
Penasaran dengan apa isi paperbag yang dibawa oleh Ragil Anggara, Moza lantas melangkah menuju sofa diikuti oleh suaminya.
Keduanya duduk di sofa panjang berwarna baby blue, Hega mengambil posisi bersandar di sofa membiarkan istrinya sibuk dengan paperbag di atas meja.
Moza melirik Amira, memberikan kode pada sahabatnya itu untuk ikut bergabung di sofa.
" Wah, tahu aja nih, Bang Hega, kesukaan cewek kalo lagi butuh ngemil. Hehe. " Celetuk Amira setelah membantu Moza mengeluarkan isi paperbag itu dan mengintip isinya.
" Banyak sekali, Kak ? "
" Itu mami yang minta aku buat bawain untuk kamu, sekalian tester produk baru H&R katanya, cobain gih, biar nanti kalau mami tanya gimana rasanya kamu bisa kasih review. " Moza manggut-manggut sambil menatap benda di hadapannya.
Setahu Moza, mami Rasti memang selalu membuat menu baru setidaknya sebulan sekali. Dan karena Hega tidak begitu menyukai makanan manis, maka Moza lah yang selalu dimintai tolong oleh pria itu untuk menjadi pencicip dan memberikan komentar.
Empat box berukuran cukup besar sudah berada di atas meja.
Dua kotak donat mini aneka rasa, dan dua kotak Lamingtons yang merupakan menu baru H&R kali ini adalah produk khas negara tetangga.
Bagi yang tidak tahu, Lamingtons adalah dessert asli Australia yang terdiri dari sponge cake yang dibalut dengan coklat dan diberi taburan kelapa.
Terlihat menggiurkan untuk segera dilahap.
Moza tersenyum bahagia mendapati perhatian dari suaminya, satu kebiasaan pria itu yang tidak pernah berubah semenjak setahun yang lalu.
Membawakan aneka camilan setiap harinya untuk Moza dan teman-temannya. Meskipun lebih sering dikirim lewat kurir atau sekretaris pribadinya.
Pria yang tidak hanya tampan tapi juga penuh perhatian itu kini sudah berstatus suaminya. Wanita mana yang tak akan bahagia, hari-harinya seperti selalu ditaburi bunga-bunga cinta.
Jika kita ada di posisi gadis itu, pasti bahagia bukan ?
Setelah mengobrol sebentar dengan Amira, sepasang suami istri itu pamit untuk pulang terlebih dulu.
Sejak menikah, Hega memang memilih bekerja setengah hari di hari Jumat, dan libur setiap weekend.
Jadi setelah pulang dari masjid untuk sholat Jumat, Hega menjemput istrinya di Golden Mall, tempat dimana H-Mo Boutique dibuka sejak setahun yang lalu.
Saat berhenti di traffic light, Moza melihat beberapa remaja berseragam abu-abu yang tampak bergerombol di sudut taman kota, dan itu mengingatkannya pada beberapa siswa SMU yang tadi sempat ia jumpai di gedung akademik kampus saat ia tengah mengambil surat magangnya.
" Kak. "
Hega menoleh, kemudian meraih telapak tangan istrinya untuk ia genggam dan membawanya ke arah bibirnya untuk dikecup.
" Hem, kenapa sayang ? " Tanyanya dengan nada mesra yang sedikitnya mulai bisa melumerkan ketegangan Moza.
Gadis itu menoleh, hingga netra kecoklatannya bertubrukan dengan netra hitam pekat suaminya, " Aku jadi merasa bersalah ya, Kak. "
Alis Hega terarik ke atas, " Tentang apa ? "
" Beasiswa yang aku dapat. " Moza menatap ke arah bangunan megah yang berdiri kokoh tak jauh dari tempat ia sekarang berada. Sebuah kampus yang cuku0 besar meskipun tidak sebesar kampusnya.
Pikirannya menerawang, mengingat area mewah dengan bangunan-bangunan besar yang selama tiga tahun ini menjadi tempatnya menuntut ilmu, Dwitama University.
Belum bisa menangkap maksud ucapan sang istri, Hega kembali menaikkan satu alisnya, mencoba menerka arah pembicaraan sang istri, " Kenapa begitu ? " Tanyanya sembari melirik ke arah lampu lalu lintas kemudian kembali menatap ke arah istrinya.
