
"Aku tidak suka ada sarang gosip di perusahaanku. Bahkan ini sudah jelas saat era papaku dulu. Aku tidak akan tinggal diam, Julie."
——————————————————
"Sepertinya kita harus menjaga jarak selama di perusahaan." ucap Julie di tengah keheningan.
"Tidak akan."
"Tapi harus, Flint."
"Kenapa harus?"
"Yaa.. iyaa.. supaya tidak ada gosip yang menyebar."
"Mereka yang harus takut padaku. Bukan aku yang harus takut pada mereka, apalagi harus menjaga jarak denganmu selama di perusahaan."
"Flint.."
"Aku tidak mau."
"Flint.. ayolah.."
"Tidak. Aku tidak mau." Flint melangkah pergi dari atap.
"Flint. Flint. Tunggu." Julie mengejar Flint yang sudah berada di depan lift.
"Flint."
"Tunggu aku."
"Flint."
"Jika kamu mau mengatakan seperti itu lagi, aku tidak mau mendengar."
"Flint.. ini susah untukku."
"Apanya yang susah? Memang mereka membicarakanmu apa?"
Julie terdiam mendengar pertanyaan Flint itu.
"Baiklah. Kamu tidak mau jawab? Aku akan cari tahu sendiri."
"Flint kenapa kamu egois sekali? Kenapa kamu tidak bisa memikirkan posisi aku sekali saja?"
"Egois bagaimana? Tidak memikirkan posisimu? Kamu saja tidak pernah mau menjelaskan apapun jika aku tidak bertanya. Kamu selalu menyendiri disaat kamu masih punya aku. Aku harus memikirkanmu seperti apa? Katakan padaku."
"Tidak, Flint. Tidak. Sungguh ini yang pertama kalinya bagiku." ucap Julie dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kamu menangis lagi." jawab Flint dengan tangannya yang menghapus air mata di pipi Julie.
"Flint.. kita hanya perlu berjaga jarak saja. Itu sudah cukup."
"Tapi kenapa Julie? Aku butuh alasan yang jelas mengapa kita harus berjaga jarak."
"...."
"Kamu masih tidak ingin menjawab?"
"Flint.."
"Aku bingung. Aku bingung Flint harus berbuat seperti apa."
"Ini bersangkutan dengan gosip karyawanku?"
Julie mengangguk saja.
"Apa yang mereka katakan padamu?" sambung Flint.
"Mereka tidak mengatakan banyak."
"Ya apa?"
"Aku.. akuu.."
"Kamu tidak bisa mengatakannya? Baiklah aku cari tahu sendiri." ucap Flint yang hendak bergegas ke ruangannya. Namun langkah Flint terhenti saat Julie menahan dengan menarik lengannya.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada karyawanmu. Seperti kamu menghukumnya, memecatnya, atau yang lainnya."
"Itu sudah ada peraturannya, Julie. Aku tidak ingin menjadi pemimpin yang tidak taat aturan."
"Flint.." ucap Julie dengan memelas.
"Maaf, Julie. Aku tidak bisa berjanji jika tidak akan terjadi sesuatu dengan karyawanku."
"Ayolah, Flint. Ini terlalu berlebihan."
"Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkannya yang sudah membuatmu menangis seperti tadi."
Flint menekan tombol lift. "Kamu kembali ke ruanganmu, aku akan ke ruanganku. Maaf tidak bisa mengantar." ucap Flint.
Pintu lift terbuka. Julie berada di posisi yang serba salah. Dia tidak bermaksud menjatuhkan karyawannya. Namun Flint sendiri memiliki sifat yang absolut terhadap karyawannya. Dia tidak segan segan memecat karyawannya karena kesalahan sekecil apapun.
Memang, hal gosip-menggosip sudah ada peraturannya sejak era Key, papanya Flint yang merupakan pendiri langsung perusahaan Young Corporation. Awalnya, Flint mengira bahwa peraturan itu ditetapkan hanya untuk memperbaiki keadaan, namun sekarang dia sadar bahwa peraturan itu sangatlah berguna. Flint bisa merasakan apa yang dirasakan papanya dulu. Sekesal itu, namun itu tidak mengurangi martabat Flint sebagai pemimpin.
Selepas perdebatannya di atap, Flint segera kembali ke ruangannya.
"Calvin, tadi siang Julie pergi ke lantai 8 karena banyak karyawan menggosipi dia. Bahkan mereka menggosipkan Julie saat ada Julie nya di dalam lift. Tapi aku tidak tahu apa yang mereka gosipkan tentang Julie. Julie tidak ingin cerita kepadaku. Tugasmu sekarang cari tahu apa yang mereka gosipkan dan siapa saja orangnya. Lalu berikan kepadaku secepatnya." perintah Flint.