When The Young Meets Gray

When The Young Meets Gray
Kenakalan Luke



"Kalau bisa diberikan padaku, aku ingin sekali rasanya memindahkan CTS mu ke tanganku saja." ucap Flint.


"Jangan. Kamu akan sulit untuk menandatangani berkas nantinya. Lagipula kamu sudah terkenal dengan 'kesempurnaan'mu." ucap Julie.


"Tidak peduli kalau itu membuatmu merasa jauh lebih baik." ucap Flint.


Julie tersenyum. "Luke beruntung memiliki papa seperti kamu." katanya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Jangan menangis.." ucap Flint sambil menyeka air mata Julie agar tidak turun.


"Oh ya Flint. Cincinku mana?" tanya Julie.


"Oh ya." Flint segera mengambil cincin, anting dan kalung yang dia simpan di saku kemejanya.


"Sini aku pakaikan." Flint memakaikan anting, kalung dan cincin yang dikenakan Julie.


"Aku benci sekali kalau cincin ini lepas dari tanganmu dan aku harus memakaikannya lagi." ucap Flint.


"Terpaksa. Aku juga tidak ingin." kata Julie.


"Sekarang tidurlah. Sudah malam." ucap Flint.


"Kamu juga tidur. Di sofa itu saja." kata Julie sambil menunjuk sebuah sofa empuk.


"Enak saja tidak mau." ucap Flint. Flint pun langsung naik ke ranjang tempat Julie berada dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Hey sempit. Kamu pikir ini di rumah apa?" katanya dengan jengkel.


Alih-alih menjawab Julie, Flint memilih untuk merentangkan tangannya agar Julie bisa tidur di atas lengan Flint. Puk.. puk.. puk.. "Sini. Mana bisa aku tidur tidak di samping istriku." ucap Flint sambil menepuk ranjang.


Julie menurut dan tidur di atas lengan Flint. Kemudian tangan Flint merangkul Julie, sehingga dengan otomatis mereka tidur berhadapan.


"Kita tidur sambil berhadapan saja biar tidak sempit." ucap Flint.


Cup.. Flint mengecup kening "Good night, mommy of my son. Love you." ucap Flint lalu mengunci kaki Julie dengan kakinya. (Selamat malam, ibu dari anakku.)


Julie pun tertidur dengan rangkulan Flint dan kaki yang posesif mengunci dirinya seolah-olah takut dirinya akan pergi. Mereka bisa tertidur pulas dengan posisi berhadapan seperti itu, dan ranjang yang lebih kecil dari ranjang di rumahnya.


Hingga akhirnya, setelah beberapa jam tidur pulas, Julie terbangun dengan rengekan Luke. Dia tidak menangis keras, hanya merengek sesunggukkan. Dengan hati hati, Julie menyingkirkan kaki Flint yang mengunci kakinya, menyingkirkan tangan yang memeluk erat tubuhnya.


Flint bereaksi dengan mengerang sedikit layaknya seorang beruang kutub yang diganggu saat hibernasinya. Julie menepuk-nepuk pelan bahu Flint agar tetap tenang.


Pelan pelan Julie turun dari ranjang dan segera berjalan mendekati Luke. "Eh anak mama kebangun.. kenapa? Lapar ya??" bisik Julie. Julie pun segera mengambil Luke dari box nya lalu segera memberikan ASI untuk Luke di sofa.


Semoga bisa. gumam Julie. Dengan penuh kehati-hatian, Julie berusaha memberikan ASI langsung untuk Luke. Sedikit sulit, namun akhirnya berhasil. Akhirnya Luke bisa menghilangkan rasa laparnya dengan ASI yang diberikan Julie.


"Hisap yang banyak ya, sayang.. biar kenyang.. abis itu bobo yang nyenyak lagi ya.." bisik Julie.


Merawat anak merupakan hal yang paling membahagiakan bagi seorang ibu. Dari merasakan adanya janin di dalam rahim, melahirkan, sampai memberikan ASI eksklusif untuk Luke menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi Julie. Meski tangan kanannya sulit merasakan apapun, tapi itu tidak menghalangi Julie untuk merawat Luke.


"Yang sehat ya sayang.." bisik Julie. Luke pun tersenyum sebentar seolah olah merespon yang diucapkan ibunya.


Julie dengan senantiasa menunggu Luke yang masih menyusu sampai kenyang walaupun dia harus terbangun di tengah malam. Itu hal yang wajib dilakukan seorang ibu jika mempunyai bayi kecil.