" Rasanya aku mengambil kesempatan yang seharusnya bukan untukku. " Suara gadis itu kini terdengar sedikit sendu, tersirat rasa bersalah di dalamnya.
Cukup lama tak ada jawaban, hingga saat Hega berniat kembali meminta penjelasan, traffic light sudah berubah hijau pertanda ia harus kembali melajukan mobilnya.
Sepertinya Hega harus menahan rasa ingin tahunya untuk beberapa saat, lebih baik mencari tempat untuk berhenti sejenak agar ia bisa kembali mendengar keluh kesah istrinya dengan situasi yang lebih nyaman.
Pria itu jelas dapat melihat kegelisahan di wajah cantik istrinya, dengan lembut tangan kirinya meraih telapak tangan kanan istrinya untuk ia genggam. Sesekali ia kecup lembut, berharap apa yang dilakukannya dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi istrinya.
Suaranya hening cukup lama, keduanya saling terdiam. Hega sengaja memberi waktu pada istrinya untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Tidak mau memaksanya untuk bicara.
Moza menyandarkan kepalanya dengan posisi menghadap ke arah suaminya yang sedang menyetir dengan satu tangan, pikiran Moza bahkan sempat terdistraksi oleh tampilan suaminya saat ini.
Ahhh bisa-bisanya suaminya itu terlihat sangat mempesona dengan pose menyetirnya.
Tak lama terdengar helaan nafas panjang, pertanda jika gadis itu sudah kembali Kembali pada kegalauannya, " Kakak tahu kan bagaimana sulitnya masuk di kampus Dwitama ?! " Hega hanya menoleh sekilas, tidak berkomentar karena pria itu tahu jika istrinya belum selesai dengan kalimatnya.
" Kalau bukan karena kekayaan, ya pastilah harus mengandalkan kecerdasan jika mau kuliah disana. "
" Sedangkan aku---. " Moza menghentikan kalimatnya, menggigit bibir bawahnya, wajahnya kini tertunduk.
Ckiiittt....
Hega menghentikan laju kendaraannya dengan hati-hati, netranya mengamati keadaan dan perlahan menepikan Porsche putihnya saat ditemukannya area aman untuk berhenti sejenak.
Melepas seatbelt nya, pria itu memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, tangan besarnya terulur menyentuh dagu Moza agar gadis itu menatapnya.
" Kenapa dengan kamu, hm ? "
Moza mendongak, memberanikan diri menatap suaminya, meskipun ada rasa minder yang kini menyerang dirinya. Untuk pertama kalinya Moza merasa begitu tidak percaya diri, apalagi dihadapan suaminya yang multitalenta.
" Aku cuma punya kemampuan biasa-biasa saja, Kak. Nilai raport dan ujianku, meskipun cukup memuaskan, tapi aku rasa tidak akan memenuhi syarat mendapat beasiswa. "
Hega bergeming, memberi waktu pada gadisnya untuk mencurahkan segala kegelisahan hatinya. Tanpa menyela ataupun bertanya.
" Kalau tanpa beasiswa, meskipun ayah dan bunda masih mampu untuk membiayai aku kuliah disana, tapi aku pasti akan berpikir seratus kali kalau mau kuliah di sana. "
Pria itu tersenyum, mengusap lembut pipi istrinya, " Tapi yang aku dengar, selama ini kamu berhasil memenuhi standar nilai yang menjadi syarat beasiswa kan ? "
" Iya sih, meskipun aku harus bekerja keras untuk mempertahankan beasiswa itu. " Dibilang lelah, tentu saja Moza merasa sangat lelah sebenarnya.
Tapi gadis itu terus menyemangati dirinya sendiri untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Itu juga mungkin yang membuatnya tidak pernah memikirkan hal lain selain kuliah.
" Tapi aku tetap merasa bersalah pada seseorang yang sepertinya lebih berhak atas beasiswa ini. "
" Pffft. . . " Reflek tawa Hega terlepas begitu saja mendengar kalimat istrinya yang sepertinya merupakan inti dari permasalahan yang mengganjal di hati istrinya.
" Kenapa kakak malah ketawa sih ? " Gadis itu sontak memelototi suaminya.
Ditertawakan saat sedang curhat serius itu rasanya menyebalkan bukan ?
itu juga yang dialami Moza saat ini. Ada yang pernah mengalami ?
***
Btw jadi pengen makan nih kue.