
"Jadi, mantan Edgar ini namanya Kesha. Edgar, Kesha, Flint dulunya satu SMA. Edgar dan Kesha sudah berpisah lama lalu saat Young Scarlette resmi didirikan, Kesha bekerja di sana.
Dia mengincar posisiku, bukan posisi sebagai pemimpin tetapi posisi sebagai istri dan ibu dari anak Flint.
Tentu saja Audy, kehamilan dia itu tidak ada sangkut pautnya dengan kakakmu. Itu hanya akal-akalan dia saja." jelas Julie.
"Walaupun hanya akal-akalan dia, kakak mohon kamu jangan memberitahukan ini kepada siapapun, termasuk mama-papa." kata Flint.
"Wanita gila! Pokoknya ya kak. Aku tidak ingin dia menjadi kakak iparku! Jangan sampai kakak menikahi dia karena dia hamil anak kakak!" ucap Audy dengan nada tinggi.
"Ya tidak mungkin lah itu terjadi. Sebelum Kesha ingin mendapatkan kakakmu, dia harus melewati aku dulu." kata Julie.
"Benar itu. Bagaimana denganmu?" tanya Flint kepada Audy.
"Apa maksud kakak? Sudah deh lebih baik kita bahas tujuan kita berkumpul di sini." jawab Audy.
"Bagaimana skripsimu? Itu maksud kakak." kata Flint.
"Mumpung Edgar ada di sini.." ucap Julie terpotong.
"Sudah sudah. Bagaimana Young Culinary?" tanya Audy.
"Ah benar juga. Bagaimana dengan kita?" sahut Audy.
Audy tertegun. Matanya melirik semua orang dan ternyata semua orang sedang melihat dia. Situasi macam apa ini?! batin Audy.
"Kamu kan sudah tahu kalau mantan Edgar ini wanita gila. Hatinya sudah hancur lebur melihat kelakukan mantannya itu. Cobalah kamu buka hati untuk dia." kata Flint.
"Apa ini? Kenapa jadi membahas ini?" tanya Audy.
"Karena kita butuh kejelasan hubungan kalian. Kerja sama yang baik berhasil dari hubungan yang baik." jawab Julie.
"Hubungan kita baik." kata Audy.
"Aku tidak merasa begitu." sahut Edgar.
"Nah loh. Bagaimana ini? Jawaban kalian berbeda." kata Julie.
"Hmm.. Julie.. kamu bilang kamu ingin berpacaran denganku? Ayo kita berpacaran." ucap Flint.
"Let's go. Kita akan berpacaran. Alangkah baiknya kalian juga berpacaranlah." kata Julie.
Julie dan Flint keluar dari ruangan, meninggalkan Edgar dan Audy. Langkah kaki mereka membawa mereka ke atap Young Building yang sejuk itu.
"Kita memperbaiki hubungan mereka tanpa sadar hubungan kita juga perlu diperbaiki." ucap Flint.
"Begitulah manusia. Hobi nya mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri." kata Julie.
"Tentang Kesha, aku punya solusi untukmu." sambung Julie.
"Apa?"
"Ikuti saja permainannya." kata Julie.
"Apa maksudmu?" tanya Flint.
"Ikuti saja permainannya. Berpura-puralah menjadi orang bodoh. Terkadang kita harus menjadi bodoh untuk mengelabui musuh." jawab Julie.
———————————————————
"Mm.. kemarin kamu bilang kamu takut salah mengartikan kebaikanku dan menyuruhku untuk berhenti.." ucap Edgar.
"Benar." kata Audy.
"Tetapi kalau aku ingin kamu salah mengartikan kebaikanku.. bagaimana?" tanya Edgar.
"Apa maksudmu?" balas Audy.
"Aku akan terus berbuat baik kepadamu sampai kamu salah mengartikan kebaikanku." jawab Edgar.
"Tapi untuk apa? Aku tidak mengerti." kata Audy.
"Supaya kamu tahu kalau aku menyukaimu." jawab Edgar.
Edgar dan Audy kini saling tatap. "Bukannya kamu juga menyukaiku? Makanya kamu takut aku baik padamu bukan karena aku menyukaimu? Bukankah begitu?" tanya Edgar.
"Aku tahu tentang kamu dan mantanmu." jawab Audy.
Masih saling bertatap-tatapan, "Oh ya? Seberapa banyak yang kamu tahu?" tanya Edgar.
"Perasaanmu." jawab Audy.
"Apa yang kamu tahu?" tanya Edgar.
Audy memalingkan wajahnya. Dia berjalan ke arah jendela di belakang meja kerja Flint.
"Kamu belum bisa melupakannya. Bagaimana bisa kamu bilang kamu menyukaiku?" kata Audy.
