
⚠️ Sebelum baca, pastikan versi Noveltoon kalean tuh udah update ya.
Happy Reading ❤❤❤
▪▪▪
Hega barusaja akan menaiki anak tangga ketika ketika berpapasan dengan bunda Ayu yang tengah membawa secangkir kopi yang sepertinya dibuat untuk ayah Ardi.
" Hega sayang, kamu dari mana pagi-pagi begini ? " Sebenarnya dari kostum yang dikenakan Hega, Ayu sudah bisa menebak apa yang baru saja dilakukan oleh menantunya itu, tapi yah wanita paruh baya itu hanya sekedar ingin memastikan saja.
" Hega habis jogging di sekitaran komplek, bun. " Jawabnya sembari menurunkan satu kakinya yang sudah menapak di anak tangga pertama.
" Gak papa kamu jogging sendirian ? " Tanya bunda Ayu yang justru terdengar aneh di telinga Hega.
Kening Hega mengerut, " Memangnya kenapa, bun ? "
" Ya gak papa sih, cuma kalo pagi tuh di ujung gang depan tuh suka ada ibu-ibu yang ikut perkumpulan senam pagi. " Kening Hega makin terlipat, belum bisa menangkap maksud ucapan sang bunda.
" Maksud bunda tuh, kamu gak digodain sama ibu-ibu itu kan ?! Mereka tuh suka gitu kalau ada cowok bening dikit mendadak berasa masih muda, apalagi liat kamu yang bening banget gini, bisa mendadak berasa gadis kali mereka. " Seperti biasa, ibu mertuanya itu suka ceplas-ceplos bicaranya, tapi emang nyatanya seperti itu sih.
Itulah kenapa Ayu berhenti dari kegiatan aerobik yang diadakan oleh ibu-ibu komplek itu. Karena mereka toh niat olahraganya cuma 10 persen, dan sisanya cuma buat ngecengin para lelaki muda yang seringkali jogging juga di ujung gang komplek yang memang terdapat sebuah taman yang diperuntukkan untuk kegiatan warga.
Hega terkekeh mendengar celetukan mertuanya, " Enggak kok, bun. Mereka cuma nyapa aja tadi--"
" Eh, massa ? " Sahut Ayu tak percaya, " Bunda gak percaya ah, palingan mereka juga genit-genitin kamu. " Ayu meletakkan cangkir kopinya di atas buffet yang ada di samping tangga, " Sini bunda lihat, kamu enggak sampai dicolek-colek juga, kan ?! " Ujarnya sembari memutari tubuh menantunya, seolah mengecek jika ada jejak sidik jari di tubuh suami putrinya itu.
" Beneran enggak kok, bun. " Tutur Hega berusaha meyakinkan sang bunda, ingin tertawa rasanya melihat tingkah bundanya yang satu ini. Meskipun nyatanya memang ada beberapa ibu-ibu paruh baya yang masih sempet-sempetnya menggodanya padahal sedang senam bersama.
" Eh, kok bisa ya ? Tumben ? Apa mereka udah tobat kali ya ?! " Ayu masih tak percaya,
" Ya mungkin mereka tahu kalau bang Hega menantunya bunda kali, mereka kan paling takut sama bunda. Secara bunda itu kalo udah ngomel, beuuuhh, sekomplek nyerah semua. " Sambar suara remaja lelaki yang baru saja nampak menuruni tangga, siapa lagi kalo bukan Ryuza, putra bungsu Ayu Puspita.
" Heh, dasar kamu anak durhaka, datang-datang main nyamber aja obrolan orang dewasa. " Omel wanita itu memelototi putranya dan sang pelaku malah melengos dengan wajah tanpa dosa tak menggubris omelan bundanya dan malah ngacir menuju dapur.
Benar-benar definisi anak 'soleh' kan, bikin hih tahu gak punya anak kayak gitu, kalo bisa pengen banget bunda Ayu tukar tambah aja tuh anak. Biar gak bikin naik darah mulu.
Hega hanya bisa menggelengkan kepala melihat interaksi ajaib ibu dan anak itu. Berada di antara keluarga ini selalu membuatnya merasa hangat dan bahagia.
" Kenapa Momo tidak ikut kamu jogging juga sih biar aman ? " Ah, pertanyaan apa pula ini ?
Jelas-jelas Ayu sangat tahu jika putrinya itu sangatlah anti dengan yang namanya olahraga, jika disuruh olahraga selalu saja ada alasan yang dilontarkan oleh gadis itu.
Apalagi jam dinding masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, sudaj pasti putri kesayangannya itu masih bergelung dengan selimutnya.
" Momo tidur lagi tadi selepas sholat subuh. Masih ngantuk katanya, bun. " Tuh kan, apa yang bunda Ayu pikirkan benar kan.
Iya lah benar, kan wanita itu yang paling tahu kebiasaan sang putri.
" Hish, anak itu susah sekali sih kalau disuruh olahraga, dasar ! " Hega hanya tersenyum mendengar gerutuan mertuanya itu.
Hega tersenyum mendengar gerutuan ibunya, " Nanti Hega pelan-pelan ajak Momo olahraga, bun, supaya terbiasa. " Jawab Hega kemudian. Kalau enggak mau jogging, nanti Hega ajak putri bunda olahraga lainnya yang pasti gak akan bisa dia tolak, lanjut Hega dalam hati kemudian terkekeh kecil.
