FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 145 • Doa Untuk Yang Tercinta



Pagi harinya, Moza lebih dulu terbangun dari tidurnya. Meskipun sebenarnya masih sangat lelah karena suaminya meminta jatah tambahan di tengah malam, tapi Moza bertekad untuk bangun lebih dulu dari suaminya.


Dengan perlahan Moza bangkit dari ranjang setelah memindahkan perlahan tangan suaminya yang tengah memeluknya.


Netranya menyusuri sisi ranjang, seingatnya kimono satinnya semalam ada di sekitar sana, dan ternyata benda berwarna salem itu terjatuh di lantai dekat kaki ranjang.


Kedua kakinya menapaki lantai, memakai sandal rumahan, diliriknya sekilas suaminya yang masih terlelap di atas ranjang yang sudah berantakan karena perang semalam. Dengan tubuh polosnya, Moza merunduk meraih kain satin itu dan memakainya untuk menutupi tubuhnya.


Sebelum memasuki kamar mandi, Moza memungut satu persatu gaun tidur yang dilempar oleh suaminya semalam. Dua gaun tidur berwarna merah dan salem yang keduanya bernasib sama, terbelah dua.


Lagi-lagi Moza hanya bisa menghela nafas panjang melihat hasil karya yang luar biasa dari perbuatan suaminya yang tidak berperi ke-gaunan.


Apa ini hobi baru suaminya, atau memang gaun tidur model baru yang mengisi penuh lemari baju tidurnya itu memang gaun yang sengaja hanya dipakai satu kali saja lalu terbuang ke tong sampah.


Ahhh entahlah, jika orang bilang isi hati wanita sulit ditebak, maka bagi Moza isi kepala suamimya lah yang paling sulit ditebak apa maunya. Apalagi jika yang berbau ranjang, Moza sungguh kewalahan mengimbangi permintaan suaminya yang akhir-akhir ini suka aneh-aneh saja.


Moza tak tahu sejak kapan suaminya ini punya hobi merobek gaun malamnya. Dan sepertinya Moza juga harus komplain pada Sasa, kenapa semua piyama tidurnya berubah menjadi gaun tidur seperti ini.


Jangan-jangan ini juga ulah suaminya, huhhh.


Selepas mandi wajib, melihat masih ada waktu, Moza keluar dari kamar menuju mini pantry yang ada di salah satu sudut lantai 3.


Di lantai khusus untuk Hega dan Moza itu memang tidak ada dapur, tapi disediakan mini pantry, lengkap dengan lemari es dan beberapa alat elektronik seperti mini oven, mesin kopi dan pemanggang roti.


Tujuannya tentu untuk memberi kenyamanan bagi Hega dan Moza. Jika sewaktu-waktu sepasang suami istri itu ingin membuat sesuatu karena kelaparan di malam hari, terutama setelah keduanya kehabisan energi setelah berlayar menuju pulau antah berantah.


" Kak, bangun yuk, kakak belum sholat subuh loh. " Moza mengusap lengan suaminya setelah meletakkan secangkir moccacino di atas nakas.


" Eungghhh, jam berapa, yank ? Aku masih ngantuk. " Pria itu menggeliat dengan mata masih terpejam, suara serak seksi suaminya sungguh luar biasa efeknya bagi jantung Moza.


Moza mendaratkan pantatnya di pinggiran ranjang, jemarinya berpindah mengusap rambut dan turun ke pipi suaminya. " Jam 5 kurang 15 menit, kak. Yuk bangun, kak. Nanti kehabisan waktu sholatnya. "


" Lima menit lagi, sayang. " Usapan tangan istrinya justru membuat Hega semakin nyaman saja. Pria itu malah menarik tangan istrinya hingga tubuh Moza terjatuh di atasnya dengan kepala berada di dada bidang Hega.


Dengan sebal Moza menepuk bahu kanam suaminya. " Tidak boleh, ayo bangun sekarang, kak. " Tolak Moza sambil menumpukan tangannya di bahu suaminya.


" Cium dulu tapinya, yank. " Pinta Hega dengan mata masih terpejam.


" Hhhh. " Moza menghela nafas, tapi tetap saja menuruti permintaan suaminya. Mendaratkan satu kecupan di bibir suaminya.


Niatnya yang hanya sebuah kecupan hanya tinggal niat belaka, karena suaminya lebih dulu menahan belakang kepala Moza agar kecupan itu menjadi ciuman dan ******n yang dalam.


" Mmmppphhh, kakak iihhh, bangun. " Satu pukulan kembali mendarat di pundak suaminya, dan Moza bergegas bangkit dari posisi intim itu dan duduk kembali di pinggiran ranjang sembari mengusapi bibirnya yang basah karena ulah nakal suaminya.


Hega ikut duduk dan tersenyum puas setelah mendapat asupan energy di pagi hari. Sedangkan Moza malah cemberut dengan wajah merona.


Gadis itu bangkit berdiri, tapi tubuhnya ditahan oleh suaminya saat hendak melangkah menjauhi ranjang.


Kedua tangan Hega melingkar di pinggul Moza, " Cepat tumbuh di perut mama, sayangnya papa. " Lirihnya lembut dan mesra setelah mencium perut datar istrinya.


Blush. . .


Ya mmpun, gombalan macam apa pula ini Tuhan ? Kenapa jantung Moza jadi berdebar lebih hebat dibandingkan saat mendengar rayuan mesra suaminya.


