
"Oh ya ma, mama bawa baju untuk aku kan?" tanya Flint.
"Iya bawa. Tuh. Memangnya kamu menginap di sini Flint?" tanya Sara.
"Iya lah. Di mana Julie dan anakku tidur, di situ aku akan tidur." jawab Flint.
"Omo." pekik Sara.
Audy yang sedang memakan donat pun tersedak mendengar ucapan Flint barusan.
"Aku mandi dulu ya." ucap Flint.
"Julie, kamu mau mandi juga tidak?" tambah Flint.
Mata Julie melotot tajam. Bagaimana tidak, Flint menanyakan itu di depan semua orang.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" jawab Julie dengan gigi yang terkunci rapat.
"Ya kalau kamu mau mandi aku bisa.." ucap Flint terpotong.
"Tidak. Sana kamu mandi saja. Sana." ucap Julie.
"Membiarkan kamu mandi terlebih dahulu." sambung Flint.
"Oh begitu rupanya. Baiklah aku mandi duluan." ucap Julie. Julie segera mengambil pakaian dan peralatan mandinya. "Hati hati." ucap Flint.
Julie buru buru memasuki kamar mandi. Yang jelas dia saat ini sedang malu untuk menampakkan mukanya.
"Hey Julie itu hanya ke kamar mandi. Kenapa harus pakai hati hati segala?" tanya Sara.
Flint menyengir. Dia masih ingat dengan jawaban Julie saat Sara menanyakan siapa dokter tadi. Pertanda bahwa Julie tidak ingin memberitahukan tentang CTS nya. Peka sekali bukan? Tapi kenapa Julie tidak ingin memberitahu tentang CTS nya? batin Flint.
Sementara itu, bukannya mandi, Julie malah memperhatikan sekeliling kamar mandi. Ternyata begini toh penampakan kamar mandi rumah sakit milik Flint. Mewah sekali seperti kamar mandi di hotel.
Julie berendam dengan air hangat. Wahh rasanya tidak ingin bangun dari sini. Tapi Flint belum mandi, tidak bagus kalau Flint mandi kemalaman nantinya.
Julie segera menyelesaikan berendamnya dan membiarkan Flint untuk segera mandi. Tidak lama kemudian datanglah suster dengan membawa botol susu untuk Luke.
"Susu apa itu? Susu formula?" tanya Sara.
"Bukan, ibu. Ini susu ASI yang dipompa ibu Julie tadi sore. Sudah saya hangatkan ya, bu." jawab suster.
"Terima kasih ya, sus." ucap Julie.
"Iya, bu. Tersisa 2 botol lagi ya." kata suster.
"Iya, sus." jawab Julie.
"Baik, kalau gitu saya permisi. Mari, bu, pak." pamit suster.
"Hebat juga ASI nya ya. Sini biar mama saja yang menyusui." ucap Sara.
Julie menyerahkan botol susunya kepada Sara. Dengan tangan kiri? Bukannya itu tidak sopan? batin Sara.
"Maaf ma pakai tangan kiri. Tangan kananku sedang ada krim muka." ucap Julie.
Sebelumnya Julie memang mengoles krim muka ke tangannya namun suster datang memberikan botol susu.
"Oh iya tidak apa apa." jawab Sara.
Sara pun menggendong Luke dan menyusui dengan botol. "Aku jadi keingat saat kamu menggendong Flint." ucap Key.
"Aku juga berharap yang sedang aku gendong ini adalah Flint. Sayangnya tidak mungkin." kata Sara.
"Time flies so fast. Sekarang kita akan mendengar suara tangisan cucu, bukan anak lagi." ucap Key.
"Iya. Waktu berjalan sangat cepat. Cepat sekali." kata Sara.
"Kamu sih waktu itu aku mau punya anak ketiga kamu bilang 2 sudah cukup." ucap Key.
"Kamu mah mau enaknya doang. Yang hamil itu aku, melahirkan aku, ngurus anak aku." kata Sara.
"Oh iya, Julie. Apa benar Flint mau punya anak banyak?" tanya Key bisik bisik.
"Iya sih katanya. Sesuai jumlah perusahaan yang dia buat katanya." jawab Julie.
"Terus terus, kamu setuju?" tanya Sara.
"Setuju sih. Tapi tidak sampai 10 mungkin." jawab Julie.
"Flint mau 10?" tanya Key.
