
"Yes, man. Kalau ingin mendekati Audy, beritahu aku saja. Aku akan senantiasa membantumu."
"Kalau aku tidak memberitahumu, artinya aku tidak ingin kamu membantuku."
"Hmm, baiklah. Kanu tahu? Orang yang dibawah itu sekretarisku. Dia sudah bekerja sejak papa memimpin di perusahaan ini. Dan masih setia sampai sekarang. Tapi aku tidak pernah mendengarnya dia memiliki wanita."
"Dia saja yang tidak menceritakan padamu."
"Tidak mungkin. Kami sudah seperti teman. Tidak ada yang kami sembunyikan satu sama lain."
"Biarlah. Jodoh sudah ada yang atur siapa orangnya dan kapan waktunya. Kita tidak perlu memburu-burui."
"Aku tidak ingin kamu seperti dia. Dia terlalu menutup diri kepada wanita."
"Flint, kalau kamu masih membahas wanita, aku akan pulang sekarang."
"Ok ok. Calm down, bro. Aku tidak akan membahasnya lagi."
"Tapi aku tetap ingin pulang. Aku ada demo masak di beberapa tempat, heheh. See you."
Flint menghembuskan nafas kasar. "Ok lah. Hati hati di jalan."
Selepas kepergian Edgar, Flint mengangkat gagang telepon yang ada di mejanya. "Calvin, ke ruanganku."
"Ada apa?" ucap Calvin sesampainya di ruangan Flint.
"Tadi aku ke rumah Julie."
"Ngapain? Aku memberimu tugas dan kamu malah pergi ke rumah Julie?"
"Sabar.. tadi aku ke rumah Julie untuk membicarakan Gold Company. Aku sudah mengembalikan Gold Company kepada pemiliknya."
"Serius?"
"Iya. Makanya aku menyuruhmu memindahkan kepemilikan Gold Company."
"Oh, man. Akhirnya pekerjaanku berkurang."
"Ya. Semoga dengan ini, Julie berubah pikiran."
"Soal menikah?"
"Emm."
"Oh my, Flint. Idemu sangat cemerlang! Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Aku tidak kepikiran soal itu."
"Tapi aku masih belum berani melamarnya."
"Kenapa tidak? Kamu tinggal menjelaskan tentang Gold Company."
"Bagaimana kalau dia tetap menolak?"
"Utarakanlah isi hatimu. Mau sampai kapan lagi kalian berpacaran. Sudah 5 tahun."
"Baiklah baiklah. Semenjak sakit, hari hari ku menjadi produktif secara tiba tiba. Rasanya aneh aku tiba tiba menjadi seorang yang produktif."
"Hahahaha tapi aku suka melihatmu produktif dibanding hanya berpacaran saja di ruanganmu setiap saat."
"Sudahlah. Kembali sana. Aku ingin tidur."
"Tidur siang bolong? Wah..."
"Kalau aku kambuh lagi bagaimana?"
"Jangan bawa bawa sakitmu itu. Pemalas juga termasuk penyakit. Aku kembali."
Flint.
Julie.
Tidak terlalu. Kenapa?
Flint.
Kamu masih utang menraktirku.
Julie.
Baiklah nanti malam aku menraktirmu.
Flint.
Di Grand Emerson?
Julie.
T I D A K.
Flint.
Baiklah, di mana saja.
Julie.
Sampai ketemu nanti malam.
Setelah bertukar pesan dengan Julie, Flint pun segera merebahkan tubuhnya di sofa empuk miliknya. Seluruh tulang dan dagingnya sangat menikmati kenyamanan yang diberikan dari sofa tersebut. "Aku tidak ingin bangun." Flint berbicara sendiri.
"Aku yakin sofa ini tidak mengizinkanku berdiri." sambungnya.
"Ahhh enaknya."
Di samping itu, setelah Julie menutup ponselnya, ada 1 pesan masuk. Pas sekali dia belum menaruh ponselnya. Ponselnya masih di dalam genggamannya.
Papa.
Pulanglah lebih cepat hari ini.
Julie.
Baik, pa. Ada apa?
Papa.
Sampai ketemu nanti malam.
Kenapa papa menyuruhku pulang lebih cepat? Tanpa memberikan alasannya? Ada apa ya? Apa Papa sakit? Atau Mama sakit? Tapi kenapa tidak memberitahuku sekarang? Yah berarti hari ini tidak jadi traktir Flint makan. gumam Julie.
Julie.
Flint, malam ini aku tidak bisa menraktirmu. Papa menyuruhku pulang lebih cepat.
1 pesan dari Julie masuk ke ponsel Flint. "Arghhh.. aku ingin istirahat sebentar saja!!!" erang Flint saat mendengar bunyi notifikasi.
Flint.
Baiklah, kita akan pulang lebih cepat hari ini.
Ada apa papanya Julie menyuruhnya pulang lebih cepat? Apa ini ada hubungannya dengan Gold Company? Atau dengan niatku menikahinya? Ah, sudahlah sebaiknya aku tidak memikirkan lebih jauh. Lebih baik aku tidur lagi. gumam Flint.
**Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru**.