
Tubuh gagah dengan kaki panjang menjulang berbalut celana bahan berwarna biru tua. Wajah dingin dan seriusnya nyaris tanpa ekspresi.
Menghilangnya sang istri ikut membawa pula semangat dan kebahagiaannya.
Sorot mata setajam elangnya menatap lurus tampilannya di cermin besar. Dengan mata gelap tanpa dasar yang terpantul di kaca.
Auranya kini sungguh berbeda dari setahun terakhir ini. Yang tenang dan lembut karena kehadiran istrinya.
Sekarang Hega seolah kembali seperti dulu yang dingin dan tak tersentuh Pribadinya kembali tertutup dan kaku seperti saat sebelum bertemu sosok manis Moza Artana.
Gadis yang kehadirannya mampu menjungkir balikkan kehidupan Hega. Gadis yang memberi warna dalam hidup Hega yang selama ini hanya terisi hitam dan putih saja.
Begitu sosok itu tidak ada di sisinya, yang tersisa kini hanyalah kebekuan.
Tapi pria itu harus kembali menyadarkan dirinya pada realita. Logika nya terus menstimulasi hatinya agar tetap kuat.
Jika ia yakin akan firasatnya sebagai seorang suami, maka ia sendiri harus menguatkan diri untuk membuktikan keyakinannya.
Sampai detik ini hatinya meyakini jika istrinya, belahan jiwanya masih berada di dunia yang sama dengannya.
Setelah memejamkan mata sejenak, pria itu berjalan menuju pintu penghubung antara walk in closet dan kamar tidurnya.
" Iya, Bun. Masuk saja. "
Saat Hega keluar dari pintu walk in closet, Hega disambut sosok anggun yang semakin mengingatkannya pada sosok istrinya.
Bagaimanapun, Moza mewarisi kecantikan dari wanita yang kini tengah menatapnya dengan wajah sendu.
" Duduk, Bun. "
Wanita bergamis dan berhijab panjang berwarna abu itu mengangguk. Mengikuti langkah kaki suami putrinya.
" Bun. "
" Hega. "
Ucap keduanya hampir bersamaan setelah beberapa menit duduk di sofa dan saling diam.
" Kamu dulu yang bicara. "
" Tidak, bunda saja yang bicara lebih dulu. "
Keduanya duduk bersisian di sofa panjang yang biasanya digunakan Hega dan Moza untuk berbincang santai. Saling menceritakan kegiatan mereka seharian atau sekedar saling bermanja menyalurkan rasa cinta, yang sepertinya akan meluap jika tidak diungkapkan lewat sentuhan atau sekedar kata-kata mesra.
Hega memandang wajah pucat wanita di hadapannya. Wanita yang telah melahirkan istrinya ke dunia.
Ayu Puspita mengulurkan tangannya meraih tangan menantunya yang juga seperti putra kandungnya. " Hega sayang, maafkan bunda ya, nak. "
" Kenapa bunda minta maaf ? " Hega berusaha menekan amarah yang selama berhari-hari ini menguasai dirinya setiap kali seluruh anggota keluarganya mengungkit tentang istrinya.
" Maafkan bunda karena kamu jadi tidak bahagia karena menjadi menantu bunda. "
" Bunda ini bicara apa ? Hega bahagia bisa menikahi Momo, Bun. Menjadi menantu sekaligus menjadi putra dari ayah dan bunda. Kenapa bunda malah bicara aneh begini ? "
Ayu Puspita menggeleng lemah. " Tapi akhirnya kamu jadi---. "
Hega menyentak tangannya, kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu ibu mertuanya dan menggeleng kuat-kuat. " Tidak, jangan katakan apapun, Bun. Hega tahu apa yang akan bunda katakan. Sekali lagi Hega tegaskan, Momo masih hidup, Bun. Istri Hega masih hidup. Dan Hega akan menemukan Momo secepatnya. "
" Hega---. " Manik mata yang mirip dengan milik istrinya itu menatapnya dengan berkaca-kaca.
" Hega berangkat, Bun. Momo akan marah kalau Hega mengabaikan tanggung jawab Hega di perusahaan karena masalah pribadi Hega. " Sambung Hega dengan nada dingin saat melihat sang ibu hendak kembali membuka suara.