" Iya, kalau perlu seret saja dia sekalian supaya mau gerak badan. Masa habis sholat subuh mesti molor lagi. Capek bunda tuh nasehatin istri kamu. Sekarang giliran kamu yang ngomelin dia buat mulai olahraga, toh buat kesehatannya juga kan. "
Hega menahan tawa takut dosa, " Iya, bun. " Jawabnya singkat.
" Buuuuun, kopi ayah mana sih ? " Untunglah teriakan sang ayah mertua membuat sang bunda mau tak mau menghentikan keluh kesahnya.
Jika tidak, maka bisa jadi akan semakin panjang lah omelan sang mertua, omelan yang sebenarnya justru dirindukan oleh sosok Hega yang kehilangan ibunya di usia muda.
Mama Nadira yang cerewet, tapi itulah yang justru sangat disukai oleh Hega. Maklum lah, Hega tumbuh di lingkungan keluarga yang cukup keras, dalam artian baik tentunya.
Omelan sang mama justru terasa bagaikan mata air yang menyegarkan setiap kali ia merasa kehausan setelah padatnya jadwal pendidikan sebagai penerus yang harus ia jalani setiap harinya.
" Ya ampun, bunda sampai lupa sama kopinya ayah. " Ayu berdecak sembari menepuk keningnya sendiri, kemudian meraih kembali nampan berisikan secangkir kopi yang tadi sempat tercampakkan di atas buffet, " Ya sudah, bunda mau nganter kopi ayahmu dulu. "
" Iya, bun. Hega juga mau siap-siap dulu. "
" Cepat turun ya, bibik sudah masak tuh buat sarapan. Kan jam 8 kita sudah harus di bandara toh ? "
Hega mengangguk, " Hega naik dulu, bun. "
" Hem. "
▪ ▪ ▪
Hega membuka pintu dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur sang istri, kalau-kalau gadis itu memang masih berada dalam alam mimpinya. Dan benar saja, istri cantiknya itu masih bergelung dengan selimut tebalnya.
Hega kemudian mendekati ranjang, duduk di dekat sang istri yang terlihat masih sangat lelap, " Hish, bisa-bisanya kamu tidur senyenyak ini, padahal aku justru hampir tidak bisa tidur semalaman gara-gara kamu. " Kelakarnya seraya menusuk-nusuk ringan pipi putih istrinya dengan jari telunjuknya.
Yah, nyatanya samalam memang belum sempat terjadi apa-apa. Karena Hega terlampau tidak tega jika harus meminta haknya saat itu juga. Meskipun sudah bertekad tidak macam-macam, tapi nyatanya apa yang mereka lakukan semalam cukup untuk membangkitkan sesuatu dalam diri Hega yang sudah lama ia tahan.
Jika saja Hega tidak ingat jika pagi ini mereka harus kembali terbang ke kota untuk persiapan resepsi nanti malam. Maka sudah dapat dipastikan dirinya tidak akan menghentikan aktivitas setengah panas yang ia lakukan bersama sang istri semalam.
Dan jika hal itu benar-benar berlanjut, maka yakin seribu persen, Hega akan memangsa habis istrinya. Hingga dirinya tak akan punya tenaga untuk jogging pagi karena sudah kehabisan tenaga setelah olahraga lainnya yang pastinya juga menghasilkan keringat yang bisa jadi lebih deras daripada keringat yang ia dapatkan dari kegiatan lari paginya tadi.
Dengan gemas, Hega masih memainkan telunjuknya di pipi sang istri.
" Eeuughh. . . " Sepertinya si pemilik pipi mulai merasa terganggu dengan keusilan suaminya, gadis itu menggeliat kecil dan tak lama manik mata dengan iris kecoklatan itu mengerjap beberapa kali.
Dan hal pertama yang dilihat oleh mata sayu itu adalah tentu saja wajah tampan suaminya, " Morning baby. " Sapa Hega dengan senyumnya yang selalu menawan.
" Hoaaammm, pagi juga, kak. " Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu seksi di telinga Hega. Membuat Hega jadi ingin melumaat kembali bibir mungil di hadapannya itu.
Akhhh, Hega sadar !!! Tunggu nanti malam setelah pesta. Sabar sabar sabar ya jun. . . Batinnya seraya melirik bagian bawah tubuhnya yang sepertinya mulai tidak bisa dikendalikan.
Moza perlahan bangkit dari posisi berbaringnya setelah menggeliat kecil beberapa kali.
" Kakak dari mana, hoaaam ? " Sepertinya kesadaran Moza belum sepenuhnya terkumpul, padahal gadis itu jelas tahu kebiasaan Hega setiap pagi.
" Belanja. " Jawab Hega iseng.
" Heh ? "
Hega terkekeh melihat ekspresi bingung di wajah bangun tidur istrinya, " Tentu saja aku habis jogging, memangnya aku terlihat habis darimana dengan kostum seperti ini ? " Ujarnya sambil menarik ujung bawah kaos olah raga yang dikenakannya, " Memangnya kamu, jam segini masih seperti ulat sutra didalam selimut. " Goda Hega membuat sang istri terasa tertohok.
Jleb . . .
...--------------------...
Hayo siapa yang bangunnya suka molor dan keduluan suami ???
Aku aku aku 😅😅 [ Aku yang nanya, aku juga yang ngaku sendiri ]
Haiya, akhirnya bisa up karena draft awal ketemu meskipun naskahnya menghilang ditelan kecerobohanku sendiri.
And Finally, bisa kelar satu episode @ 00.30, langsung terbangkan. Cuss
🌷 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN LOH, Kalo lupa aku sentil nih 🙄