FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 28 • Bohong Sama Istri Dosa Gak Sih ?



...' Ketika bersamamu, aku seolah tidak menginginkan apapun lagi selain melihat senyum di wajahmu. Bahagia lah sisisku, bersamaku, karena hanya itu yang bisa membuatku tetap kuat dan bertahan dari kerasnya kehidupan. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...☆☆☆...


Astaga, sejak kapan posisi kami seperti ini sih ?


" Iiih, lepasin dong ini, kak ! " Moza menggerutu saat menyadari betapa intimnya posisi mereka saat ini, gadis itu menjauhkan wajahnya dari suaminya, berusaha melonggarkan tangan suaminya yang melilit erat seperti ular di pinggangnya.


Bukannya tidak suka, hanya saja lokasi yang tidak mendukung, bagaimana kalau ada yang melihat.


Gadis itu belum siap memamerkan kemesraan di depan umum. Walaupun itu di depan keluarganya sendiri sekalipun, bisa bahaya kalo ada yang lihat, apalagi kalau yang lihat itu si bungsu, Ryuza.


Tuh anak kan kadang masih suka cemburuan kalau liat kakak perempuannya deketan sama cowok lain. Bisa-bisa adiknya itu ngajak ribut suaminya lagi, bikin pusing kepalanya saja.


" Kenapa sih, orang dipeluk sama suami sendiri juga, kok kayak gak suka gitu ? " Protes Hega pura-pura ngambek tak terima dengan penolakan istrinya, dan ia pun tentu saja tidak mau menuruti keinginan sang istri untuk melepaskan pelukannya.


Justru Hega semakin mengeratkan belitang tangannya dan menjatuhkan dahinya di bahu sang istri.


Moza melenguh malas, mengedikkan lembut bahunya yang ditempeli sang suami, geli, " Bukan gitu iih, kak. Jangan mengalihkan pembicaraan deh ! " Ujarnya masih mencoba mengurai tangan suaminya yang semakin erat melingkar di pinggangnya.


Hega mendengus, susah sekali mengalihkan perhatian istrinya dan membuat istrinya ini berhenti bertanya, " Hmm, aku hanya sedang bernostalgia aja kok tadi. Di dalam juga cuma bentar, cuma liat-liat aja. " Hega masih berkelit senatural mungkin.


" Dulu kan aku tidur di kamar ini juga kalau sedang menginap disini. " Imbuhnya kemudian.


Tampak istrinya mengangguk-angguk kecil, membuat Hega bernafas lega.


Tidak berselang lama bunda Ayu muncul di balik punggung Hega setelah sebelumnya menghapus air matanya terlebih dahulu dan menormalkan suasana hati dan ekspresi wajahnya agar sang putri tidak bertanya-tanya.


" Sayang, kenapa kamu cariin bunda, hem ? "


" Loh, kok bunda juga ada disini ? " Moza mendorong tubuh suaminya saat belitan lengan panjang Hega terasa melonggar.


Moza menatap heran pada bundanya, seolah menangkap sesuatu yang tidak biasa, " Dan apa ini ? " Moza mendekati sang bunda.


" Bunda habis nangis kan ? " Tanyanya seraya menyentuh bagian bawah kelopak mata ibunya yang sedikit sembab dan membengkak.


Bunda Ayu sedikit gelagapan, ia lupa jika putri semata wayangnya itu sangat lah peka, " Enggak sayang, bunda enggak nangis kok. "


Manik mara Moza menyipit, " Bohong. " Tuduhnya penuh keyakinan. Jelas sekali kan bundanya itu habis nangis, orang matanya tuh merah gitu, fix no debat, bunda nya berbohong.


" Bunda nggak bohong, sayang. Tanya aja suamimu ! " Menarik tangan Moza dan mengelusnya dengan lembut.


Lah kok aku lagi coba ?


Moza langsung beralih menatap sang suami, " Kak. . . " Yang ditatap pun langsung ikut gelagapan tapi dengan cepat bersikap senormal mungkin.


Ya ampun, bohong sama istri dosa gak sih ?


Hega menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, otak jeniusnya berpikir cepat. Memikirkan sebuah alasan yang terdengar logis dan bisa diterima oleh sang istri, dan yang terpenting bisa membuat istrinya itu berhenti bertanya-tanya bak dekektif.


" Oh itu, tadi tuh bunda kelilipan debu pas nemenin aku lihat-lihat kamar Arka. Kan aku bilang tadi ruangannya masih kotor berantakan. "  Apa sih yang tidak bisa dilakukan Hega, bahkan berbohong pun terlihat begitu natural.


Tapi sungguh itu bukan karena Hega pintar berbohong apalagi sering melakukan kebohongan. Hega itu tipikal pria yang punya sifat terang-terangan.


