FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 170 • Ketika Hati Yang Bekerja, Bukan Logika



Kekacauan ini terjadi sejak insiden tiga hari yang lalu. Hari dimana sebuah petunjuk keberadaan Moza ditemukan. Sekaligus membawa berita yang bagaikan sebuah bom yang meluluh lantakkan hati semua anggota keluarga.


Saat itu ketika Hega sedang menenggelamkan dirinya di tumpukan pekerjaan. Di ruang kerjanya di lantai 15, netra hitam pekatnya dibalik kacamata tanpa bingkai itu terus fokus pada latar macbook dan berkas-berkas perusahaan.


Tidak peduli berapa banyaknya, tapi raga pria itu seolah tidak merasa kelelahan. Setidaknya dengan mengisi waktunya dengan bekerja, pikirannya akan tetap terjaga kewarasannya.


Tok tok


Tidak lama setelah ketukan pintu sebanyak dua kali, pintu besar ruangan langsung terbuka. Kode 2 ketukan hanya akan dilakukan oleh satu orang saja, Ragil Anggara.


" Tuan Muda. Ada petunjuk. " Kalimat yang keluar dari mulut Ragil Anggara sontak membuat Hega menghentikan kegiatannya.


" Katakan ! " Ucapnya setelah melepas kacamata baca yang sudah bertengger di hidung mancungnya sejak lima jam lalu.


" Satu jam yang lalu, nanochip yang ada di liontin nona Moza aktif. "


Deg


**** ! Kenapa Hega tak terpikirkan dengan nanochip itu ?


Tapi kalaupun kepikiran pun, tidak ada cara melacak keberadaan istrinya jika benda yang tertanam di salah satu berlian yang ada di liontin istrinya itu tidak aktif.


Sedangkan benda itu hanya akan aktif dalam dua kondisi saja.


Sial !!!


" Gara ! "


" Kita harus bergegas menuju lokasi, Tuan Muda. Orang-orang kita sudah terlebih dulu menuju TKP. " Ragil Anggara melirik jam tangan miliknya, " Melihat waktu tempuhnya, sepertinya tidak lebih dari dua jam lagi mereka akan tiba di lokasi. "


" Siapkan mobil, jangan buang-buang waktu. " Hega bangkit dan menyambar jas nya di capstock dan memakainya.


" Tapi Tuan Muda. "


" Apa lagi Gara ?! "


"  Kita harus menyiapkan diri dengan kemungkinan yang ada. "


" Apa maksudmu ? "


" Tuan Muda tentu tidak akan lupa jika nanochip itu disetting agar aktif di kondisi tertentu bukan ? " 


Brukk


Hega langsung merasa lemas, bahkan kakinya kehabisan tenaga menopang berat tubuhnya. Hingga tubuh besar itu kembali terduduk di kursi kebesarannya.


Dua kondisi tertentu.


Yang pertama adalah panas api diatas seratus derajat Celcius. Dan kedua adalah suhu dingin dibawah lima derajat celcius.


Yang artinya dua kemungkinan itu adalah jika istrinya dalam keadaan bahaya. Berada di antara api atau tenggelam di laut dalam.


Tidak !!!


Tiga jam Hega menempuh perjalanan menuju lokasi dimana jejak gps liontin itu berada.


Namun sejauh mata memandang hanya terlihat hutan belantara. Dan satu bangunan yang telah habis terlelap api.


Lagi-lagi jantung Hega terasa akan lepas dari tubuhnya. Dengan langkah kaki panjangnya, pria itu turun mendekati bangunan yang sepertinya baru selesai dievakuasi setelah pemadaman api.


Tim medis tampak keluar dari dalam bangunan dengan mendorong sebuah brankar. Diatasnya terbaring jenazah yang sudah ditutup kain putih.


Hega terdiam, ekspresinya datar. Pria itu bahkan tidak merespon ucapan Ragil Anggara yang sedari tadi memberi laporan.


" Tuan Muda. " Barulah saat sebuah tepukan mendarat di bahunya, pria itu kembali tersadar.


" " Namun tetap tidak bersuara, Hega hanya menatap asisten pribadinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Kalung ini ditemukan di leher jenazah. "


Deg. . .


Netra beriris hitam pekat itu menatap benda di telapak tangan Ragil Anggara.


Kalung berliontin berlian berbentuk hati. Benda yang ia desain khusus setahun yang lalu untuk istrinya.


Tangannya terulur menerima benda itu dari Ragil Anggara.


" Jenazah yang barusaja dibawa oleh team medis adalah korban tunggal. Sepertinya semua komplotan penculik sudah lebih dulu pergi sebelum membakar bangunan. Team penyidik masih melakukan penyelidikan terhadap tkp. "


Hega tidak sedikitpun merespon, pikirannya hanya tertuju pada kalung di tangannya. Entah kenapa rasanya saat melihat jenazah tadi, tidak ada sedikitpun getaran di hatinya.


Baik itu kesedihan, luka ataupun perasaan sentimental lainnya. Seolah hatinya tidak mengenali sosok itu sebagai seorang yang memiliki kedekatan secara emosional dengannya.



Hueek. . . Hueek. . .


Sudah ketiga kalinya sejak pagi tadi pria itu berada di wastafel dengan wajah memucat setelah memuntahkan isi perutnya.


Hega menggenggam erat kalung berliontin bentuk hati yang ia temukan tiga hari lalu.


Kalung itu berada di leher jenazah yang terbakar hangus di dalam sebuah gudang kosong yang ada di dekat hutan.


Netra beriris hitam pekat itu tampak memerah di pantulan cermin. Menatap lekat liontin berinisial H&M di tangannya.