"Itu sudah lama sekali, Audy. Aku sudah melupakannya sejak bertemu denganmu." ucap Edgar.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kamu saja pernah bilang tidak ada salahnya kalau kalian balikan." kata Audy.
"Kakakmu yang memberitahumu? Itu sama sekali tidak benar. Ak.." ucap Edgar terpotong.
"Kenapa kalian tidak balikan saja? Kalau kalian balikan, mantanmu tidak akan mengganggu hidup kakakku. Lagi pula benar katamu. Tidak ada salahnya untuk balikan selama keduanya masih sendiri. Kamu masih sendiri, mantanmu juga masih sendiri. Kenapa tidak balikan saja?" kata Audy.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu barusan?" tanya Edgar.
Audy terdiam. "Kamu yakin Audy? Kamu yakin ingin aku balikan dengan mantanku?" tanya Edgar.
"Kenapa tidak? Kalian masih sama-sama sendiri." jawab Audy.
"Pertanyaanku, apa kamu yakin ingin aku balikan dengan mantanku?" tanya Edgar.
"Jawab aku, Audy. Kamu yakin ingin aku balikan dengan mantanku?" ulang Edgar.
"Iya, aku yakin." jawab Audy.
"Sebegitu tidak sukanya kah kamu denganku? Sampai-sampai kamu menyuruh aku balikan dengan mantanku?" tanya Edgar.
"Bukan aku tidak suka padamu hanya saja aku tidak suka aku harus mengetahui fakta kalau kamu sangat mencintai mantanmu, kamu masih memikirkan dia selama bertahun-tahun lamanya, kamu bersikeras ingin menemuinya di saat kamu tahu dia kembali ke negara ini, kamu setuju dengannya untuk balikan selama kalian masih sama-sama sendiri dan aku juga harus mengetahui fakta kalau.. kalau aku.. kalau.." jawab Audy. Nada bicaranya tinggi dari awal kata namun sangat di akhir nadanya menjadi lemah.
"Kalau apa?" tanya Edgar.
Audy terdiam sejenak lalu menghela napas panjang. "Kalau aku menyukaimu di samping itu semua." jawab Audy.
Edgar menghampiri Audy yang menatap jendela itu. "Aku bersikeras ingin menemuinya karena aku ingin tahu alasan dia memutuskan hubungan kita. Tapi kamu tahu? Setelah aku menemui dia, melihat wajah yang selama ini ingin aku lihat, pikiranku terus memikirkan kamu, bodohnya aku tidak jadi menanyakan alasan dia. Bahkan aku tidak penasaran lagi dengan alasan itu. Dan kamu tahu, hari itu tepat pertama kalinya aku membuatkan buldak untukmu." ucap Edgar.
Edgar memeluk Audy dari belakang, membenamkan kepalanya di pundak Audy. "Terima kasih sudah memberitahuku tentang perasaanmu." ucap Edgar.
Lalu Edgar bangun dan membalik tubuh Audy. "Aku ingin memberikan sesuatu untukmu, entah ini menjadi yang terakhir yang bisa aku lakukan untukmu, maukah kamu datang ke rumahku malam ini jam 6?" tanya Edgar.
Audy mengangguk. "Aku akan datang." jawab Audy
"Baiklah. Minta kakakmu untuk mengantarmu ke rumahku. Mengerti? Aku ada urusan, jadi aku akan pergi sekarang." ucap Edgar.
"Sampai jumpa. Jangan lupa datang." kata Edgar sambil melangkah pergi dari ruangan Flint.
Audy mengetik pesan untuk kakaknya.
Audy.
Flint dan Julie pun kembali. "Kenapa dia tidak mengantarmu pulang?" tanya Flint.
"Apa jangan-jangan kalian bertengkar hebat lalu kalian berpisah?" tanya Julie.
"Tidak. Kak, Edgar minta kakak antarkan aku ke rumahnya jam 6." jawab Audy.
"1 jam lagi? Kenapa tidak sekalian saja dia yang membawamu? Kenapa harus aku yang mengantar?" tanya Flint.
"Entahlah. Dia yang menyuruhku." jawab Audy.
"Flint. Sepertinya Edgar akan menembak Audy malam ini. Audy disuruh ke rumahnya, pasti Edgar memasakkan sesuatu untuk dia." bisik Julie.
"Wahhh benar juga!!" jawab Flint.
"Uhh enaknya dimasakkin makanan. Selama ini dari kamu masih menjadi pacarku, lalu menjadi suamiku, dan sekarang punya anak, kamu belum pernah masakkin aku." kata Julie.
"Itu karena aku baik. Tidak ingin menyakiti perutmu." ucap Flint.
"Baiklah, Audy. Kakak akan mengantarmu nanti. Duduklah. Mari kita membahas Young Culinary." kata Flint kepada Audy.
