FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 83 • Serba tiba-tiba



Kali ini ada empat orang yang masuk, manajer pria dan tiga pramusaji wanita.


Jelas sekali ketiganya sempat terkejut melihat pemandangan mesra tamu vvip restoran tempat mereka bekerja.


" Siapkan di meja dan kalian bisa keluar. " Titah Hega setelah mendudukkan tubuh sang istri di sofa.


Moza sendiri malah heran bagaimana bisa suaminya masih bisa sesantai itu, padahal Moza malah sudah panas wajahnya karena malu.


Gadis itu sepertinya tidak akan pernah terbiasa dengan yang namanya public display of affection (PDA).


Hega mengecek sekilas menu di atas meja kemudian mengangguk puas, " Tolong bawakan salad buah, jangan pakai buah yang asam. "


Si manajer mengangguk hormat, " Baik, Tuan Muda. Ada tambahan lainnya ? "


" Itu saja. Kalian boleh keluar, dan terima kasih. "


" Kami sangat senang bisa melayani Tuan Muda dan Nona, kami permisi. Selamat menikmati makan siang anda. " Kini ketiganya membungkuk sopan.


" Hm. "


Hega kembali menuju sofa setelah terdengar pintu ditutup perlahan.


" Masih nggak mau bilang ada apa ? " Tanyanya dengan posisi berjongkok di hadapan sang istri, Moza menggeleng kemudian tersenyum manis.


" Aku lapar, kak. " Cathy eyes yang membuat Hega gemas melihat ekspresi imut istrinya.


" Kita makan dulu saja kalau begitu. Supaya kamu ada tenaga buat cerita. " Tawarnya sambil mengusap pelipis istrinya dengan jemarinya.


Hega langsung bangkit berdiri saat melihat anggukan kepala sang istri.


Kemudian mengulurkan tangannya, " Ayo, atau mau digendong lagi, hem ? "


Manik mata Moza langsung membulat, " Iihh, enggak usah, memangnya aku nggak bisa jalan sendiri. " Gerutunya sembari bangkit dari sofa tanpa membalas uluran tangan suaminya.


Hega terkekeh kecil, sepertinya mood sang istri mulai membaik.


Hega menyusul langkah istrinya, merengkuh pinggul ramping Moza dan mencondongkan wajahnya ke wajah mungil sang istri, " Yah, siapa tahu kamu lagi pengen dimanja-manja sama suami kamu ini, hmm ? "


Blush. . . Sekali lagi Moza dibuat merona oleh bibir manis suaminya sendiri.


Duh jantung, kenapa kamu belum juga terbiasa dengan mulut manisnya sih. Dasar lemah sekali ini perasaan.



Sekitar satu jam yang lalu,


Saat berada di koridor menuju loby utama Fakultas Ekonomi, Moza terpaksa berhenti saat seorang pria paruh baya yang ditemuinya pagi tadi memanggilnya. Padahal gadis itu sedang berjalan dengan terburu mengingat ada 'si tuan tidak sabaran' yang sedang menunggunya.


" Nona Dama. " Moza menoleh.


" Ah, harusnya saya memanggil Nona Dama atau Nona Muda Saint ya ? " Sambung pria itu mengusap dagu dengan telunjuk dan ibu jarinya.


Sedikit kesal sih rasanya karena Moza tahu pria itu sedang menggodanya saja, tapi sabar, dia dosen kamu Moza Artana, ingat ini di kampus, tetap sopan.


" Cukup Moza saja, Prof. " Ucapnya sesopan mungkin, gadis itu memaksakan tarikan di kedua sudut bibirnya. Dan siapapun yang melihat pasti tahu jika itu hanya 'senyum karir'.


Pria itu jelas menahan senyum, " Baiklah, Nona Moza, ada yang mau saya bicarakan sedikit mengenai KRS yang kamu ambil semester ini. Ada waktu ? "


Moza melirik jam tangannya, sudah lima menit sejak suaminya menelepon dan mengatakan sudah tiba di parkir kampusnya.


" Kalau kamu ada janji lain, kita bisa bicarakan lain kali. Tentu saja saya tidak bisa memaksa menantu Dirut Yayasan untuk menyediakan waktunya untuk saya meskipun ini berkaitan dengan kepentingan anda sendiri. "


Oh God !!! Kenapa terdengar sarkas sekali ya kalimat dosennya ini. Moza ingin sekali mendebatnya, tapi tetap harus sabar.


