu ? "


" I-itu. . . Maksudku . . . "


" Apa, hem ? " Tanya Hega sembari mengecup ringan pipi kiri istrinya.


" Unlike me, it seems that you looks more . . [ Berbeda denganku, sepertinya kakak terlihat lebih . . . ] " Moza begitu gugupnya hingga tak mampu mengucapkan kata lanjutannya, apalagi dengan apa yang dilakukan sang suami padanya.


" Aku terlihat lebih apa, hem ? " Tanyanya seraya meraih tangan istrinya, menjilati jemari Moza dengan tatapan kelaparan. Shitt, Hega sudah tak tahan lagi.


" K-kak. . . " Moza menggigit bibirnya, menahan agar tak mendesah karena perlakuan suaminya.


" Hem. " Masih dengan aktivitasnya yang seolah mengabsen satu per satu jemari istrinya dengan lidahnya.


" Bagaimana bisa kakak semahir ini untuk ukuran pengalaman pertama ? " Lepas sudah akhirnya rasa penasaran Moza, " M-maaf, aku tidak bermaksud meragukan kakak. "


Hega tersentak dan langsung menghentikan aktivitasnya, menyadari jika sepertinya dirinya sedikit hilang kendali, " Sorry, Looks like I was too rash and surprised you, huh ?! [ Maaf, sepertinya aku terlalu gegabah dan membuat kamu terkejut ya ?! ] "


" Ah. . . A-aku hanya, aku hanya butuh waktu mempersiapkan diri, kak. J-jadi-- "


Hega mengangguk pelan, " Sorry, I will do it very slowly. [ Maaf, aku akan sangat perlahan. ] " Ucap Hega lembut diikuti kecupan mesra di telapak tangan istrinya, meyakinkan istrinya jika dirinya tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti istrinya.


" Sungguh ini juga adalah pertama kalinya untukku. Kamu tahu kan, suamimu ini terbilang jenius dalam segala hal, aku bisa belajar dengan cepat tentang hal apapun. " Imbuh Hega penuh percaya diri kemudian mengerlingkan satu matanya ke arah sang istri.


" Apalagi untuk hal yang satu ini, aku bisa belajar dengan cepat. " Sambungnya kemudian diikuti kecupan ringan di hidung mancung istrinya, mencoba merilekskan kegugupan gadis cantik itu.


" Kakak. . . " Batapa kesalnya Moza setiap kali pria yang dicintainya itu kambuh penyakit narsisnya.


Gadis itu memberengut membuat Hega gemas melihat bibir istrinya yang mengerucut imut itu. Ingin sekali segera mencecap manisnya bibir tipis berwarna peach yang selalu menggoda imannya itu.


" So, may I continue ? [ Jadi, bolehkah aku melanjutkannya ? ] "


G L E K . . .


" Eh. . . " Kegugupannya yang sempat menguap karena kenarsisan sang suami, seketika kembali muncul saat mendengar permintaan pria tampan yang tidak sedikitpun mengalihkan pandangan matanya dari dirinya itu.


Mata hitam legam yang tengah menatapnya dengan lembut itu terlalu mempesona untuk ditolak. Moza tidak kuasa untuk menghindar lagi dan hanya bisa mengangguk pelan, memberikan ijin pada pria yang memang berhak atas seutuhnya dirinya itu untuk melakukan apapun yang dikehendakinya.


Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, dengan sangat hati-hati dan perlahan, Hega kembali membaringkan tubuh ramping istrinya yang terbungkus lingerie tipis dan transparan berwarna pink itu.


Dengan lembut mengusap pipi putih istrinya, menyusuri setiap garis wajah sang kekasih halal. Menikmati kecantikan gadis yang kini telah sah menjadi nyonya Hega Airsyana Saint.


" Kak. . . " Cicit Moza lagi.


