
"Jadi, begitulah cara mengelola keuangan yang tepat tanpa harus memperkecil pengeluaran di perusahaan menurut saya. Sekian dan terima kasih."
Prok prok prok prok prok. Terdengar suara tepukan tangan oleh para audiens yang hadir di ruang di mana Julie berpresentasi. Termasuk Flint.
Disana, Julie mempresentasikan tentang pandangannya mengenai cara mengelola keuangan di perusahaan, tanpa harus "mengirit" atau pun memperkecil pengeluaran perusahaan. Para audiens yang menyaksikan Julie berpesentasi itu tidak lain merupakan senior di perusahaan Flint. Mereka sudah berpuluh puluh tahun bekerja di dunia perusahaan sehingga mereka tahu betul keuangan perusahaan.
Bagusnya, mereka semua setuju terhadap pandangan yang disampaikan Julie. Tidak sedikit dari mereka pun kagum dengan pandangan Julie, seseorang yang baru saja menamatkan S1 dan belum pernah bekerja di sebuah perusahaan.
"Bagaimana para senior? Apakah Miss Gray bisa bekerja di sini?" tanya Flint kepada audiens. Flint memanggilnya dengan sebutan senior, karena mereka memang seniornya Flint. Para seniornya sudah bekerja pada saat zaman Key, sedangkan Flint belum genap setahun.
"Aha mengapa tidak? Kurasa dia berpotensi."
"Pemikirannya sangat cerdas. Dia layak bekerja di sini."
"Aku yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di sini saja tidak kepikiran tentang hal itu. Tapi dia bisa, aku salut dengannya."
"Kita akan menyesal jika perusahaan lain yang mengambil dia."
Begitulah suara yang terdengar dari mulut para senior. Julie memang berbakat, banyak orang yang sudah mengakuinya.
"Baiklah. Miss Gray, kamu diterima bekerja di perusahaan ini sebagai General Manager of Finance." kata Flint seraya berjalan mendekati Julie yang masih berdiri di depan layar presentasi.
Flint menyodorkan tangan kanannya. Hendak berjabat tangan menandakan selamat untuk Julie. Julie sempat melototkan matanya karena bingung atas tindakan Flint yang di depan para audiens tersebut. Julie pun akhirnya menyodorkan tangan kanannya. "Selamat." ucap Flint sambil mengedipkan sebelah matanya. Julie segera melepaskan salaman mereka.
————————————————————————
"Baiklah Miss Julie, ini sekarang ruang kerjamu. Jika ada apa apa, Anda bisa menghubungiku." kata staff HRD.
Namun semuanya buyar ketika suara dering telepon berbunyi. Suaranya mengagetkan Julie yang masih berdiri. Bahkan tubuhnya sempat bergetar karena bunyi telepon itu.
"Halo?" ucap Julie.
"Halo sayang, welcome to my world."
"Oh kamukah yang telepon."
"Iya. Sedang apa?"
"Kamu tau? Sejak tadi aku belum saja duduk menempati meja kerjaku."
"Ya sudah duduklah. Kamu kan bisa berbicara denganku di telepon sambil duduk."
"Oh ya, kamu harus mempersiapkan kakimu itu untuk mondar mandir ke ruanganku. Karena aku pasti akan sering menyuruhmu ke ruanganku."
"Sepertinya salah besar aku masuk ke perusahaan ini."
"Hahaha menyesal memang datangnya belakangan. Baiklah, kututup teleponnya. Selamat bertarung."
"Bertarung?"
"Iya. Hidup ini penuh pertarungan. Di dalam perusahaan, kamu harus bertarung melawan pesaing pesaing yang akan menjatuhkan perusahaanku. Di luar perusahaan, kamu harus bertarung melawan ribuan hingga ratusan bahkan jutaan wanita yang ingin mendapatkan aku."
Tut. tut. tut. tut. Bunyi menandakan telepon terputus. Julie lah yang mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Bisa bisanya aku memiliki pacar seperti dia? Se pede dia? Woah, memang benar kata dia, menyesal datangnya belakangan. gerutu Julie.