Tiba-tiba.. "Kak sudah 17.31, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya Audy.
"Ya baiklah kalian berangkat sekarang saja. Oh ya Audy, apa kamu tidak mau pulang dulu ke rumah? Mandi, ganti baju?" tanya Julie.
"Oh iya.. ayo kak!!" jawab Audy.
"Sabar sabar. Lebih baik kamu juga ikut kita pulang. Ini sudah lewat dari batas janji kamu." ucap Flint kepada Julie.
"Oh iya baiklah.."
Mereka bertiga pulang dan sampai pada jam 17.58. Sesampainya di rumah, Audy buru buru naik ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.
"Kenapa itu Audy lari-lari begitu?" tanya Sara.
"Mari kita makan malam sekarang. Audy tidak makan malam bersama kita. Dia akan makan malam dengan calon pacarnya." jawab Flint.
"Siapa? Edgar?" tanya Key.
"Iya. Papa setuju tidak kalau Audy sama Edgar?" tanya Flint.
"Tidak (setuju) selama dia tidak datang menemui papa." jawab Key.
"Mm gampang itu mah. Aku pikir karena Edgar bukan pengusaha." kata Flint.
"Sudah, mari kita makan." ucap Sara.
Setelah makan, baru saja Flint menghabiskan minumnya, Audy sudah turun. "Ayo kak! Sudah telat nih." ucap Audy.
"Hadeh anak ini.. kakak bahkan belum melihat Luke sejak pulang tadi." kata Flint.
"Tidak ada melihat Luke kalau belum mandi." sahut Julie.
Wanita memang rempong. "Baiklah baiklah. Ma, pa aku mau mengantar Audy dulu." pamit Flint.
"Ma, pa aku pergi dulu ya." pamit Audy.
"Semoga berhasil." kata Key.
"Jangan pulang larut malam." timpal Sara.
"Iya bye."
Audy dan Flint segera meluncur ke rumah Edgar. "Jauh tidak rumahnya?" tanya Audy.
"Paling 30 menit." jawab Flint.
"30 menit? Sekarang saja sudah 18.34." kata Audy.
"Siapa suruh mandinya lama."
Di samping itu, ada Edgar yang sedang menanti kedatangan Audy. Dia menyiapkan makan malam yang romantis. Dia membuat beef steak, dan menyediakan minuman anggur merah ditambah dengan lilin di atas meja untuk menambah suasana romantis serta sebuket bunga cantik.
"Apa dia tidak datang?"
"Tidak. Dia pasti datang. Dia sudah bilang dia akan datang."
"Tapi ini sudah lewat dari jam 6."
"Mungkin terjebat macet."
"Baiklah aku akan menunggu." ucap Edgar.
Bahkan lilin yang sudah dia nyalakan, dia tiup kembali.
Tin tin. Terdengar klakson mobil dari luar. Edgar segera membuka pintu rumahnya.
"Jangan lupa ongkos untukku. Adikku mandinya lama makanya telat." teriak Flint dari dalam mobil.
"Terima kasih sudah mau mengantar." kata Edgar.
Edgar lalu membawa Audy masuk sebelum Flint pergi. "Kurang ajar sekali mereka meninggalkanku." ucap Flint.
"Aku pikir kamu tidak akan datang." kata Edgar.
"Maaf telat. Aku sampai rumah jam 17.58. Lalu mandi, dan bersiap siap, 18.34 baru jalan.. HAHHH???" Audy yang sedang berbicara, terkejut ketika melihat ruang makan Edgar gelap tidak ada lampu.
"Eh sebentar." Edgar menyalakan api di lilinnya.
"Tadi aku matikan dulu sebelum kamu datang." kata Edgar.
"Apa ini?" ucap Audy sambil tersenyum.
Edgar mengambil sebuket bunga dan memberikannya ke Audy.
Accept me. Tulisan di kertas yang terdapat di buket.
Audy tersenyum malu. Kemudian dia mengangguk pelan.
"Seriously?" tanya Edgar.
Audy mengangguk. Melihat jawaban Audy, Edgar pun memeluknya dengan erat.
"Eh tunggu." Audy melepas pelukan Edgar.
"Ada apa?" tanya Edgar.
"Aku melihat ada sesuatu yang berkilau di bunga ini." Audy kemudian mencari-cari yang dia lihat tadi.
"Ini dia. Apa ini? Kalung?" kata Audy.
"Oh iya. Aku hampir lupa kalau aku menaruh kalung di sana. Ini untukmu. Sini aku pakaikan." ucap Edgar.
"Lihat, aku sudah mengikatmu dengan kalung ini. Jadi jangan coba-coba kabur dariku." kata Edgar.
"Tanpa diikat, aku juga tidak akan kabur." balas Audy.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.