
"Sekarang aku mengerti kenapa aku menjadi anak tunggal." kata Julie.
Flint menyampingkan tubuhnya untuk menghadap Julie. "Kenapa?" tanya Flint.
"Mama papa sama-sama bekerja. Sulit untuk mengurus anak." jawab Julie.
"Kalau aku minta kamu jangan bekerja, apa kamu bersedia?" tanya Flint.
"Iya. Seorang istri harus patuh dengan suaminya, bukan?" balas Julie.
Cup. Flint mengecup kening Julie. "Thank you for everything that you gave. Aku beruntung memilikimu di hidupku." ucap Flint.
(Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan.)
"Loh?" pekik Julie ketika melihat ke arah pintu.
Flint mengernyitkan alisnya ketika melihat pintu.
Sara, Key, Liza dan Gio kepergok sedang mengintip Julie dan Flint lewat jendela pintu. Karena sudah kepergok dengan Julie dan Flint, mereka berempat mau tidak mau masuk ke dalam.
"Habisnya kita takut masuk di waktu yang salah." ucap Sara.
"Di waktu yang salah?" tanya Julie.
"Iya tadi kita berempat melihat kamu dan Flint sedang.." Sara memperagakan dengan kedua tangannya, mengisyaratkan berciuman.
"Ah.. hahahhah... begitu.." jawab Julie.
Key pun mendekati Flint dan berbisik. "Sudah mencuri start duluan?"
"Memangnya papa ikut dalam perlombaan (lomba memiliki anak yang paling banyak) itu?" jawab Flint dengan muka datar.
"Memangnya mama mau?" sambung Flint.
"Mau apa?" jawab Sara.
"Mau punya anak lagi? Adik untukku?" balas Flint.
"Kalian ini benar benar ya. Tidak berhenti juga dari kemarin." oceh Sara.
Flint menunjuk Key, Key menunjuk Flint. Tidak ada yang ingin disalahkan atas perkara ini.
"Hey kamu kan yang menciptakan lomba itu duluan!" ucap Key.
"Siapa suruh papa mau ikut." balas Flint.
"Karena papa ingin!" jawab Key.
"Ingin apa?" tanya Flint.
Key pun terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan anak sulungnya itu.
"Sudah sudah. Julie, kapan kamu diperbolehkan pulang?" tanya Sara.
Julie menunjuk Flint. "Tunggu dia mengizinkan." jawab Julie.
Sara memberikan tatapan yang tajam kepada Flint. Sementara itu, Julie turun dari ranjangnya hendak mengambil segelas air. Baru saja memegang gelas yang hendak diisi air, tangan kanan Julie rupanya kembali mati rasa.
Alhasil, gelas pun jatuh dari genggamannya. Tentu itu mengejutkan seisi ruangan, termasuk Luke yang sedang tertidur pulas. Luke pun menangis karena kaget mendengar suara gelas jatuh. Sara reflek menenangkan Luke.
"Kamu tidak apa-apa, Julie?" tanya Liza.
"Iya ma tidak apa apa kok. Gelasnya licin." jawab Julie.
"Menjauhlah. Aku akan panggil orang untuk membersihkan." ucap Flint.
Julie pun masih syok, tangan kanannya tiba tiba mati rasa begitu saja. Tidak ada angin, tidak ada hujan, datang begitu saja tanpa diundang.
"Ini." Flint memberikan gelas berisi air.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Julie?" tanya Liza.
"Iya ma." jawab Julie.
"Kurang istirahat sih. Lemes kan?" tanya Flint sambil mengedipkan mata ke arah Julie.
"Istirahat gih. Tiduran di ranjang. Jangan sampai sakit, nanti siapa yang merawat Luke?" sambung Flint.
"Gimana mau pulang dari rumah sakit. Sudah nginap saja seminggu di sini." oceh Flint yang tiada henti.
"Iya, Julie. Banyak istirahat kalau kamu sakit nanti berpengaruh ke ASI nya loh." sahut Sara.
"Ayo istirahat." Flint menuntun Julie ke ranjang.
"Pulangnya nanti saja. Kapan saja bisa yang penting kamu dan Luke sehat." ucap Key.
"Iya.. maaf ya sudah membuat kalian semua khawatir." kata Julie.
"Ya sudah kamu istirahat saja. Kami semua pamit pulang ya." ucap Gio.
"Iya hati hati ya." balas Julie.
Sara meletakkan Luke yang sudah kembali tidur di box nya lalu mereka berempat keluar dari kamar Julie.
"Kambuh lagi?" tanya Flint.
"Tadi tangan kananmu banyak bekerja sih." ucap Flint.
Flint mengusap usap tangan kanan Flint, memberi pijatan pelan. "Sabar ya.. pelan-pelan pasti sembuh." ucap Flint.
