
Jika biasanya Bara yang akan menjadi korban benda-benda melayang ala Hega, kini giliran Derka yang memang sama-sama suka bikin jengkel Hega. Sudah tahu sahabatnya itu juteknya minta ampun masih juga bikin gara-gara.
" Auwh, siyalan bener deh lo, Ga. Anjriiit muka ganteng gue ternistakan. " Derka mengomel saat bantal sofa sudah mendarat di wajah tampannya.
" Siapa yang lo panggil 'adek', hah ? "
" Ya istri lo lah, dia kan adik ipar gue. Ya nggak, dek ?! " Kedua alis Derka naik turun menatap Moza.
" Siapa yang sudi punya kakak ipar macam lo, dan lagian kapan juga gue punya sodara macam lo ? Udah gue bilang jangan panggil istri gue seenak jidat lo, Der. " Maki Hega kembali melempar Derka dengan bantal walaupun kali ini lemparannya tidak seserius sebelumnya dan malah mendarat di kaki pria itu.
" Dasar, beneran durjana nih orang. "
" Buruan minggat sana lo, Der ! "
" Cih. . . "
Moza sampai kram perutnya karena menahan tawa melihat kekonyolan dua pria dewasa yang kelakuannya seperti bocah TK.
" Sudahlah, kak. Biarkan aja bang Derka makan siang bersama kita. " Moza menengahi, tangannya terulur mengusap lengan suaminya.
" Hish, jangan panggil dia begitu, kan aku sudah bilang. Bisa ngelunjak dia, yank. Cukup Bara saja yang kamu panggil begitu, itu pun aku belum rela. "
Wajah Hega terlihat kesal, apalagi Bara memang semakin kurang ajar padanya karena merasa diterima menjadi kakak dari Moza, hingga pria yang memang usianya terpaut satu tahun dari Hega itu semakin sok saja.
Dan jangan sampai si Derka juga jadi ikut-ikutan kurang ajar seperti Bara.
Moza tersenyum gemas, wajah suaminya yang menahan kesal cukup imut ternyata. " Aku senang kok punya banyak kakak. " Cengir Moza tanpa dosa, dan tentu saja berhasil meluluhkan kekeras kepalaan suaminya.
" Hhhh, terserah kamu, yank. Asalkan kamu bahagia. " Melihat istrinya bahagia, Hega hanya bisa menerima saja apa kemauan sang istri.
" Makasih, kak. Love you. " Senyum Moza dengan binar bahagia yang tersirat di kedua bola matanya, membuat hati Hega seolah tertular bahagia.
" Love you too my sweety wife, cup. . . " Balas Hega sambil mengecup ujung hidung Moza.
" Haish,. . . Siyalan memang nih pasangan, gak bisa jaga perasaan jomblo apa ?! " Derka yang barusaja mendaratkan pantatnya di sofa berdecak sebal karena disuguhi adegan mesra sahabatnya.
" Salah lo sendiri gue suruh pergi dari tadi lo gak mau. " Hega tetap secuek biasanya, sedangkan Moza langsung merona malu karena adegan mesranya dilihat oleh sahabat suaminya.
" Ya ya ya, gue pergi dah. Daripada jadi kambing conge gue disini. " Pria itu akhirnya bangkit dari sofa dan menyaut tas sakti yang selalu ia bawa, lalu berjalan menuju pintu dengan bibir komat-kamit seolah merapal mantra, padahal pria itu sedang mengumpati kebucinan sahabatnya yang bikin dirinya gigit jari.
Tapi sebelum menutup pintu, kepala pria itu menyembul di pintu.
" Jangan lupa ya, hindari dulu gaya women on t----aduuuhhh, iya iya siyalan emang nih bocah. " Umpatnya kesal saat satu buah apel melayang hampir mengenai wajahnya.
Untung aja tuh apel merah meleset dan terpental di pintu. Kalo enggak bisa the end kharisma dokter muda itu saat keluar dari kantor sahabatnya dengan jidat benjol yang akan sukses jadi tontonan karyawan.
Sialan ! Kapan ya gue kawin ? Ehhh, nikah ding, kawin mah udah pernah. Ahhh, waktunya tobat kali ya, cari bini yang bener. Liat beruang kutub bucin bener ma bininya, gue juga pengen. Hehe
Derka menggerutu dalam hati dan malah cengengesan sendiri dengan makian yang cenderung curhat.