" Aku takut. "


Hega berhenti sejenak, " Aku akan melakukannya dengan sangat perlahan hingga kamu tidak akan merasakan sakitnya dan hanya akan merasakan nikmatnya malam penyatuan kita.  "


" Be mine completely, baby. [ Jadilah milikku seutuhnya, sayang. ] " Pinta Hega penuh damba, Moza kembali mengangguk.


" Jadi jangan takut, rileks Momo sayang. " Hega terus berusaha membujuk untuk membuat sang istri nyaman.


" Tapi di artikel yang aku baca . . . " Sela Moza akhirnya.


Hega menyahut cepat, membungkam bibir istrinya dengan ibu jarinya, " Ssstt. . . Jangan percaya dengan mudah semua hal yang kamu dengar ataupun kamu baca. Percayakan semua padaku, aku tidak akan menyakitimu. "


" Kamu percaya padaku kan ?! "


" Eum. .  . " Mengangguk pasrah.


Cup. . .


Hega mendaratkan kecupan di kening Moza, kemudian turun ke kedua kelopak mata indah yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gadis itu.


Hega tersenyum bahagia, mendapati rona merah di pipi istrinya, membuatnya tidak sabar dan kembali mendaratkan kecupannya di kedua pipi putih Moza yang sedang tersipu.


" Kenapa kamu bisa secantik ini sih, Momo sayang ?! " Ujarnya sambil mengelus lembut pipi merona Moza yang menggemaskan.


" Kak. . . " Semua kata pujian yang dilontarkan suaminya selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga dan melambung ke angkasa.


Cup. . .


Kembali kecupan mesra dilancarkan oleh pria yang sedang dimabuk cinta itu, kali ini mendarat tepat di bibir mungil Moza yang berwarna peach.


Hega menggigit kecil bibir indah istrinya, membuat gadis itu mau tak mau membuka mulutnya. Dan Hega tak membuang kesempatan, segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Moza, mengajak lidah sang istri untuk ikut menari bersama disana.


Moza tak kuasa menolak lagi, kepalanya jadi pening karena permainan lihai suaminya yang membuatnya ikut terbawa arus yang begitu memabukkan.


" Kak-mmmpht a-kumph gak bisa nafas. "


Hega menjeda sejenak ciumannya, nafas keduanya terengah. Moza menghirup oksigen sebanyak mungkin dengan dada baik turun, Hega masih belum puas, pria itu ingin kembali menikmati bibir istrinya yang terasa begitu manis dan membuatnya kecanduan.


Astaga, Hega tahan ! Calm down and do it more gently. [ Tenang dan lakukan dengan lebih lembut. ]. Batinnya mencoba mengembalikan kesadarannya agar tak dikuasai oleh nafsu semata.


" Mmfffh. . . " Hega mencium kembali istrinya, satu tangan menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh mungil istrinya. Tangan lainnya sudah sibuk melepas satu per satu potongan lingerie yang dikenakan istrinya.


Glek. . .


" I can't hold it anymore., Baby. [ Aku tidak bisa menahannya lagi, sayang ] " Gumamnya ketika melihat kesempurnaan tubuh istrinya.


" Kak-- " Cicit gadis itu sembari mencoba meraih selimut atau apa saja yang bisa menutupi tubuhnya yang sudah polos.


Hega menggeleng, menahan pergerakan tangan istrinya. Kemudian kembali memberikan cumbuan mesra di leher dan tulang selangka istrinya, turun ke bagian dada dan memberikan tanda kepemilikan disana.


Hega menghentikan sejenak aktifitasnya, dan dengan satu tarikan, Hega melepas tali bathrobes yang membungkus tubuh kekarnya. Melepas dan melemparnya sembarangan, hingga tampak lah otot-otot perut berbentuk kotak-kotak yang membuat Moza merona saat melihatnya.


Glek. . .


...------------------------...


...Beneran Maaf kalo enggak sesuai ekspektasi kalean. Goal nya masih next chapter. ...


...Ini masih pemanasan ya, panas benerannya next part (mungkin). 🙈 Ayo kasih 🌹 yang banyak atuh. Atau minimal komentar lah. Oche sayang 😘...