"Waktu itu mereka berempat melihat kamu duduk di kursi roda saat mau ke ruang terapi." tambah Flint.
"Sungguh?" tanya Julie.
"Iya. Aku bilang terapi perut. Aktingku tadi, bagus kan?" balas Flint.
"Sepertinya kamu sudah nyaman dengan aktingmu." kata Julie.
"Cepat sembuh. Aku tidak suka berakting." kata Flint.
"Tanganku.. pasti sembuh kan?" tanya Julie.
"Pasti sayang. Kalau tidak sembuh bisa operasi." jawab Flint.
"Tapi kan proses penyembuhannya lama kalau operasi." balas Julie.
"Makanya jangan melakukan aktivitas yang berat berat dulu. Nanti aku saja yang nyusuin Luke." kata Flint.
"Hah?" Julie mengerutkan dahinya.
"Pakai botol." ucap Flint.
"Oooohhhh..."
Dokter kandungan Julie pun masuk ke dalam kamarnya. Tok tok tok.
"Permisi, pak, bu. Saya ingin mengecek kondisi ibu Julie." kata dokter.
"Silahkan." ucap Flint.
Dokter memeriksa kondisi Julie dengan stetoskop. "Secara keseluruhan kondisi ibu stabil, kecuali tangannya ya bu." ucap dokter.
"Iya dok." jawab Julie.
"Apa ada perkembangan?" tanya dokter.
"Sempat hilang tapi muncul lagi." jawab Julie.
"Oh.. perbanyak istirahat ya bu tangannya. Jangan melakukan hal berat dulu." kata dokter.
"Iya dok."
"Baik. Saya serahkan kepada dokter yang menangani tangan ibu ya. Sesuai kondisi tangan ibu, dokter Ertus lah yang berhak memberitahu kapan ibu boleh pulang." kata dokter.
"Iya dok, terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi, pak, bu." pamit dokter.
"Jangan pulang dalam waktu dekat." ucap Flint.
"Kamu tidak akan bekerja dong?" tanya Julie.
"Kenapa? Pergi bekerja juga tidak akan tenang kalau kamu belum fit." jawab Flint.
"Aku juga maunya sembuh. Siapa yang mau sakit begini.." ucap Julie.
"Tidak usah dipikirkan. Kalau tanganmu banyak istirahat pasti sembuh." kata Flint.
Flint kembali memijat-mijat tangan kanan Julie yang mati rasa. Sesekali dicium-cium tangan itu. Sepertinya Julie nyaman dengan pijatan Flint sampai-sampai dia terlelap.
"Begitu saja tertidur." ucap Flint. Flint mengecup kening Julie. Saat dia melirik Luke, rupanya Luke sedang menatapnya.
"Eh? Sudah bangun? Anak papa sudah bangun?" ucap Flint kepada Luke.
"Lapar tidak?" tanya Flint. Mana bisa jawab ya. Kan Luke belum bisa ngomong. batin Flint.
Flint segera memanggil suster untuk membawa botol susu yang sudah dipompa Julie. Sampai botol itu datang, akhirnya Flint baru bisa memberikan susu untuk Luke.
Luke pun menyedotnya dengan senang hati. 30 menit, 45 menit, susu itu belum kunjung habis dari botolnya. Tangannya yang 1 memegang botol susu dan tangannya yang lain menopang dagunya, menunggu susu itu segera habis.
"Lama sekali nyedotnya Luke." ucap Flint.
"Ayo, Luke. Cepat sedikit." ucap Flint.
"Kemampuanmu menghisap lemah sekali, Luke. Kamu bisa bisa diremehkan oleh wanita nantinya, Luke. Ayo dipercepat."
Setelah 1 jam lebih, barulah Luke selesai menghabiskan susunya. "Akhirnya, Luke.. minum susu saja 1 jam, Luke Luke." ucap Flint sambil menggelengkan kepala.
Flint mencabut dot susu dari mulut Luke. Ternyata Luke menangis. "Eh kok menangis? Mau dot lagi?" ucap Flint.
Flint memberikan dot botol susu yang sudah habis itu ke mulut Luke. Tapi Luke tetapi menangis. "Eh kok masih menangis? Cup cup cup.." Flint mengangkat Luke dari box dan menggendongnya.
"Jangan kencang-kencang menangisnya, Luke. Nanti mama cantik bangun." ucap Flint. Kemudian Flint merasakan ada sesuatu yang basah di kain bedong Luke. "Apa ini?"
Rupanya Flint sudah memiliki pekerjaan baru.
Bersambung ...
Terima Kasih sudah membaca novel "When The Young Meets Gray". Jangan lupa klik tombol favorite, like dan berikan komentar Anda. Dengan senantiasa akan Author baca. Stay tune dengan episode terbaru.