
...☆☆☆...
Hega masih memilih diam, selain menunggu reaksi Bara, juga karena Hega masih belum mendapat laporan dari Gara perihal situasi terbaru perusahaan pribadinya.
" Sebenernya apa yang terjadi saat lo ke LA, Ga ? Kenapa tiba-tiba Graham Corp menaikkan harga disaat-saat terakhir menjelang pembaharuan kontrak kerjasama kita ? "
Ahhh, ternyata si tua Graham itu sudah bertindak sejauh itu.
Hega masih tetap bergeming, sepertinya ia mulai menyadari efek pertemuan singkatnya dengan pemilik pertambangan batu berlian itu.
" Gue denger dari direktur eksekutif HEART, kalo lo sempet bersitegang dengan pak tua itu dan berakhir dengan dia keluar dari kantor HEART dengan wajah masam. "
" Sebenarnya apa yang kalian bahas disana si, Ga ? "
Julian yang tak tahu apa-apa masih memilih diam, toh tujuannya hari ini ikut adalah untuk bertemu dengan Ragil Anggara dalam rangka membicarakan pembagian tugas sebagai asisten pribadi Hega. Dan belum kapasitasnya ikut nimbrung berbicara saat ini.
" Gara. " Hega melirik sekilas pria yang sedari tadi berdiri tenang di sampingnya.
Pria itu maju satu langkah, menyerahkan tab 10 inch di tangannya, Hega membacanya sekilas, tepat pada poin yang sengaja di beri tanda sebelumnya oleh Gara.
Kemudian meletakkan tab itu di atas meja dan mendorongnya tepat di hadapan Bara.
Alis Bara terangkat sedikit, melirik Hega dengan tatapan penuh tanya, " Apa ? "
" Lihat saja sendiri ! " Ujar Hega datar.
Bara menyaut tab di depannya, membacanya dengan ekspresi penasaran. Keningnya sesekali mengerut, mencoba mencari dimana letak permasalahannya.
" Gara. " Tegas Hega saat melihat rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu seperti belum menemukan jawaban.
Gara mengangguk dan mendekati sahabat Tuan Mudanya itu. Menyentuh layar tab di tangan Bara dan mengetuknya dua kali untuk memberi efek zoom.
Bara trkekeh saat melihat apa yang ditunjukkan oleh Gara, " Jadi si tua itu cuma mau perpanjang kontrak anaknya buat jadi brand ambasador HEART ? "
Hega memijit keningnya sekilas kemudian menautkan kedua tangannya di atas lututnya yang duduk bersilang, " Lebih tepatnya si tua itu menawarkan putrinya sebagai syarat untuk perpanjangan kontrak dengan perusahaan kita. "
Dua hari yang lalu,
Setelah penerbangan dari privat island menuju Paris dengan agenda berburu oleh-oleh, sebelum pulang ke Indonesia seperti rencana sebelumnya Hega akan singgah terlebih dulu di LA untuk menyelesaikan urusannya di kantor pusat HEART.
Lebih tepatnya bertemu salah satu partner bisnis HEART yang cukup penting.
Hega berjalan di koridor kantor yang sudah lama tidak ia pijak itu, terakhir kali mengecek perusahaan pribadinya itu adalah sekitar setengah tahun lalu saat insiden korupsi Raditya.
" Kak, aku mau ke toilet dulu. " Hega menoleh ke arah istrinya yang berada di sampingnya, berjalan beriringan dengan bergandengan tangan.
Kejadian yang tak ayal membuat hampir seluruh karyawan HEART bertanya-tanya siapakah gerangan wanita cantik yang tampak begitu intim dengan CEO mereka itu.
" Di ruanganku saja. "
" Ya ? "
Hega mendorong pintu ruangannya, mengusuk pucuk kepala wanitanya, " Sayang, kamar mandinya ada di sana, kamu juga bisa istirahat di ruangan yang ada di sebelahnya sambil menungguku. " Moza mengangguk dan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh suaminya.
" Tuan Muda, Tuan Besar Graham sudah menunggu di ruang rapat. "
Hega menoleh, " Atur pertemuannya di ruanganku saja, aku tidak mau meninggalkan istriku terlalu jauh. " Ucapnya sembari kembali menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
" Tapi, Nona ? "
" Gara, bukankah lebih baik kalau dia tahu aku sudah menikah ?! Setidaknya itu bisa membuatnya berpikir ulang untuk melanjutkan niat terselubungnya selama ini. "
Gara mengangguk paham maksud ucapan atasanya itu, " Baik, Tuan Muda. Segera saya siapkan. "
Bara terbengong sesaat masih belum terkoneksi dengan baik perihal cerita singkat pertemuan Hega dan pemilik Graham Corp itu.
" Apa maksudnya ? "
" Tuan Graham menawarkan pernikahan bisnis antara tuan muda dengan putrinya. " Sahut Gara singkat namun mampu membuat Bara dan Julian menganga karenanya.
" APAAA ??? " Teriak keduanya kompak.
