
...☆☆☆...
Yah, selepas insiden pintu yang cukup menghebohkan, Hega tampak sedang memberi instruksi pada Gara dan Sasa untuk mengatur segala hal untuk selama mereka ada disana. Jangan lupakan jejeran para pelayan yang berbaris menyambut kedatangan sepasang pengantin baru itu
Insiden kunci saja sudah membuat Moza kesal, apalagi saat memasuki villa, ternyata di dalam sudah berbaris beberapa pelayan menyambutnya. Menimbulkan banyak pertanyaan yang langsung berputar di kepala Moza.
Dan Pertanyaan utamanya adalah dari mana mereka bisa masuk sedangkan kuncinya saja katanya hanya satu. Dan itupun Moza yang menyimpannya.
Dan sungguh itu adalah pertanyaan terbodoh yang keluar dari mulut Moza Artana sepanjang hidupnya. Dan lebih bodohnya, gadis itu bahkan belum menyadari kebodohannya.
" Sayang, tidak mungkin kalau kamu berfikir jika villa ini hanya punya satu pintu, kan ? " Begitu jawaban suaminya tadi. Begitu entengnya, dan tentu saja bernada menjengkelkan di telinga Moza pastinya.
Doeng. . .
Dan lagi-lagi Moza sadar jika dirinya baru saja sukses dijahili secara total oleh suaminya.
Dan sialnya Moza hanya bisa menatap dengan mata membelalak tak percaya dengan apa yang barusaja didengar oleh kedua telinga normalnya. Menelan salivanya dengan susah payah.
Gadis itu tak bisa membantah atau mendebat lagi suaminya, karena yang terburuk adalah yang dikatakan suaminya itu benar adanya, bagaimana bisa dirinya tidak terpikirkan jika pasti ada pintu lain di bangunan sebesar itu.
Akhh, bodoh bodoh bodoh. Moza terus merutuki kebodohannya dengan mengetuk-ngetuk kepalanya kesal. Rasanya ingin bersembunyi di manapun saking malunya.
Huh, apa ini definisi azab ya ??? Lihat saja azab istri langsung datang saat dirinya berniat mendzolimi suami ????
Aaahhh, tapi ini kan bukan sinetron tivi ikan terbang, lagipula Moza hanya ingin sedikit mengerjai suaminya, yah catat itu, hanya sedikit. Masa itu juga termasuk dalam dzolim pada suami si ???
Huuuft. . .
Akhirnya Moza memilih meninggalkan suaminya menuju kamar utama setelah terlebih dahulu menanyakan pada suaminya dimana letak kamar tidur mereka. Daripada kekesalannya semakin menumpuk, lebih baik berendam air hangat di bathub atau berbaring di ranjang yang empuk kan.
Tapi bukannya merealisasikan keinginannya, Moza malah tergoda menuju balkon kamar tidurnya saat melihat matahari yang menunjukkan tanda-tanda akan terbenam.
Baru beberapa menit menikmati sunset, sepasang tangan kekar suaminya sudah menginterupsi kesenangannya.
Dan lihat nih, si biang keladi yang bikin heboh prosesi masuk villa, pake drama mau merobohkan pintu segala. Oh God ! Dia ini menikahi pengusaha atau sutradara acara prank si ???
Dan sekarang dengan santainya dengan wajah tanpa dosa malah sudah seenak jidatnya memeluk erat tubuh Moza dari belakang. Udah gitu tangan dan bibirnya juga tidak tinggal diam.
" Yank. "
" Eum. "
Manggilnya biasa aja bisa nggak sih, gak usah pake suara gitu.
Moza langsung merinding merasakan nafas suaminya yang berhembus di kulit lehernya. Ya ampun, cobaan apa lagi ini Tuhan ???
" Momo sayang, kamu belum mandi kan ? " Tanyanya disela aktifitas mengendusi leher istrinya, Moza menggeleng kecil sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya, kemudian sedikit meronta, dengan tatapan masih fokus ke depan.
Hih, katanya mau liat sunset bareng, tapi kenapa malah sibuk sendiri sih ? Moza kembali menggeliat kecil karena geli dengan kelakuan suaminya. Membuat acara menikmati sunsetnya jadi tidak khitmat, alias terganggu oleh kelakuan suaminya yang menjurus mesum.
Heiii, dan lihat ini, sejak kapan tangannya sudah mulai tak terkontrol kemana-mana begini ? Hih, garuk muka suami dosa gak si ????
" Mandi yuk, sayang. Barengan. " Bisiknya sensual di telinga Moza sambil menaik turunkan alisnya, dan sukses mendapat pelototan dari istrinya yang mendadak memasang mode galak.
