
Flint segera memakai kemejanya lalu menghampiri Julie yang berada di dekat lemari. "Julie.. julie.. ini tidak seperti drama yang kamu pikir." ucap Flint.
"Kenapa Kesha bertelanj*ng?" tanya Julie.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saat aku bangun, ada dia di sampingku." ucap Flint.
"Jangan-jangan... kalian...?"
"Tidak tidak. Tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Flint.
Julie berlari keluar dari kamar hotel.
"Jangan memperparah hidupmu yang sudah kacau balau itu Kesha. Ingat itu!" ucap Edgar kepada Kesha lalu ikut mengejar Julie.
"Hey hey.. Julie.. tunggu aku." ucap Flint.
"Hey.. Julie.. ini tidak seperti drama yang kamu bayangkan." ucap Flint ketika berhasil memegang tangan Julie.
"Lalu apa?" tanya Julie.
"Kamu tahu Kesha seperti apa kan. Dia sudah memfitnahku dua kali. Dan sekarang dia sedang memfitnahku, Julie." jawab Flint.
"Itu benar." ucap Edgar.
"Itu benar. Walaupun kita sudah mabuk, aku ingat sekali kita datang ke hotel ini hanya berdua saja. Kita berjalan saling merangkul, saling menopang agar tidak jatuh." sambung Edgar.
Julie memeluk Flint. "Aku kan sudah menyuruhmu untuk berhati-hati." ucap Julie yang sedang berada di dada bidang Flint.
"Maafkan aku." ucap Flint.
Alih-alih kesal, Julie malah tersenyum lebar di dada bidang Flint. Senyumnya lebar seperti baru saja memenangkan lotre.
"Ayo pulang. Ed, mau kita antar?" tanya Flint.
"Tidak usah. Aku naik taksi saja. Tuh ada taksi." jawab Edgar.
"Ya sudah hati-hati." ucap Flint.
Julie dan Flint kemudian masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah.
"Kebiasaan buruk. Kalau sudah minum tidak pernah berhenti kalau belum mabuk. Lihat, kamu sudah punya Luke. Tidak pantas lagi mabuk-mabukan pesta fora." bentak Sara ketika Flint sampai di rumah.
"Maaf ma.." ucap Flint.
"Minta maaf pada istrimu. Pagi-lagi buta sudah bangun untuk menjemputmu." ucap Sara.
"Iya iya."
"Mandi sana! Jangan sampai Luke mencium bau tubuhmu yang menyengat itu karena alkohol!" bentak Sara.
"Iya iya. Aku tidak akan mabuk lagi." jawab Flint kemudian naik ke kamarnya.
"Tadi kamu jemput Flint di hotel mana?" tanya Sara.
"Di samping bar Drunker. Flint tidur bareng Edgar." jawab Julie.
"Iyakah? Bagus deh. Biasa kalau bareng Edgar, tidak akan terjadi apa-apa dengan Flint. Edgar seperti jimat penangkal masalah hahaah.." kata Sara.
"Benarkah? Baguslah. Semoga tidak terjadi apa-apa." ucap Julie.
Setelah menghabiskan sarapannya, Flint dan Julie berangkat ke kantor. "Sudah bisa bawa mobil kah?" tanya Sara.
"Iya. Rasa mabukku sudah hilang." jawab Flint.
"Titip Luke ya, ma." ucap Julie.
"Iya. Hati-hati kalian." kata Sara.
Flint dan Julie berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, Flint tidak berhenti mondar-mandir di dalam ruangannya. Tentu hal itu mengganggu Julie yang sedang bekerja.
"Pant*tmu bisulan? Tidak bisakah kamu duduk?" kata Julie.
"Bagaimana? Haruskah aku memecat Kesha sekarang juga? Bagaimana ini?" ucap Flint.
"Masalahnya setelah tidur aku sudah tidak ingat apa-apa. Bahkan aku tidak sadar kalau dua membuka bajuku." jawab Flint.
"Jadi, kamu takut kalau apa yang ada di drama malah menjadi kenyataan?" tanya Julie.
"Bu.. bukan begitu." jawab Flint.
"Aku tidak ingin dimadu." kata Julie.
"Bu.. bukan begitu, Julie." ucap Flint.
"Lalu? Seperti apa?" tanya Julie.
"Ya.. begitu.." jawab Flint.