" Ck, pelankan suara kalian ! "
" Heh, Ga ! Jangan becanda lo ! "
" Tapi--- "
" Intinya, kita harus cari perusahaan lain yang juga memiliki akses pertambangan batu berlian yang kualitasnya tidak jauh berbeda dengan milik keluarga Graham. "
" Jangan bilang lo mau ganti rekan bisnis ? "
" Mereka memang rekan paling kompatibel, tapi ada kalanya kita harus memiliki rencana cadangan, Bar. Kita tidak bisa mengandalkan satu rekanan saja. "
" Gila lo, Ga !!! Lo tahu kan saat ini HEART lagi berada di puncak keemasannya, tidak hanya artis atau pejabat, tapi banyak kalangan sultan di hampir seluruh penjuru dunia rela mengantri untuk bisa memiliki salah satu produk HEART untuk jadi koleksi mereka. " Bara mulai berargumen dengan mengandalkan fakta perusahaan.
" Dan untuk mengganti rekanan tidak semudah itu, kita butuh banyak pertimbangan dan evaluasi pada perusahaan-perusahaan yang akan menjadi rekanan kita. Lo tahu kan pesanan yang masuk setelah lounching produk akhir tahun itu berapa banyaknya ?! "
" Lagipula gimana kita bisa cari rekanan dengan standart yang menyamai Graham Corp ? Jangankan menyamai, untuk cari yang satu level di bawahnya pun pasti butuh waktu, sedangkan waktu kita sudah mepet, Ga. " Bara mengacak rambutnya frustrasi. .
" Kita nggak bisa main asal comot rekan baru, apalagi kalo sampai berita putusnya kontrak kerjasama antara HEART dan Graham Corp tersebar keluar. Itu bisa secara tidak langsung merugikan citra perusahaan kita. "
" HEART memang terkenal dengan limited and elegance design nya, tapi HEART bisa sukses seperti ini juga karena mereka tahu jika rekan kita adalah pertambangan terbaik di dunia, Ga. " Bara masih terus mengomel.
" Kita bisa dianggap curang dengan sengaja menurunkan kualitas batu berlian yang kita pakai jika pihak luar tahu kita mengganti rekanan bisnis. "
Hega masih diam saja menunggu Bara selesai mengomel, pria itu terlihat berhenti bicara dan terus memijat pelipisnya.
Hega tersenyum smirk tipis, " Jangan bilang kalo lo mengira gue ambil keputusan ini tanpa pertimbangan apapun, Bar ?! "
Bara mendengus pelan, " Iya juga si, tapi tetep aja Graham Corp itu perusahaan pertambangan batu berlian dengan kualitas terbaik di dunia, Ga. Lo harusnya--- "
Hega mendelik tajam menatap Bara, " Harusnya apa ? "
" Hehehe. . . Coba aja lo belom nikah ya, Ga. " Gumam Bara lirih sambil menggaruk belakang telinganya.
Bugh. . .
" Aduh, baru juga ketemu setelah seminggu berpisah udah kangen lo nimpukin gue, Ga. " Dumal Bara sambil mengelus kepalanya yang baru ditumpuk dengan bantal sofa.
" Makanya kalo punya mulut itu jangan asal ngomong, Bar. Mau gue udah nikah apa belum, gak ada gue niat buat nikah karena bisnis, apalagi sama--- "
" Ck, dasar lo jual mahal. Orang si Sena cantik dan seksi gitu, dan dia udah lama juga jadi model setiap ada pameran berlian perusahaan kita. "
Hega berdecak malas, " Buat lo aja. Gue nggak minat. "
" Cih, kalo dia mau sama gue mah gue kagak nolak. " Tidak merespon gerutuan Bara, Hega malah merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari sana.
Tut tut tut. . .
Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya panggilan tersambung.
📲 ( Halo, Ga. Yang habis bulan madu nih, tumben telfon gue. Kenapa ? )
^^^📲 " Al, si Bara mau nikah sama model yang jadi brand ambasador perusahaan berlian gue--- "^^^
Tuh tur tut
Panggilan langsung terputus setelah Bara berhasil merebut ponsel Hega.
" Dasar siyalan lo, Ga. Bisa mati gue sama Aliza nanti. "
Hega merebut kembali ponsel miliknya, tersenyum iblis ke arah Bara, " Kan lo yang tadi bilang mau nikahin anaknya si tua Graham itu. "
" Hish, enak aja nikahin. Kalo ngawinin gue mau, kalo nikah mah gue cuma maunya sama si Aliza. "
" Ck Ck Ck. . . " Julian hanya bisa berdecak, sama halnya dengan Gara yang geleng-geleng kepala di samping Hega.
" Dasar edan. " Sedangkan Hega pastilah langsung memaki.
Lagipula apa yang bisa diharapkan dari casanova si otak s*langkangan macam Bara yang katanya ngaku insyaf itu. Entahlah, apa Bara memang benaran insyaf atau hanya ngaku-ngaku insyaf. Wallahualam.
...▪▪▪▪▪▪...
...Tenang aja, konflik nggak akan berat kok....
...Yang berat itu rindu (kata Dilan), ehh salah ding, yang bener tuh lebih berat menunggu author update tapi gak nongol-nongol....
...Tul gak ??? hahaha...
...Hem, btw menurut kalian lebih lebih seru ada pelakor apa pebinor si ?...