Meskipun kalung itu ditemukan bersama jenazah seorang wanita. Tapi Hega meyakini jika jenazah itu bukanlah istrinya.


Hatinya tidak akan berdusta. Mau keluarganya atau seluruh dunia mengatakan jika istrinya sudah tiada pun. Hega tidak akan percaya sebelum kedua matanya melihat tubuh nyata istrinya. Dan hatinya meyakini jika wanita itu istrinya.


Setelah membasuh wajahnya, Hega memasang kembali kalung istrinya melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Setidaknya dengan melihat liontin itu, Hega akan merasa istrinya bersamanya. Memberi kekuatan padanya, meskipun ia tak tahu dimana raga wanita yang paling ia cintai itu kini berada. Tapi Hega yakin istrinya masih ada di dunia yang sama dengannya.


" Tuan Muda, apa perlu saya panggilkan dokter Derka ? " Tawar Ragil Anggara saat melihat Hega keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.


" Tidak. Aku hanya butuh istirahat sebentar. "


" Tapi anda kelihatan tidak sehat, sudah sejak pagi anda terus muntah. "


" Ini hanya efek dari pola makanku yang berantakan akhir-akhir ini. Nanti akan normal setelah beberapa hari. "


" Tapi Tuan Muda---. "


" Apa sekarang kau sudah berani membantahku, Gara ?! " Nada suara Hega naik beberapa oktaf.


" Saya tidak berani. Maafkan saya, Tuan Muda. "


" Apa jadwalku hari ini ? "


" Tidak ada jadwal pertemuan sampai dengan lusa. Tuan Muda hanya ada satu jadwal virtual meeting dengan team IHT untuk laporan akhir mereka perihal siapa saja yang akan dijadwalkan kembali ke Indonesia dan mengurus IHN. "


" Hm. Bagaimana perkembangan pencarian ? "


" Saya sudah mengirim tim khusus untuk melacak keberadaan Raditya, tapi orang itu seolah hilang ditelan bumi. Bahkan kita tidak bisa melacak siapa orang yang berada di belakangnya dan membantu pergerakannya. "


" Cctv penjara LA ? "


" Diretas. Hecker yang bekerja di bawah GIG masih terus berusaha mencari celah. Tapi sepertinya pihak lawan bukan orang sembarangan. "


Hega memijat pelipisnya, siapa sebenarnya yang sudah berani main-main dengannya. Apa sebenarnya motif orang ini ? Kenapa orang itu bahkan sengaja merekayasa seolah istrinya telah meninggal dalam kebakaran.


" Bagaimana dengan Rumah Sakit Raharsa ? "


" Pihak keamanan rumah sakit juga sedang diselidiki. Bahkan Dokter Derka juga sedang mencari dokter wanita yang saat itu memeriksa Nona. "


" Ya, aku hampir lupa dengan hal itu. Dimana dokter wanita itu ? "


" Hari itu kebetulan adalah hari terakhir dokter itu bekerja sebelum cuti. Karena sebenarnya hari itu dia hanya datang untuk memeriksa berkas. Tapi saat pengawal nona membawa nona kesana dan langsung menyebut nama dokter Derka. Dokter itu langsung bersedia menangani Nona. Jadi dokter itu bertugas menggantikan dokter Derka yang sedang tidak ada di tempat. Dan di hari berikutnya, dia pergi bulan madu sesuai rencana cutinya. " 


" Jadi belum ada keterangan dari dokter itu apa yang terjadi di ruangan pemeriksaan hari itu ? "


" Belum, karena memang tidak ada saksi lainnya. "


" Cari dokter itu dimanapun dia berada, dan bawa dia ke hadapanku secepatnya ! "


" Saya sedang melacak keberadaannya, dari keluarga mengatakan jika dokter itu berencana berkeliling ke beberapa negara di Eropa. Terakhir jejaknya ada di Paris, orang kita sedang mengecek di Charles de Gaulle Airport. Dan memastikan boarding pass atas nama dokter tersebut. "


" Hm. Kerja bagus, Gara. "


" Tuan Muda-- "


" Hm ? Apa masih ada laporan lainnya ? "


" Tidak, Tuan Muda. Hanya saja---. "


Hega menatap tajam Ragil Anggara, seolah bisa membaca pikiran pria itu. " Gara, aku tidak gila, dan aku tidak sedang terobsesi dengan khayalan semata. Kau akan tahu rasanya jika kau menemukan belahan jiwamu dan merasakan sendiri bagaimana hatimu yang bekerja, dan bukan logika. "


" Dan kupastikan, jenazah di gudang itu bukan istriku, Gara. Dan jika kau memang setia padaku, maka satu yang harus kau lakukan adalah selalu berada di belakangku apapun keputusanku. "


" Tapi jika kau masih meragukan keyakinannku, maka pergilah dari hadapanku secepatnya ! " Tegas Hega mutlak tanpa bantahan.


" Baik, Tuan Muda. Saya percaya dengan keyakinan anda, dan saya harap nona segera ditemukan. "


" Hm. Pergilah. Katakan pada Anita untuk menjadwal ulang inspeksi divisi di minggu ini. "


" Baik. "


Sepeninggal Ragil Anggara, Hega menghempas punggungnya di sandaran kursinya. Netranya terpejam menata kembali hati dan pikirannya agar bisa memutuskan langkah selanjutnya.


Banyak kejanggalan dalam insiden kebakaran itu yang membuat Hega semakin yakin jika menghilangnya sang istri bukanlah kasus penculikan biasa.


...****************...


...Baca Gratis aja susah diajak komen dan like, apalagi disuruh baca yang berbayar hahahayyy....


...NGENES jadi penulis remahan....