Dalam hati Moza mengamini doa suaminya. Semoga Tuhan lekas mempercayai dirinya untuk mengandung benih suaminya. Memberi kebahagiaan bagi suaminya serta seluruh keluarga besar mereka yang menantikan tangisan bayi dari hasil pernikahan Hega dan Moza.



Seperti janji Hega sebelumnya, pria itu akan membawa Moza istrinya ke tempat peristirahatan terakhir dua orang yang mereka cintai. Almarhum Hyuza dan Mama Nadira.


Pagi-pagi sekali di hari Sabtu, Hega membawa istrinya terlebih dahulu ke makam wanita yang telah melahirkanya 27 tahun yang lalu. Dan setelahnya mereka akan terbang ke kota asal Moza untuk menjenguk sang kakak ipar di tempat peristirahatan terakhir putra sulung keluarga Dama.


Di sebuah pemakaman keluarga yang ada di area puncak yang sejuk dan asri.


Batu nisan berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas "NADIRA CANDRA SAINT".


Saat sang suami tengah membacakan surat Yasin untuk almarhumah ibu mertuanya itu, Moza membersihkan nisan yang sedikit berdebu itu dengan air. Kemudian menaburkan bunga mawar di atas pusara.


" Mamah, apa kabar ? Ini Momo, Mah. Mamah masih ingat Momo, kan ? Momo kecil mamah, hiks. . . " Sungguh tak kuasa rasanya menahan tangis, tapi sekuat mungkin Moza menahannya.


" Maafkan Momo yang baru datang mengunjungi Mamah, maafkan Momo yang selama ini melupakan Mamah. "


" Mah, maafkan Momo juga yang belum sempat mengucapkan terima kasih atas semua kasih sayang yang Mamah berika kepada Momo saat Momo masoh kecil. Momo yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memberikan kasih sayang yang sama seperti yang Mamah berikan pada Momo. "


" Ijinkan Momo membalas semua cinta mamah untuk Momo dengan memberikannya pada kak Hega, anak Mamah. Momo janji akan membuat kakak bahagia, Momo akan memberikan semua cinta Momo untuk Kak Hega. "


" Terima kasih juga karena Mamah telah melahirkan Kak Hega, pria yang begitu luar biasa. Terima kasih telah menghadirkan pria luar biasa ini untuk menjadi suami Momo. Terima kasih, Mah. Momo sayang Mamah. "


Setelah bertahun-tahun memori itu terkubur dalam alam bawah sadarmya. Moza tidak bisa lagi membendung perasaannya kala mengingat sosok wanita cantik yang selalu mengunjunginya dan membawakan banyak pakaian cantik dan aneka mainan saat dirinya masih kecil. Dan sungguh sakit rasanya saat ia kembali mengingat hal itu, ternyata sosok cantik bagaikan ibu peri itu sudah tidak ada lagi di dunia.


Saat kematian Nadira belasan tahun lalu, keluarganya memang belum memberitahukan pada Moza kecil tentang kabar duka tersebut. Kehadiran Hega pun kala itu memberi pengalihan pada Moza kecil yang selalu bertanya kenapa Mama Nadira-nya tidak ikut datang.


Berbagai alasan dibuat agar Moza tidak lagi bertanya tentang istri Arya Tama Itu. Hingga kecelakaan yang menimpa Hyuza dan juga mengambil nyawa kakak lelakinya itu turut membawa pula memori Moza karena serangan traumatik yang mendalam.


Moza yang tengah berlarut dalam pikirannya sendiri tersentak saat bahunya disentuh lembut oleh tangan besar yang tak lain adalah tangan suaminya sendiri. Begiu terhanyutnya dalam kenangan masa lalu hingga gadis itu tidak menyadari jika suaminya telah selesai membacakan surat Yasin untuk almarhumah sang mama.


Hega ikut berjongkok di sisi istrinya. " Mamah pasti yang paling bahagia melihat kita akhirnya bersama. Karena ini adalah keinginan terbesarnya, menjadikanmu putrinya. " Ucap Hega seraya merengkuh bahu istrinya.


" Mah, Hega pamit. Mamah harus bahagia di surga, karena apa yang Mamah impikan sudah menjadi nyata. Kami akan bahagia sesuai impian dan harapan Mamah. Hega akan menjaga tuan putri kesayangan Mamah. Hega sayang Mamah. " Hega mengusap nisan kemudian membawa tubuh mungil istrinya itu agar berdiri dan masuk dalam dekapannya.


Sama halnya dengan yang diucapkannya di pusara ibunya, Hega juga mengucapkan hal ya sama di pusara Hyuza, sahabat sekaligus kakak iparnya.


" Berbahagialah di surga Ar, seperti kamu menjaga Momo kita dengan limpahan kasih sayang dan cinta. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Seperti halnya dia adalah segalanya bagimu, dia juga adalah kehidupanku, duniaku. "


Hega dan Moza, keduanya memanjatkan doa untuk dua orang yang mereka cintai. Dan selanjutnya mereka harus terus menatap ke depan, menapaki bahagia dan saling berbagi cinta serta saling mengobati luka karena kehilangan sosok yang begitu berharga dalam kehidupan mereka.


Semoga Tuhan lekas menghadirkan penyempurnya kebahagiaan mereka. Amin.


END ^_^


***


...Jadi kangen mamahku di desa. Moga mamah sehat terus ya. Kirim cinta dan peluk onlen untuk Mamah 😘😘🤗🤗...


...Dan thanks for reading this chapter and this story till now....