Hega itu suka bicara apa adanya, tidak suka menyembunyikan apa yang ada di hatinya. Kalau suka ya bilang suka, kalau benci ya bilang benci.


Itu juga lah yang selama ini seringkali membuat banyak wanita jatuh cinta dan patah hati diwaktu yang bersamaan.


Jatuh cinta kala melihat visual sempurna bak dewa seorang Hega Airsyana. Namun mereka bisa langsung patah hati seketika saat mendapati sosok dinginnya. Belum lagi kalau sudah kena sembur mulut pedesnya yang mengeluarkan kalimat yang menunjukkan ketidak tertarikan atau penolakan yang terasa dingin dan nge-jleb banget di hati.


Sampai dulu Bara sering sekali ngomel-ngomel,


" Kalau enggak suka lo mah diem aja kali Ga, gak usah diladenin, gak usah pake segala jurus mulut boncabe lo itu lo keluarin semua. Nyelekit, nyakitin tauk, Ga. Dasar gak ada perasaan lo mah. Kalo gue jadi mereka sakit hati tauk, Gue santet juga kali lo saking sakit atinya. "


Lah, bukan Hega yang terlalu kasar juga sih, lah kan tuh perempuan yang enggak bisa ditolak pakai cara halus. Secara cueknya seorang Hega itu apa artinya coba kalo bukan karena tuh cowok enggak suka dan enggak tertarik sama perempuan yang mendekatinya.


Kalau udah kayak gitu Hega cuma bisa menjawab sekenanya sesuai realita yang ada.


" Heh, Bar. Gue baru ngomong pedes juga kalo mereka enggak ngerti body language gue. Siapa suruh juga udah gue cuekin masih juga cari perhatian. Dikira mereka gue nih 'tsundere' kali, yang sok nolak padahal diam-diam suka. Cihh. . . Gue tuh enggak suka beneran sama mereka, mereka aja yang enggak ngerti, atau malah pura-pura enggak ngerti. "


Tuh kan, mulut pedas ala Hega itu juga enggak akan sembarangan nyembur kalau enggak ada alasannya. Kecuali sama Bara aja itu mulut boncabe suka lepas kontrol tanpa alasan.


Sepertinya Bara memang akan selalu menjadi objek yang sempurna untuk melampiaskan kekesalan Hega.


Dan kayaknya tuh mulut cabe warisan dari Arka kali ya, atau Hega kelularan Arka, ya kali aja mulut pedas Arka tuh menular kayak virus.


Kembali ke Moza yang masih bertanya-tanya, Hega mengira alasannya akan bisa diterima oleh sang istri.


Tapi kan lawannya adalah Moza Artana, si gadis super peka. Mana mungkin gadis itu percaya begitu saja, " Bener begitu, Bun ? "


" Iya, sayang. " Jawab sang bunda, " Ah iya, ada apa kamu tadi nyariin bunda ? " Sahutnya lagi dengan cepat kala melihat sang putri hendak kembali buka suara, bunda Ayu tahu putrinya akan terus mendesaknya jika dirinya tidak segera mengalihkan perhatian sang putri.


" Oh, itu tadi Ayah tanya apa barang-barang yang mau dibawa sudah masuk semua ke mobil ? " Yah, beruntung sepertinya bunda Ayu berhasil lolos kali ini. Alhamdulillah, batinnya dalam hati.


" Ah, biar bunda lihat dulu. Kamu sudah selesai packing nya ? " Tanya bunda Ayu sembari merapikan anak rambut putrinya yang sedikit berantakan.


Moza mengangguk, " Eum. . . Sudah, Bun. Tinggal masukin koper ke bagasi aja. "


" Ya sudah, bunda ke bawah dulu, sayang. Mau cek barang-barang yang mau dibawa, jangan sampai ada yang terlupa. Kamu tahu kan kalo ayahmu itu suka ketinggalan barang-barang penting tiap bepergian. " Ujarnya sambil mengelus lengan putrinya.


Moza kembalj mengangguk paham dan tersenyum mengingat kebiasaan buruk sang ayah yang agak pelupa dan teledor, " Ya Bun, nanti Momo nyusul. " Sahut Moza dan diangguki oleh bunda nya.


Moza mengamati pergerakan sang bunda, kemudian beralih menatap ke arah suaminya yang tengah bersandar dengan santainya di dinding. Huft, posenya udah kayak model baju pria yang lagi pemotretan.


" Kak, ada apa ? " Tanyanya setelah sang bunda menghilang menuruni tangga.


" Apanya ? '' Hega balik bertanya dengan satu alis terangkat.


" Kak, kita baru menikah sehari kakak udah mau main rahasia-rahasiaan sama aku ?! "


Astaga, bisa gak sih pekanya besok-besok aja, kenapa juga harus sekarang aktif mode pekanya.


Hega menelan ludah kasar.


...--------------------...