"Iya. Sebanyak banyaknya dia mah." jawab Julie.
"Kalian berdua sama gilanya." ucap Sara.
"Buatlah sebanyak mungkin selagi kalian masih muda." ucap Key.
"Para laki laki yang tidak tahu rasanya memang suka seenak jidat menginginkan banyak anak." ucap Sara.
"Kata siapa? Aku tahu rasanya hamil sampai melahirkan." sahut Flint yang baru keluar dari kamar mandinya.
Mereka bertiga dikejutkan oleh Flint. "Flint.. kamu mendengarnya?" tanya Sara.
"Aku tahu rasanya hamil, muntah muntah saat trimester pertama, ngidam sesuatu, lapar di tengah malam, berjalan dengan perut besar, merasakan tendangan bayi, kontraksi. Aku juga tahu rasanya mengejan mengeluarkan bayi. Aku tidak akan pernah bisa melakukannya dan merasakannya tapi aku tahu bagaimana rasanya, seperti apa." ucap Flint.
Sara, Key dan Julie diam termatung mendengar ucapan Flint barusan. "Itulah yang dialami Julie 9 bulan belakangan ini, dan hari ini, tadi siang, baru saja dia mengejan mengeluarkan Luke dari dalam. Kalau kalian sudah selesai menyusui Luke, silahkan keluar. Julie belum istirahat sama sekali sejak mengejan tadi." tambah Flint.
Sara meletakkan Luke kembali di atas box nya dan bersiap untuk pulang. Audy yang sedang menikmati makanannya pun berhenti dan bersiap untuk pulang.
"Ya! Flint, kamu sedang mengusir kami, hah?" tanya Key.
"Sudah ayo pulang." ucap Sara sambil memutar tubuh Key.
"Hey Flint papa tahu ini hanya akal akalanmu saja supaya kamu bisa buat adik untuk Luke kan!" ucap Key.
"Tunggu pembalasanku, Flint." tambah Key.
"Sudah, ih. Ayo pulang." Sara menarik tubuh Key. "Julie, Flint kami pulang dulu ya.." pamit Sara.
"Iya, ma. Hati hati." balas Julie.
"Pa, buatkan adik untukku. Ayo kita berlomba siapa yang memiliki anak paling banyak." ucap Flint.
"OK." jawab Key.
"Ngaco." pekik Sara. Sara tidak henti hentinya menarik-narik tubuh Key agar keluar dari kamar inap Julie.
"Sudah." ucap Flint.
"Sudah?" tanya Julie yang tidak mengerti maksud Flint.
"Sekarang tidurlah." ucap Flint.
"Eh Flint aku ingin makan nasi goreng." kata Julie.
"Luke sudah lahir, kok masih ngidam?" tanya Flint.
"Tidak tahu. Masih nyangkut di dalam." kata Julie.
"Baiklah aku pesan." ucap Flint.
20 menit kemudian, datanglah 2 bungkus nasi goreng ke kamar inap Julie. Mereka menyantap nasi goreng bersama sama.
"Oh ya, Julie." ucap Flint.
"Hemm?" jawab Julie.
"Tadi pas mama nanya dokter, kenapa kamu bohong?" tanya Flint.
"Flint?"
"Hem?"
"Bisa tidak kamu rahasiakan tentang CTS ku? Jangan beritahu kepada siapapun." ucap Julie.
"Bisa, tapi kenapa?" tanya Flint.
"Aku tidak ingin mereka menganggap aku saat ini tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan kananku mati rasa. Lagipula ini akan segera sembuh. Kamu hanya perlu merahasiakan sampai tangan kananku pulih kembali." ucap Julie.
"Kalau begitu, pastikan tangan kananmu pulih dengan cepat. Aku tidak mau menyembunyikan sesuatu dari keluargaku terlalu lama." kata Flint.
"OK. Siap laksanakan." ucap Julie dengan memperagakan gaya hormat dengan tangan kanannya.
"Kalau bisa diberikan padaku, aku ingin sekali rasanya memindahkan CTS mu ke tanganku saja." ucap Flint.
"Jangan. Kamu akan sulit untuk menandatangani berkas nantinya. Lagipula kamu sudah terkenal dengan 'kesempurnaan'mu." ucap Julie.
"Tidak peduli kalau itu membuatmu merasa jauh lebih baik." ucap Flint.
Julie tersenyum. "Luke beruntung memiliki papa seperti kamu." katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.