FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 09 • Kegiatan Favorit



...' Kamu bagaikan magnet yang senantiasa menarikku untuk selalu medekat padamu. Dan menyentuhmu sepertinya adalah kegiatan baru yang akan menjadi candu untukku. Jangan menghindar dan jangan lari dariku, cukup rasakan cintaku di setiap sentuhanku. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...▪ ▪ ▪...


Inikah waktunya ?


Tanya Moza pada dirinya sendiri ketika merasakan sentuhan suaminya semakin tidak terkontrol.


Ini memang bukan kali pertama Moza berdekatan dengan begitu intim dengan Hega. Sebelumnya keduanya memang pernah hampir melampaui batas yang seharusnya tidak mereka lewati, meskipun nyatanya Tuhan masih senantiasa menjaga kewarasan mereka kala itu. Dan menjaga kehormatan keduanya.


Tapi kali ini Moza sadar betul apa yang diinginkan oleh suaminya, setiap sentuhan Hega yang begitu lembut dan menimbulkan gelenyar aneh di sekujur tubuh Moza. Belum lagi kecupan-kecupan manis yang dilakukan Hega dengan begitu perlahan dan penuh kehati-hatian.


Sentuhan yang membuat Moza ikut melayang seperti yang pernah ia alami sebelumnya ketika di apartemen Hega saat mereka masih berstatus sepasang kekasih.


Namun berbeda dengan saat itu, kali ini Moza sadar jika tidak akan ada lagi halangan untuk melanjutkan apa yang diinginkan oleh sang suami.


Moza juga tahu jika tidak ada alasan baginya menolak setiap sentuhan Hega. Karena seperti yang dikatakan oleh pria yang adalah suaminya itu, jika agama telah menghalalkan setiap sentuhan yang mereka lakukan.


Dan justru dosa hukumnya seorang istri menolak keinginan dari suaminya. Dan Moza tidak mau menabung dosa di hari pertamanya menjadi seorang istri, ia akhirnya memilih pasrah. Mengikuti setiap alur yang dimainkan oleh suaminya.


Hega sendiri semakin lama seolah semakin lupa diri, merasakan tidak ada penolakan dari sang istri, pria itu melanjutkan aktivitasnya semakin nakal. Tidak hanya mengecupi kulit putih istrinya, bahkan cuping telinga kiri sang istri pun menjadi sasaran kenakalan lidahnya.


Moza sendiri tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, bibirnya kelu, tubuhnya kaku. Gadis itu berusaha pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh pria yang telah menjadi imamnya itu.


Meskipun nyatanya dalam hati kecilnya sungguh belum siap untuk melakukan tugasnya sebagai istri. Setidaknya untuk saat ini, karena sungguh raganya masih terlalu lelah setelah perhelatan akad nikah tadi pagi. Belum lagi dirinya harus menyiapkan diri untuk pesta resepsi keesokan harinya.


Tapi seolah tubuhnya tengah mengkhianati logikanya, bibirnya tak sanggup mengucapkan penolakan. Ditambah lagi tubuhnya seolah juga tidak menunjukkan penolakan pada setiap sentuhan itu.


Disisi lain, berbagai pemikiran bergejolak di benaknya setiap kali tubuhnya disentuh oleh tangan ataupun bibir suaminya.


Apakah sudah tiba saatnya ia menjalankan kewajiban sebagai istri ?


Ahhh, ini bahkan belum setengah hari keduanya resmi menjadi pasangan suami istri. Apa iya suaminya itu ingin melakukan malam pertama sekarang juga ? Memangnya tidak lelah apa ?


Lagipula ini kan masih siang, bukannya malam pertama harusnya dilakukan saat malam ya ?


Hish, pertanyaan bodoh macam apa pula itu ? Ya iyalah, namanya juga 'malam pertama', dan bukannya 'siang pertama'.


Ya pastinya harus terjadi di malam hari lah, masa siang-siang bolong begini ???? Apalagi mereka sedang berada di rumah orang tua Moza, di sebelah adalah kamar sang adik bungsu, Ryuza.


Bagaimana jika ada yang mendengar ? Bagaimana jika tiba-tiba bunda atau ayah datang ?


Lalu bagaimana nasib resepsi pernikahan mereka besok ? Masa iya dirinya harus datang dengan wajah lemah letih lesu ??? Lah lah lah, kok jadi sampai kesitu coba ? Apa iya malam pertama akan menghabiskan tenaga sebanyak itu ?


Tapi jika berdasarkan drama atau novel romantis yang sering dibacanya, pemeran utama wanita selalu bangun pagi dengan keadaan tubuh remuk setelah 'dihajar' habis oleh suaminya saat malam pertama ?


Apakah dirinya akan bernasib sama dengan para tokoh utama wanita di novel yang sering dibacanya itu ?


