FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 135 • Suami Idaman, Super Duper Penyayang



Apa yang dikatakan Mega tentu tidak salah, karena yang apa yang kita lihat belum tentu seperti yang kita pikirkan.


Karena itulah kita sebaiknya menjaga persepsi kita, jangan gegabah menilai sesuatu seperti kelihatannya.


Jangan sampai kita menanggung resiko yang tak terbayangkan karena kita salah menilai dan menyimpulkan sesuatu tanpa berpikir.


Beberapa karyawan wanita yang merasa sedang terancam karirnya itu mendengus kesal pada komentar Mega yang bukannya memberi penghiburan, justru sebaliknya semakin memojokkan dan mengecilkan harapan mereka.


Tapi bagaimanapun juga mereka harus menahan diri agar tak semakin terperosok dalam, toh hanya pada Anita mereka bisa meminta tolong. Jadi mereka tak mau menambah masalah dengan mencari masalah baru dengan staff dari sekretaris Presdir itu.


Sedangkan Ragil Anggara, pria itu sama dinginnya dengan Presdir mereka. Sangat kecil kemungkinan untuk bergantung pada pria itu.


Karena prinsip pria itu hanya satu, apapun perintah Tuan Mudanya adalah titah mutlak.


Mendengar permohonan mereka, Anita hanya bisa menggelengkan kepalanya, kepalanya langsung nyut-nyutan.


Bukan tidak bersedia membantu, tapi sungguh Anita juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Anita juga tidak tahu harus berkata apa, karena wanita itu tahu persis bagaimana tegasnya sang Presdir dalam mengambil setiap keputusan.


Pria itu bukan tipikal pimpinan yang mudah terbawa emosi dalam mengambil keputusan.


Tapi disini para karyawati itu tetap salah. Entahlah, Anita tak mau berjanji apapun. Karena wanita itu tak yakin jika Presdir akan bisa berubah pikiran.


Apalagi hal ini menyangkut sang istri, Anita adalah salah satu saksi mata betapa besar cinta sang Presdir pada istrinya.


Menghela nafas berat, Anita memindai satu per satu karyawan yang mengerubuninya.


" Yang dikatakan Mega itu tidak salah, kalian disini untuk bekerja, bukan untuk mengomentari orang lain. Lagipula jika seandainya bukan istri Presdir sekalipun, kalian tidak berhak berbicara hal yang tidak-tidak sesama karyawan. Paham ? "


Mereka hanya bisa menunduk dan mengangguk pasrah. Membela diri macam apapun, posisi mereka tetap salah.


" Kalian berdoa saja semoga Presdir akan merubah keputusannya, meskipun---. " Ucapan Anita meragu diakhir kalimatnya, namun hendak melanjutkan sudah terlebih dahulu terpotong oleh selaan seseorang.


" Meskipun hal itu mustahil. " Datar dan dingin, kalimat yang keluar dari pria itu terasa menghujam keras dada mereka. Pria yang dari tadi enggan berkomentar itu akhirnya kembali buka suara.


Dan sekali lagi, Ragil Anggara sungguh nyaris tidak ada bedanya dengan Hega. Dua pria itu sama-sama irit bicara, tapi sekalinya buka mulut, hanya ada dua pilihan kata yang keluar dari bibir yang sama-sama saksinya itu.


Jika bukan semanis madu, maka dipastikan sepedas cabe merah level dewa.


" Asisten Anggara---. " Mereka langsung serentak menatap pria berbalut setelan serba hitam itu dengan tatapan mata mengiba.


" Kecuali---. " Dan sungguh, lagi-lagi Ragil Anggara sangat amat menyebalkannya seperti pria yang selalu disampingnya sejak kecil itu.


" Kecuali ? " Ulang beberapa karyawati itu hampir bersamaan, wajah mereka semakin pias penuh harap.


" Kecuali jika ada keajaiban yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang. " Ucap pria itu kemudian berlalu meninggalkan kerumunan itu tanpa memperdulikan raut wajah penasaran mereka.


Tuh kan, digantungin lagi, sakitnya tuh disini. Udah gitu pria itu sama sekali tidak ada perasaan langsung pergi begitu saja.


" Sekretaris An--. Siapa yang dimaksud oleh Asisten Anggara ? "


Anita mendesah kasar, menatap lelah para wanita yang mengerubutinya.


" Siapa lagi memangnya ? Tentu saja nona Moza, istri Presdir. Hanya Nona Moza yang bisa membujuk Presdir untuk merubah keputusannya, itupun kalau Nona Moza mau. Kalau gue yang jadi Nona Moza mah, males gue bantuin orang yang udah nyinyirin gue. " Salah satu rekan Mega ikut nyeletuk saking kesalnya.