" Bunda cuma tidak ingin kamu---. "
Lagi-lagi Hega menggeleng. " Jangan diteruskan, Bun. Hega pamit. Assalamualaikum. " Pria itu bangkit dan meninggalkan kamarnya setelah mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Meninggalkan wanita itu di sana dengan segala kesedihan yang berkecamuk di dalam hatinya.
Ayu Puspita masih terdiam di sofa menatap punggung menantunya yang semakin menjauh dan menghilang di pintu.
Menghela nafas berat dan menunduk lemah. Saat hendak bangkit, bola mata yang sedikit membengkak itu menatap pigura besar foto pernikahan Hega dan Moza.
Wanita itu meremas jemarinya, hatinya juga sangat sakit. Ibu mana yang tidak hancur mendapati kenyataan jika putrinya pergi terlebih dulu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Setelah putra sulungnya, kini putri satu-satunya yang ia jaga bagaikan permata juga telah pergi darinya.
Tinggal Ryuza, si bungsu yang kini juga berada jauh darinya.
Ayu tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya si bungsu. Jika dia mengetahui apa yang menimpa kakak perempuannya satu-satunya.
Ayu melangkah keluar dari kamar putrinya dengan gontai. Di depan kamar, suaminya-Ardi Dama sudah menunggu dengan wajah sedihnya.
Melihat bagaimana ekspresi menantunya-Hega, saat keluar kamar tadi. Ardi sudah bisa menebak apa hasil pembicaraan istrinya dengan menantu mereka itu.
" Sabar ya, Bun. Kita tidak bisa memaksa Hega, biarkan saja dulu. Nanti perlahan anak itu juga akan bisa mengerti. "
" Tapi bunda tidak mau melihat Hega semakin hancur ketika sadar jika harapannya dan keyakinannya ternyata---. "
Ardi Dama menarik istrinya kedalam pelukannya, tangannya mengusap dan menepuk lembut punggung wanita yang telah memberikannya 3 anak itu.
" Ssshhhh. . . Sudah, bagaimanapun kita tidak bisa memaksakan hati seseorang, bun. Kita orang tua Momo saja sehancur ini. Ayah tidak bisa membayangkan sehancur apa hati Hega saat ini. Jadi biarkan waktu yang akan menyembuhkannya. Kita hanya perlu berdoa untuk kebaikannya. "
" Iya, Yah. " Ayu mengangguk dalam pelukan suaminya.
" Ayo kita turun, semua keluarga sudah menunggu di bawah. Kita akan pulang hari ini. "
" Bunda mau mengadakan pengajian di rumah, Yah. " Ayu menatap suaminya sendu saat keduanya sudah berada di ruang tamu lantai satu.
Berkumpul dengan keluarga Saint, namun tentu saja Hega sudah tidak ada disana. Pria itu memilih untuk langsung berangkat bekerja tanpa sarapan bersama keluarganya.
Lebih tepatnya Hega menghindari pembahasan tentang istrinya. Yang justru akan memancing kembali amarahnya.
" Nak Ayu, sebaiknya kita tunda dulu. Jangan memancing emosi Hega. Bagaimanapun anak itu belum bisa menerima kenyataan, kita doakan saja yang terbaik. Jika memang keyakinan Hega benar, semoga Tuhan segera mengembalikan Moza. " Sela Suryatama .
" Ayu juga berharap Momo kembali, Om Surya. Tapi jika jenazah itu memang sungguh Moza, Ayu juga tidak tega jika putri Ayu satu-satunya pergi tanpa ada yang medoakan. " Lirih Ayu Puspita disela isak tangisnya yang masih tersisa.
" Sebaiknya kita tunggu hasi DNA. Meskipun ciri fisik jenasah identik, tapi kita berharap saja DNA-nya berbeda. "
" Ayu juga berharap begitu. "
" Kita tetap mengirim doa untuk jenazah, siapapun itu, kita sebagai sesama muslim harus saling mendoakan saudara kita. Kita berdoa saja semoga kayakinan Hega benar. "
...****************...