Sampai Luke selesai menyusu, Julie hendak menaruh Luke kembali ke box nya. Namun mencium bau tidak sedap yang muncul ketika dia hendak menaruh Luke.


"Mmm... ee ya kamu.. ee ya?? hmm dasar.. bau.." Luke malah tersenyum riang ketika dia dipergoki ee oleh ibunya.


"Bentar ya.. mama ambil kapas dulu.. Luke jangan berisik ya.." ucap Julie. Seolah mengerti apa yang diucapkan Julie, Luke terdiam sambil mengamati Julie.


Ketika kembali, Luke kembali tersenyum. "Eh malah seger kamu sayang? Bukannya bobo.." ucap Julie.


Julie membuka kain bedong Luke lalu membuka popoknya. "Astaga." pekik Julie.


"Hmm bau ih.. Luke bau ih.." ledek Julie kepada anaknya.


Luke malah senang, dia tertawa kencang. "Ssstt... nanti papa bangun.. jangan kencang kencang ya?" bisik Julie.


Julie membersihkan bok*ng mungil Luke yang penuh dengan kotoran itu dan mengganti celana Luke yang baru. Usai memakaikan celana yang baru, Julie kembali menutup Luke dengan kain bedong yang baru tetapi rupanya Luke tidak ingin dibedong.


"Eh kok tidak mau dibedong sayang? Nanti kedinginan loh.. dibedong yaa Luke.." ucap Julie.


Luke terus memberontak, ketika Julie memegang tangan Luke untuk dimasukkan ke dalam, Luke malah melepasnya. Berulang kali, Julie mencoba, Luke tetap tidak mau. "Ih badung ya kaya papa. Luke badung nih. Badung ya?" ucap Julie sambil menoel hidung Luke. Luke kembali tersenyum menyeringai.


Akhirnya Julie memutuskan untuk menyelimuti Luke dengan kain yang tebal dan menaikkan suhu AC agar tidak terlalu dingin.


"Pasti bentar lagi papa bangun karena kepanasan nih.. gara gara Luke nih.." ucap Julie sambil menoel noel hidung Luke.


"Ya sudah kalau tidak mau dibedong, sekarang Luke bobo." ucap Julie.


15 menit, 30 menit, 45 menit. Luke belum kunjung memejamkan matanya. "Kok tidak mau bobo sih Luke? Kan sudah kenyang tadi. Bobo yuk.. Tutup matanya." ucap Julie memperagakan tutup mata.


Bukannya tidur, Luke malah tertawa riang. Sepertinya energi Luke sedang penuh, dia bermain main dengan jari telunjuk Julie padahal ini sudah jam 2 pagi.


"Yaampun ini bayi.. bukannya bobo.." Luke kembali tertawa saat Julie mengeluarkan suara.


Julie menepuk nepuk bok*ng Luke dengan harapan bayi mungil itu segera tidur. Dan benar saja, dalam waktu 15 menit, Luke sudah tertidur pulas.


"Akhirnya.." Julie sangat lega sekali setelah bayi aktif itu sudah tertidur.


Julie kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya. Mungkin seterusnya dia akan direpotkan tengah malam dengan Luke yang lapar atau tidak popoknya sudah penuh.


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Sinar matahari masuk lewat sela sela jendela. Flint terbangun karena itu. Tumben Julie belum bangun. gumam Flint.


Pantas saja belum bangun, tidurnya membelakangi matahari. gumam Flint.


Kok AC nya panas ya. Masa ruang VVIP tapi AC nya panas? gumam Flint.


Flint menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu. Cup.. Dikecup lah kening istrinya.


Lalu dia beranjak ke box Luke yang tidur dengan pulas. Cup.. Dikecup juga kening sang buah hati.


"Kok bedongannya lepas.. apa ini anak tidurnya nakal ya.." ucap Flint yang bingung karena Luke tidak dibedong, hanya tertutup kain tebal saja.


Flint pun membedong Luke dengan kain bedong. Saat dia sedang membedong Luke, tiba tiba dokter Ertus bersama rekan dan perawat masuk ke dalam kamar.


"Selamat pagi pak, ini jadwal terapi CTS untuk ibu Julie. Terapi pertama hari ini jam 9 pagi ya pak." ucap dokter Ertus.


"Baiklah, kalian kembali ke sini jam 9." jawab Flint.


"Baik, pak. Kami permisi." Dokter Ertus bersama rekan dan perawat pun keluar dari kamar.


"Huh..." Flint menarik napas lega karena dia takut keberadaan dokter tadi membangunkan Julie.


Bersambung ...


Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.