" Gita--. "


" Maaf, mbak Anita, keceplosan, hehe... Habisnya sebel. "


" Lanjutkan pekerjaan kalian, berdoa saja karena hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhirnya. Jangan lupa introspeksi diri, siapa tahu ada keajaiban. Sekali lagi saya ingatkan, kalian disini untuk bekerja, bukan untuk mengomentari tentang kehidupan orang lain. Apalagi jika yang kalian komentari adalah kehidupan dari pemilik perusahaan. "


" Baik, Sekretaris An. Kami akan melakukan seperti yang Sekretaris An katakan. " Akhirnya mereka hanya bisa pasrah, menunggu keajaiban atau menunggu surat pemberhentian kerja.



" Tunggu disini sebentar ! " Titahnya lembut pada sang istri seraya mengecup sekilas dan mengelus pucuk kepala gadis itu.


Moza hanya mengangguk menuruti permintaan sang suami.


Hega kemudian menghampiri Anita yang baru saja memasuki ruangannya, memberi isyarat agar sekretarisnya itu mengikuti langkahnya.


" Anita, hubungi dokter Derka. Minta padanya untuk segera datang sekarang juga ! Jika dimungkinkan, minta dia membawa dokter ortopedi terbaik yang ada di rumah sakitnya. "


" Baik, Presdir. "


" Satu lagi !Cari tahu apa benar penyebab istri saya terluka seperti yang dikatakannya tadi. Saya yakin ada sesuatu yang tidak beres. Kalau perlu cek CCTV. "


Anita terbengong sesaat mendengar perintah terkahir atasannya,  lalu segera mengangguk mengerti, " Baik, Presdir. Ada lagi yang anda butuhkan ? "


" Tolong kamu pesankan makan siang untuk saya dan istri saya. "


" Baik. Saya permisi. "


" Hem. "


Hega kembali menghampiri sang istri yang terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa dengan wajah menekuk.


" Kenapa ekspresi kamu begitu, hem ? "


Moza tetap mempertahankan mode diamnya dengan kedua tangan dilipat di dada. Mengabaikan suaminya yang sudah duduk di sampingnya.


" Ada apa dengan wajah imut menggemaskan kamu ini, hmm ?! " Mencubit hidung mancung Moza dengan jahil.


" Ish, aku sedang kesal tau, kak. Kenapa kakak malah bilang wajah kesal ini menggemaskan sih ? " Bibir Moza mencebik sebal.


Dan Hega malah tergelak, " Memang menggemaskan kok. Lagipula kenapa kamu kesal, yank ? Siapa yang berani membuat ratuku ini kesal, huh ?! "


" Siapa lagi memangnya ? Tentu saja andalah orangnya yang telah membuat saya kesal, huh. " Jutek Moza dengan sengaja menggunakan nada bicara formal kemudian membuang muka.


" Haiish. . . Apa lagi kesalahan yang aku buat sih, sayang ? " Pria besar itu merengek mesra, kepalanya merunduk dan merangsek di bahu istrinya.


Moza mengedikkan pundaknya yang didusel oleh suaminya. Hingga mau tak mau pria itu mengangkat kembali wajahnya.


" Pikiran sendiri ! Aku mau pergi. " Hendak bangkit namun naas, kakinya yang terkilir ternyata cukup serius. " Auwh. . . " Rintihnya kemudian dan kembali terduduk di sofa.


Hega menghela nafas berat, menaikkan kaki jenjang Moza di atas pangkuannya. Mengelus lembut area bawah mata kaki yang terlihat membiru.


" Akh. . . kak, sakiiit. . . " Moza meringis kesakitan, bahkan kedua matanya sudah berkaca-kaca saking nyerinya.


" Tunggu sebentar lagi. Aku sudah meminta Anita memanggil Derka kesini dan membawa dokter ortopedi. "


" Heeh ???? Aku cuma terkilir, kak. Kenapa repot-repot memanggil dokter Derka, segala pakai dokter ortopedi lagi. " Moza langsung merengut dengan kelebay-an suaminya.


" Diam dan menurut saja, yank ! "


" Huffft. . . Baiklah. " Moza menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan mulai memejamkan kedua matanya.


Sudah, pasrah saja jika suaminya sudah memutuskan.


Punya suami idaman yang super duper penyayang itu ada enak nggak enaknya ternyata. Tapi ya sudahlah, nikmati saja, daripada kurang kasih sayang kan.


***