
"Dialah yang menyimpan brankasmu." kata Flint saat berada di dalam mobil yang hanya berisikan Flint dan Calvin.
"Aku percaya kamu tidak akan diam saja." Calvin menjawab.
"Tentu."
"Seandainya dia meminta sesuatu untuk brankas itu, bagaimana?"
"Aku tidak akan memberikannya. Suruh tim keamanan dan polisi berhenti mencari dan kembali ke perusahaan."
"Bagaimana kalau dia bukan pemegang brankas? Kamu akan menyesal menyuruh tim keamanan kembali."
"Kali ini tidak. Aku yakin brankas berada di tangannya."
"Baiklah. Sudah sampai."
Mendengar bahwa dirinya sudah sampai di tempat yang dituju, dia hendak membuka pintu mobil.
"Flint." tiba tiba Calvin memanggilnya.
"Apa lagi? Aku akan mendapatkan brankasmu, tenang saja." jawab Flint.
"Bukan itu, tapi goodluck."
"Kamu tau aku selalu beruntung." jawab Flint sambil nge-wink.
Akhirnya Flint memasuki ruangan private room yang sudah dipesan oleh Jordan. Di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Apa kamu mengenalku?" Flint memulai percakapan.
"Siapa yang tidak kenal seorang Flintstern Young?"
"Benar. Untuk apa kamu mengincar brankasku?"
"Woahhh. Santai dulu. Membahas itu sekarang terlalu cepat. Kita harus mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Lagi pula, bukannya itu brankas sekretarismu?"
"Apa yang menjadi milikku sekretarisku, menjadi milikku juga. Apalagi yang harus kamu kenal dariku? Aku seorang yang terkenal, kamu tahu itu."
"Benar. Benar juga. Tapi apa kamu mengenalku?"
"Tidak penting sekali untukku mengenalmu."
"Kalau kamu tidak mengenal lawanmu, bagaimana caramu akan memenangkan sebuah kompetisi?"
"Kompetisi? Kamu menganggap dirimu sebagai lawanku? Maaf sekali, kamu tidak lain dan tidak bukan adalah seorang pencuri. Aku bisa saja membawamu ke sel tahanan."
"Lantas? Kenapa tidak kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan, bukan urusanmu."
"Seharusnya dan selayaknya kita tidak mempunyai urusan satu sama lain. Kuulangi sekali lagi pertanyaanku, untuk apa kamu mengincar brankasku?"
"Sebenarnya, aku bukan mengincar brankasmu.
Aku mengincar wanitamu."
"Siapa dirimu yang berani mengincar Julie?"
"Tanyakan saja kepada wanitamu itu. Mungkin jika tidak ada kamu, aku sudah bersamanya sekarang."
"Omong kosong. Sejak kapan dan kenapa kamu mengincarnya?"
"Sebelum kamu. Sebelum ada dirimu, kita saling mencintai."
"Begitukah? Tapi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah dia memilihku dan sudah menjadi milikku."
"Benar. Itu memang benar bahwa kenyataan itu tidak bisa dipungkiri. Tapi, kalau saja kamu tidak masuk ke dalam hidupnya, aku pasti sudah bersamanya sekarang."
"Kamu menyalahkan dengan adanya kehadiranku di hidupnya?"
"Siapa lagi yang harus kusalahkan?"
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk menyalahkan takdir? Aku bersama Julie karena takdir, even aku tidak tahu ada manusia sepertimu di dunia ini sebelum kamu datang menghampiriku."
"Aku tidak peduli dengan apa yang harus kusalahkan. Yang jelas, aku akan mendapatkan Julie kembali."
"Kamu ingin mendapatkan Julie dengan menggunakan brankasku? Oh man, the real man doesn't do that."
"Langsung to the point saja. Let's make a deal. Kamu pindahkan Julie ke perusahaanku, aku akan pindahkan brankasmu ke perusahaanmu."
"Kamu pikir Julie itu barang? Begitukah caramu memperlakukan seorang perempuan?"
"Tidak usah mengajariku."
"Menurutmu aku akan menyetujui kesepakatan bodoh itu?"
"Aku tidak peduli, itu urusanmu. Yang jelas, kamu harus memilih salah satu antara Julie atau perusahaanmu. Ehm tidak, perusahaan ayahmu."
"Kenapa aku harus memilih salah satu? Aku bisa memiliki keduanya. Sebaiknya kamu berkaca diri, siapa dirimu yang bisa menyuruhku."
"Terserah saja. Lagipula jika kamu masih bersikeras menahan Julie di perusahaanmu, perusahaanmu akan hilang sekejap mata. Julie tidak mungkin kan terus bersamamu, perusahaan kedua orang tuanya sudah bangkrut."
"Mungkinkah kamu yang menyebabkan perusahaan itu bangkrut?"
Bersambung...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.