Keep smileee.... Tatatatatatatatata ( awas jangan joget )


" Tidak, Prof. Yan salah paham, saya tidak sedang ada janji lain, hanya saja memang ada yang menunggu saya karena saya tidak tahu jika Profesor akan memanggil saya. "


" Baiklah, bisa kita bicara di ruangan saya ? "


" Baik, Prof. " Moza mengikuti langkah kaki pria di depannya, sambil tangannya meraih ponsel di tasnya dan mengirimkan pesan singkat pada sang suami.


" Jadi singkatnya, saya mau kamu mengambil tambahan magang semester ini. "


Moza yang sedari tadi menunggu inti pembahasan dalam diam seketika tampak sedikit terkejut sekaligus bingung.


" Tapi, Prof. Untuk magang bukankah dibutuhkan waktu setidaknya minimal satu bulan penuh ? Lalu bagaimana dengan mata kuliah yang sudah terlanjur saya ambil kreditnya, akan sulit untuk saya merubah ulang jadwalnya. "


" Kamu bisa ambil kelas siang atau malam, atau online class di weekend untuk mata kuliah tertentu, toh saya lihat jadwal kuliah kamu tidak full dalam satu pekan. Jadi manfaatkan waktu untuk mengambil Magang. "


Heh ? Weekend class ? Bukan ide bagus, setidaknya itu yang ada di benak Moza saat ini.


" Tetap saja saya tidak mungkin mengatur ulang jadwal kelas saya, apalagi sampai bolos kelas, Prof. Sedangkan tidak mungkin meminta ijin di perusahaan tempat magang agar saya bisa tetap hadir di kelas. "


" Kenapa tidak ? Tidak ada hal di dunia ini yang tidak bisa diatur oleh kekuasaan dan uang, Nona Moza Artana Saint. " Ucap pria itu santai sembari mengetuk-ngetuk jemarinya di meja.


Glek. . .


Apa lagi maksudnya ini ? Kenapa aku merasa Prof. Yan sengaja menekankan nama belakangku ?


" Lagipula perusahaan tempat kamu magang nantinya juga tidak akan full selama seminggu, mereka hanya akan memberi jadwal empat atau lima hari kerja untuk mahasiswa atau mahasiswi magang. "


" Jadi tidak ada lagi alasan bagi kamu bisa menunda magang kamu. Bukankah semakin cepat kamu lulus, semakin bagus. "


Sebenarnya apa yang diucapkan dosennya itu ada benarnya juga sih, lebih cepat lulus lebih bagus, tapi entah kenapa ini rasanya seperti terlalu tiba-tiba.


Entah apa ini hanya perasaannya sendiri atau memang benar adanya, jika semenjak dirinya menjalin hubungan dengan suaminya, segala sesuatu seolah berjalan instan, bahkan cenderung cepat, banyak hal yang tiba-tiba terjadi.


Tiba-tiba tunangan, lalu tiba-tiba menikah.


Dan juga seperti yang satu ini misalnya, tiba-tiba diminta magang, padahal Moza rencananya baru mau ambil magang semester depan, tepat saat ia menginjak tahun keempat kuliah di universitas kenamaan itu.


Seolah dirinya disuruh cepat-cepat lulus kuliah.


Ada apa ini sebenarnya ???


" Prof. Yan. Tolong maafkan atas ketidak sopanan saya, sepertinya saya akan menolak saran anda untuk mengambil Magang semester ini. "


Pria itu mengambil jeda, menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya dengan kedua siku bertumpu di sisi kanan kiri kursi, sedangkan jemari kedua tangannya saling bertautan.


" Anda salah, Nona Moza. Ini bukan saran, tapi permintaan. Permintaan yang harus anda setujui, karena ini atas pengaturan kampus untuk mahasiswa beasiswa seperti anda. Coba anda tanyakan pada beberapa teman anda yang mendapatkan beasiswa yang sama seperti anda, dosen pembina mereka juga pasti sudah menyarankan hal serupa. " Tandas pria itu dengan mimik muka seriusnya.


Ehh, sejak kapan Prof. Yan jadi dosen pembinaku sih ?


" Meskipun pasti tidak seratus persen sama mengingat status beasiswa exclusive yang hanya diberikan pada kamu. " Imbuhnya dengan lebih lirih.


" Maaf, Prof. Apa anda berusaja mengatakan hal lainnya ? "