FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 156 • Untung Cinta Mati



Makan malam romantis yang sudah terencana beberapa waktu yang lalu akhirnya terlaksana.


Meskipun sudah mengeluarkan dana sebesar 1 Milyar untuk memenangkan Romantic Dinner itu. Tetap saja Hega masih harus mengeluarkan uang untuk menyiapkan romantic dinner bersama sang istri.


Sesuatu yang bahkan belum pernah mereka lakukan dengan benar sejak pacaran dan menikah.


Upss, mereka memang tidak pernah ada kata pacaran sih sebelum menikah.


Keduanya kan langsung menikah setelah bertunangan secara instan. Melewatkan tahap berpacaran.


Dan ternyata berpacaran setelah menikah tidak ada buruknya. Justru lebih banyak enaknya. Mau ngapa-ngapain juga nggak takut dosa, mau pegang, peluk, cium atau lebih dari itupun malah dapat pahala.


Kini sepasang suami istri itu sudah berada di area rooftop Imperial Hotel. Tempat yang sudah dipersiapkan khusus oleh Hega, dibantu Gara tentunya. Untuk agenda makan malam romantis bersama istrinya yang sempat tertunda karena banyak hal.


" Kakak ini beneran gak berpikir dulu apa waktu ikutan lelang ? "


Bukannya melting dengan dinner romantis yang disiapkan suami. Moza malah kembali dibuat sebal jika mengingat tindakan suaminya benar-benar diluar nalar.


Hega menghela nafas dan memijat keningnya. " Kenapa masih dibahas lagi coba ?! " Keluhnya frustrasi.


Tidak cukup apa tadi sepanjang perjalanan istrinya ini mengomel tentang hal yang sama.


Aduh, untung cinta mati. Kalo enggak bisa gedek hati Hega mendengarnya.


" Ya kan uang segitu bukan nominal kecil, kak. "


" Ih, siapa bilang. Itu recehan kok. " Kelit Hega dengan entengnya.


" Dih, sombong benget masnya. " Ledek Moza dengan bibir mencebik.


Hega terkekeh mendengar celetukan lucu istrinya. " Bukan gitu maksud aku, sayang. Gini deh, uang segitu tuh gak ada artinya jika dibandingkan dengan istriku yang berharga ini tau. " Sejuta alasan sudah berbaris rapi di kepala Hega untuk membela dirinya.


" Ih, mulai gombalnya. " Dan benar saja, istrinya langsung tersipu malu mendengarnya.


Hega meraih telapak tangan istrinya yang ada di atas meja untuk oa genggam. Kemudian mengusap lembut punggung tangan yang terpasang cincin berlian di jari manisnya.


" Enggak gombal ya, kenyataan ini, Yang. Kamu itu segalanya buat aku. " Ucapnya mesra kemudian mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh cinta.


Duh baru nih bikin melting. Ini suami siapa sih, jago banget gombalnya.


Pipi Moza langsung merona kembali, senyum merekah di bibir tipisnya. Rasa bahagia menyeruak dalam hatinya. Sekaligus beruntung karena dirinya lah yang kini bersanding dengan pria sesempurna suaminya.


" Lagipula mana rela aku istri tercintaku dinner sama cowok lain, gak boleh, enak aja. Mau aku gantung mereka di menara Eiffel. " Heh, baru dibawa terbang melayang dibuat kembali kesal.


" Tapi kan, kak-- " Ingin protes tapi suaminya kembali menyahut seolah tidak memberinya kesempatan untuk kembali protes.


" Memangnya kamu mau gitu dinner sama cowok lain, Yang ??! " Tanya Hega dengan nada tak suka.


Jleb. . . Skakmat. . .


Kalo udah ditembak dengan pertanyaan menyudutkan gini, mau jawab apa coba kan. Jadi lebih baik menyerah saja bukan ? Daripada panjang urusannya.


" Ya enggak juga sih. "


" Makanya jangan dibahas lagi, duit segitu nggak ada apa-apanya. Lagipula kan itu buat amal juga, Yang. "


Moza menghela nafas, benar juga apa kata suaminya, untuk amal kenapa harus perhitungan. " Iya sih, kakak benar. Tapi rasanya aku jadi merasa---. " Bukan pelit sih, tapi satu milyar itu nggak sedikit loh. Ini semua karena Julian, awas saja kalau ketemu.


Ada setitik rasa tidak enak pada suaminya karena membuat sang suami mengeluarkan uang sebesar itu karena ulah sahabatnya yang kurang ajar.


" Ssstt. . . Sudah jangan dibahas lagi ya, sayang ! Kamu tahu uang segitu bahkan gak ada setengahnya dari penghasilan harian resort kamu yang ada di Blue Heart Island. " Ungkap Hega yang langsung membuat istrinya melongo.


" Hah ?? "


Glek. . .


" Haish, jangan bilang kamu enggak ngecek laporan keuangan resort kamu yang dikirim Gara ke email kamu setiap minggunya. " Moza menggeleng, manik matanya mengerjap lucu.


Fakta yang barusaja ia ketahui cukup membuatnya menelan ludah.