" Iiihhh, nggak ada. " Moza langsung berjalan cepat memasuki kamar setelah mengurai kedua tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Sudah bagaikan ular phyton yang melilit mangsanya saja. Hih, bikin merinding-merinding gerah gitu.
" Ayolah sayang, mau ya, ya, ya ???? " Mengekori langkah istrinya sambil terus merayu.
Kakak nggak liat apa jalan aku masih nggak nyaman gini, hih.
Hega menarik tangan istrinya hingga gadis itu terpaksa berhenti, " Kan cuma mandi doang sayang. " Ujarnya setelah keduanya saling berhadapan.
Cuma mandi ???? Tatapan mata kakak itu nggak bisa bohong ya.
" Enggak mau. " Moza masih kekeuh menolak rayuan maut suaminya, padahal dalam hati sudah nyaris tergoda karena ekspresi wajah suaminya yang sudah mode imut-imut menggemaskan.
Dasar singa berbulu kucing anggora suaminya ini kalau sedang ada maunya. Kalau sedang merayu gini aja wajahnya imut bak kucing yang manis, coba nanti kalau keinginannya dituruti, bakal langsung berubah jadi singa lapar dia nanti.
Dan Moza terlalu lelah untuk mengikuti kemauan si singa yang sedang menyamar ini.
" Kenapa nggak mau, hem ? " Kening Hega mengerut, " Cuma mandi kok sayang, janji. " Rayunya dengan sangat meyakinkan tak lupa dilengkapi dengan dua jemari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V.
Moza mencebik, mana mungkin hanya mandi, aku memang baru tiga hari jadi istri kakak, tapi aku sudah hafal gelagat kakak yang sedang pengen 'itu'. Batinnya sembari merotasikan kedua bola matanya malas.
" Ahhh, jangan-jangan kamu lagi mikir mesum ya, ayo ngaku. " Hega malah menuduh balik istrinya sambil menoel ujung hidung Moza. Tuh, kumat kan jahilnya.
Haish, dasar !! Ini si maling teriak maling namanya, huh !!
" Pokoknya aku nggak ma--- Kyaaaaaa. . . Kakak apa yang kakak lakukan ? Turunkan aku, kak ! " Masih berusaha menolak.
Terlambat, tubuhnya sudah berhasil diangkat oleh suaminya menuju kamar mandi deengan gaya bridal style. Hega bahkan tak menghiraukan teriakan istrinya maupun tangan kecil Moza yang terus mendaratkan pukulan acak di tubuhnya.
Dan sepertinya olahraga kamar mandi yang ada di bayangan sang tuan muda akan segera terealisasi. Hutang sang istri yang katanya harus dibayar dengan bunga.
" Kakak, lepasin aku iiihhh. . . " Merengek dan meronta minta dilepaskan.
" Nggak akan, aku mau nagih hutang kamu, yank. Ayo bayar hutang sekarang, hem ! " Jawab Hega enteng, dengan tersenyum devilnya, tapi ini bukan iblis jahat, melainkan iblis mesum. 🙄
Tuh kan, apa aku bilang. Nggak mungkin hanya mandi, 😣.
Moza menggigit bibir bawah bagian dalam, memikirkan cara untuk meloloskan diri dari si singa yang sepertinya tidak pernah ada kenyangnya memangsa kelinci.
" Iiihhh, di pesawat kan udah, kak. " Masih merengek manja mencoba membujuk suaminya untuk melepaskannya. Tapi sepertinya Moza salah memasang mimik wajah.
Karena bukannya luluh dan melepaskan istrinya, Hega justru semakin menginginkan istrinya saat melihat wajah imut sang istri. Lihat ini ekspresi istrinya, menggemaskan dan menggairahkan di waktu yang bersamaan.
Tidak !! Kamu nggak bisa lepas dari aku, sayang.
" Itu bunga hutangnya, sayang. Yang ini baru pembayaran pokok hutangnya. " Seringai tipis terbentuk di bibis tipis suaminya yang berwarna kemerahan.
Manik mata Moza seketika membola dengam sempurna, " HEEEHHHH !!! " Tuh kan, tidak salah jika Moza menjuluki suaminya itu rentenir.
Huh dasar renteniiiiiirrrr. Moza menjerit dalam hati dengan tubuh merinding pasrah, karena ia sudah tahu jika ia tak akan bisa lolos suaminya.
...------------------...
...Yang punya poin nganggur, sawer bang Hega dooong...
...Kembang boleh, kopi boleh, kasih 💜 juga boleh...
...Makaseeehhh...
...😘😉...