"Sudah kubilang Kesha selalu membuat rencana murahan, kuno. Sandiwaranya gampang ditebak. Mungkin beberapa minggu lagi dia akan datang kepadamu dan memberikan hasil testpack positif." kata Julie.
"Sssttt.. jangan berbicara seperti itu. Omongan adalah doa loh." ucap Flint.
"Flint.. aku masih berusaha tidak marah kepadamu karena kita semua belum tahu apa yang dilakukan Kesha kepadamu semalam. Kalau benar dia hamil, akan kulempar surat perceraian ke wajahmu." kata Julie.
Flint menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau seandainya dia hamil, itu karena dia sendiri. Aku saja tidak merasakan apa-apa semalam. Kehadiran anak itu bukan keinginanku." ucap Flint.
"Bukannya sudah kubilang kepadamu untuk berhati-hati kalau ada Kesha? Kenapa kamu mendadak jadi orang bodoh ketika berhadapan dengan Kesha? Ingin atau tidak ingin, anak itu tetap anakmu. Berasal dari sel spermamu." kata Julie.
"Aaarrghhh..!!" Flint menggaruk-garuk kepalanya. Dia membanting tubuhnya ke sofa.
"Apalagi ini ya Tuhan..." ucap Flint di sofa.
"Huft.. mau memecatnya? Tidak ingat waktu itu saat aku menurunkan posisinya dia langsung bertindak? Bagaimana kalau memecatnya? Menghadapi dia saja kamu seperti orang bodoh bagaimana mengatasi tindakannya nanti." kata Julie.
"Kamu tidak perlu mengeluarkan kata-kata untuk merendahkanku. Aku tahu apa yang harus kulakukan terhadap masalah ini." ucap Flint.
"Jangan bertindak gegabah. Kamu masih suamiku." kata Julie.
"Apa maksud 'kamu masih suamiku' ? Kamu berharap kita akan berpisah nantinya? Sadarkah apa yang kamu ucapkan barusan? Kamu mengucapkan hal itu seolah-olah kita akan berpisah. Apa kamu sudah ingin berpisah?" ucap Flint.
"Tidak ada maksud seperti itu. Aku mengucapkan itu karena aku mengkhawatirkanmu, kamu masih suamiku, aku masih istrimu. Setiap ada masalah yang terjadi padamu, itu juga menjadi masalahku begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kamu harus mendiskusikan terlebih dahulu kepadaku. Bukankah begitu?" kata Julie.
"Kamu bisa bilang 'Jangan bertindak gegabah. Kamu suamiku. Aku khawatir padamu.' Tidak perlu memakai kata 'masih' seolah-olah kita akan berpisah saja." ucap Flint.
"Kalau Kesha terbukti hamil anakmu, tentu kita akan berpisah. Bukan akan, tapi pasti. Aku tidak bisa berbagi orang yang kucinta kepada wanita lain." kata Julie.
Flint menggaruk kepalanya. "Come on, Julie. Aku tidak menginginkan ini, kamu tahu itu." ucap Flint.
"Jadi? Kamu ingin membuang anak itu? Bagaimana kalau perbuatanmu tercium oleh publik?" kata Julie.
"Mengapa kita harus membahas ini? Padahal belum tentu Kesha akan hamil." ucap Flint.
"Tentu kita harus membahasnya untuk berjaga-jaga." kata Julie.
"Memangnya kamu yakin Kesha akan hamil?" tanya Flint.
Julie terdiam. "Memikirkan Kesha hamil anakmu cukup membuatku sedih. Pertanyaanku, bagaimana kalau dia hamil?" ucap Julie.
"Itu menjadi urusanku. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Kamu sudah cukup lelah bekerja di kantor dan pulang mengurus Luke." kata Flint.
"Tidak bisa. Aku sudah terlanjur masuk ke dalam masalah ini. Tentu ini juga menjadi urusanku." ucap Julie.
"Ayolah, Julie. Don't make everything so hard." kata Flint. (Jangan membuat semuanya menjadi rumit.)
"Aku tidak membuat ini semua menjadi rumit. Justru aku ingin membantumu, bersamamu ketika kamu sedang ada masalah. Tidak bolehkah?
Kamu tidak tahu? Kalau kamu menyuruhku untuk tidak ikut campur, aku merasa kamu sedang mengikis, mengurangi peranku sebagai istrimu." ucap Julie.
Flint menghampiri Julie. Memeluk Julie yang sedari tadi duduk di kursinya. "Maafkan aku yang selalu membawa masalah ke dalam hidupmu." ucap Flint.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.