ASTAGA !!!! Apa yang aku pikirkan barusan ???!!


AAAARRRHHH, kepala Moza mendadak pening dengan banyaknya pertanyaan yang berputar di kepalanya. Hingga tanpa sadar gadis itu meringis dan terpekik kecil, " Akh. . . "


Mendengar pekikan kesakitan dari istrinya, Hega sontak menghentikan aktivitas nakalnya, membuka mata dan meregangkan pelukannya.


" Apa ? Kenapa ? Apa aku menyakitimu ? " Tanyanya saat melihat ekspresi meringis sang istri yang juga terlihat sedang memijat-mijat keningnya.


Astaga, aku hampir lepas kontrol. Niatnya menggoda malah aku yang tergoda.


Hega memaki dirinya dalam hati saat kesadarannya telah kembali sepenuhnya karena suara sang istri.


" Kamu tadi seperti kesakitan, maaf kalau aku tanpa sengaja membuatmu kesakitan, aku--- "


" Eh, tidak tidak, kak. Bukan begitu. " Moza menyela seraya mengibaskan kedua tangannya, " Bukan karena kakak kok. "


" Terus ? "


Aduh, aku harus jawab apa ? Masa aku harus bilang kepalaku pening gara-gara kepikiran soal ' itu ' sih ??? Ah, tidak tidak.


Moza menarik nafas panjang berusaha menyembunyikan kegugupannya, " Itu, kak. Kepalaku tiba-tiba agak sakit. " Jawabnya spontan sembari memijat kecil kepalanya.


" Ya, ampun. Maaf aku sampai lupa, harusnya rambut kamu segera dikeringkan. Mungkin kamu masuk angin karena rambut kamu masih basah gini. " Hega segera meraih kembali pengering rambut yang tadi terabaikan.


" Ah, iya mungkin saja kak. "


" Bukan mungkin saja, tapi memang begitu. Makanya lain kali setelah keramas, jangan biarkan rambut kamu basah dalam waktu yang lama. Segera keringkan supaya tidak membuat sakit kepala. " Terang Hega dengan tangan yang kembali beraksi, tangan kiri mengurai helai rambut sang istri, dan tangan lainnya menggerakkan hairdryer secara merata ke seluruh bagian rambut panjang gadis itu.


Iya in aja lah, daripada aku bingung mau jawab apa.


" Iya, kak. " Moza hanya patuh sembari mengangguk kecil.


Haduhhhh, selamat selamat. . . Aku kira yang tadi itu bakal berlanjut---- Akkhhhh, gila gila, dasar sinting, apa yang barusan aku pikirkan lagi sih ???


Moza menggelengkan kepalanya saat menyadari pikiran aneh yang tiba-tiba melintas kembali di kepalanya.


You look so cute when you're nervous like this. Make me want to eat you right now. [ Kamu terlihat imut saat sedang gugup seperti ini. membuatku ingin memakanmu sekarang juga. ]


Hega menahan tawa melihat tingkah istrinya yang terlihat jelas menahan kegugupannya, " Kenapa ? Apa kepala kamu makin sakit ? " Tanyanya dengan santai.


Sebenarnya Hega masih ingin terus menggoda istrinya, tapi apa daya kondisi sepertinya tidak memungkinkan untuk ia melanjutkan tingkah jahilnya. Apalagi ia tahu jika istrinya terlihat kelelahan dan butuh istirahat segera.


" Ah, tidak kak. Hanya geli, hehe. . . " Ya memang nyatanya agak terasa geli setiap kali jemari suaminya itu mengurai rambutnya, apalagi saat jari-jari Hega menyentuh kulit kepalanya. Rasanya geli-geli nyaman, bikin ngantuk gitu.


Sial, hampir saja aku kelepasan tadi. Untungnya akal sehatku kembali pada waktu yang tepat.


Hega kembali mengumpati dirinya dalam hati, merasa hampir khilaf memangsa istrinya. Meskipun nyatanya sah-sah saja dia melakukannya, tapi Hega tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat.


" Sepertinya mengeringkan rambut mu akan jadi salah satu kegiatan favoritku. " Masih fokus dengan rambut istrinya, " Rasanya menyenangkan menyentuh rambut mu seperti ini, jadi mulai sekarang biarkan yang melakukannya, hem. "


Moza mengangguk kecil menyetujui permintaan suaminya, " Eumm, baiklah. Aku juga senang kakak menyentuh rambutku, rasanya sangat nyaman. " Moza saat ini dalam posisi duduk di atas sofa dengan kedua tangannya memeluk kakinya yang menekuk dan menempel di dada.


" Kak, aku ngantuk. "


▪ ▪ ▪


➡️ Yang Baca : MP nya mana thorr ???


Aku : Sabar ya gaess.


...-------------------------------------...