" Sudahlah, kak. Tidak usah diperpanjang lagi masalah ini. Lagipula mereka kan tidak tahu siapa aku, Kak. Jadi bukan salah mereka juga jika mereka bersikap seperti itu. Mungkin mereka hanya merasa iri karena kakak memperlakukan aku dengan berbeda, padahal yang mereka tahu aku hanya karyawan magang biasa. "
Moza tengah membujuk suaminya setelah keduanya selesai makan siang, setelah insiden tadi, Moza tidak diijinkan kembali ke ruangannya.
Atas perintah Hega, Anita sudah memberikan informasi pada Geovano jika gadis itu ijin pulang lebih awal karena mengalami cedera kaki. Sekaligus mengirim Anita untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, tentu saja dengan cara Presdir. Dipastikan akan membuat geger divisi yang dipimpin Geovano.
" Lagipula apa bedanya juga jika mereka tahu kalo kamu istriku ? Apa mereka akan memperlakukanmu sebaliknya karena kamu istri Presdir dan mencari muka dengan bersikap baik padamu ? "
" Aku justru lebih tidak suka dengan penjilat macam itu. "
" Kak--. "
" Tidak ! Jangan membujukku lagi, Yank. Aku tidak bisa mentoleransi sikap buruk karyawan yang seperti itu. "
" Haish. . . Yah kakak benar dalam hal itu. Baiklah, sepertinya aku memang tidak akan bisa menang berdebat dengan kakak. Tapi bisakah kakak pikirkan kembali tentang pemecatan mereka. Berikanlah mereka kesempatan untuk memperbaiki diri, toh setiap manusia kan memang layak mendapatkan kesempatan kedua. "
Moza yakin tidak akan mudah untuk membujuk suaminya yang keras kepala dan juga punya standar tinggi dalam menangani semua urusan perusahaan.
Dan Moza juga sadar betul jika apa yang dilakukan oleh karyawan senior pada dirinya itu memang hal yang tidak pantas untuk dilakukan oleh sesama karyawan.
" Jangan buat image aku jadi buruk karena aku tidak mau ada berita yang mengatakan kalau istri Presdir adalah alasan dibalik pemecatan tiga karyawan divisi keuangan. Masa kakak mau dianggap punya istri jahat sih ? "
" Tidak masalah buatku, kamu jahatpun aku tetap cinta kamu. "
Heh ??? What the . . .
Moza melongo sepersekian detik.
" Astaga, kenapa seperti mendengarkan lirik sebuah lagu sih ?! " Moza meringis geli dengan ucapan suaminya yang sungguh absurd.
Hega malah terkekeh. " Hahaha, memang ada lagu seperti itu ? " Moza mengedikkan bahunya.
" Pokoknya aku tidak mau tahu, salah mereka sendiri berani mengganggu istriku. " Sambung Hega lagi dengan raut wajah super kesal.
" Uggh. . . kenapa kakak begitu menyebalkan dan menggelikan sih ?! " Gadis itu bergidik dengan tingkah suaminya yang semakin alay saja.
" Makanya kamu nurut sama aku aja kenapa sih, Yank ?! Jangan bikin aku kuatir gini. "
" Ah, atau kamu pindah divisi aja gimana ? "
" Huh, pindah kemanapun kalau udah berurusan sama fans kakak, pasti akan sama saja. Aku nggak mau diperlakukan istimewa oleh karyawan lain karena aku ini istri kakak. "
" Tentu saja ada satu posisi yang aman. "
" Cih, memangnya divisi mana yang bisa menjamin itu, huh ?! Seluruh penghuni kantor ini cepat atau lambat akan melihat berita di grup karyawan. "
" Kamu tenang saja, aku akan meminta Anita mengurus semuanya. Kamu hanya perlu melakukan tugasmu seperti biasa sampai pengaturanku selesai, hem. "
" Terserah kakak saja. Aku sedang tidak sanggup berpikir jernih. " Moza pasrah, membalik badannya membelakangi suaminya dan kembali mendaratkan kepalanya di sandaran sofa.
Hega tersenyum smirk di belakang istrinya, akhirnya setelah sekian lama dia akan berhasil membuat istrinya menuruti keinginannya. Setelah ini, Hega akan menjauhkan Moza dari jangkauan pria yang 'pernah' atau mungkin masih menyukai istrinya.
Enak saja si yellow rose itu bisa leluasa memandangi wajah istrinya, sedangkan Hega yang suaminya saja harus menggunakan kuasanya untuk membuat gadis itu mau mendatanginya ke ruangannya.
Dan yang lebih penting lagi, setelah ini, ia akan bisa melihat wajah istrinya setiap saat, setiap menit dan bahkan setiap detik.
Pokoknya wajah cantik istrinya itu hanya boleh dinikmati olehnya seorang. Titik. No debat.
***
Menurut kalian karakter Hega terlalu berlebihan gak sih bucinnya ?