" Sudahlah, next time kita bahas soal itu. Kita kan mau makan malam romantis. Jangan merusak suasana, Yang. Ini romantic dinner 1M loh. " Goda Hega dengan jahil.


" Ah, iya, baiklah. " Pasrah Moza akhirnya.



Baru sejenak Moza bisa bernafas lega setelah pembahasan tentang satu Milyar. Saat tangannya hendak meraih pisau dan garpu di atas meja untuk mengiris daging di piring nya.


" Tapi, Yang. "


" Ya ? " Moza kembali menatap suaminya yang terlihat memikirkan sesuatu dengan ekspresi serius.


" Kalau dipikir-pikir lagi, apa yang kamu bilang tadi ada benarnya juga sih. " Hega yang tengah memotong daging, melirik istrinya dengan ekor matanya.


" Apa lagi, kak ? "


Tidak langsung menjawab, suaminya malah melanjutkan memotong daging di piringnya. Kemudian mengangkat piring Moza dan menggantinya dengan piring yang dagingnya sudah ia potong tadi.


" Uang satu miliar bukan nominal yang kecil ya. " Ucap Hega kembali menatap istrinya. Seraya memainkan jarinya di dagu, membuat Moza mengernyit bingung.


Suaminya ini maunya apa sih ? Tadi bilangnya uang segitu recehan, sekarang bilang itu bukan uang kecil ?


Apa suaminya ini punya kelainan ? Bipolar atau alter ego mungkin ? Moza seketika bergidik dan menggelengkan kepalanya menepis asumsinya yang ngawur.


" Satu miliar memang recehan sih, Yang. Tapi uang sebesar itu sepertinya memang terlalu banyak jika hanya untuk dinner sekali saja. "


" Oh. " Moza hanya ber-oh ria karena bingung mau merespon bagaimana. Memangnya harus bilang apa kalau nyatanya memang begitu adanya. Ahhh, masa harus Moza ganti sih uang suaminya ? Mana ada dirinya uang sebanyak itu.


Ahhh, rekening ku. Bukannya tadi kak Hega bilang jika nominal segitu tidak ada setengahnya dari penghasilan resort. Apa aku pakai itu saja ya ? Ehh, tapi memangnya boleh begitu ?


Aaaarrrggg, mau pecah rasanya kepala Moza memikirkannya.


" Apanya yang oh ? Emang kamu tahu apa yang aku maksud, Yang ? "


Moza langsung mengangguk dengan percaya diri. " Tahu. "


" Apa memangnya ? "


" Satu miliar tidak sebanding dengan dinner sekali sama aku. " Ucap Moza dan diangguki oleh suaminya.


" Jadi Kakak mau minta dinner berapa kali lagi, hem ??? " Dan tepok jidat lah Hega mendengar kepolosan istrinya.


Pria itu langsung tertawa hingga beberapa pelayan restoran yang berada tak jauh dari meja mereka sampai terkejut dan menatap bingung padanya.


" Aku salah ngomong ya, kak ? " Tanya Moza bingung.


" Enggak kok, sayang. Kamu gak salah, aku aja yang terlalu berharap kamu ngerti kode dari aku. " Ucapnya disela tawanya yang berusaha ia tahan agar tak kembali meledak.


" Kode apa ? "


" Nanti aku jelasin di kamar. " Ya ampun, gemes Hega dibuatnya. Istrinya ini memang suka polos kalau urusan 'itu'.


Padahal udah sering dipolosin, lagi-lagi Hega hanya bisa membatin satu kalimat yang seringkali ia gunakan dalam hati


Untung cinta mati.


Kalau enggak bisa jantungan Hega karena kesal setiap kali istrinya mode polos-polos lugu.


" Eh, kenapa selalu nunggu di kamar sih ? " Protes Moza mendengar kalimat yang sering diucapkan oleh suaminya kala Moza meminta penjelasan akan suatu hal.


" Kalau disini nanti ada yang lihat bisa gawat. " Ucap Hega dengan alis yang naik turun.


Moza semakin mengernyit tak paham maksud ucapan sang suami.


" Dan malam ini kita tidak akan pulang. Kita akan menginap di Imperial Hotel, aku sudah minta Gara menyiapkannya. " Satu kerlingan mata genit suaminya langsung membuat Moza sadar apa maksud ucapan suaminya.


" Kita bulan madu kedua, Yang. "


" Uhukkk. . . " Kedua bola mata beriris kecoklatan itu membola saat ia tahu betul apa yang diinginkan suaminya.


Pipinya kembali bersemu dengan jantung yang berdebar hebat. Suaminya ini pakarnya membuat Moza malu.


" Ciyeee. . . Yang malu-malu kucing, wajah cantiknya udah merah merona, hmm ! " Goda Hega sembari menatap wajah cantik istrinya yang sudah seperti ceri.


" Kakak, hentikan. "


" Ya ampun, Yang. Belum juga mulai, kok udah minta berhenti. Nanti giliran udah mulai malah kamunya yang nggak mau berhenti. "


Blush. . .


" KAKAAKK. " Ya ampun, suaminya ini terbuat dari apa sih. Nggak lihat apa istrinya udah merah padam.


***